IPT-banner-logo_wide_idKejahatan Hak Asasi Manusia yang menjadi perhatian IPT 1965 adalah kejahatan kemanusiaan, termasuk di dalamnya kejahatan seksual terhadap laki-laki dan perempuan yang terjadi hampir di seluruh wilayah tanah air pada tahun 1965 dan sesudahnya, sebagaimana dilaporkan oleh Komnas HAM pada 2012 dan para peneliti lainnya, yang memakan korban lebih dari sejuta manusia dan juga nasib keluarga mereka yang terus menerima stigma dan diskriminasi sampai sekarang. Semua kejahatan yang terjadi di peristiwa 1965 meliputi semua kejahatan yang tercantum dalam pasal 9 dari UU No. 26 tahun 2000, meliputi semua kejahatan kemanusiaan seperti perkosaan, penyiksaan, perampasan kemerdekaan, dll.

Tujuan International People’s Tribunal (IPT) 1965 adalah memberikan ruang kepada korban untuk bersuara karena mereka telah dibungkam dan direndahkan sampai sekarang. Kisah-kisah kekejaman yang mereka alami harus diperdengarkan dengan jelas terutama kepada masyarakat internasional yang selama ini menutup mata terhadap kejahatan kemanusiaan ini serta untuk meruntuhkan stigma, kekerasan dan diskriminasi terhadap para korban dan penyintas dan keluarga mereka yang masih berlangsung sampai sekarang. IPT 1965 akan berkontribusi terhadap pemulihan dan rehabilitasi para korban, penyintas, dan keluarganya.

Menyusun catatan publik atas kejahatan kemanusiaan 1965 dan sesudahnya, termasuk laporan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, laporan penyelidikan resmi institusi HAM yang merupakan catatan publik pertama namun tidak pernah menerima pengakuan dari negara serta tidak ditindaklanjuti meski telah menjadi catatan observasi komite CEDAW dan Human Rights Council. Catatan publik ini akan digunakan IPT ‘65 sebagai bukti kejahatan kemanusiaan tahun 1965 dan setelahnya sesuai dengan standar hukum nasional dan internasional.

Dengan membuka ruang debat publik khususnya tentang sejarah kekerasan di Indonesia postkolonial, sebagai upaya membangun keadilan sosial dan supremasi hukum. Poses ini akan memulihkan hak rakyat untuk mengetahui sejarah mereka sendiri terutama bagi jutaan anak sekolah dan mahasiswa yang selama ini menerima pelajaran sejarah yang didistorsi oleh rezim Orde Baru. Mata rantai kekerasan sangat penting untuk segera diputus agar tidak terulang kembali dengan cara menyusun kampanye pengungkapan kebenaran sekitar peristiwa 1965, baik oleh negara maupun masyarakat sipil lainnya, serta menyatakan bahwa propaganda sebagai kejahatan kemanusiaan sebagaimana preseden dalam Pengadilan Pidana Internasional untuk Rwanda. Kejahatan kemanusiaan baru lainnya yang akan diperlihatkan kepada publik adalah mengenai pencabutan paspor massal yang dilakukan negara terhadap ribuan pemuda dan pelajar Indonesia yang sedang menunaikan tugas belajar dari negara ketika tragedi 1965 itu terjadi.

Untuk mendapatkan perhatian internasional yang serius terhadap kejahatan kemanusiaan yang telah dilakukan oleh negara Indonesia pada tahun 1965 maupun setelahnya, karena proses tindak lanjut yang lamban untuk membawa pelaku kejahatan ke pengadilan, maka penting mengundang pelapor khusus PBB untuk pelanggaran HAM masa lalu datang ke Indonesia.

Kegagalan dan keengganan (impunitas) negara, dalam hal ini penguasa, untuk melaksanakan tanggung jawabnya telah berlangsung secara terus-menerus selama hampir 50 tahun, meski tuntutan telah dilakukan berulang kali sejak era Soeharto sampai era reformasi. Pemerintah belum berupaya mengungkap kebenaran karena terus mempertahankan narasi sejarah versi Orde Baru. Negara juga belum meminta maaf secara resmi kepada korban yang dipenjara tanpa proses pengadilan dan keluarga jutaan korban yang terbantai. Alih-alih melakukan itu semua, negara malah membiarkan stigma “PKI” versi Orde Baru terus berkembang di masyarakat hingga hari ini. Sedangkan para penyintas (survivor) dan cendekiawan telah melakukan penelitian secara cermat dan membenarkan bahwa telah terjadi kejahatan kemanusiaan yang dilakukan oleh militer dan milisi sipil. Sementara itu, penolakan Kejaksaan Agung dan pihak lainnya atas laporan Komnas HAM pada 2012 lalu, membuat laporan tersebut belum dapat diproses ke DPR sebagai syarat bagi Presiden untuk mendirikan Pengadilan HAM ad hoc.

IPT ’65 akan menggalang kekuatan dari suara para korban, masyarakat sipil nasional dan internasional. IPT ’65 memiliki format sidang HAM formal. Ini bukan sebuah sidang kriminal yang menuntut seseorang atas sebuah dakwaan melakukan tindak pidana, melainkan pihak penuntut akan mendakwa Negara Indonesia agar bertanggungjawab secara moral dan hukum berdasarkan bukti-bukti kejahatan terhadap kemanusiaan yang tersebar luas dan sistematis paska 1965-1966.

Bukti-bukti yang ada berupa dokumen, materi audio-visual, pernyataan para saksi dan bukti-bukti legal lainnya akan dipresentasikan dalam sidang. Majelis Hakim akan melakukan penghakiman dengan menguji bukti-bukti dan membangun rekam sejarah yang akurat dan sahih sebagai dasar untuk memberikan putusannya setahun setelah Pengadilan Rakyat tersebut dilaksanakan.

Pengadilan Rakyat Internasional (International People’s Tribunal) 1965 adalah inisiatif para penyintas kejahatan kemanusiaan 1965, aktivis hak asasi manusia, pegiat seni, jurnalis, mantat anggota Komnas HAM, intelektual, akademisi, dan masyarakat yang bersolidaritas terhadap korban. Akan diadakan pada 10-13 November 2015 di Den Haag untuk menandakan 50 tahun pembunuhan massal dan kejahatan kemanusiaan 1965. Pembacaan putusan Pengadilan HAM Internasional akan dilaksanakan pada tahun 2016 di Jenewa.

Jika pemerintah belum berniat mengungkap kebenaran, saatnya rakyat sipil bicara.

– Sumber: siperubahan.com

Pada 10 Desember 2007, edisi bahasa melayu The Catholic Herald memakai kata ‘Allah’ dalam menyebut Tuhan. Kemudian warga muslim di Malaysia berang. Pemerintahnya ikut-ikutan berang. Mereka menetapkan ‘Allah’ jadi eksklusif untuk orang Islam.

Inilah yang aneh. Entah orang Islam atau orang Malaysia yang terkenal suka mengklaim. Padahal, kata ‘Allah’ sudah digunakan orang Timur Tengah jauh sebelum adanya Kristen atau Islam.

Sampai sekarang, ambil contoh, orang Kristen Koptik di Mesir dan di Jazirah Arab lainnya, masih menggunakan kata ‘Allah’. Mereka mengucapkan ‘bismillah’ dan ‘alhamdulillah’ sama seperti orang Islam. Di Mesir, ada adat kebiasaan kalau orang naik angkutan umum, ketika masuk kendaraan mereka mengucapkan salam ke penumpang lainnya. Dan penganut Koptik atau Muslim pun sama-sama berkata ‘Assalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh’. Ada kata ‘Allah’ dalam ‘warahmatullahi’ di situ. Lantas, apa itu jadi persoalan di sana? Tentu tidak. Tapi kenapa di Malaysia sampai jadi polemik? Mereka tidak baca sejarah atau bagaimana? Maka dari itu, akan semakin kelihatan bodohnya jika MUI di Indonesia dan pemerintah negeri ini sampai meniru Malaysia yang meng-eksklusifkan kata ‘Allah’ untuk orang Islam.

Namun tampaknya gejala kebodohan itu kian mewujud di Indonesia. Saya pernah mendengar seorang ulama di Indonesia mengklaim bahwa, bahasa Arab adalah bahasa yang dipakai di surga. Jelas sekali ini merupakan klaim yang mengada-ada.

Andaikan Tuhan yang dipanggil Allah itu benar-benar ada, patut kita pertanyakan bahasa apa yang Dia gunakan di surga sana? Apa benar bahasa Arab? Sedangkan orang-orang yang hidup di Jazirah Arab sebelum kedatangan Islam pun sudah berbahasa Arab. Sungguh aneh pula bila bahasa Arab dianggap sebagai ‘Bahasa Murni’ yang digunakan dalam dialog Adam dengan Allah di surga, lantas mengapa ada banyak bahasa digunakan umat manusia di bumi, termasuk bahasa Arab yang di tiap akar katanya memiliki kemiripan dengan bahasa Ibrani dan bahasa Aram? Contoh sederhana, Aleph adalah aksara pertama dalam bahasa Ibrani sebagaimana Alif dalam bahasa Arab.

Evolusi bahasa manusia, jika boleh dikatakan demikian, tidaklah berpangkal dari satu bahasa, apalagi bahasa Arab. Meminjam sebuah artikel dalam situs Standford University, seorang dosen Antropologi Merritt Ruhlen berkolaborasi dengan Murray Gell-Mann, pendiri dan Profesor terkemuka dari Santa Fe Institute, telah memetakan evolusi susunan kata dalam sebuah makalah berjudul The Origin and Evolution of Word Order, diterbitkan dalam Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS).

Dengan menggambarkan sampel dari 2.135 bahasa di dunia yang dikenal, mereka telah menciptakan Pohon Bahasa filogenetik, dan melalui itu menunjukkan bahwa struktur kalimat dalam bahasa modern pertama mengikuti tatanan Subject-Object-Verb (SOV), seperti yang masih bertahan dalam bahasa Jepang modern. Dengan bukti terobosan yang menunjuk ke suatu evolusi yang berkelanjutan dari bahasa, para pakar memberikan wawasan baru bagaimana nenek moyang kita berkomunikasi.

Manusia modern pertama kali muncul 200.000 tahun yang lalu, Ruhlen menjelaskan, tapi kemampuan sosial, teknologi dan linguistik sebagian besar bermula dari pendahulu mereka, Neanderthal. Hanya sekitar 50.000 tahun yang lalu bahwa perubahan besar terjadi di mana manusia-manusia menjadi tidak hanya secara anatomis modern, tapi juga berperilaku modern. Seiring dengan inovasi teknologi, seperti pembuatan alat dari bahan lain selain batu, seni dan memancing, hadir pula perkembangan bahasa yang sepenuhnya modern.

Adapun perubahan susunan kata kepada bentuk yang lain, benar-benar muncul dimulai sekitar 20.000 tahun yang lalu sebagai akibat dari migrasi global umat manusia dari Afrika. Migrasi ini memungkinkan urutan kata berdasarkan SOV berubah menjadi lima bentuk kemungkinan susunan kata lainnya pada waktu dan tempat yang berbeda.

Pohon kata tersebut dibangun dengan menggunakan rumpun bahasa, atau kata-kata yang memiliki asal-usul etimologis umum. “Rumpun adalah kata-kata yang lahir bersama-sama,” jelas Ruhlen. “Misalnya, kata untuk tangan dalam bahasa Spanyol dan Italia adalah mano, berasal dari bahasa Latin.”

Para ahli mencatat terjadinya setiap jenis urutan kata dalam masing-masing rumpun bahasa, ternyata lebih sebagian besar bahasa di dunia ini menggunakan struktur SOV, walaupun ada beberapa kemungkinan jenis lainnya yang muncul (SOV; SVO, OSV, OVS, VSO dan VOS). Hampir tidak ada yang berkembang secara mundur ke belakang, kecuali dalam kasus yang disebut Ruhlen sebagai “pinjaman”. Ini, menurut mereka, menunjukkan bahwa evolusi bahasa bukanlah sebuah proses acak.

Ruhlen dan Gell-Mann mendapatkan inspirasi untuk pekerjaan mereka dari ahli linguistik terkenal di Stanford, Joseph Greenberg. Dalam publikasi 1963 yang ditetapkan menjadi salah satu karya yang paling banyak dikutip pada persoalan klasifikasi bahasa, Greenberg menunjukkan bahwa bahasa Afrika—lebih dari 1.000 jumlahnya–dapat direduksi menjadi hanya empat rumpun bahasa. Juga pada tahun 1963 Greenberg menerbitkan sebuah artikel di mana dia mengamati “susunan elemen-elemen bermakna” dalam bahasa dan dalam makalah itu pertama kali ia membahas susunan kata. Makalah oleh Gell-Mann dan Ruhlen merupakan kelanjutan dari penelitiannya.

Jadi, dari sini merupakan sesuatu yang nonsens bila ada suatu bahasa yang sakral dan unggul di antara majemuknya bahasa di dunia. Namun, itu bisa saja terjadi atas nama politik identitas, dan agama sudah terlampau sering melancarkan politik identitas.

Banyak orang beragama yang langsung emosi kalau ada orang yang menyodorkan kenyataan sisi lain dari agama. Padahal memang kenyataannya seperti itu, contohnya: bentuk kubah yang diperebutkan milik umat agama siapa, bentuk pakaian, dan begitu juga terhadap polemik kata ‘Allah’. Mereka tidak menyadari semua itu cuma simbol yang dibela. Bahkan, bisa jadi mereka menyadarinya, tapi sengaja berselimut di balik konflik untuk mengail keuntungan pribadi atau komunitas.

Bila kita kembali pada polemik kata ‘Allah’ di atas, sejatinya bahasa Arab bukan eksklusif milik orang Islam. Sangat janggal ketika ada umat beragama yang mengklaim suatu bahasa dari suku-bangsa tertentu menjadi identitas eksklusif milik mereka saja. Sudah sangat wajar jika terjadi pertukaran-pertukaran dan perubahan dalam tutur kata manusia. Bahasa Indonesia sendiri mengenal istilah ‘kata serapan’ yang berasal dari bahasa bangsa lain, malah bahasa Indonesia itu sendiri dibangun dari fondasi bahasa-bahasa yang dituturkan oleh banyak suku di tanah air. Jika demikian, mengapa kita tidak bisa dan tidak berani memikirkan bahwa bahasa Arab pun juga menyerap dari bahasa suku-bangsa dan ras lainnya?

Seorang Ludwig Wittgenstein pernah berucap, “The limits of my language means the limits of my world.” Bagaimanapun juga, yang namanya bahasa manusia pasti mengalami keterbatasan. Karena itu, mau tak mau bahasa Arab harus menyerap bahasa lain. Proses wajar ini hadir bersamaan dengan interaksi dan komunikasi sesama manusia. Bukan dibawa oleh sosok bernama Adam dari surga. Bukan diturunkan oleh Tuhan dengan bentuk yang sedemikian baku sejak awal mula manusia diciptakan. Maka tidak ada yang sakral dengan bahasa. Seseorang bisa belajar banyak bahasa; Inggris, Jerman, Arab, Spanyol, dan lain sebaiknya. Hanya orang degil yang mengira ada suatu bahasa yang eksklusif dimiliki komunitas mereka saja.

Monggo dipesan novel Evenaar: Sang Utusan karya Kupret el-Kazhiem.

Tebal : 477 hal.

Penerbit: Kalimaya Publishing.

Harga; Rp 65 ribu (belum ongkir)

Pre-Order sekarang yuk

Hubungi: 08568022395/08994126376 (telp/sms/WA)

Sinopsis:

Novel ini berlatar belakang dunia imajinasi yang menceritakan tentang perjalanan seorang remaja bernama Aqiel yang terjebak di antara perang antarkerajaan. Dahulu kala pernah ada satu bangsa, yaitu bangsa Gargiria. Kemudian terpecah belah menjadi Zalikan dan Suta. Peperangan keduanya turut mengimbas Evenaar. Padahal, kota ini sudah berulang kali selamat dari perang besar selama bertahun-tahun. Namun, di dalam Evenaar sendiri terjadi pemberontakan. Seorang bernama Sofis mendeklarasikan sebagai Raja baru. Kekisruhan itu membuat Aqiel harus melarikan diri. Dalam pengembaraannya itu, dia bertemu dengan tokoh lainnya. Perjumpaan demi perjumpaan merangkai suatu kisah petualangan mengejutkan. Seperti bertemu dengan makhluk raksasa, benda-benda ajaib, hingga menemukan kebenaran tentang jati dirinya. Di sisi lain, dia bertemu dengan seorang gadis sebayanya yang misterius. Membuatnya menyimpan perasaan kagum, minder, dan juga amarah. Masa lalu dan masa depan membuat Aqiel terjerembab dalam kekacauan. Masing-masing kerajaan berusaha menguasai kotanya yang ternyata menyimpan rahasia tentang perahu angkasa Vimana.

Novel ini terdiri dari 477 halaman dan 13 bab; 1. Badai Cahaya, 2. Vimana, 3. Anamnesis, 4. Anamorfosa, 5. Anagogi, 6. Antima, 7. Gerima, 8. Nausea , 9. Satmata, 10. Absolum, 11. Anathema, 12. Quintessa, 13. Ennoia

Silakan buat yang berminat. Minum kopi sambil baca Evenaar pasti tambah seru. cover depan cover

9780748402373_p0_v1_s260x420Postfeminism atau pascafeminisme adalah reaksi terhadap beberapa kontradiksi dan absennya feminisme gelombang kedua. Pada tahun 1919, sebuah jurnal bertajuk ‘Female Literary Radicals’ menyatakan bahwa, “arah perjuangan kami kepada masyarakat, bukan perempuan dan laki-laki”, artinya, standar moral, sosial, ekonomi, dan politik seharusnya tidak terkait pada gender, atau mudahnya adalah ‘silahkan pro-perempuan, tapi tanpa harus menjadi anti-laki-laki,’ dan inilah yang kemudian disebut post-feminisme.

Adapun feminisme sendiri secara garis besar merupakan gerakan yang bertumpu pada filsafat untuk melawan misogini dan ketidakadilan dengan cara mengubah kesadaran atau cara pandang bagaimana dunia ini dikonstruksi dan dikonsepsikan.

Feminisme awal berkembang saat zaman renaissance, pada pertengahan abad 18. Feminisme muncul sebagai reaksi atas industrialisasi yang mendomestifikasi perempuan.

Feminisme Gelombang pertama adalah Feminisme Liberal dan Marxis. Dua aliran besar pemikiran itu juga mengimbas di ranah perjuangan emansipasi perempuan.

Liberalisme yang menekankan individu untuk mempraktikkan otonomi diri, tapi tetap saja tidak menghilangkan diskriminasi terhadap perempuan. Perempuan mengalami situasi ketertindasan karena keterbatasan/ketiadaan akses di wilayah publik. Oleh karena itu, perjuangan feminis Marxis lebih kepada kondisi ketertindasan perempuan yang mana sebagai akibat dari kapitalisme. Penindasan perempuan adalah bagian dari penindasan kelas dalam sistem produksi.

Pada Feminisme Gelombang kedua, arahnya lebih radikal. Muncul sekitar pertengahan 1970-an, gerakan ini bertumpu pada pemahaman bahwa ketertindasan perempuan akibat patriarki. Tubuh perempuan merupakan objek utama penindasan oleh kekuasaan laki-laki. Namun, bagi aliran feminis sosialis, patriarki itu sendiri sudah muncul sebelum kapitalisme dan tetap tidak akan berubah jika kapitalisme runtuh. Maka faktor yang menyebabkan perempuan tertindas lebih dikarenakan dua hal, yakni akibat dari hubungan yang terjadi antara patriarki dan kapitalisme. Padahal, di masa itu partisipasi perempuan dalam ekonomi dan politik sudah lumrah, tapi tetap tidak selalu menaikkan status perempuan lantaran adanya ‘perbudakan terselebung’ (virtual enslaves).

Kemudian lahirlah feminisme gelombang ketiga. Kemunculan gerakan ini menjelang era 90-an yang menitikberatkan untuk beranjak dari aktivitas yang sifatnya praksis menuju ke arah kegiatan yang sifatnya lebih teoritis, menjelaskan persoalan fundamental penindasan terhadap perempuan.

Oleh karena itu, lahirlah feminis eksistensialis yang berpendapat bahwa, akar opresi terhadap perempuan adalah karena faktor psike perempuan. Psike tersebut terbentuk dan lestari dimulai karena beban reproduksi pada tubuh perempuan. Sosok perempuan menjadi liyan (the others) karena mereka tidak memiliki kekuasaan. Keliyanan tersebut diturunkan dan disosialisasikan dari generasi ke genderasi. Lembaga perkawinan dan motherhood adalah perekatnya. Agak berbeda dengan aliran gynosentrisme yang lebih dalam mengkaji perbedaan psike antara laki-laki dengan perempuan yang mana sesungguhnya sudah menjadi akar masalah, ini terjadi karena perempuan disosialisasikan dan terinternalisasi dalam dirinya bahwa mereka lebih inferior dibandingkan laki-laki.

Gelombang ketiga ini lamat-lamat mandek, sama-sama tergerus kapitalisme, tak ayal gerakan perjuangan perempuan pun mengalami pergeseran. Kembali kepada istilah post-feminisme, istilah ini digunakan pada sekitar 1980-an untuk menggambarkan kegagalan demi kegagalan perjuangan perempuan. Feminisme dirasa tidak lagi relevan, terlebih ketika manusia memasuki abad 21. Namun, postfeminisme pun menjadi label bagi perempuan-perempuan muda yang menikmati keuntungan dari perjuangan kaum perempuan di masa awal sehingga sekarang ini mereka mendapatkan akses pendidikan, pekerjaan, sosial kemasyarakatan, yang pada saat bersamaan juga tidak didorong untuk melakukan gerakan perubahan secara politik.

Di sisi lain, semakin banyak orang yang berasumsi bahwa kesetaraan gender hanyalah mitos. Maka dari itu, perjuangan feminisme tidak lagi berkutat antara laki-laki dan perempuan, melainkan pada sisi kemanusiaan tanpa harus ada sekat gender.

Menurut Angela McRobbie, seorang profesor di bidang komunikasi massa di Goldsmiths College, Universitas London, menyatakan bahwa, postfeminisme telah mengesankan orang-orang seolah feminisme sudah usai bagi abad ini. Feminisme yang tampak sekarang hanyalah hasil buatan media, contohnya; Bridget Jone’s Diary, Sex and the City, dan Ally McBeal. Karakter-karakter perempuan yang mengklaim telah terbebaskan dan tercerahkan dalam mengeksplorasi seksualitas pribadi, tapi apa yang selalu dicari tokoh-tokoh perempuan itu hanyalah seorang pria yang akan membuat segala sesuatu menjadi sangat berharga.

Susan Bolotin, dalam artikelnya ‘Voices of the Post-Feminist Generation’ di majalah New York Times pada tahun 1982 menulis, generasi post-feminis adalah penerimaan luas dari para perempuan mengenai tujuan-tujuan dari feminisme, tapi bukan mengidentifikasi diri sebagai seorang feminis.

Beberapa feminis kontemporer seperti Katha Pollitt atau Nadine Strossen berpandangan bahwa feminisme kekinian sederhananya memandang perempuan sebagai bagian dari masyarakat. Justru bagi keduanya, pandangan feminisme awal yang menyekat antara perempuan dan laki-laki bukanlah feminisme, melainkan seksisme.

Lain halnya dengan Christina Hoff Sommers. Dalam bukunya, ‘Who Stole Feminism? How Women Have Betrayed Women, dia berpendapat bahwa, gerakan feminisme telah membuat perempuan seolah selalu menjadi korban dan layak mendapatkan perlakuan istimewa. Oleh karena itu, menurutnya sangat perlu gerakan perempuan yang bertindak sebagai alternatif. Dalam hal ini, Sommers dicap sebagai antifeminis oleh beberapa feminis.

Susan Faludi dalam bukunya ‘Backlash: The Undeclared War Againts American Women’, berpendapat bahwa, reaksi terhadap feminisme gelombang kedua di tahun 1980-an telah sukses mendefinisikan kembali feminisme. Menurutnya, pendefinisian kembali itu telah menyebabkan gerakan pembebasan perempuan sebagai sumber pelbagai masalah yang mengganggu perempuan di akhir 1980-an. Padahal, masalah-masalah yang terjadi itu sebagian besar hanya ilusi yang dikonstruksi media tanpa ada bukti-bukti yang dapat diandalkan. Postfeminisme sebagai suatu reaksi merupakan tren historis, sesuatu yang berulang dalam sejarah, di mana ketika perempuan kini telah berhasil menempatkan posisi dalam kesetaraan hak dan kewajiban.

Michael Lazar menambahkan dalam analisisnya mengenai konstruksi postfeminisme yang menyebabkan keperempuanan di masa kini mengalami hibrida neo-liberal antara kepemilikan identitas dan penyingkapan diri, yang mana di sisi lain, kapitalisme ikut menggunakannya sebagai simbol perjuangan dalam berbagai iklan di media. Artinya, ada koeksis antara normativitas baru mengenai feminisme yang bersimbiosis dengan status quo.

Nah, sekarang bila kita coba untuk mempertanyakan kembali apa yang menyebabkan postfeminisme lahir? Bisa jadi karena adanya susupan dari kapitalisme. Bukan mustahil pula jika nanti ada post-postfeminisme, atau malahan pseudo-feminism, yang mana saat ini telah terjadi bukan? Gerakan perjuangan perempuan yang cuma seremonial di televisi dan hari-hari tertentu berlabel hari perempuan nasional. Terlebih lagi di Indonesia, toh setegar dan sekokoh apa pun perjuangan perempuan di negeri ini, entah itu untuk masyarakat, identitas, atau kaumnya sendiri, tetap dianggap remeh temeh bagi lelaki. Mau tidak mau, lelaki-lah yang mengkonstruksi dan mengkonsepsikan sejarah manusia dan hasil produk budaya. Tak terkecuali tafsiran doktrin agama. Para perempuan tinggal dikasih hiburan seperti batas pemisah kursi atau gerbong khusus perempuan, ajang kecantikan (bahkan kini ada ajang ke-salehan), kuota 30% di fraksi-fraksi DPR, didirikannya komnas perempuan, sinetron-sinetron agamis yang seolah memuliakan perempuan, dan aneka produk rekayasa laki-laki. Pada akhirnya, perempuan hanya bisa berujar, “Zaman sekarang sih realistis saja.”

Ya. Sekadar nyanyian penghantar mimpi panjang.

Sumber: Siperubahan.com

hantu Hantu adalah takhayul dan hanya kisah rekaan. Siapa pun yang mengaku melihat hantu, apalagi sampai melihat hantu duduk, menembus tembok, apalagi mencekik, pastilah seorang pembohong atau seluruh hukum fisika salah. Kebohongan itu bisa dicek terhadap hukum fisika paling awal dipelajari di bangku sekolah, yakni Hukum Newton bahwa Aksi=Reaksi. Dalam fisika, dua benda yang dapat berinteraksi dengan benda lain, seharusnya juga dapat saling berinteraksi di antara keduanya.

Jika seseorang melihat hantu, berarti hantu itu tunduk pada prinsip fisika. Cahaya memantul dari tubuh hantu dan masuk ke mata kita. Atau, boleh saja disebut hantu itu memancarkan cahaya sehingga bisa kita lihat. Interaksi cahaya dan mata tunduk pada prinsip fisika lumrah. Apapun hantu favorit Anda, asalkan terlihat, maka hukum fisika berlaku padanya pada saat itu, termasuk Hukum Newton selebihnya. Dan apabila hantu bisa ditangkap oleh indera manusia atau detektor paling canggih di Bumi, maka mereka harus mengandung elektron. Indera manusia hanya bereaksi terhadap gelombang elektromagnetik berupa cahaya dan/atau suara. Tetapi, bila wadah hantu mengandung elektron, hantu-hantu itu pasti tidak bisa menembus dinding seenak udel. Ikatan elektron tembok terlalu kuat untuk ditembus.

Situasinya sama seperti manusia menabrakkan diri ke tembok. Kalau bukan tembok itu berantakan, si manusia malang itu akan memar(lihat hukum newton aksi=reaksi). Tidak mungkin seseorang melihat hantu, sementara selebihnya buta-hantu. Atau, kalau kita bisa melihat hantu, dia tidak bisa raib atau menembus tembok seenak udel. Apabila betul bisa menembus tembok, si hantu itu pastilah tidak mengandung elektron. Zat seperti ini ada di Alam Semesta dan dinamakan neutrino. Neutrino dari Matahari bisa bebas menembus badan kita atau tembok. Tapi, bila tidak mengandung elektron, si hantu pasti tidak bisa menimbulkan bunyi apalagi terlihat. Pun perkakas elektronik seperti kamera atau radar inframerah tidak akan bisa menangkap kehadiran si hantu, dalam hal ini hantu tidak akan mungkin terlihat.

Hantu juga tidak dapat terbang begitu saja, apalagi tiba-tiba menghilang seenak jidat karena ada hukum gravitasi. Jadi apabila ada laporan seseorang melihat hantu, hanya ada tiga pilihan untuk orang itu: dia pembohong, terkena halusinasi/gangguan jiwa atau dia sedang mabuk. Nah, selain hantu ada juga yang disebut Tuhan. Konsep takhayul yang diciptakan manusia. Tuhan adalah teman imajiner orang dewasa. Padahal, anak-anak juga memiliki teman imajiner, yang biasanya muncul ketika menghadapi situasi yang sulit dan butuh tempat untuk melepaskan beban-beban itu. Apakah yang lebih menyenangkan selain memiliki teman imajiner yang mendengarkan pikiran dan keluh kesah anda dan mengawasi anda selama 24 sehari sampai Anda mati. Namun Tuhan suka menghakimi manusia, dan manusia yang percaya keberadaannya kemudian bercuap-cuap dogma. Maka jadilah kitab dogma agama dan ajarannya yang kemudian bodohnya terus-menerus dilestarikan dari generasi ke generasi dan diyakini sebagai kebenaran.

charlieCharlie Hebdo tidak hanya mengkritik Islam. Bahkan semua institusi agama dan politik. Namun muslimlah yang membalas mereka dengan senjata. Tanggapan orang Indonesia yang membaca berita ini sesederhana mengatakan, “Makanya jangan olok-olok agama.” itu saja? Apakah itu logika konyol yang sedang ditawarkan oleh orang-orang beragama?

Agama bukanlah hal yang sakral. Sebagian orang terus menyakralkan agama turun-temurun. Lantas apa kita perlu ikut-ikutan menyakralkan? Tidak! Agama tidak bebas dari kritik, dan itulah gunanya kebebasan bersuara agar kita bebas melancarkan kritik terhadap sesuatu yang tidak rasional dan menggelontorkan gagasan-gagasan yang bodoh.

Masih ingat kan beberapa waktu lalu Paus Fransiskus mengeluarkan pernyataan yang kesannya mengakui teori evolusi, big bang, dan modern sains.

“When we read about Creation in Genesis, we run the risk of imagining God was a magician, with a magic wand able to do everything. But that is not so,”

“He created human beings and let them develop according to the internal laws that he gave to each one so they would reach their fulfillment.”

“God is not a divine being or a magician, but the Creator who brought everything to life,”

“Evolution in nature is not inconsistent with the notion of creation, because evolution requires the creation of beings that evolve.”

Reaksi berdatangan dari kalangan saintis yang notabene kebanyakan dari mereka adalah ateis atau agnostik. Pernyataan Paus Fransiskus seolah mendukung sains, tapi justru sebaliknya hanya menggunakan sains sebagai “senjata” kaum kreasionis.

Apa yang dilakukan Paus Fransiskus langsung menjadi bulan-bulanan dan bahan olok-olok di antara para ateis dan juga saintis. Seorang Astrofisikawan, Neil deGrasse Tyson, menyindir ucapan Paus Fransiskus. Mengapa Paus Fransiskus berani mengakui teori evolusi dan big bang, “jangan-jangan dia baru saja menonton Cosmos.” Cosmos adalah tayangan sains di sebuah kanal berbayar National Geographic Channel yang dipandu oleh Neil deGrasse Tyson sendiri. Lengkapnya, Cosmos: A Spacetime Oddysey.

Kemudian ada juga debat di televisi Amrik antara Ben Affleck, Bill Maher, Sam Harris, Nicholas Kristof dan Michael Steele. Ada kutipan atau quote dari Affleck yang mengatakan bahwa, mengkritik Islam adalah gross (menjijikkan), rasis, dan stereotip. Sementara itu, Kristof, seorang kolumnis New York Times, mengatakan bahwa biasanya orang kulit putih yang rasis menggunakan karikatur untuk menyuarakan kritik mereka. Namun Sam Harris, seorang saintis, mengatakan bahwa, “Islam is not a Race. Criticism of Islam is not Racism“. Agama bukanlah ras, dan mengkritik agama sama sekali bukan rasis.

Tentu ini berlaku juga buat agama lain. Mengkritik agama sama halnya dengan blasphemy, dan biasanya blasphemy memang distempel oleh kalangan agama sebagai penodaan atau penistaan terhadap agama. Indonesia termasuk negara yang masih memberlakukan undang-undang itu. Mengapa harus ada undang-undang penistaan agama jika agama sendiri adalah sesuatu yang nista, khususnya pada bagian yang menistakan kemanusiaan dengan dalih ajaran agama yang difirmankan Tuhan dan disebarkan oleh Nabi.

Ketika umat agama selain Islam berbesar hati dengan olok-olok itu. Namun justru dengan melihat kasus penembakan yang terjadi pada media surat kabar Charlie Hebdo adalah wujud dari sumbu pendek orang-orang Islam.

Katakanlah Charlie Hebdo merupakan media ateis. Tentu saja pasti kena stempel Islamophobia. Namun Islamophobia sendiri adalah istilah buatan yang patut dikritisi. Pascakejadian yang menimpa Charlie Hebdo, media lain termasuk secara perorangan, para ateis mengkritik Islam dengan gambar maupun tulisan. Maka kritik itu dibalas oleh media Islam dengan tajuk serupa “kampanye Islamophobia meluas di Eropa”. Sasarannya lebih banyak ke penganut agama lain selain Islam (non-muslim) yang bercokol di dunia Barat. Namun perlu diketahui bahwa, Eropa sekarang ini justru banyak orang yang telah menjadi ateis. Gereja-gereja mulai kosong dan berganti fungsi setelah dibeli oleh investor atau developer. Mereka tidak butuh agama untuk menentukan hidup mereka. Adapun hari raya agama seperti Natal hanya mereka pandang sebagai kultur saja, atau sekadar penanda waktu liburan di musim dingin.

Lalu apakah Islamophobia? Sebuah tulisan mendedah jargon Islamophobia ini.

Pertama, karena kita terjebak pada pemikiran monolitik Islam vs Barat. Padahal, dalam komunitas dunia Internasional, tidak ada yang berpikir peradaban Barat lebih unggul dari Islam, atau sebaliknya Islam lebih rentan dari Barat ketika pada saat yang sama disebabkan oleh esensi Islam itu sendiri.

Kedua, umat Islam tidak serta merta harus berkurang jumlahnya hanya karena olok-olokan semata, apalagi yang datang dari ateis.

Ketiga, ketika terjadi pertikaian antara umat Islam. Apa yang diperbuat muslim dunia selain berpihak dan menyalahkan satu sama lain. Termasuk menyerang pihak di luar Islam.

Keempat, umat Islam tidak punya otoritas tunggal di dunia. Lalu apakah setiap pemimpin negara di dunia memata-matai umat Islam di negara mereka masing-masing? Tidak. Umat Islam dipandang menjadi bagian dari warga negara sebagaimana umat agama lain.

Kelima, jika seseorang atau media surat kabar mengkritik kelompok seperti ISIS atau Boko Haram yang menindas sesama manusia, dan menggunakan agama untuk menjustifikasi kebenaran dari perbuatan yang mereka lakukan, itu tidak berarti mereka memusuhi umat Islam lainnya.

Saya jadi teringat sebuah acara yang juga ditayangkan di Natgeo, yang waktu itu tengah mengupas tentang produk Apple. Salah satu pembahasannya adalah melihat perilaku para penggemar berat gadget. Ternyata setelah mereka melakukan pemindaian aktivitas otak para penggemar berat produk-produk Apple, tidak jauh berbeda dengan orang yang beragama. Si pembawa acara menyamakan kelakuan penganut agama dan penggemar berat Apple yang menganggap Steve Jobs sebagai Nabi dan menyakralkan toko resmi penjualan Apple selayaknya rumah peribadatan. Kemudian ada seorang pendeta yang diwawancarai juga mengamini hal itu.

Lalu apa? Ya, itu tidak mengundang apa-apa. Bahkan olok-olok yang dilakukan si pembawa acara pun tidak menimbulkan sesuatu seperti yang dilakukan oleh para penyerang kantor Charlie Hebdo. Kemudian pertanyaannya adalah siapa yang mengidap gejala inferior di sini?

Inilah yang patut kita, atau Anda sebagai muslim (karena sekarang saya telah menjadi ateis), apakah Anda masih mengidap gejala itu atau tidak. Tidak perlu berlindung di balik jawaban “Makanya kita tidak perlu mengolok-olok agama”. Justru agama mau tidak mau akan berbenturan dengan apa yang terjadi di masyarakat, termasuk juga dengan sains. Mereka yang berkhidmat terhadap kebebasan berpendapat dan berekspresi, malah semestinya tahan banting dan tidak bersumbu pendek ketika berhadapan dengan olok-olok. Sebab yang namanya kritik juga bisa berupa olok-olok, ungkapan sarkas dan satir, dan sebagainya.

Agama sering mengklaim diri sebagai sesuatu yang sempurna dan abadi melampaui usia manusia. Bahkan hingga zaman berakhir. Ungkapan ini pun keliru jika ditilik dari sains, tidak ada yang namanya akhir zaman karena alam semesta akan selalu dan tetap ada. Manusialah yang menciptakan agama. Ketika CERN berhasil membuat tabung elektromagnetik untuk mewadahi antimateri sebagai bahan bakar pesawat antargalaksi (diperkirakan oleh saintis Stargazing di BBC Knowledge akan selesai tahun 2100), maka manusia bisa menjelajahi Saturnus dalam waktu relatif singkat. Jika manusia telah berkoloni di planet lain, tentu akan ada agama baru, ada konsep dan sosok Tuhan baru yang diciptakan oleh manusia.

Maka, agama bukanlah hal yang sakral. Tidak jauh beda dengan hal lain seperti yang disebut budaya. Saya teringat kata-kata sastrawan Lebanon Amin Maalouf dalam bukunya “Balthasar’s Odyssey” bahwa, tradisi memang pantas dihormati selama patut untuk dihormati. Agama juga begitu. Karenanya, yang tidak patut dihormati justru patut dikritisi (didesakralisasi, diolok-olok, dsb).

Untuk apa media seperti Charlie Hebdo membangga-banggakan kecerdasan emosional jika ternyata emosi itu mempertahankan selubung ketakutan dan kabut kebodohan. Justru dengan kejadian itu malah semakin membuka mata dunia melek-melek terhadap dampak yang ditimbulkan oleh indoktrinasi agama membabi buta.

Berikut adalah daftar 7 buku paling mahal di dunia!

The First Book of Urizen, William Blake — $2.5 million

1

The First Book of Urizen adalah salah satu karya utama dan terpenting karya William Blake. Terjual di Sotheby New York pada tahun 1999 sebesar $2,500,000 (sekitar 31 miliar lebih) kepada seorang kolektor.

The Tales of Beedle the Bard, J.K. Rowling — $3.98 million

2

Sebelum dijual di pasaran, JK Rowling menerbitkan buku ini sebanyak tujuh eksemplar, masing-masing ditulis tangan dan diilustrasikan oleh Rowling sendiri. Enam buku diberikan kepada teman-temannya dan editornya, tetapi pada tahun 2007, salah satu dari tujuh buku itu disiapkan untuk dilelang. Buku ini adalah buku modern yang paling mahal yang pernah dibeli di pelelangan, harganya sekitar 49 miliar lebih. Uang dari penjualan buku ini disumbangkan kampanye amal The Children’s Voice.

Geographia Cosmographia, Claudius Ptolemy — $4 million

Geographia Cosmographia.

Atlas dunia yang pertama kali dicetak. Terjual di Sotheby London pada tahun 2006 sebesar $4.000.000 (sekitar 49 miliar lebih).

Traité des arbres fruitiers [Treatise on Fruit Trees] karya Henri Louis Duhamel du Monceau, diilustrasikan oleh Pierre Antoine Poiteau dan Pierre Jean François Turpin — $4.5 million

Traité des arbres fruitiers.

Ini adalah buku tentang buah-buahan yang paling mahal di dunia (menampilkan enam belas varietas yang berbeda!). Terjual sekitar $4.500.000 (sekitar 56 miliar lebih) pada tahun 2006.

First Folio, William Shakespeare — $6 million

First Folio.

First Folio karya William Shakepeare ini adalah buku paling berharga yang pernah ditemukan untuk para kolektor buku antik. Pada tahun 2001, cofounder Microsoft, Paul Allen, membeli salinan ini sebesar $6.166.000 (sekitar 76 miliar lebih). [baca juga: 10 Fakta tentang Shakespeare yang Perlu Kamu Tahu].

Birds of America, James Audubon — $11.5 million

Birds of America.

Pada tahun 2000, buku Birds of America ini dilelang dan berhasil terjual sebesar $8.802.500 (sekitar 109 miliar lebih). Sepuluh tahun kemudian, buku ini dijual di Sotheby London sebesar $11.500.000 (sekitar 143 miliar lebih).

The Codex Leicester, Leonardo da Vinci — $30.8 million

The Codex Leicester.

Inilah jurnal ilmiah da Vinci yang paling terkenal, naskah 72-halaman yang berisi renungan dengan tulisan tangan sang seniman sekaligus pemikir besar yang pernah lahir ke dunia ini. Naskah ini pertama kali dibeli pada tahun 1717 oleh Thomas Coke, dan kemudian, pada tahun 1980, dibeli oleh kolektor seni Armand Hammer. Pada tahun 1994, Bill Gates membeli jurnal ini sebesar $30.800.000 (sekitar 384 miliar lebih) di sebuah acara lelang.

sumber: [NHD/Spoila/Flavorwire]

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 619 other followers