Monggo dipesan novel Evenaar: Sang Utusan karya Kupret el-Kazhiem.

Tebal : 477 hal.

Penerbit: Kalimaya Publishing.

Harga; Rp 65 ribu (belum ongkir)

Pre-Order sekarang yuk

Hubungi: 08568022395/08994126376 (telp/sms/WA)

Sinopsis:

Novel ini berlatar belakang dunia imajinasi yang menceritakan tentang perjalanan seorang remaja bernama Aqiel yang terjebak di antara perang antarkerajaan. Dahulu kala pernah ada satu bangsa, yaitu bangsa Gargiria. Kemudian terpecah belah menjadi Zalikan dan Suta. Peperangan keduanya turut mengimbas Evenaar. Padahal, kota ini sudah berulang kali selamat dari perang besar selama bertahun-tahun. Namun, di dalam Evenaar sendiri terjadi pemberontakan. Seorang bernama Sofis mendeklarasikan sebagai Raja baru. Kekisruhan itu membuat Aqiel harus melarikan diri. Dalam pengembaraannya itu, dia bertemu dengan tokoh lainnya. Perjumpaan demi perjumpaan merangkai suatu kisah petualangan mengejutkan. Seperti bertemu dengan makhluk raksasa, benda-benda ajaib, hingga menemukan kebenaran tentang jati dirinya. Di sisi lain, dia bertemu dengan seorang gadis sebayanya yang misterius. Membuatnya menyimpan perasaan kagum, minder, dan juga amarah. Masa lalu dan masa depan membuat Aqiel terjerembab dalam kekacauan. Masing-masing kerajaan berusaha menguasai kotanya yang ternyata menyimpan rahasia tentang perahu angkasa Vimana.

Novel ini terdiri dari 477 halaman dan 13 bab; 1. Badai Cahaya, 2. Vimana, 3. Anamnesis, 4. Anamorfosa, 5. Anagogi, 6. Antima, 7. Gerima, 8. Nausea , 9. Satmata, 10. Absolum, 11. Anathema, 12. Quintessa, 13. Ennoia

Silakan buat yang berminat. Minum kopi sambil baca Evenaar pasti tambah seru. cover depan cover

9780748402373_p0_v1_s260x420Postfeminism atau pascafeminisme adalah reaksi terhadap beberapa kontradiksi dan absennya feminisme gelombang kedua. Pada tahun 1919, sebuah jurnal bertajuk ‘Female Literary Radicals’ menyatakan bahwa, “arah perjuangan kami kepada masyarakat, bukan perempuan dan laki-laki”, artinya, standar moral, sosial, ekonomi, dan politik seharusnya tidak terkait pada gender, atau mudahnya adalah ‘silahkan pro-perempuan, tapi tanpa harus menjadi anti-laki-laki,’ dan inilah yang kemudian disebut post-feminisme.

Adapun feminisme sendiri secara garis besar merupakan gerakan yang bertumpu pada filsafat untuk melawan misogini dan ketidakadilan dengan cara mengubah kesadaran atau cara pandang bagaimana dunia ini dikonstruksi dan dikonsepsikan.

Feminisme awal berkembang saat zaman renaissance, pada pertengahan abad 18. Feminisme muncul sebagai reaksi atas industrialisasi yang mendomestifikasi perempuan.

Feminisme Gelombang pertama adalah Feminisme Liberal dan Marxis. Dua aliran besar pemikiran itu juga mengimbas di ranah perjuangan emansipasi perempuan.

Liberalisme yang menekankan individu untuk mempraktikkan otonomi diri, tapi tetap saja tidak menghilangkan diskriminasi terhadap perempuan. Perempuan mengalami situasi ketertindasan karena keterbatasan/ketiadaan akses di wilayah publik. Oleh karena itu, perjuangan feminis Marxis lebih kepada kondisi ketertindasan perempuan yang mana sebagai akibat dari kapitalisme. Penindasan perempuan adalah bagian dari penindasan kelas dalam sistem produksi.

Pada Feminisme Gelombang kedua, arahnya lebih radikal. Muncul sekitar pertengahan 1970-an, gerakan ini bertumpu pada pemahaman bahwa ketertindasan perempuan akibat patriarki. Tubuh perempuan merupakan objek utama penindasan oleh kekuasaan laki-laki. Namun, bagi aliran feminis sosialis, patriarki itu sendiri sudah muncul sebelum kapitalisme dan tetap tidak akan berubah jika kapitalisme runtuh. Maka faktor yang menyebabkan perempuan tertindas lebih dikarenakan dua hal, yakni akibat dari hubungan yang terjadi antara patriarki dan kapitalisme. Padahal, di masa itu partisipasi perempuan dalam ekonomi dan politik sudah lumrah, tapi tetap tidak selalu menaikkan status perempuan lantaran adanya ‘perbudakan terselebung’ (virtual enslaves).

Kemudian lahirlah feminisme gelombang ketiga. Kemunculan gerakan ini menjelang era 90-an yang menitikberatkan untuk beranjak dari aktivitas yang sifatnya praksis menuju ke arah kegiatan yang sifatnya lebih teoritis, menjelaskan persoalan fundamental penindasan terhadap perempuan.

Oleh karena itu, lahirlah feminis eksistensialis yang berpendapat bahwa, akar opresi terhadap perempuan adalah karena faktor psike perempuan. Psike tersebut terbentuk dan lestari dimulai karena beban reproduksi pada tubuh perempuan. Sosok perempuan menjadi liyan (the others) karena mereka tidak memiliki kekuasaan. Keliyanan tersebut diturunkan dan disosialisasikan dari generasi ke genderasi. Lembaga perkawinan dan motherhood adalah perekatnya. Agak berbeda dengan aliran gynosentrisme yang lebih dalam mengkaji perbedaan psike antara laki-laki dengan perempuan yang mana sesungguhnya sudah menjadi akar masalah, ini terjadi karena perempuan disosialisasikan dan terinternalisasi dalam dirinya bahwa mereka lebih inferior dibandingkan laki-laki.

Gelombang ketiga ini lamat-lamat mandek, sama-sama tergerus kapitalisme, tak ayal gerakan perjuangan perempuan pun mengalami pergeseran. Kembali kepada istilah post-feminisme, istilah ini digunakan pada sekitar 1980-an untuk menggambarkan kegagalan demi kegagalan perjuangan perempuan. Feminisme dirasa tidak lagi relevan, terlebih ketika manusia memasuki abad 21. Namun, postfeminisme pun menjadi label bagi perempuan-perempuan muda yang menikmati keuntungan dari perjuangan kaum perempuan di masa awal sehingga sekarang ini mereka mendapatkan akses pendidikan, pekerjaan, sosial kemasyarakatan, yang pada saat bersamaan juga tidak didorong untuk melakukan gerakan perubahan secara politik.

Di sisi lain, semakin banyak orang yang berasumsi bahwa kesetaraan gender hanyalah mitos. Maka dari itu, perjuangan feminisme tidak lagi berkutat antara laki-laki dan perempuan, melainkan pada sisi kemanusiaan tanpa harus ada sekat gender.

Menurut Angela McRobbie, seorang profesor di bidang komunikasi massa di Goldsmiths College, Universitas London, menyatakan bahwa, postfeminisme telah mengesankan orang-orang seolah feminisme sudah usai bagi abad ini. Feminisme yang tampak sekarang hanyalah hasil buatan media, contohnya; Bridget Jone’s Diary, Sex and the City, dan Ally McBeal. Karakter-karakter perempuan yang mengklaim telah terbebaskan dan tercerahkan dalam mengeksplorasi seksualitas pribadi, tapi apa yang selalu dicari tokoh-tokoh perempuan itu hanyalah seorang pria yang akan membuat segala sesuatu menjadi sangat berharga.

Susan Bolotin, dalam artikelnya ‘Voices of the Post-Feminist Generation’ di majalah New York Times pada tahun 1982 menulis, generasi post-feminis adalah penerimaan luas dari para perempuan mengenai tujuan-tujuan dari feminisme, tapi bukan mengidentifikasi diri sebagai seorang feminis.

Beberapa feminis kontemporer seperti Katha Pollitt atau Nadine Strossen berpandangan bahwa feminisme kekinian sederhananya memandang perempuan sebagai bagian dari masyarakat. Justru bagi keduanya, pandangan feminisme awal yang menyekat antara perempuan dan laki-laki bukanlah feminisme, melainkan seksisme.

Lain halnya dengan Christina Hoff Sommers. Dalam bukunya, ‘Who Stole Feminism? How Women Have Betrayed Women, dia berpendapat bahwa, gerakan feminisme telah membuat perempuan seolah selalu menjadi korban dan layak mendapatkan perlakuan istimewa. Oleh karena itu, menurutnya sangat perlu gerakan perempuan yang bertindak sebagai alternatif. Dalam hal ini, Sommers dicap sebagai antifeminis oleh beberapa feminis.

Susan Faludi dalam bukunya ‘Backlash: The Undeclared War Againts American Women’, berpendapat bahwa, reaksi terhadap feminisme gelombang kedua di tahun 1980-an telah sukses mendefinisikan kembali feminisme. Menurutnya, pendefinisian kembali itu telah menyebabkan gerakan pembebasan perempuan sebagai sumber pelbagai masalah yang mengganggu perempuan di akhir 1980-an. Padahal, masalah-masalah yang terjadi itu sebagian besar hanya ilusi yang dikonstruksi media tanpa ada bukti-bukti yang dapat diandalkan. Postfeminisme sebagai suatu reaksi merupakan tren historis, sesuatu yang berulang dalam sejarah, di mana ketika perempuan kini telah berhasil menempatkan posisi dalam kesetaraan hak dan kewajiban.

Michael Lazar menambahkan dalam analisisnya mengenai konstruksi postfeminisme yang menyebabkan keperempuanan di masa kini mengalami hibrida neo-liberal antara kepemilikan identitas dan penyingkapan diri, yang mana di sisi lain, kapitalisme ikut menggunakannya sebagai simbol perjuangan dalam berbagai iklan di media. Artinya, ada koeksis antara normativitas baru mengenai feminisme yang bersimbiosis dengan status quo.

Nah, sekarang bila kita coba untuk mempertanyakan kembali apa yang menyebabkan postfeminisme lahir? Bisa jadi karena adanya susupan dari kapitalisme. Bukan mustahil pula jika nanti ada post-postfeminisme, atau malahan pseudo-feminism, yang mana saat ini telah terjadi bukan? Gerakan perjuangan perempuan yang cuma seremonial di televisi dan hari-hari tertentu berlabel hari perempuan nasional. Terlebih lagi di Indonesia, toh setegar dan sekokoh apa pun perjuangan perempuan di negeri ini, entah itu untuk masyarakat, identitas, atau kaumnya sendiri, tetap dianggap remeh temeh bagi lelaki. Mau tidak mau, lelaki-lah yang mengkonstruksi dan mengkonsepsikan sejarah manusia dan hasil produk budaya. Tak terkecuali tafsiran doktrin agama. Para perempuan tinggal dikasih hiburan seperti batas pemisah kursi atau gerbong khusus perempuan, ajang kecantikan (bahkan kini ada ajang ke-salehan), kuota 30% di fraksi-fraksi DPR, didirikannya komnas perempuan, sinetron-sinetron agamis yang seolah memuliakan perempuan, dan aneka produk rekayasa laki-laki. Pada akhirnya, perempuan hanya bisa berujar, “Zaman sekarang sih realistis saja.”

Ya. Sekadar nyanyian penghantar mimpi panjang.

Sumber: Siperubahan.com

hantu Hantu adalah takhayul dan hanya kisah rekaan. Siapa pun yang mengaku melihat hantu, apalagi sampai melihat hantu duduk, menembus tembok, apalagi mencekik, pastilah seorang pembohong atau seluruh hukum fisika salah. Kebohongan itu bisa dicek terhadap hukum fisika paling awal dipelajari di bangku sekolah, yakni Hukum Newton bahwa Aksi=Reaksi. Dalam fisika, dua benda yang dapat berinteraksi dengan benda lain, seharusnya juga dapat saling berinteraksi di antara keduanya.

Jika seseorang melihat hantu, berarti hantu itu tunduk pada prinsip fisika. Cahaya memantul dari tubuh hantu dan masuk ke mata kita. Atau, boleh saja disebut hantu itu memancarkan cahaya sehingga bisa kita lihat. Interaksi cahaya dan mata tunduk pada prinsip fisika lumrah. Apapun hantu favorit Anda, asalkan terlihat, maka hukum fisika berlaku padanya pada saat itu, termasuk Hukum Newton selebihnya. Dan apabila hantu bisa ditangkap oleh indera manusia atau detektor paling canggih di Bumi, maka mereka harus mengandung elektron. Indera manusia hanya bereaksi terhadap gelombang elektromagnetik berupa cahaya dan/atau suara. Tetapi, bila wadah hantu mengandung elektron, hantu-hantu itu pasti tidak bisa menembus dinding seenak udel. Ikatan elektron tembok terlalu kuat untuk ditembus.

Situasinya sama seperti manusia menabrakkan diri ke tembok. Kalau bukan tembok itu berantakan, si manusia malang itu akan memar(lihat hukum newton aksi=reaksi). Tidak mungkin seseorang melihat hantu, sementara selebihnya buta-hantu. Atau, kalau kita bisa melihat hantu, dia tidak bisa raib atau menembus tembok seenak udel. Apabila betul bisa menembus tembok, si hantu itu pastilah tidak mengandung elektron. Zat seperti ini ada di Alam Semesta dan dinamakan neutrino. Neutrino dari Matahari bisa bebas menembus badan kita atau tembok. Tapi, bila tidak mengandung elektron, si hantu pasti tidak bisa menimbulkan bunyi apalagi terlihat. Pun perkakas elektronik seperti kamera atau radar inframerah tidak akan bisa menangkap kehadiran si hantu, dalam hal ini hantu tidak akan mungkin terlihat.

Hantu juga tidak dapat terbang begitu saja, apalagi tiba-tiba menghilang seenak jidat karena ada hukum gravitasi. Jadi apabila ada laporan seseorang melihat hantu, hanya ada tiga pilihan untuk orang itu: dia pembohong, terkena halusinasi/gangguan jiwa atau dia sedang mabuk. Nah, selain hantu ada juga yang disebut Tuhan. Konsep takhayul yang diciptakan manusia. Tuhan adalah teman imajiner orang dewasa. Padahal, anak-anak juga memiliki teman imajiner, yang biasanya muncul ketika menghadapi situasi yang sulit dan butuh tempat untuk melepaskan beban-beban itu. Apakah yang lebih menyenangkan selain memiliki teman imajiner yang mendengarkan pikiran dan keluh kesah anda dan mengawasi anda selama 24 sehari sampai Anda mati. Namun Tuhan suka menghakimi manusia, dan manusia yang percaya keberadaannya kemudian bercuap-cuap dogma. Maka jadilah kitab dogma agama dan ajarannya yang kemudian bodohnya terus-menerus dilestarikan dari generasi ke generasi dan diyakini sebagai kebenaran.

charlieCharlie Hebdo tidak hanya mengkritik Islam. Bahkan semua institusi agama dan politik. Namun muslimlah yang membalas mereka dengan senjata. Tanggapan orang Indonesia yang membaca berita ini sesederhana mengatakan, “Makanya jangan olok-olok agama.” itu saja? Apakah itu logika konyol yang sedang ditawarkan oleh orang-orang beragama?

Agama bukanlah hal yang sakral. Sebagian orang terus menyakralkan agama turun-temurun. Lantas apa kita perlu ikut-ikutan menyakralkan? Tidak! Agama tidak bebas dari kritik, dan itulah gunanya kebebasan bersuara agar kita bebas melancarkan kritik terhadap sesuatu yang tidak rasional dan menggelontorkan gagasan-gagasan yang bodoh.

Masih ingat kan beberapa waktu lalu Paus Fransiskus mengeluarkan pernyataan yang kesannya mengakui teori evolusi, big bang, dan modern sains.

“When we read about Creation in Genesis, we run the risk of imagining God was a magician, with a magic wand able to do everything. But that is not so,”

“He created human beings and let them develop according to the internal laws that he gave to each one so they would reach their fulfillment.”

“God is not a divine being or a magician, but the Creator who brought everything to life,”

“Evolution in nature is not inconsistent with the notion of creation, because evolution requires the creation of beings that evolve.”

Reaksi berdatangan dari kalangan saintis yang notabene kebanyakan dari mereka adalah ateis atau agnostik. Pernyataan Paus Fransiskus seolah mendukung sains, tapi justru sebaliknya hanya menggunakan sains sebagai “senjata” kaum kreasionis.

Apa yang dilakukan Paus Fransiskus langsung menjadi bulan-bulanan dan bahan olok-olok di antara para ateis dan juga saintis. Seorang Astrofisikawan, Neil deGrasse Tyson, menyindir ucapan Paus Fransiskus. Mengapa Paus Fransiskus berani mengakui teori evolusi dan big bang, “jangan-jangan dia baru saja menonton Cosmos.” Cosmos adalah tayangan sains di sebuah kanal berbayar National Geographic Channel yang dipandu oleh Neil deGrasse Tyson sendiri. Lengkapnya, Cosmos: A Spacetime Oddysey.

Kemudian ada juga debat di televisi Amrik antara Ben Affleck, Bill Maher, Sam Harris, Nicholas Kristof dan Michael Steele. Ada kutipan atau quote dari Affleck yang mengatakan bahwa, mengkritik Islam adalah gross (menjijikkan), rasis, dan stereotip. Sementara itu, Kristof, seorang kolumnis New York Times, mengatakan bahwa biasanya orang kulit putih yang rasis menggunakan karikatur untuk menyuarakan kritik mereka. Namun Sam Harris, seorang saintis, mengatakan bahwa, “Islam is not a Race. Criticism of Islam is not Racism“. Agama bukanlah ras, dan mengkritik agama sama sekali bukan rasis.

Tentu ini berlaku juga buat agama lain. Mengkritik agama sama halnya dengan blasphemy, dan biasanya blasphemy memang distempel oleh kalangan agama sebagai penodaan atau penistaan terhadap agama. Indonesia termasuk negara yang masih memberlakukan undang-undang itu. Mengapa harus ada undang-undang penistaan agama jika agama sendiri adalah sesuatu yang nista, khususnya pada bagian yang menistakan kemanusiaan dengan dalih ajaran agama yang difirmankan Tuhan dan disebarkan oleh Nabi.

Ketika umat agama selain Islam berbesar hati dengan olok-olok itu. Namun justru dengan melihat kasus penembakan yang terjadi pada media surat kabar Charlie Hebdo adalah wujud dari sumbu pendek orang-orang Islam.

Katakanlah Charlie Hebdo merupakan media ateis. Tentu saja pasti kena stempel Islamophobia. Namun Islamophobia sendiri adalah istilah buatan yang patut dikritisi. Pascakejadian yang menimpa Charlie Hebdo, media lain termasuk secara perorangan, para ateis mengkritik Islam dengan gambar maupun tulisan. Maka kritik itu dibalas oleh media Islam dengan tajuk serupa “kampanye Islamophobia meluas di Eropa”. Sasarannya lebih banyak ke penganut agama lain selain Islam (non-muslim) yang bercokol di dunia Barat. Namun perlu diketahui bahwa, Eropa sekarang ini justru banyak orang yang telah menjadi ateis. Gereja-gereja mulai kosong dan berganti fungsi setelah dibeli oleh investor atau developer. Mereka tidak butuh agama untuk menentukan hidup mereka. Adapun hari raya agama seperti Natal hanya mereka pandang sebagai kultur saja, atau sekadar penanda waktu liburan di musim dingin.

Lalu apakah Islamophobia? Sebuah tulisan mendedah jargon Islamophobia ini.

Pertama, karena kita terjebak pada pemikiran monolitik Islam vs Barat. Padahal, dalam komunitas dunia Internasional, tidak ada yang berpikir peradaban Barat lebih unggul dari Islam, atau sebaliknya Islam lebih rentan dari Barat ketika pada saat yang sama disebabkan oleh esensi Islam itu sendiri.

Kedua, umat Islam tidak serta merta harus berkurang jumlahnya hanya karena olok-olokan semata, apalagi yang datang dari ateis.

Ketiga, ketika terjadi pertikaian antara umat Islam. Apa yang diperbuat muslim dunia selain berpihak dan menyalahkan satu sama lain. Termasuk menyerang pihak di luar Islam.

Keempat, umat Islam tidak punya otoritas tunggal di dunia. Lalu apakah setiap pemimpin negara di dunia memata-matai umat Islam di negara mereka masing-masing? Tidak. Umat Islam dipandang menjadi bagian dari warga negara sebagaimana umat agama lain.

Kelima, jika seseorang atau media surat kabar mengkritik kelompok seperti ISIS atau Boko Haram yang menindas sesama manusia, dan menggunakan agama untuk menjustifikasi kebenaran dari perbuatan yang mereka lakukan, itu tidak berarti mereka memusuhi umat Islam lainnya.

Saya jadi teringat sebuah acara yang juga ditayangkan di Natgeo, yang waktu itu tengah mengupas tentang produk Apple. Salah satu pembahasannya adalah melihat perilaku para penggemar berat gadget. Ternyata setelah mereka melakukan pemindaian aktivitas otak para penggemar berat produk-produk Apple, tidak jauh berbeda dengan orang yang beragama. Si pembawa acara menyamakan kelakuan penganut agama dan penggemar berat Apple yang menganggap Steve Jobs sebagai Nabi dan menyakralkan toko resmi penjualan Apple selayaknya rumah peribadatan. Kemudian ada seorang pendeta yang diwawancarai juga mengamini hal itu.

Lalu apa? Ya, itu tidak mengundang apa-apa. Bahkan olok-olok yang dilakukan si pembawa acara pun tidak menimbulkan sesuatu seperti yang dilakukan oleh para penyerang kantor Charlie Hebdo. Kemudian pertanyaannya adalah siapa yang mengidap gejala inferior di sini?

Inilah yang patut kita, atau Anda sebagai muslim (karena sekarang saya telah menjadi ateis), apakah Anda masih mengidap gejala itu atau tidak. Tidak perlu berlindung di balik jawaban “Makanya kita tidak perlu mengolok-olok agama”. Justru agama mau tidak mau akan berbenturan dengan apa yang terjadi di masyarakat, termasuk juga dengan sains. Mereka yang berkhidmat terhadap kebebasan berpendapat dan berekspresi, malah semestinya tahan banting dan tidak bersumbu pendek ketika berhadapan dengan olok-olok. Sebab yang namanya kritik juga bisa berupa olok-olok, ungkapan sarkas dan satir, dan sebagainya.

Agama sering mengklaim diri sebagai sesuatu yang sempurna dan abadi melampaui usia manusia. Bahkan hingga zaman berakhir. Ungkapan ini pun keliru jika ditilik dari sains, tidak ada yang namanya akhir zaman karena alam semesta akan selalu dan tetap ada. Manusialah yang menciptakan agama. Ketika CERN berhasil membuat tabung elektromagnetik untuk mewadahi antimateri sebagai bahan bakar pesawat antargalaksi (diperkirakan oleh saintis Stargazing di BBC Knowledge akan selesai tahun 2100), maka manusia bisa menjelajahi Saturnus dalam waktu relatif singkat. Jika manusia telah berkoloni di planet lain, tentu akan ada agama baru, ada konsep dan sosok Tuhan baru yang diciptakan oleh manusia.

Maka, agama bukanlah hal yang sakral. Tidak jauh beda dengan hal lain seperti yang disebut budaya. Saya teringat kata-kata sastrawan Lebanon Amin Maalouf dalam bukunya “Balthasar’s Odyssey” bahwa, tradisi memang pantas dihormati selama patut untuk dihormati. Agama juga begitu. Karenanya, yang tidak patut dihormati justru patut dikritisi (didesakralisasi, diolok-olok, dsb).

Untuk apa media seperti Charlie Hebdo membangga-banggakan kecerdasan emosional jika ternyata emosi itu mempertahankan selubung ketakutan dan kabut kebodohan. Justru dengan kejadian itu malah semakin membuka mata dunia melek-melek terhadap dampak yang ditimbulkan oleh indoktrinasi agama membabi buta.

Berikut adalah daftar 7 buku paling mahal di dunia!

The First Book of Urizen, William Blake — $2.5 million

1

The First Book of Urizen adalah salah satu karya utama dan terpenting karya William Blake. Terjual di Sotheby New York pada tahun 1999 sebesar $2,500,000 (sekitar 31 miliar lebih) kepada seorang kolektor.

The Tales of Beedle the Bard, J.K. Rowling — $3.98 million

2

Sebelum dijual di pasaran, JK Rowling menerbitkan buku ini sebanyak tujuh eksemplar, masing-masing ditulis tangan dan diilustrasikan oleh Rowling sendiri. Enam buku diberikan kepada teman-temannya dan editornya, tetapi pada tahun 2007, salah satu dari tujuh buku itu disiapkan untuk dilelang. Buku ini adalah buku modern yang paling mahal yang pernah dibeli di pelelangan, harganya sekitar 49 miliar lebih. Uang dari penjualan buku ini disumbangkan kampanye amal The Children’s Voice.

Geographia Cosmographia, Claudius Ptolemy — $4 million

Geographia Cosmographia.

Atlas dunia yang pertama kali dicetak. Terjual di Sotheby London pada tahun 2006 sebesar $4.000.000 (sekitar 49 miliar lebih).

Traité des arbres fruitiers [Treatise on Fruit Trees] karya Henri Louis Duhamel du Monceau, diilustrasikan oleh Pierre Antoine Poiteau dan Pierre Jean François Turpin — $4.5 million

Traité des arbres fruitiers.

Ini adalah buku tentang buah-buahan yang paling mahal di dunia (menampilkan enam belas varietas yang berbeda!). Terjual sekitar $4.500.000 (sekitar 56 miliar lebih) pada tahun 2006.

First Folio, William Shakespeare — $6 million

First Folio.

First Folio karya William Shakepeare ini adalah buku paling berharga yang pernah ditemukan untuk para kolektor buku antik. Pada tahun 2001, cofounder Microsoft, Paul Allen, membeli salinan ini sebesar $6.166.000 (sekitar 76 miliar lebih). [baca juga: 10 Fakta tentang Shakespeare yang Perlu Kamu Tahu].

Birds of America, James Audubon — $11.5 million

Birds of America.

Pada tahun 2000, buku Birds of America ini dilelang dan berhasil terjual sebesar $8.802.500 (sekitar 109 miliar lebih). Sepuluh tahun kemudian, buku ini dijual di Sotheby London sebesar $11.500.000 (sekitar 143 miliar lebih).

The Codex Leicester, Leonardo da Vinci — $30.8 million

The Codex Leicester.

Inilah jurnal ilmiah da Vinci yang paling terkenal, naskah 72-halaman yang berisi renungan dengan tulisan tangan sang seniman sekaligus pemikir besar yang pernah lahir ke dunia ini. Naskah ini pertama kali dibeli pada tahun 1717 oleh Thomas Coke, dan kemudian, pada tahun 1980, dibeli oleh kolektor seni Armand Hammer. Pada tahun 1994, Bill Gates membeli jurnal ini sebesar $30.800.000 (sekitar 384 miliar lebih) di sebuah acara lelang.

sumber: [NHD/Spoila/Flavorwire]

PUBLihat betapa naifnya Indonesia ini. Sudah naif, pun manipulatif dan munafik. Bagaimana tidak, sudah ada undang-undang penistaan/penodaan agama, sekarang mau ada lagi keluar Undang-Undang Perlindungan Umat Beragama. Agama terus-menerus dibentengi dengan berbagai macam produk kebijakan politik. Lalu bagaimana dengan perlindungan terhadap orang-orang yang tidak beragama, adakah?

Yang namanya agama; sesuatu yang rapuh itu terus dipelihara supaya para elite bisa cari makan di sana, bisa mengambil keuntungan politis di sana, makanya negara tak henti mengurusi agama. Tidak heran bila agama terus melatih manusia untuk menjadi manipulatif. Melatih orang untuk mengeruk uang bagaikan bunglon buntung yang bermuka-muka (bukan cuma muka dua). Ironisnya, banyak orang di Indonesia yang tidak taat beragama, tapi justru memusuhi orang-orang yang jujur dan terus terang mengakui ketidakberagamaannya. Dengan adanya pembahasan RUU Perlindungan Agama (PUB), maka bangsa ini semakin dididik untuk bermuka-muka.

Yang namanya agama, terutama agama terorganisir (organized religion), seolah menyediakan kepada banyak orang dan masyarakat tentang suatu tujuan hidup. Komunitas-komunitas keagamaan dapat memiliki banyak pengaruh yang menguntungkan dan menduduki pusat berbagai macam identitas budaya seseorang, tapi itu tidak membuat klaim yang dilakukan agama-agama berisi sesuatu yang benar. Pada kenyataannya, agama itu sendiri tidak berhak menetapkan satu-satunya makna kehidupan bagi seseorang. Sebaliknya, masing-masing individu berhak memilih untuk memberikan makna pada hidup mereka melalui berbagai macam aktivitas yang mereka lakukan setiap hari. Dengan demikian, hal itu dapat ditemukan di luar agama, dan mencari makna dalam hidup bisa jauh lebih memuaskan daripada mengikuti aturan dari otoritas agama.

Misalkan, seseorang bertanya; kalau kita mati masuk mana, neraka atau surga? Seseorang yang beragama terus menerus berceramah tentang surga dan neraka. Semua sikap dan tingkah laku dalam hidup dibangun berdasarkan agama, malah segala hal ditarik ke agama. Selama hidupnya pun berada dalam ketakutan akan neraka dan siksaan-siksaannya.

Namun kalau kita mau mencari sesuatu di luar agama mengenai pertanyaan-pertanyaan dalam kehidupan kita maka kita akan mendapat jawaban lain. Seperti misalnya yang dikatakan Carolyn Porco, seorang astrofisikawati dunia, “All the atoms of our bodies will be blown into space in the disintegration of the Solar System, to live on forever as mass or energy. That’s what we should be teaching our children not fairy tales about angels and seeing grandma in heaven.”

Seseorang bisa memilih untuk percaya yang dikatakan ajaran agamanya, tapi bisa juga memilih untuk hidup dengan hasil observasi saintifik. Lantas mengapa perlu ada segala macam Undang-Undang yang dibuat negara hanya untuk melindungi agama? Sesuatu yang non-sense dan percuma.

Memercayai sesuatu bukan langsung membuat yang dipercayai itu adalah sesuatu yang benar. Demikian pula, menginginkan sesuatu tidak memastikan keingingan itu benar-benar menjadi kenyataan. Yang terjadi adalah delusi. Hal yang sama berlaku untuk agama. Tidak peduli apakah Anda percaya sesuatu yang membuat Anda merasa lebih baik tentang diri Anda, atau menjadikan hidup Anda lebih berarti. Namun jika tidak ada bukti untuk mendukung itu, maka sama saja hanya ber-delusi.

Ketika seseorang mengatakan, “Tanpa Tuhan, hidup tidak ada artinya,” apa yang dia katakan sesungguhnya adalah: “Saya ingin percaya bahwa kehidupan memiliki makna, dan saya tidak bisa membayangkan bagaimana itu mungkin tanpa Tuhan, jadi saya ingin percaya bahwa Tuhan adalah nyata.”

Nahasnya, kita hidup dalam dunia “klaim kebenaran”, bukan berdasarkan bukti-bukti yang nyata, dapat diverifikasi, diobservasi, dan difalsifikasi. Sementara itu, ketika keyakinan berdasarkan ajaran agama ini terus dipertahankan, psikologis Anda hanya akan semakin rusak. Ketika Anda bersikeras mengklaimnya sebagai kebenaran di saat bersamaan mendapat benturan dari luar.

An Uncomfortable Truth Is Always Better than a Comforting Lie. Pertanyaannya sekarang adalah; apakah kita menjadi penakut karena kenyamanan kita dalam beragama terganggu?

Dalam rangka untuk mengindoktrinasi pengikutnya dan jaminan ketaatan, agama sering memanfaatkan (atau kasarannya mengelabui) masyarakat kelas bawah dengan menciptakan kekosongan yang kemudian harus diisi dengan Tuhan. Setelah itu orang-orang akan dengan mudah mengatakan bahwa mereka secara inheren menjadi buruk atau berdosa, dan bahwa satu-satunya cara untuk menjadi baik adalah dengan memberikan kendali atas hidup mereka dengan keimanan. Padahal, tidak ada bukti bahwa semua itu benar. Agama, pada dasarnya, menciptakan masalah imajiner sehingga dapat menjual solusi imajiner.

Pengalaman akan ketidakberdayaan diciptakan oleh agama agar dapat membuka jalan bagi penipuan untuk mengambil keuntungan dari orang-orang yang mudah tertipu, dari orang-orang yang rentan. Ide-ide yang salah tentang alam semesta, termasuk janji-janji bahwa orang-orang yang baik dikasih pahala dan orang-orang berdosa dihukum, dapat menetapkan harapan palsu tentang keimanan atas Tuhan. Kemudian menjauhkan diri dari perangkat-perangkat observasi yang dibutuhkan untuk benar-benar menghasilkan solusi atas peristiwa yang menantang mereka untuk bertahan hidup dengan cara yang sehat dan rasional.

Seperti dikatakan oleh Bertrand Russell, “No satisfaction based upon self-deception is solid, and, however unpleasant the truth may be, it is better to face it once for all, to get used to it, and to proceed to build your life in accordance with it.”

Kita seharusnya bebas menentukan makna tanpa terikat dogma. Tidak ada kekuatan tunggal di luar sana yang memaksakan makna pada setiap peristiwa dalam kehidupan Anda. Tidak ada bukti apa pun bahwa peristiwa kehidupan masyarakat sesuai dengan semacam rencana ilahi atau takdir. Hidup ini, secara obyektif berarti berkenaan dengan skala ruang waktu di mana kita sebagai manusia hanyalah berperan kecil dari alam semesta yang luas. Karena itu, sangat absurd bila kita berpikir ada semacam sosok kosmik yang perannya sangat menentukan diri kita.

Begitu juga dalam hubungan antara beragama dan bernegara. Untuk apa negara mengurusi agama orang? Negara memakai bahasa “melindungi umat beragama”. Padahal, undang-undang lain sudah ada. Misalnya, jika ada konflik antar-umat beragama, lihat saja siapa yang melakukan kekerasan terhadap yang lain. Bukankah undang-undang untuk itu sudah ada. “Melindungi umat beragama” dari apa? Dari penghinaan atas ajaran agamanya? Tidak ada yang mempertentangkan jika ajaran agama diterapkan pada individu pemeluk dan kepada komunitasnya. Tetapi yang terjadi di Indonesia adalah agama diterapkan untuk orang lain di luar komunitas, malahan diterapkan dalam publik. Semua yang ada di publik diatur berdasarkan nilai-nilai agama. Inilah yang absurd. Maka bertambah absurd lagi jika negara melindungi sesuatu yang absurd.

Kita sebagai manusia bebas untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang mendalam atau menikmati kesenangan sederhana, seperti seks dan makanan. Kita memiliki kemampuan untuk menciptakan makna bagi kehidupan kita dengan menetapkan tujuan yang berharga, bekerja untuk meningkatkan kehidupan orang-orang di sekitar kita, menikmati waktu kita di bumi, membuat koneksi dengan manusia lain dan mencintai orang-orang yang dekat dengan kita. Semua kegiatan ini bermanfaat, dan tidak satupun dari mereka membutuhkan keberadaan Tuhan.

Sebaiknya Indonesia belajar untuk tidak menjadi negara yang memuja kebodohan. Jika sesuatu yang rapuh terus-menerus dibentengi, maka suatu saat Anda akan kehabisan beton dan baja, lalu menggantinya dengan tengkorak manusia. Ingatlah, dunia pernah ada di abad-abad kegelapan itu.

– Sumber: siperubahan.com

tongkat sulapBeberapa waktu lalu Paus Fransiskus mengeluarkan pernyataan yang kesannya mengakui teori evolusi, big bang, dan modern sains.

“When we read about Creation in Genesis, we run the risk of imagining God was a magician, with a magic wand able to do everything. But that is not so,”

“He created human beings and let them develop according to the internal laws that he gave to each one so they would reach their fulfillment.”

“God is not a divine being or a magician, but the Creator who brought everything to life,”

“Evolution in nature is not inconsistent with the notion of creation, because evolution requires the creation of beings that evolve.”

Reaksi berdatangan dari kalangan saintis yang notabene kebanyakan dari mereka adalah ateis atau agnostik. Pernyataan Paus Fransiskus seolah mendukung sains, tapi justru sebaliknya hanya menggunakan sains sebagai “senjata” kaum kreasionis. Dengan kata lain, institusi Gereja semakin menyimpang-siurkan kreasionisme dan sains. Sedangkan kaum kreasionis yang memang gemar suka mencocok-cocokkan antara sains dan dogma, sangat mengapresiasi ucapan Paus tersebut. Para kreasionis ini terus-menerus menolak dasar-dasar ilmiah yang melandasi pemahaman atas sejarah planet kita. Mereka dengan tegas mengandalkan pada penafsiran literal dari kitab-kitab dogma agama mengenai penciptaan dan sebagainya.

Jadi, apa maksud Paus mengeluarkan pernyataan itu? Apakah karena Tuhan tidak mempunyai tongkat sulap maka Tuhan menciptakan jagad raya ini dengan mekanisme bernama “Big Bang” dan “Evolusi”?

Ada sebuah tulisan menarik di situsnya Richard Dawkins. Ditulis oleh seorang profesor biologi Amerika Serikat, Jerry Allen Coyne. Ia mengatakan bahwa evolusi telah menjadi fakta ilmiah yang diterima sejak sekitar tahun 1870, kira-kira satu dekade setelah teori ini diusulkan oleh Darwin pada tahun 1859. Dan ada begitu banyak penelitian yang mendukung teori tersebut, seperti yang didokumentasikan dalam buku Jerry Coyne sendiri Why Evolution is True, lantaran tidak adanya bukti untuk “penciptaan” alternatif berdasarkan kredo agama yang mengandalkan sosok bernama Tuhan. Menurutnya, ketika Paus Fransiskus/Francis mencoba memasukkan unsur Gerejawi ke dalam modernitas, itu hanya akan terlihat kreasionisme semata.

Benar bahwa teori evolusi dicetuskan di abad ke-19, yang relatif kurang pembuktian ilmiah dibanding masa kini. Tapi sekian banyak teori dan penemuan ilmiah bahkan dihasilkan lebih tua lagi. Dan teori yang terbukti salah akan digugurkan, sementara teori yang telah terbukti ilmiah akan bertahan, dan makin berkembang seiring kemajuan pengetahuan. Teori evolusi bisa bertahan dan makin berkembang seperti sekarang dengan melalui proses yang sama. Terlebih, jika tidak ada pembuktian, maka teori bahkan tak bisa disebut teori, paling banter hanya berupa hipotesa. Teori adalah hipotesa yang sudah teruji. Ini salah satu alasan mengapa kreasionisme bahkan bukan sebuah teori.

Tetapi jika kita mengurai kata-kata Paus Fransiskus kemarin, itu diucapkan saat ia meluncurkan patung pendahulunya, Paus Benediktus XVI, kita akan menemukan bahwa yang didukung Gereja tetaplah kreasionisme. Bahkan, sikap resmi Vatikan tentang evolusi secara eksplisit tidak ilmiah: kombinasi teori evolusi modern dan kitab agama, khususnya soal penciptaan. Gereja tidak bisa memasuki dunia sains modern. Sebelumnya juga sama, pernah ada Paus yang mencoba merekonsiliasi antara sains dan agama, tapi itu cuma omong kosong.

Untuk kepentingan mereka, kaum agamawan suka sekali mengutip sebuah pernyataan Albert Einstein bahwa “sains tanpa agama lumpuh, dan agama tanpa sains buta”. Sehabis mengutipnya, mereka langsung berkata, “Lihatlah Einstein itu saintis yang saleh beragama, maka itu hidupnya lurus, sehat dan bugar, tak seperti Stephen Hawking yang lumpuh.” Malah ada agamawan yang sangat eksentrik sampai bisa menyatakan bahwa Einstein adalah seorang Muslim syiah yang hidupnya diberkati Allah.

Pada sisi lain, banyak juga orang Kristen evangelikal menyatakan bahwa Einstein adalah seorang Kristen saleh yang hidupnya diperkenan dan diberkati Yesus. Kaum agamawan Buddhis juga mengklaim bahwa Einstein pernah menyatakan Buddhisme non-theis adalah agama yang sejalan dengan sains modern.

Rupanya kaum agamawan berkepentingan untuk menarik Einstein ke kubu agama mereka masing-masing dan memanfaatkannya. Pertanyaan pentingnya adalah apakah Einstein seorang saintis yang beragama. Kalau kita telusuri tulisan-tulisan Einstein tentang Allah dan agama, kita harus simpulkan bahwa Einstein tidak percaya pada Allah yang diberitakan agama-agama monoteistik, termasuk Allah bangsa Yahudi, bangsanya sendiri. Dia bukan seorang monoteis.

Kalau Einstein memunculkan kata “Allah” dalam tulisan-tulisannya, kata ini diberi makna metaforis olehnya, bukan makna ontologis. Umumnya memang begitu: Kalau seorang saintis memakai kata Allah, kata ini bermakna metaforis, tidak bermakna literal. Kalau Einstein berkata-kata tentang Allah, bagi dia Allah adalah struktur kosmologis yang sangat mempesonanya, yang ditata oleh hukum-hukum kosmologis. Bagi Einstein, Tuhan adalah kemahabesaran jagat raya, yang terungkap dalam strukturnya yang sangat menakjubkan, yang dibangun dan ditata dengan berfondasi hukum-hukum kosmik, yang bekerja juga lewat hukum-hukum alam ini. Hanya sebagian kecil saja dari kemahabesaran kosmik ini yang sudah dipahami manusia lewat sains modern. Namun manusia akan terus menguak rahasia alam semesta sampai kapan pun juga. Einstein dengan tegas menolak untuk percaya pada suatu Tuhan personal yang diberitakan oleh agama-agama, terutama tiga agama monoteistik, Yahudi, Kristen dan Islam.

Pada 22 Maret 1954 Einstein menerima sebuah surat dari Joseph Dispentiere, seorang imigran asal Italia yang telah bekerja sebagai seorang masinis eksperimental di New Jersey. Sang masinis ini telah menyatakan dirinya ateis dan sangat kecewa ketika membaca sebuah berita yang menggambarkan Einstein sebagai seorang yang beragama konvensional. Pada 24 Maret 1954, Einstein menjawab, tulisnya:

“Tentu saja suatu dusta jika anda membaca tentang keyakinan-keyakinan keagamaan saya, suatu kebohongan yang dengan sistimatis diulang-ulang. Saya tidak percaya pada suatu Allah personal dan saya tidak pernah menyangkali hal ini tetapi telah mengungkapkannya dengan jelas. Jika ada sesuatu dalam diri saya yang dapat disebut religius, maka ini adalah suatu kekaguman tanpa batas terhadap struktur dunia yang sejauh ini sains dapat menyibaknya.” (Lebih lanjut, sila baca bukunya Richard Dawkins, The God Delusion).

Dahulu Paus Pius XII pernah menyatakan bahwa evolusi mungkin memang benar, tapi evolusi itu menegaskan bahwa ada pengecualian khusus untuk manusia karena manusia telah diberikan oleh Allah dengan jiwa, fitur yang tidak ada dalam spesies lain. Lantas pengecualian itu berbuntut pada Adam dan Hawa yang dipandang sebagai nenek moyang dalam sejarah dan literal dari seluruh umat manusia.

Kedua fitur tersebut tentu berseberangan dengan sains. Kita tidak punya bukti bagi jiwa karena yang disebut perasaan, emosi, keyakinan, cinta, hanya proses kimiawi yang dihasilkan “otak reptil” kita. Sebagaimana ahli biologi yang melihat spesies kita hanya sebagai produk dari evolusi alamiah dari spesies sebelumnya. Selanjutnya, evolusi genetika telah secara meyakinkan menunjukkan bahwa kita tidak pernah memiliki nenek moyang atau leluhur yang hanya dua orang. Jika kita mau menghitung dari jumlah variasi genetik yang hadir dalam spesies kita hari ini, ukuran populasi minimum manusia dalam jutaan tahun terakhir adalah sekitar dua belas ribu. Artinya, minimal kita punya nenek moyang berjumlah dua belas ribu, bukan hanya dua orang yang bernama Adam dan Hawa.

Gagasan Adam dan Hawa sebagai leluhur tunggal dan sejarah manusia modern hanyalah sebuah fiksi yang masih dipertahankan agama-agama monoteistik. Namun biasanya, kalangan kreasionis berdalih dengan memainkan teks literal kitab dogma agama dengan ranah penafsiran. Mereka mencoba untuk mengkonversi menjadi metafora. Inilah yang membuat sengkarut kreasionisme bermunculan.

Seorang Astrofisikawan, Neil deGrasse Tyson, menyindir ucapan Paus Fransiskus. Mengapa Paus Fransiskus berani mengakui teori evolusi dan big bang, “jangan-jangan dia baru saja menonton Cosmos.”

Cosmos adalah tayangan sains di sebuah kanal berbayar National Geographic Channel. Lengkapnya, Cosmos: A Spacetime Oddysey. Acara ini sangat bagus. Sayangnya, di Indonesia justru hanya bisa ditonton di kanal berbayar sementara tidak semua orang Indonesia mampu berlangganan TV Kabel. Neil deGrasse sendirilah yang membawakan acara tersebut. Mungkin memang sudah ada tayangan sains di kanal-kanal publik kita, tapi masih berbau kreasionisme. Alangkah bagusnya bila ada stasiun televisi swasta nasional yang mau membeli hak siar acara Cosmos tersebut, dan menayangkan secara luas di Indonesia daripada menayangkan acara-acara tidak bermutu.

– Sumber: Siperubahan.com

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 596 other followers