Memahami Kembali Apa itu Kekerasan Terhadap Perempuan

KDRT

Sebuah media menurunkan berita tentang seorang tukang kebun laki-laki dipukuli oleh majikan perempuannya. Sejumlah suara memprotes mengapa ini tidak disebut “kekerasan terhadap laki-laki”. Tulisan pendek ini akan mencoba menjelaskan apakah itu “Kekerasan Terhadap Perempuan” dan mengapa ia tidak serta merta ditemani oleh fenomena gender yang sebaliknya.

Manusia dan Kehidupan Sosial

Manusia tidak hidup dengan dirinya sendiri, melainkan dalam sebuah komunitas masyarakat. Karena itu keberadaan seorang manusia punya relasi dengan manusia lainnya yang konsekuensinya bersifat segera dan, umumnya, tanpa dibicarakan lagi. Begitu seorang anak lahir, pada saat yang sama ikutlah sebuah beban paket kontrak sosial yang berlaku baginya, yang bergantung dari budaya kemana ia beranggota dan afiliasinya.

Walaupun setiap budaya punya nuansa dan variasi masing-masing, tapi ada unsur mendasar yang dapat di-generalisasi, yaitu relasi antara perempuan dan laki-laki. Relasi perempuan dan laki-laki ini disebut relasi Gender. Relasi ini menjelaskan bagaimana hubungan antara laki-laki dan perempuan dalam suatu komunitas masyarakat, dan bagaimana masing-masing gender diharapkan berperan, bersikap, dan berekspresi agar dianggap cocok, diterima dan berfungsi di dalam suatu sistem sosial.

Relasi gender punya prioritas tertinggi, mengalahkan relasi yang lain, dan pada saat yang sama, menempel ketat dengan relasi kekuasaan. Relasi kekuasaan adalah kenyataan bagaimana individu yang satu punya derajat kekuasaan terhadap individu yang lain. Sebagaimana seorang ayah terhadap seorang anak. Atau seorang gubernur terhadap rakyat.

Apakah relasi kekuasaan ini datang dari politik atau budaya, pada dasarnya ia dibentuk oleh struktur sosial. Bagaimana struktur sosial ini membentuk suatu relasi kekuasaan sangat bergantung pada budaya setempat, tapi secara general, seperti telah ditulis di atas, relasi gender merupakan relasi dengan prioritas tertinggi, sehingga ia adalah elemen utama yang membentuk relasi kekuasaan.

Women’s Sufferage Movement di A.S. sejak abad 19 dan baru mendapat pengakuan konstitusional untuk hak memilih (hak politik) tahun awal abad 20 (1920).

Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana struktur ini mendapat justifikasi untuk mencapai keadilan. Seorang presiden atau gubernur ditempatkan pada puncak-puncak kekuasaan melalui pemilihan, karena seorang presiden dan gubernur akan berpengaruh pada kesejahteraan orang banyak, maka orang banyak yang harus menentukan siapa yang mereka tempatkan pada puncak kekuasaan untuk menghasilkan kesejahteraan maksimum bagi semua orang.

Kekuasaan atas diri seorang individual, atau otoritas dirinya, adalah milik orang itu sendiri. Otoritas ini, walaupun demikian, dibatasi oleh aturan main yang disebut “hukum” dengan tujuan menjaga agar otoritas orang yang satu tidak melanggar otoritas orang lain. Otoritas diri adalah hak dasar yang segera menjadi milik seseorang begitu ia dilahirkan, karena tidak seorangpun pernah memilih untuk dilahirkan, sehingga tidak ada konsekuensi pelanggaran hak hidup yang boleh ditimpakan pada manusia mana pun.

Ada pembatasan otoritas yang punya justifikasi, contoh pada anak-anak, berdasarkan fakta dan pengetahuan bahwa kapasitas mental dan intelektual seorang anak umumnya masih belum cukup untuk melakukan keputusan-keputusan penting dengan konsekuensi yang fatal. Karena itu, kekuasaan atas seorang anak berada di bawah otoritas orang tua. Relasi kekuasaan ini dianggap adil, dengan tetap mempertimbangkan bahwa orang tua sebagai pemegang otoritas tidak melanggar sejumlah otoritas individual yang dirangkum dalam “hak-hak anak“.

Penjaga utama dari keutuhan otoritas manusia terhadap dirinya ini adalah negara. Negara yang menegakkan dan menjaga agar setiap manusia punya otoritas terhadap dirinya, dan otoritas orang yang satu tidak melanggar otoritas orang lain, dan hak-hak anak tidak dilanggar oleh otoritas orang tua.

Relasi Gender

Sebelum abad 20, kemanusiaan perempuan praktis tak memiliki kekuatan atau perlindungan negara. Ia sepenuhnya berada di bawah kekuasaan laki-laki yang menjadi pemiliknya, yang kemudian disamarkan dengan kata “pelindungnya” atau “penjaganya”, apakah laki-laki itu ayah, kakak, atau suami. Kepemilikannya diserah-terimakan oleh ayah, kakak, atau wali lain yang adalah laki-laki, pada suaminya yang juga adalah laki-laki, ketika menikah. Dalam beberapa kultur, namanya pun berubah, dari nama belakang yang sebelumnya mengikuti ayah, kemudian menjadi mengikuti suami.

Kita bisa mengindentifikasi kepemilikan tersebut dari kenyataan bahwa perempuan harus menyerahkan kekuasaan atas dirinya pada laki-laki pemiliknya. Perempuan berperan sebagai pekerja atau pengatur rumah tangga dan menyediakan tubuhnya sebagai rahim untuk memproduksi anak. Dalam beberapa kultur, tubuhnya ditutup dan hanya boleh dilihat oleh pemiliknya (suami, ayah atau saudara), sehingga kehadirannya disembunyikan dari ruang publik, karena satu-satunya yang memungkinkan ia berada, yaitu identitasnya, ditutup, sehingga dengan otomatis menghapus keberadaanya dari kehidupan dan menolak kapasitasnya dalam membangun budaya dan berperan dalam sejarah. Justifikasinya adalah bahwa perempuan adalah mahluk lemah dan membutuhkan perlindungan laki-laki. Kenyataan yang terjadi, peran laki-laki bukan melindungi atau menjaga, melainkan memiliki.

Justifikasi tersebut datang dari sebuah sesat pikir (fallacy) yang melakukan imposisi bahwa kekerasan adalah natur dari kehidupan berkeberadaban; bahwa manusia dan peradabannya secara alamiah adalah kekerasan. Ini adalah sebuah pandangan bias yang tidak mengikut-sertakan pengetahuan ilmiah terhadap kehidupan manusia dan evolusinya.

Bila sutu spesies secara natural mengandalkan kekerasan untuk bertahan hidup, maka alat-alat kekerasan itu akan secara natural menjadi bagian dari tubuhnya, seperti Singa dengan taringnya, atau Elang dengan cakarnya. Kenyataanya, alat2 kekerasan manusia adalah kustomisasi yang dipikirkan dan ditambahkan secara nurtural. Artinya kekerasan bukanlah natural bagi manusia, melainkan nurtural.

Gender laki-laki dengan demikian memberikan false dilemma bagi gender perempuan. Kekerasan itu sendiri adalah produk pikiran maskulin yang dijadikan seolah-olah sebagai nature dari kehidupan manusia. Dan dengan alasan ini, menjustifikasi subjugasi posisi perempuan, sebagai “mahluk lemah yang harus dilindungi” bila akan bertahan dalam kehidupan. Padahal kekerasan itu sendiri adalah produk dari nurture gender laki-laki, dan bukanlah posisi default yaitu nature dari spesies manusia.

Yang hadir kemudian adalah bahwa alam kekerasan yang merupakan nurture dari gender laki-laki tadi membawa posisi gender laki-laki menjadi preferable dalam relasi kekuasaan. Laki-laki menjadi sesuatu yang dikonsepsualisasikan dalam term “the knight in shinning armor”, satria dalam jubah besi, yang merupakan pelindung dari perempuan; yang memberikan perlindungan dari sesuatu yang padahal diciptakan oleh gender laki-laki itu sendiri.

Maka ketika seolah-olah semua sudah bekerja dengan baik, yang sebenarnya terjadi adalah kenyataan yang seolah-olah terlihat demikian, hanya kerena perempuan dan kemanusiaan perempuan tidak dimasukkan dalam ukuran-ukuran pertimbangan. Separuh jumlah manusia dalam suatu masyarakat mengalami relasi yang tidak seimbang, namun karena separuh manusia tersebut tidak dianggap ada, atau tidak dianggap bagian dari ras manusia, maka tampaklah seolah-olah keadilan telah tercapai.

Dalam relasi gender kita melihat bagaimana relasi kekuasaan tidak seimbang, sebagai warisan dari era di mana manusia belum menggunakan sains untuk menjelaskan segala sesuatu yang belum dimengerti, sebuah era di mana kultur dibangun oleh mitos, sinkretisme, “kira-kira”, dan opini.

Kekerasan yang Damai

Mitos, sinkretisme, “kira-kira” dan opini ini juga dipengaruhi oleh ke mana kekuasaan membawa hal-hal tersebut. Dalam dunia di mana lingkungan mendorong manusia mengutamakan survival, penjagaan keberlangsungan diri dan resolusi konflik melalui kekerasan fisik, baik secara praktis maupun power bargain.

Baik perang itu sendiri maupun perdamaian yang terjadi karena adanya kontrak untuk tidak berperang, keduanya adalah resolusi konflik yang berdasar pada kekerasan. Sekali lagi boleh ditekankan, bahwa dalam mutual threat of violence, atau perjanjian atas dua kekuatan untuk berdamai karena masing-masing punya kapasitas yang sama untuk melakukan kekerasan, maka perdamaian yang dihasilkan tetaplah sebuah produk kekerasan. Perdamaian akibat mutual threat menghasilkan iklim kekerasan, di mana kekerasan adalah ancaman yang konstan demi mempertahankan kesetaraan atas kemungkinan kehancuran.

Cara lain di mana mutual threat dapat bekerja, adalah ketika adanya ancaman pihak ketiga untuk digunakan sebagai alasan, yang pula tak lepas dari penggunaan ancaman kekerasan untuk melakukan perdamaian. Cara ini, misalnya, digunakan Gengiz-Khan untuk mempersatukan Mongolia, dengan menjadikan China sebagai musuh bersama. Juga cara yang dipakai Obama sebagai bargaining power terhadap Russia dan Eropa, dengan menjadikan Islamic Statesebagai musuh bersama.

Contoh paling mudah dari konsep mutual threat ini adalah apa yang terjadi selama perang dingin antara pakta NATO dan WARSAWA. Saat itu dikenal dengan apa yang disebut MAD, Mutual Assured Destruction. Masing-masing blok NATO dan WARSAWA saling menyimpan rudal nuklir antar benua (ICBM, Inter-Continental Ballistic Missile) sebagai deterrence, sebagai alat yang akan memastikan kehancuran total bila salah satu memutuskan untuk meluncurkannya. Karena adanya ancaman kehancuran mutlak ini, maka “perdamaian” tercapai. Tapi tentunya kita paham bahwa ini bukanlah sebuah perdamaian. Konsep saling mengancam demi suatu jaminan kesetaraan kehancuran adalah sebuah kubah-kekerasan, sebuah violence sphere, yang dijaga dan dipertahankan, untuk membuat seluruh manusia yang hidup di dalamnya selalu berada di bawah bayang-bayang ketakutan.

Di dalam violence-sphere semacam inilah peradaban manusia tumbuh dan dilahirkan. Kultur yang diwarisi manusia saat ini adalah peradaban yang tumbuh, matang dan, pada saat yang sama, membusuk di dalam suatu iklim di mana kemanusiaan perempuan tidak pernah mengalami kesempatan untuk berada dan berperan.

Karena kekerasan fisik secara otomatis membutuhkan keunggulan fisik tubuh manusia, maka kekuasaan fisik tubuh manusia menjadi favorable traits; kekhasan kemana kekuasaan cenderung lebih diletakkan, yang otomatis menguntungkan posisi laki-laki sebagai favorable gender. Peradaban kekerasan ini kemudian dipolarisasi oleh dua kutub. Kutub yang satu adalah apa yangpreferable, yaitu “kekuatan”, dan secara natural kutub polar yang lain adalah cermin mutlak dari apa yangpreferable tersebut, yaitu weakness,  atau “kelemahan”.

Cara Pandang Misoginis

Pada situasi yang terjadi di Amerika Serikat, kita melihat sebuah wacana bergulir dan menjadi perdebatan sengit terutama antara kaum konservatif kanan dan liberal. Secara umum, perdebatan ini adalah tentang bagaimana kaum konservatif kanan berusaha menciptakan kesan bahwa masyarakat kelas bawah adalah pemalas yang hanya hidup dibiayai oleh uang pembayar pajak saja, dan oleh karena itu menuntut pemotongan pajak bagi orang-orang kaya, serta pemaksaan maksimum bagi kelas bawah untuk bekerja lebih keras, diikuti penolakan kenaikan gaji minimum. Pada kenyataanya, masyarakat kelas bawah di A.S umumnya adalah pekerja dengan jam kerja yang jauh lebih panjang dengan upah yang jauh dibawah taraf kesejahteraan. Anehnya, banyak individu masyarkat kelas bawah yang merupakan subscriber dari lingkaran politik kaum konservatif sayap kanan malah mendukung wacana-wacana konservatif tersebut.

Situasi di atas sangat kuat menjelaskan posisi gender perempuan dalam kubah kekerasan yang diciptakan oleh budaya patriarkat (patriarchy). Yang terjadi adalah demonisasi dan, bahkan, kriminalisasi dari kemisikinan. Mereka yang membutuhkan dukungan dan perlindungan lebih besar, malah menerima penindasan –justru– karena posisi mereka yang rentan dan lemah.

Dalam budaya di mana kekuatan adalah favorable, maka kelemahan adalah sesuatu yang dibenci dan dihindari. Dan budaya patriarkat menggambarkan gender perempuan dengan fitur-fitur khusus yang dianggap traits mutlak keperempuanan (feminity), yaitu kelembutan dan compassion, dan menganggapnya sebagai kelemahan. Maka dalam kubah kekerasan, kelemahan sebagai less preferable traits adalah sesuatu yang tidak disukai dan kemudian mejadi sasaran kebencian. Dalam relasi gender, kebencian terhadap perempuan disebut misogyny.

Budaya membenci perempuan atau misogyny ini mengakar dalam budaya patriarkat, dan telah terkristalisasi di dalam kultur, sehingga peran gender perempuan adalah sebuah subyek untuk dibenci. Hal ini tidak terbatas pada individu seks laki-laki saja. Karena ia sudah menjadi budaya, maka misogyny pun sesuatu yang dilakukan oleh individu seks perempuan juga, sebagaimana individu kelas bawah yang subscribe pada lingkaran sosial konservatif di A.S membenci kaum kelas bawah walaupun ia sendiri termasuk kaum kelas bawah.

Karena hampir seluruh peradaban manusia dibangun tanpa peran gender perempuan, maka budaya patriarkat hampir menjadi fundamen utama yang mengalasinya. Nurture misoginistik hadir dan bertahan di hampir seluruh aspek perdaban; dalam politik, budaya, sosial dan ekonomi. Maka kekerasan terhadap perempuan pun tinggal dan aktif bekerja di dalam seluruh aspek tersebut.

Walaupun kompleks dan serba berkait, pada dasarnya kita dapat mengenali potensi kekerasan terhadap perempuan dari relasi kekuasaan tidak setara yang ada di dalam unsur-unsur kehidupan manusia, karena seperti yang telah dijelaskan di atas, relasi kekuasaan menempel ketat dan menjadi sebab prinsipal dari relasi gender; mereka yang berada di bawah kekuasaan akan rentan terhadap subjugasi dan power abuse.

Pada contoh hypothetical seorang laki-laki pekerja yang menerima perilaku kekerasan dari seorang majikan perempuan di atas, ia tidak disebut “kekerasan terhadap laki-laki” karena tidak ada gender based violence, kekerasan berbasis genderdalam kasus itu. Yang terjadi adalah power abuse yang dilakukan oleh seorang perempuan yang kebetulan punya posisi power lebih tinggi. Yang dimaksud dengan gender based violence, adalah kekerasan yang terjadi karena imposisi relasi kekuasaan berbasis gender, atau kekerasan yang diterima seseorang karena gender-nya. Sedangkan dalam kasus hipotesis di atas, kekerasan yang terjadi adalah berbasis struktural dan ekonomikal. Posisi rentan yang dialami sang laki-laki bukan disebabkan karena dia laki-laki, melainkan karena posisinya dalam struktur kekuasaan dan ekonomi.

Bukan berarti laki-laki tidak pernah menerima kekerasan berbasis gender. Hanya saja, kasus di atas tidak termasuk di dalamnya karena subjugasi yang diterima sang laki-laki, bukan karena dia laki-laki. Secara umum, laki-laki dapat menerima kekerasan berbasis gender karena peran-peran budaya yang ditimpakan padanya -hanya- karena dia laki-laki. Contoh, banyak kasus laki-laki yang harus melepas cita-cita, hasrat dan gairahnya yang sebenarnya karena budaya mengharuskan seorang laki-laki untuk menafkahi istri, sehingga ia harus cepat-cepat memilih bidang pekerjaan yang dibencinya agar dapat mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya untuk menikah, dengan ekspektasi bahwa harus ia sendirilah yang akan menanggung beban finansial keluarga nantinya. Ini adalah kekerasan budaya terhadap gender laki-laki yang paling mudah dijadikan contoh.

Ekspektasi budaya lain terhadap laki-laki yang juga menjadi kekerasan terhadap laki-laki, contohnya, adalah tekanan untuk menjadi maskulin atau macho, untuk menjadi pelindung dan penjaga, untuk berpolitik, untuk ber-performa tinggi di atas ranjang, ber-birahi tinggi (sehingga terpaksa mengkonsumsi obat-obatan khusus untuk memenuhi tuntutan terebut), dan lain-lainnya, yang memaksa seorang laki-laki untuk tidak menjadi dirinya sendiri, dan mengenakan identitas yang bukan dirinya, hanya karena kultur setempat menekannya untuk mengambil posisi atau sikap tertentu.

Ini adalah budaya patriarchy, yang mengatakan bahwa “hidup itu keras”, dan masih kuat mencengkram kehidupan manusia, dalam kubah kekerasan yang belum menunjukkan tanda-tanda akan sirna dalam waktu dekat.

sumber: enlight-studio.com

 

Bagaimana Galaksi Terbentuk?

Penciptaan galaksi

Kisah penciptaan, sebagaimana dalam kosmologi modern berlangsung seperti ini; Sekitar 13,7 miliar tahun lalu, alam semesta kita dimulai dari ledakan Big Bang. Kemudian lahir ruang waktu dan ‘sup purba’ dari partikel sub-atom.

Kemudian para saintis meneliti dan mendapatkan bahwa alam semesta yang masih muda memiliki suhu sekitar 10.000 triliun triliun derajat (dan memuai 100 trilyun trilyun trilyun trilyun kali lipat pada kecepatan yang jauh lebih cepat daripada cahaya). Ekspansi berlanjut hingga hari ini, meskipun pada kecepatan yang jauh lebih lambat dari yang pertama.

Alam semesta yang telah melewati banyak proses pemuaian itu berisi materi, radiasi dan empat gaya dasar alam. Kemudian terjadi perubahan pendinginan suhu yang memunculkan tiga unsur; hidrogen, helium dan lithium yang saling membentuk.

Selama jutaan tahun, galaksi dari bintang lahir sebagai awan besar materi yang datang bersama-sama di bawah pengaruh gravitasi. Proses ini berlangsung selama miliaran tahun, penyemaian alam semesta yang mengembang dengan miliaran galaksi, setiap miliaran mengandung bintang.

Tapi bagaimana tepatnya galaksi paling awal terbentuk? Dan seperti apa kemungkinan wujudnya saat ini? Jawabannya terdapat pada penemuan penting oleh tim peneliti internasional dari Australia, Eropa dan Amerika Serikat, yang diterbitkan dalam The Astrophysical Journal Letters.

Tim tersebut menemukan segerombolan galaksi primordial langka yang jaraknya lebih dari 12 miliar tahun cahaya jauhnya (satu tahun cahaya sekitar 9,5 triliun kilometer) yang sudah hampir matang dan besar sebagaimana galaksi kita sendiri, Bima Sakti.

Ini tak terduga dan cenderung mengarah pada revisi menyeluruh dari penemuan astrofisikawan yang telah ada tentang perkembangan dan evolusi galaksi di seluruh alam semesta.

“Keberadaan mereka seperti pada fase awal sejarah kosmik (ketika embrio alam semesta berumur relatif sepele 1,6 miliar tahun) telah menimbulkan pertanyaan mendasar tentang apa yang menyebabkan mereka tumbuh begitu cepat,” kata salah satu peneliti utama, Karl Glazebrook, direktur Pusat Swinburne University for Astrophysics dan Supercomputing.

“Galaksi-galaksi yang masif dan awal mula adalah salah satu ‘cawan suci’ astronomi,” kata Profesor Glazebrook.

Mereka ditemukan dengan menggunakan 6,5 meter teleskop Magellan di Chile. “Kami mengambil gambar yang sangat mendalam dari langit menggunakan kamera inframerah terbari pada teleskop, salah satu yang terbaik di dunia, dengan filter yang dirancang cerdik untuk membedakan galaksi tersebut pada zaman ini,” katanya. “Tidak ada yang menandingi filter ini sebelumnya.”

Filter memungkinkan sejumlah cahaya dihasilkan pada kisaran panjang gelombang yang berbeda yang akan diukur. “Kami mendeteksi pola karakteristik indikasi bintang tua di galaksi ini,” kata Profesor Glazebrook.

Saat ini, galaksi-galaksi itu hampir setua alam semesta sendiri. “Itu memberitahu kita bahwa mereka mulai membentuk hanya beberapa ratus juta tahun setelah Big Bang, yang merupakan suatu benih pada skala waktu kosmik,” katanya. “Ketika mereka membentuk mereka muncul meletup begitu saja seperti petasan. Kami berharap pengamatan masa depan akan mendorong kembali ke ‘petasan’ zaman ini.”

Galaksi-galaksi pada jarak seperti itu sangat samar sehingga tim harus menghabiskan sebulan lebih mengumpulkan cahaya mereka dari tiga lokasi di ruang angkasa.

“Bahkan kemudian galaksi-galaksi itu muncul seperti noda-noda kecil dalam gambar kami,” kata anggota tim lain dari Macquarie University, astrofisikawan Lee Spitler. Hal ini karena cahaya dari mereka telah melakukan perjalanan lebih dari 12 miliar tahun cahaya pada sekitar 90 persen dari alam semesta yang terlihat.

Galaksi-galaksi terdeteksi pada apa yang disebut para astronom dengan “redshift”. Hal ini mengacu pada spektrum cahaya yang datang dari benda-benda angkasa, yang bergeser ke arah panjang gelombang yang lebih panjang dan karenanya lebih merah ketika semakin cepat objek spektrum itu surut.

Redshift ini merupakan hasil dari ekspansi alam semesta; objek yang jauh menyurut dengan kecepatan yang sangat besar, sehingga cahaya akan membentang dalam perjalanan dari galaksi yang jauh dari kita.

Galaksi muda menghasilkan banyak bintang besar yang bersinar sangat terang pada panjang gelombang cahaya biru. Tapi ketika galaksi berhenti membentuk bintang baru, akhirnya semua bintang biru besar mereka meledak sebagai supernova setelah beberapa juta tahun terbentuk. Ini, kata Dr Spitler, akan meninggalkan bintang yang lebih kecil yang bersinar pada panjang gelombang merah dan dapat terus melakukannya selama miliaran tahun.

“Jadi, jika Anda berburu untuk sebuah galaksi tua atau dewasa yang telah benar-benar berhenti memproduksi bintang-bintang baru, Anda harus mencari galaksi lain yang sangat merah,” katanya. “Dan itulah apa yang kami temukan. Galaksi yang sangat merah mengandung sangat sedikit bintang-bintang muda”

Bagian yang paling menarik dari penemuan ini adalah bahwa galaksi yang mereka temukan begitu jauh. “Karena cahaya dari galaksi membutuhkan waktu lebih dari 12 miliar tahun untuk mencapai Bumi, kami mengamati kembali dalam waktu ketika alam semesta hanya sekitar 12 persen dari usia saat ini,” katanya.

Para astronom sebelumnya telah mempelajari banyak galaksi ketika alam semesta ini muda tapi tak satu pun dari galaksi-galaksi itu yang sudah sangat tua. “Hal ini masuk akal karena galaksi, seperti orang-orang, perlu waktu untuk dewasa,” kata Dr Spitler.

Untuk menemukan galaksi matang ketika alam semesta masih begitu muda menimbulkan keraguan dari para ilmuwan tentang bagaimana galaksi terbentuk. “Ambil contoh galaksi kita sendiri, bima sakti. Entah bagaimana galaksi kita menghasilkan bintang-bintang melebihi apa yang telah kita temukan sekarang ini, dalam waktu kurang dari 1,6 miliar tahun nanti,” katanya.

“Mungkin ada lebih banyak gas untuk menghasilkan lebih banyak bintang. Atau mungkin kondisi suhu lingkungan yang tepat untuk menghasilkan bintang-bintang baru yang sangat cepat. Saat ini kami tidak tahu berapa banyak bintang bisa diproduksi seperti pada waktu awal sejarah alam semesta. “

Sama membingungkannya adalah bahwa galaksi matang berhenti memproduksi bintang begitu cepat. “Sesuatu yang dramatis mungkin terjadi, seperti tabrakan antara dua galaksi besar,” kata Dr Spitler. “Ini bisa benar-benar menghapuskan pasokan gas padat, yang diperlukan untuk menghasilkan bintang-bintang baru.”

Informasi lebih lanjut diperlukan untuk membantu para ilmuwan memahami sistem ini, termasuk model dari simulasi komputer. “Kami juga akan mencari galaksi dewasa pada periode lebih awal dalam sejarah alam semesta,” katanya.

Tak satu pun dari galaksi terjauh yang pernah difoto, benar-benar menjadi galaksi paling jauh. Yang ditemukan paling primordial adalah galaksi yang jaraknya lebih dari 13 miliar tahun cahaya dari Bumi, di bawah 130 miliar triliun kilometer jauhnya. Artinya, cahaya yang berasal dari bintang sekitar 1 miliar tahun cahaya mengambil tidak kurang dari 13 miliar tahun untuk mencapai kita.

Gambar-gambar kasar tapi beresolusi tinggi diambil oleh teleskop luar angkasa Hubble, instrumen ilmiah paling penting sejak awal instrumen astronomi Galileo.

Teleskop tersebut kini telah ditingkatkan kemampuannya 100 kali lebih kuat dari saat pertama diluncurkan. Hubble menerima kamera baru inframerah yang mengambil snapshot sangat dalam untuk suatu wilayah kecil dan sangat jauh dari alam semesta.

“Di sinilah HST menemukan galaksi terjauh, yang diberi label UDFy-38135539,” kata Profesor Glazebrook. “Hampir 1 persen dari massa Bima Sakti, galaksi tidak lagi memiliki panjang spektrum sejak bergabung dengan gugus bintang kuno lainnya.”

Tim astronom yang menemukannya, termasuk astrofisikawan Universitas Bristol Malcolm Bremer, percaya galaksi itu akan terus bersinar terang seperti halnya kini hingga puluhan juta tahun yang akan datang.

Mereka memperkirakan bahwa galaksi-galaksi itu terbentuk kurang dari 700 juta tahun setelah Big Bang. Hal ini terjadi ketika bintang-bintang pertama dan proto-galaksi terbentuk, yang pada gilirannya “menyalakan” alam semesta.

Penemuan Hubble telah menjelaskan hampir semua bidang penelitian astronomi, dari ilmu planet hingga kosmologi. Sejauh ini, lebih dari 30.000 benda-benda langit telah dicatat, menyediakan para ilmuwan lebih dari setengah juta gambar dengan resolusi tinggi.

Resolusi indah dari Hubble telah memungkinkan para astronom untuk mengamati perkembangan galaksi dari ketika mereka masih sangat muda sampai sekarang, dan untuk mengukur perubahan dalam bentuk dan tingkat di mana mereka membentuk bintang.

Suatu bagian penting dari upaya ini adalah untuk memetakan evolusi galaksi dalam kelompok lingkungan terpadat di mana galaksi ada.

Sumber: Sydney Morning Herald

Empat Gaya Fundamental Pembentuk Alam Semesta

Gaya Fundamental

Sebelum Big Bang, tak ada yang disebut dengan waktu (time) atau ruang (space). Peristiwa Big Bang menandai awal ekspansi alam semesta dari singularitas (atau sesuatu yang nyaris mendekati singularitas). satu titik yang jauh lebih kecil, jauh panas, dan tak terbatas padat. Semenjak itu, alam semesta telah melewati beberapa era dibedakan oleh perilaku gaya (force) fundamental alam semesta dan partikel. Para astrofisikawan berusaha membangun pemahaman tahap awal mengenai alam semesta. Mereka meneliti bahwa, empat gaya fundamental yang ada di alam semesta saat ini (gaya nuklir kuat, gaya nuklir lemah, elektromagnetik, dan gravitasi) bersatu menjadi kekuatan terpadu tunggal yang menyebabkan ledakan itu terjadi. Setelah itu terjadi apa yang disebut Planck Era. Pada waktu itu, ekspansi alam semesta awal terjadi 10-43 detik setelah terjadinya Big Bang.

Kemudian datang masa unifikasi, atau yang disebut Grand Unification Era. Berlangsung antara 10-43 detik dan 10-35 detik. Era ini dimulai dengan pemisahan gravitasi dari tiga kekuatan lain dan berakhir dengan pemisahan gaya nuklir kuat dari nuklir lemah dan elektromagnetik.

Alam semesta, setelahnya, memasuki awal Electroweak Era (10-35 sampai 10-10 detik), gaya inti/nuklir kuat dipisahkan dari elektromagnetik dan inti lemah (electroweak), melepaskan sejumlah besar energi dan memicu ekspansi pesat yang istilahnya dikenal sebagai inflasi. Ruang diperluas lebih cepat dari kecepatan cahaya, interaksi dari energi-energi menciptakan partikel elementer seperti foton, gluon, dan quark. Era ini berakhir dengan pemisahan elektromagnetik dari inti lemah.

Antara 10-10 detik dan 0,001 detik, alam semesta memasuki era partikel dasar (Elementary Particle Era), yaitu sebuah “sup partikel” yang mengisi alam semesta. Quark dan antiquark, elektron dan positron, partikel lainnya dan antipartikel terus bertukar massa untuk menghasilkan energi melalui tabrakan materi-antimateri. Hal ini menyebkan alam semesta mendingin, suhu merosot terlalu rendah sehingga tidak dapat menciptakan kembali partikel-partikel foton yang berpasangan, dan terus-menerus musnah. Adanya asimetri antara jumlah (atau mungkin perilaku) dari materi dan antimateri memungkinkan materi mendominasi dan menjadi bahan utama alam semesta. Suhu yang membeku pun memungkinkan gaya nuklir kuat untuk menarik quark bersama untuk membentuk proton dan neutron.

Fusi terus terjadi di Nucleosynthesis Era (0.001 detik – 3 menit), ketika proton dan neutron digabungkan ke dalam inti atom pertama, hidrogen, beberapa di antaranya menyatu menjadi helium dan lithium. Pendinginan suhu terus terjadi sehingga suhu menjadi terlalu rendah untuk terjadinya fusi di Nuclei Era (3 menit – 380.000 tahun). Akan tetapi, proses nukleosintesis Big Bang ini telah menghasilkan alam semesta dengan inti sekitar 75% hidrogen, 25% inti helium, dan sejumlah jejak inti lithium dan deuterium. Plasma inti bermuatan positif dan elektron bebas bermuatan negatif mengisi alam semesta, menjebak foton di tengah-tengahnya.

Adapun Era Atom (380.000 tahun – 1 miliar tahun atau lebih) dimulai pada alam semesta yang telah memuai dan sangat cukup bagi inti nuklir untuk menangkap elektron bebas, mengalami pembentukan atom yang sempurna dan netral. Foton yang telah terjebak sebelumnya akhirnya bergerak bebas melalui ruang, dan alam semesta menjadi transparan untuk pertama kalinya. Foton-foton telah melewati ruang demi ruang dan membentuk latar belakang gelombang mikrokosmik. Ekspansi alam semesta telah mengubah energi foton menjadi cahaya yang memiliki spektrum dengan karakteristik bewarna merah, lantas mengubahnya lagi menjadi gelombang microwave. Latar belakang microwave kosmik ini juga menandai titik terjauh dari waktu yang bisa kita amati. Perbedaan densitas yang tampak pada latar belakang ini memberikan benih untuk pembentukan galaksi. Galaksi pertama terbentuk ketika alam semesta kira-kira berumur 1 miliar tahun. Pada saat itu, alam semesta memasuki era galaksi.

Lebih jauh mengenai empat gaya fundamental alam semesta.

1. Gaya nuklir kuat

Gaya ini merupakan yang terkuat dari keempat lainnya. Gaya ini menjaga neutron dan proton tetap berada pada inti atom. Gaya ini juga menjaga agar quark tetap terikat dalam proton dan neutron. Quark sendiri merupakan partikel elementer yang menciptakan partikel hadron. Kemudian hadron terbagi menjadi dua jenis, yaitu meson dan baryon. Proton dan neutron termasuk jenis baryon. Dalam gaya ini, proton dan neutron telah di atur jaraknya dengan sangat tepat karena jika gaya tersebut sedikit saja lebih lemah maka neutron dan proton akan menjauh dan jika gaya tersebut sedikit lebih kuat maka proton dan neutron akan bertabrakan.

2. Gaya inti lemah atau nuklir lemah

Gaya inilah yang bertanggung jawab atas keseimbangan proton dan neutron. Saat inti atom mengalami peluruhan radio aktif, inti atom yang tidak stabil dapat memancarkan radiasi berbahaya. Gaya ini lebih lemah di banding elektromagnetis & nuklir kuat karena perbandinganya adalah adalah 10−11 kali kekuatan gaya elektromagnetik dan 10−13 kali gaya nuklir kuat. salah satu efek dari gaya ini adalah peluruhan beta.

3. Elektromagnetik

Gaya ini diakibatkan oleh medan elektromagnetik terhadap partikel-partikel bermuatan listrik. Gaya ini mengakibatkan partikel yang bermuatan berlawanan saling tarik-menarik dan membuat partikel yang bermuatan sama saling menolak. Gaya ini menjaga agar elektron dan proton tetap bersama dalam atom lalu menjaga atom-atom agar tetap bersama dalam molekul.

4. Gravitasi

Gaya ini menyebabkan tarik-menarik antara partikel bermassa. Fisika modern mendeskripsikan gaya ini dengan teori relativitas umum Einstein dan teori gravitasi universal Newton. Teori milik newton lebih sederhana dan dalam beberapa kasus cukup akurat. Gravitasi memberi efek yang sangat besar bagi alam semesta seperti gravitasi matahari yang menjaga agar benda langit yang mengitarinya tetap pada orbitnya. Gaya yang paling kuat adalah nuklir kuat dan yang terlemah adalah gravitasi.

sumber:

http://science.howstuffworks.com/environmental/earth/geophysics/fundamental-forces-of-nature5.htm

http://www.skyandtelescope.com/astronomy-resources/how-did-the-universe-begin-happened-big-bang/

http://en.wikipedia.org/wiki/Chronology_of_the_universe

Manfaat Babi Untuk Dunia Kedokteran dan Umat Manusia

Manfaat Babi

Dunia kedokteran terus mengembangkan diri untuk mencari cara menyelamatkan jutaan nyawa manusia. Upaya mereka antara lain didukung oleh hewan seperti babi. Para ilmuwan dari National Institute of Health bulan lalu mengumumkan, mereka sukses melakukan cangkok jantung ke babon yang secara genetik direkayasa dari babi.

Kemudian ilmuwan gen, Craig Venter, bermitra dengan United Therapeutics Corp untuk mengembangkan paru babi yang cocok dengan tubuh manusia.

Namun sebenarnya, babi memiliki peran lebih dari sekadar sumber donor organ. Selama lebih dari 30 tahun, para ilmuwan telah menggunakan babi dalam berbagai bidang kedokteran, termasuk dermatologi, kardiologi (jantung), dan masih banyak lagi.

Baru-baru ini para ilmuwan bahkan mampu menumbuhkan kembali otot kaki manusia menggunakan implan yang dibuat dari jaringan kandung kemih babi.

Lantas, apa yang membuat hewan ini begitu bernilai dalam riset kedokteran? Babi dan manusia memang banyak perbedaan. Keduanya hanya berbagi tiga klasifikasi ilmiah, dan tentu saja tidak ada kemiripannya dari luar.

Meski demikian, sistem biologi babi sebenarnya sangat mirip dengan manusia.

“Mereka punya sejumlah kesamaan anatomi dan fisiologi dengan manusia walau sistemnya berbeda. Babi merupakan model riset translasi. Oleh karenanya, apa yang bekerja pada babi, besar kemungkinannya akan bekerja juga pada manusia,” kata Dr. Michael Swindle, penulis buku Swine in the Laboratory.

Swindle menjelaskan, mayoritas organ sistem babi punya kesamaan hingga 90 persen jika dibandingan dengan sistem pada manusia, baik dalam hal anatomi maupun fungsi.

Sistem yang cocok antara lain sistem kardiovaskular karena ukuran dan bentuk jantung babi sama dengan milik manusia. Babi juga bisa mengalami aterosklerosis atau penumpukan lemak pada pembuluh darah, sama seperti halnya manusia. Mereka juga bisa mengalami reaksi serangan jantung.

Karena kesamaannya inilah para ilmuwan sejak lama menggunakan babi untuk menguji alat kateter dan metode operasi jantung. Babi juga dipakai untuk memahami bagaimana kerja jantung secara umum.

Jaringan yang diambil dari jantung babi juga sudah dipakai untuk menggantikan katup jantung yang rusak pada manusia. Katup jantung ini bisa bertahan sampai 15 tahun dalam tubuh manusia.

Selain kesamaan jantung dan pembuluh darah, karakteristik lain yang hampir mirip antara manusia dan babi adalah, keduanya mengonsumsi tanaman dan juga daging.

“Babi merupakan hewan omnivora seperti kita. Mereka bisa makan dan minum apa saja. Karena inilah, fisiologi pencernaan dan proses metabolik dalam lever mereka sama seperti pada manusia. Babi sudah dipakai dalam banyak studi seputar pola makan, termasuk soal penyerapan obat,” kata Swindle.

Organ ginjal

Kesamaan dengan manusia tidak berhenti sampai di sini. Ukuran ginjal babi dan fungsinya ternyata tak jauh berbeda dengan ginjal kita. Maka jadilah babi menjadi bagian dari riset tentang ginjal. Selain itu, babi juga sudah menjadi model standar operasi plastik karena proses penyembuhan kulit mereka lagi-lagi mirip dengan kulit manusia.

Ada pula hal lainnya. Para penderita diabetes yang menggunakan suntikan insulin harian juga bergantung pada insulin dari babi. Namun, ini hanya berlangsung sampai tahun 1980 karena setelah itu perusahaan farmasi mulai membuat insulin biosintetis menggunakan teknologi DNA.

Pankreas babi yang menghasilkan insulin memang sama dengan manusia sehingga berbagai riset mengenai diabetes sejak dulu memakai isolasi sel ini.

Para ilmuwan tak mengetahui mengapa organ dan sistem anatomi babi begitu mirip dengan manusia. Swindle menduga bahwa jutaan tahun lalu mungkin kemiripannya lebih banyak lagi, tetapi proses evolusi membuat hewan ini berkembang secara berbeda.

“Saya pribadi percaya, babi adalah omnivora sejati sehingga metabolisme dan hormon mereka membuat banyak kesamaan dengan karateristik pada manusia,” katanya.

Mengingat begitu banyaknya kesamaan dalam sistem organ dan makin tingginya kebutuhan donor organ, babi kini menjadi target sebagai sumber organ jantung dan paru bagi manusia.

Walau beberapa primata seperti babon dan simpanse lebih mirip dengan manusia, babi lebih menarik sebagai pilihan donor organ karena jumlah mereka lebih banyak.

“Sebagai sumber organ, jika kita memilih spesies lain, maka harus jumlah yang tersedia harus banyak dan secara etik diterima,” kata dr Soon Park, ketua divisi bedah jantung dari University Hospital Case Medical Center.

“Jika babon memang lebih dekat kemiripannya dengan manusia dibanding babi, ada sejumlah masalah etik dan moral sehingga babon tidak bisa dipakai. Selain itu, hewan ini sulit berkembang biak menjadi banyak,” katanya.

Mencangkokkan organ babi pada manusia, proses yang disebut dengan xenotransplantasi, tidaklah mudah karena sistem kekebalan tubuh manusia akan menolak. Namun, dengan kesuksesan para ilmuwan mendonorkan jantung babi ke primata, babi sekali lagi dilirik sebagai sumber donor yang mudah didapat.

Sumber: National Geographic Indonesia

Dialog Profesor dan Murid yang Sering Jadi Hoax

Hoax Einstein

Dialog seorang profesor dengan muridnya mengenai teodisi atau upaya untuk merekonsiliasi keberadaan Tuhan dengan kejahatan telah menyebar luas di dunia maya. Seorang murid dikisahkan berhasil membantah pernyataan profesor yang digambarkan ‘sombong’. Biasanya di akhir kisah ditambahkan embel-embel bahwa murid itu adalah Albert Einstein, yang jelas salah karena Einstein tidak percaya Tuhan personal, namun kepada Tuhannya Baruch Spinoza, yaitu keserasian hukum alam. Selain mencatut nama Einstein, dialog ini juga memiliki kesalahan logika yang fatal.

Berikut adalah perbaikan untuk dialog tersebut yang diterjemahkan dari http://www.rationalresponders.com/ dengan sedikit adaptasi. Sementara itu, kalau mau lihat kisah aslinya yang ngawur bisa dilihat di http://novrya.blogspot.nl/2011/01/profesor-yang-tidak-punya-otak.html

Alkisah, seorang profesor filsafat menantang muridnya: “Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?”

Seorang mahasiswa menjawab, “Betul, Dia yang menciptakan semuanya.”

“Tuhan menciptakan semuanya?” tanya profesor sekali lagi.

“Ya, Pak, semuanya,” kata mahasiswa tersebut.

Profesor itu menjawab, “Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan Kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan.”

Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab pernyataan profesor tersebut.

Seorang mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata, “Profesor, boleh saya bertanya sesuatu?”

“Tentu saja,” jawab si profesor, “itulah inti dari diskurus filsafat.”

Mahasiswa itu berdiri dan bertanya, “Profesor, apakah dingin itu ada?”

“Tentu saja,” ungkap si profesor. Raut muka si profesor tidak berubah karena ia sudah mendengar argumen buruk seperti ini berulang kali.

Si murid menanggapi, “Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas.”

Sang profesor pun menjawab dengan tegas: “Kamu ingat bab mengenai kesesatan semantik dalam bacaanmu?”

Si murid tampak bingung.

“Biar saya ulangi secara singkat. ‘Panas’ dan ‘dingin’ adalah istilah subjektif. Menurut John Locke, keduanya merupakan contoh ‘kualitas sekunder’. Kualitas sekunder merujuk kepada bagaimana kita merasakan suatu fenomena yang memang ada, dan dalam kasus ini pergerakan partikel atomik. Istilah ‘dingin’ dan ‘panas’ merujuk kepada interaksi antara sistem saraf manusia dengan variasi kecepatan dalam partikel atomik di lingkungan. Jadi apa yang sesungguhnya ada adalah suhu. Istilah ‘panas’ dan ‘dingin’ hanyalah istilah subjektif yang kita gunakan untuk menjelaskan pengalaman kita mengenai suhu.”

“Maka argumen Anda salah. Anda tidak membuktikan bahwa ‘dingin’ itu tidak ada, atau bahwa ‘dingin’ ada tanpa status ontologis, apa yang Anda lakukan adalah menunjukkan bahwa ‘dingin’ adalah istilah subjektif. Hapuskanlah konsep subjektif tersebut, dan suhu yang kita sebut ‘dingin’ akan tetap ada. Menghapuskan istilah yang kita gunakan untuk merujuk kepada suatu fenomena tidak menghapuskan keberadaan fenomena tersebut.”

Murid: (agak shock) “Uh… oke… em, apakah gelap itu ada?”

Profesor: “Anda masih mengulangi kesesatan logika yang sama, hanya kualitas sekundernya yang diganti.”

Murid: “Jadi menurut profesor kegelapan itu ada?”

Profesor: “Apa yang saya katakan adalah bahwa Anda mengulangi kesesatan yang sama. ‘Kegelapan’ adalah kualitas sekunder.”

Murid: “Profesor salah lagi. Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan di mana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak. Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna. Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut. Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya.”

Profesor: “Gelap dan terang adalah istilah subjektif yang kita gunakan untuk mendeskripsikan bagaimana manusia mengukur foton atau partikel dasar cahaya secara visual. Foton itu memang ada, sementara ‘gelap’ dan ‘terang’ hanyalah penilaian subjektif kita … yang sekali lagi terkait dengan interaksi antara sistem saraf manusia dengan fenomena alam yang lain, yaitu foton. Jadi, sekali lagi, hapuskanlah istilah subjektif itu dan foton akan tetap ada. Jika manusia menyebut ‘foton sebanyak x’ sebagai ‘gelap’ sementara kucing menyebutnya ‘cukup terang untukku’, foton sebanyak x yang kita sebut sebagai ‘gelap’ tetap ada, dan akan tetap akan ada walaupun kita tidak menyebutnya gelap. Sudah paham, atau masih kurang jelas?”

Sang murid tampak tercengang. Sang profesor berkata, “Tampaknya Anda masih bingung dengan kesesatan dalam argumen Anda. Tapi silakan lanjutkan, mungkin Anda akan paham.”

Sang murid berkata, “Profesor mengajar dengan dualitas. Profesor berargumen tentang adanya kehidupan lalu mengajar tentang adanya kematian, adanya Tuhan yang baik dan Tuhan yang jahat. Profesor memandang Tuhan sebagai sesuatu yang dapat kita ukur.”

Profesor langsung memotong, “Berhati-hatilah. Jika Anda menempatkan Tuhan di luar jangkauan nalar, logika dan sains dan membuatnya ‘tak terukur’, maka yang tersisa hanyalah misteri yang Anda buat sendiri. Jadi jika Anda menggunakan dalih bahwa Tuhan ada di luar jangkauan untuk menyelesaikan masalah, Anda juga tak bisa mengatakan bahwa Tuhan Anda bermoral. Bahkan Anda tak bisa menyebutnya apa pun, kecuali sesuatu yang tak terukur. Jadi, solusi Anda tidak ada bedanya seperti membersihkan ketombe dengan memangkas rambut.”

Murid tersebut tercengang, namun tetap berusaha melanjutkan, “Profesor, sains bahkan tidak dapat menjelaskan sebuah pemikiran. Ilmu ini memang menggunakan listrik dan magnet, tetapi tidak pernah seorangpun yang melihat atau benar-benar memahami salah satunya.”

Profesor: “Anda mengatakan bahwa sains tak bisa menjelaskan pikiran. Saya sendiri kurang paham apa yang Anda maksud. Apakah Anda mencoba mengatakan bahwa masih banyak misteri dalam neurosains?”

Murid: “Begitulah.”

“Dan bahwa pikiran, listrik dan magnetisme itu kita anggap ada walaupun tak pernah kita lihat?”

“Benar!”

Sang profesor tersenyum dan menjawab, “Bukalah kembali bukumu mengenai false presumption. Perhatikan bab ‘kesalahan kategoris’. Kalau Anda pernah membacanya, Anda akan ingat bahwa kesalahan kategoris adalah saat Anda menggunakan tolak ukur yang salah untuk suatu entitas, misalnya menanyakan warna dari suara. Meminta seseorang melihat magnetisme secara langsung merupakan kesalahan kategoris.”

“Namun, masih ada kesalahan lain dalam argumen Anda. Anda berasumsi bahwa empirisisme atau bahkan sains hanya didasarkan kepada pengamatan langsung. Ini tidak tepat. Penglihatan bukanlah satu-satunya cara untuk memahami dunia, dan sains juga bukan ilmu yang mempelajari apa yang kita lihat. Kita dapat menggunakan indera lain untuk melacak suatu fenomena. Dan kita juga dapat mempelajari pengaruh fenomena tersebut terhadap dunia.”

“Lebih lagi, Anda kembali melakukan kesalahan dengan menyatakan bahwa karena sains itu belum lengkap berarti Tuhan itu ada. Mungkin Anda perlu mempelajari kembali kesesatan ‘argumentum ad ignoratiam’ atau argumen dari ketidaktahuan.”

“Dan juga, seperti yang dikatakan oleh Neil deGrasse Tyson, gunakanlah contoh yang lebih baik karena sains sudah mampu menjelaskan bagaimana pikiran terbentuk dan bahkan Maxwell sudah lama menggabungkan elektrisme dan magnetisme menjadi elektromagnetisme. Contoh yang lebih baik itu misalnya materi gelap yang membuat perluasan alam semesta menjadi begitu cepat. Fisikawan tak bisa menjawab itu, dan mungkin Anda akan mengatakan jawabannya Tuhan. Namun dengan begitu, Anda justru sedang menyusutkan Tuhan. Anda melakukan kesesatan ad ignoratiam bahwa yang belum dijelaskan sains itu adalah keajaiban Tuhan, dan itu berarti Anda menempatkan Tuhan untuk mengisi gap dalam sains. Nah, dahulu manusia juga tak mampu menjawab mengapa hujan terbentuk atau mengapa gunung meletus, dan orang-orang dulu menyebutnya karena Tuhan. Kini kita sudah memahami hujan dan gunung meletus, begitu pula pikiran, listrik dan magnetisme, dan ke depannya materi gelap juga mungkin akan kita pahami. Dengan begitu Tuhan yang mengisi gap pun terus menciut.”

“Masih ada yang mau ditambahkan? Apakah penjelasan saya sudah cukup jelas?”

Sang murid tampak bingung dan mencoba melakukan ad nauseam, “Em … kembali ke diskusi awal kita. Untuk menilai kematian sebagai kondisi yang berlawanan dengan kehidupan sama saja dengan melupakan fakta bahwa kematian tidak bisa muncul sebagai suatu hal yang substantif. Kematian bukanlah kontradiksi dari hidup, hanya ketiadaan kehidupan saja.”

Profesor pun berkata, “Apakah Anda jatuh cinta dengan kesesatan kualitas sekunder? Lagi-lagi Anda melakukan kesalahan yang sama. ‘Kematian’ dan ‘kehidupan’ adalah istilah subjektif yang kita gunakan untuk menjelaskan fenomena keadaan-keadaan biologis. Menghapuskan istilah subjektif kematian tidak menghapuskan keberadaan kematian.

Si murid pun mencoba mengalihkan pembicaraan, “Apakah imoralitas itu ada?”

Si profesor menggelengkan kepalanya dan berkata, “Keledai pun tidak akan jatuh ke dalam lubang yang sama. Ada yang masih kurang jelas, atau perlu saya ulangi lagi?”

Sang murid yang terus berusaha menjustifikasi kepercayaannya berkata, “Begini, imoralitas itu adalah ketiadaan moralitas. Apakah ketidakadilan itu ada? Tidak. Ketidakadilan adalah ketiadaan keadilan. Apakah kejahatan itu ada? Bukankah kejahatan itu ketiadaan kebaikan?”

Sang profesor menanggapi, “Jadi, jika seseorang membunuh ibumu malam ini maka tidak terjadi apa-apa? Hanya ada ketiadaan moralitas di rumah Anda? Tunggu … dia tidak mati … cuma ketiadaan hidup kan?”

Si murid menggumam, “eh …,”

“Sekarang sudah mengerti di mana salahnya?” ujar sang profesor.

“Anda mencampur kualitas sekunder dengan fenomena. ‘Imoralitas’ adalah istilah deskriptif untuk perilaku. Istilah tersebut bersifat sekunder, tapi perilaku tetaplah ada. Jadi jika Anda menghapuskan kualitas sekunder itu, Anda tidak menghapuskan perilaku yang sesungguhnya terjadi. Dengan mengatakan imoralitas sebagai ketiadaan moralitas, Anda tidak menghapuskan keinginan atau perilaku imoral, tetapi hanya istilah subjektifnya. Begitu lho.”

Si murid masih kukuh, “Apakah profesor pernah mengamati evolusi itu dengan mata profesor sendiri?”

Sang professor sudah bosan mendengar argumen, “Pernah lihat angin tidak.”

“Evolusi itu bisa diamati karena hingga sekarang masih berlangsung. Misalnya, pada tahun 1971, beberapa kadal dari pulau Pod Kopiste di Kroasia dipindah ke pulau pod Mrcaru. Pulau Pod Kopiste tidak banyak tumbuhan sehingga memakan serangga, sementara di pulau Pod Mrcaru ada banyak tumbuhan. Setelah ditinggal selama beberapa dekade, ketika ditemukan kembali, kadal di pulau Pod Mrcaru mengalami proses evolusi. Kadal tersebut mengembangkan caecal valve, yaitu organ yang penting untuk mengolah selulosa dalam tumbuhan, yang sebelumnya tidak ada. Atau, jika Anda pergi ke laboratorium Richard Lenski di Amerika Serikat, Anda bisa saksikan sendiri bagaimana bakteri e coli yang sebelumnya tak bisa mengolah asam sitrat, karena evolusi dengan seleksi alam muncul e coli yang bisa mengolah asam sitrat.”

“Lagipula, Anda lagi-lagi terjeblos dalam kesesatan ad ignoratiam. Jika ingin konsisten dengan logika Anda, Anda akan mengatakan bahwa pohon tidak pernah tumbuh karena Anda tak pernah melihat langsung bagaimana pohon tumbuh. Lebih lagi, Anda kembali melakukan kesalahan dengan mengasumsikan bahwa sains itu hanya terdiri dari pengamatan langsung ….”

Si murid memotong, “Apakah ada dari kelas ini yang pernah melihat otak Profesor? Apakah ada orang yang pernah mendengar otak Profesor, merasakannya, menyentuhnya atau menciumnya? Tampaknya tak seorang pun pernah melakukannya. Jadi, menurut prosedur pengamatan, pengujian dan pembuktian yang disahkan, ilmu pengetahuan mengatakan bahwa profesor tidak memiliki otak. Dengan segala hormat, bagaimana kami dapat mempercayai pengajaran profesor?”

Si profesor tertawa dan menjawab, “Terima kasih sudah hadir di kelas ini sehingga saya bisa membenarkan kesalahan Anda walaupun Anda terus menerus mengulanginya. Sekali lagi, sains itu tidak terbatas kepada ‘melihat’ sesuatu. Sains itu juga rasional. Kita dapat menyimpulkan berdasarkan bukti yang ada. Dan salah satu kesimpulan yang dapat saya tarik dengan mengamati perilaku Anda  hari ini adalah bahwa Anda telah membuang-buang uang karena tidak membaca buku logika yang sudah Anda beli. Jadi saya sarankan bacalah buku itu kembali dari halaman satu agar tidak terus menerus mengulangi kesalahan yang sama.”

Dan murid itu adalah orang yang tidak banyak membaca.

sumber: AteisIndonesia

Perbedaan Proof dan Evidence

Perbedaan Proof dan Evidence

Dalam bahasa indonesia, proof dan evidence sama-sama diartikan ‘bukti’. Padahal, itu sesuatu yang berbeda. Prooadalah pembuktian secara logika. Sedangkan evidence adalah bukti berupa penunjukan suatu obyek: ‘ini lho ada’.

Karena itu sering terjadi kesalahpahaman, misalnya dialog ini:
A : Tuhan itu tidak ada.
B : Bagaimana pembuktiannya?
A : Lah, kan tidak ada, apa yang mau dibuktikan?

Dalam pengertian A, yang dimaksud ‘bukti’ adalah ‘evidence’. Sedangkan menurut B, yang dimaksud adalah ‘proof’. Dalam hal ketiadaan, evidence tentu saja tidak ada. Lain halnya dengan proof. Negative proving, yang membuktikan ketiadaan sesuatu, bisa dimungkinkan.

Contoh perbedaan proof dan evidence.

‘bilangan ganjil ditambah bilangan ganjil hasilnya genap’

Evidence: 5+5=10, 7+13=20, 1+1=2, 999+1=1000. Itu semua evidence, kita mencari obyek, dalam hal ini persamaan yang memenuhi pernyataan itu.

Proof: bilangan ganjil bisa dinyatakan sebagai 2n+1, dimana n adalah suatu bilangan bulat. Maka penjumlahan dua bilangan ganjil, (2n + 1) + (2m + 1) = 2(n+m) + 2. Baik 2(n+m) maupun 2 itu sendiri bisa dibagi 2, maka hasil penjumlahan itu adalah bilangan genap.

Proof hanyalah berupa uraian, berupa kalimat kalimat yang berisi alur logika bagaimana seseorang sampai pada kesimpulan tersebut. Dalam komik atau novel detektif (buat yang suka membaca komik Conan atau novelnya Agatha Christie), proof ini disajikan di akhir, ketika semua orang dikumpulkan dan si detektif bercerita. Evidence-nya berupa pisau berdarah, berupa pintu yang handelnya rusak, berupa rekaman CCTV, dll.

Maka ketika ditanya ‘bagaimana buktinya Tuhan tidak ada?’, bisa jadi yang dia maksud adalah proof. Carilah suatu bentuk dengan pola seperti ini:

1. Jika Tuhan ada maka pasti terjadi X
2. apakah X terjadi?
3. X tidak terjadi, maka Tuhan tidak ada.
Maka Anda sudah membuktikan Tuhan tidak ada.

Dalam pernyataan seperti ini maka berhati-hatilah pada kalimat nomor 1. Di sinilah titik yang bisa disangkal. Definisikan dulu dengan jelas, apa itu Tuhan. Misalkanlah bahwa Tuhan didefinisikan sebagai suatu entitas yang menciptakan alam semesta, memiliki kesadaran, cerdas, mengetahui segala sesuatu dan berkuasa atas segala sesuatu.

Maka pernyataan 1 jangan seperti ini: ‘Jika Tuhan ada, maka tidak ada orang jahat karena Dia pasti bisa mengubah orang jahat menjadi orang baik.’ Lihat kembali definisinya, apa disebutkan bahwa Tuhan adalah sesuatu yang baik dan membenci kejahatan? Tidak ada. Bisa saja Dia adalah sesuatu yang kejam, sadis, perusak.

Buatlah pernyataan ‘jika begini – maka begitu’ yang semua orang sepakat, baik itu ateis, agnostik, umat kristiani, muslim, yahudi, umat budha, dll. Ini yang susah.

Gelombang Gravitasi Einstein

Gelombang Gravitasi

Bagaimana jadinya jika ada dua lubang hitam yang berukuran supermasif berputar secara spiral dan saling mendekati satu sama lain? Dengan intensitas sebesar itu pasti akan menimbulkan benturan dahsyat, dan tentunya menimbulkan riak dalam ruang waktu—terkenal dengan istilah teori relativitas umum Einstein. Seratus tahun telah berlalu sejak Einstein pertama kali mencetuskan hasil penelitiannya tentang gelombang gravitasi, tapi secara langsung, gelombang tersebut masih belum terdeteksi jelas.

Para astronom di Australia telah menghabiskan satu dekade terakhir melakukan penelitian ketika gelombang gravitasi dilepaskan oleh sejumlah lubang hitam supermasif bergerak mengelilingi satu sama lain. Mereka menggunakan teleskop radio Parkes di New South Wales. Tapi sampai bulan September, mereka tidak dapat menemukan jejak gelombang tersebut.

Apakah Einstein keliru? Atau justru kita yang kurang memahami tentang lubang hitam?

Antariksa dibanjiri dengan gelombang gravitasi, tapi mereka sangat lemah. Tidak diragukan lagi gelombang gravitasi tengah melewati diri Anda sekarang, meregangkan tubuh Anda ke atas atau ke samping, kemudian menekan Anda. Namun, alasan mengapa Anda tidak melihatnya karena tinggi badan Anda berubah tidak lebih dari seukuran proton.

Astronom Ryan Shannon, yang bekerja di CSIRO dan International Centre for Radio Astronomy Research di Perth, bersama timnya berusaha untuk mendeteksi gelombang gravitasi dari lubang hitam dengan mengukur efeknya pada beberapa denyut gelombang radio yang berasal dari bintang-bintang Neutron lebih dari 3.600 juta miliar meter jauhnya.

Bintang-bintang Neutron ditemukan pada tahun 1967. Mereka berasal dari pecahan inti bintang mati yang lebih besar dan telah hancur ketika kehabisan bahan bakar. Runtuh oleh kuatnya gravitasi mereka sendiri, lalu menghasilkan massa sebanyak yang dihasilkan matahari di tata surya kita. Kemudian bintang Neutron berputar lebih cepat karena sedang meluruh.

Ketika mereka berputar, beberapa pecahan memancarkan sinar radiasi yang terfokus seperti lampu mercusuar. Jika Bumi terletak di arah yang dikenai putaran sinar radiasi tersebut, maka kita akan mendeteksi radiasi ini sebagai denyutan gelombang radio, yang mana kemudian bintang-bintang Neutron mendapat julukan pulsar.

Sebuah pulsar akan berputar begitu stabil sehingga gelombang yang dipancarkan dapat dipastikan keakuratan arah putarannya pada jam astronomi.

Butuh waktu selama 11 tahun terakhir bagi teleskop radio CSIRO Parkes untuk mencatat waktu denyut gelombang dari satu pulsar reguler paling terang. Pulsar itu berputar 300 rotasi per detik, dan berotasi 115,836,854,515 selama lebih dari satu dekade agar pancaran radiasinya menyambangi Bumi. Namun menurut Einstein, bukan itu persoalannya.

Menurut teori Einstein, riak gravitasi yang dipancarkan oleh putaran-putaran pasangan lubang hitam yang tak terhitung jumlahnya di alam semesta haruslah menimbulkan sesuatu. Misalnya, terjadi peregangan ruang-waktu antara Bumi dan pulsar setiap melintasi 10 meter. Peregangan ini melengkungkan waktu kedatangan denyut gelombang dari pulsar, satu hingga sepuluh miliar detik. Peralatan pencatat waktu teleskop Parkes cukup akurat untuk mendeteksi seperti perubahan menit, dan ternyata teleskop itu tidak mendeteksi keterlambatan.

Para peneliti tidak ragu bahwa gelombang gravitasi memang ada. Mereka telah terdeteksi secara tidak langsung. Astronom Amerika Russell Hulse dan Joseph Taylor memenangkan penghargaan Nobel fisika 1993 untuk penelitian atas hal ini. Mereka menggunakan sepasang bintang neutron untuk mengukur pemangkasan tahun dari bintang-bintang itu—sekitar 30 detik selama lebih dari tiga dekade—karena mereka berputar mendekat dan menjauh terhadap satu sama lain. Hulse dan Taylor menghitung bahwa jumlah dari pemangkasan itu sesuai prediksi Einstein. Energi yang menyebabkan bintang-bintang berputar secara terus-menerus juga dipancarkan dalam bentuk gelombang gravitasi.

Jadi, penjelasan mengenai kegagalan dalam penelitian teleskop Parkes adalah bahwa kita tidak (atau belum) sepenuhnya memahami mengapa lubang hitam yang berputar-putar menghasilkan gelombang gravitasi.

Ada beberapa kemungkinan mengapa lubang-lubang hitam itu saling berputar satu sama lain, tapi tidak menimbulkan riak dalam ruang-waktu sebanyak yang kita pikir.

Pengamatan terbaru menunjukkan, setiap galaksi, termasuk Bima Sakti kita sendiri, merupakan pelabuhan lubang hitam supermasif di bagian paling inti. Untuk alasan masih belum jelas, massa lubang hitam secara langsung berhubungan dengan massa galaksi-galaksi di dekatnya di mana kita telah mampu membuat pengukuran ini, setidaknya demikian.

Kemungkinan lain, ketika alam semesta masih muda, kondisi dua lubang hitam saling berputar dan mendekat itu belum terjadi. Wujud lubang hitam pun masih lebih kecil dari yang terjadi hari ini. Jika demikian, kontribusi mereka terhadap riak kumulatif dalam ruang-waktu yang berusaha ‘diambil’ maka akan menjadi lebih kecil juga—mungkin terlalu kecil untuk dideteksi oleh Parkes.

Atau, galaksi awal cenderung lebih kaya gas. Gas ini akan bertindak seperti sirup, memperlambat lubang hitam terjadi. Alih-alih saling berputar ‘menari-nari’ sesama mereka, pasangan lubang hitam itu “luruh” satu sama lain secara lebih cepat dan menciptakan ledakan hebat seketika. Akhirnya, gelombang gravitasi yang dihasilkan lebih sedikit.

Semua kemungkinan itu terus memberikan opsi bagi para peneliti untuk menyelidikinya. Pengukuran gelombang gravitasi secara langsung tentu akan lebih dari sekadar konfirmasi atas teori relativitas umum Einstein. Selain itu, juga akan menjadi kali pertama para astronom melihat ke alam semesta sesuatu selain dari cahaya. Semua teleskop, terlepas dari ukuran dan kecanggihan mereka, menggunakan gelombang cahaya (baik itu panjang gelombang gelombang radio yang bervariasi, cahaya kasatmata, atau gelombang pendek sinar-X).

Pengamatan terhadap gelombang gravitasi akan menjadi awal era baru astronomi. Umat manusia akan dapat mengetahui lebih jauh mengenai lagi gravitasi dan melihat hal baru.

Sumber: cosmosmagazine