Hijab: Sublimasi dan Indoktrinasi Kepada Perempuan


aurat

Seorang Ustaz berkata kepada jama’ahnya, “Kalau di KFC saja paha dan dada ayam ada harganya, tetapi justru perempuan-perempuan zaman sekarang yang notabene manusia, seperti sudah tidak ada harganya. Paha dan dada diumbar gratisan.” demikianlah sekelumit ucapan seorang pendakwah. Pernyataan itu membuat saya terus berpikir sampai sekarang. Apakah takaran bahwa perempuan shalihah itu adalah menutup aurat? Dan apakah setiap perempuan yang tidak menutup kepalanya dan tubuhnya berarti sedang menjajakan seksualitas kepada publik? Andaikan memang benar jawabannya demikian, tak heran banyak lelaki yang berpendapat apabila ada peristiwa pemerkosaan menimpa perempuan yang tidak menutup aurat maka perempuan itu dinilai pantas mendapatkannya. Justru yang terjadi di sini adalah proses represi kepada perempuan untuk menjadi wanita; wani ditata. Siapa aparatur yang menata perempuan? Ialah laki-laki yang seolah otoritasnya didelegasi dan dilegitimasi oleh Tuhan.

Saya rasa di dunia ini tidak ada orang yang sudi dilecehkan, baik secara verbal, fisik, dan sebagainya. Bahkan seorang perempuan yang dibilang pelacur pun sama sekali tidak menginginkannya. Namun, tekanan sosial-lah yang seringkali melumrahkan atau mungkin mengabsahkan tindakan-tindakan seperti itu. Entah mengapa membandingkan perempuan dan ayam itu menjadi semacam kewajaran, apalagi terlontar dari mulut seorang pendakwah. Malah jama’ah yang mendengar dan mayoritas pria tertawa seolah mendapatkan pembenaran bahwa perempuan itu gender yang kurang akal, sementara gender mereka-lah yang superior, berakal, rasional, plus paling beriman.

Oke, katakan bahwa manusia adalah bagian dari spesies mamalia yang berada pada tingkat teratas piramida makanan. Tanpa agama, manusia diibaratkan tak jauh berbeda dengan primata atau hewan lainnya. Tetapi manusia juga punya kehendak bebas. Mau beragama atau tidak beragama, mau menutup aurat atau tidak, semua itu dikembalikan kepada kehendak masing-masing individu. Lantas mengapa pijakan tersebut (bahwa manusia tanpa agama sama saja dengan hewan) kerap dijadikan standar ukuran untuk menilai orang lain selain diri kita. Apakah karena “Ego” ke-Aku-an manusia yang sedemikian besar dan berlebihan, sehingga tiap individu merasa berhak untuk mengatur dan mengendalikan orang lain?

Tidak bisa dinafikan bahwa di antara milyaran manusia di bumi, ada yang berpendapat bahwa harus ada orang-orang yang superior dan unggulan yang bertugas untuk memerintah, mengatur, dan mengendalikan orang lain. Karena itu dibutuhkan sebuah perangkat untuk mendisiplinkan manusia. Kaum agamawan dan pendakwah agama biasanya menggunakan perangkat agama. Kaum sekuler menggunakan perangkat dan norma lainnya yang biasanya dibuat dengan mekanisme konsensus.

Namun, pada intinya adalah, bahwa yang paling banyak surplus perangkatnya, dialah yang paling bisa mengendalikan manusia lainnya. Pantaslah jika kemudian terjadi kategorisasi dan pemilahan. Dan perempuan seringkali menjadi objeknya, alias ditentukan mana perempuan “baik” dan “tidak baik” oleh pihak lelaki. Karena dalam hal ini, lelaki mempunyai kelebihan surplus melimpah; baik itu dari ekonomi, status sosial, dan juga bekingan dari Tuhan. Para pria dalam keluarga mempunyai otoritas berlebih untuk menentukan bagaimana anggota-anggota perempuan dalam keluarganya berpakaian, belajar, bertingkah laku dan sebagainya.

Ketika ada seorang pendakwah menganalogikan anatomi tubuh perempuan, langsung ditujukan pada simbol seks. Dengan kata lain, seluruh anatomi tubuh perempuan adalah simbol seks. Dan hal itu justru diamini sebagai sebuah kebenaran. Mau tidak mau, kehidupan perempuan ibarat berada dalam selasar sendirian dan dihimpit dinding-dinding seksualitas. Namun, yang menentukan rambu-rambu seksualitas itu justru para pria. Maka, analogi paha dan dada perempuan dengan paha dan dada ayam akan dianggap bukan suatu pelecehan seksual. Justru seringkali dipaksakan agar perempuan menyerapnya sebagai titah pagar moral dan kesusilaan. Ya, perempuan tidak bisa menentukan seksualitas-nya sendiri.

Saya tak perlu kebanyakan konsep. Mau yang muluk sekalipun sampai yang ecek-ecek, tempat perempuan tetap di kasur, dapur, dan sumur. Saya cuma melihat realitas yang terjadi di masyarakat di negeri terkutuk ini. Untuk apa sok mendidik masyarakat. Kebanyakan konsep malah jadinya basi. Mereka pun tak perlu dididik oleh segala konsep berbau surgawi yang seolah membela perempuan. Nyatanya perempuan yang jumlahnya katanya lebih banyak dari lelaki itu tetap menjadi warga kelas dua, di ranah publik maupun wilayah domestik. Lelaki merasa berhak mengatur perempuan karena lelaki punya ego untuk dijadikan matahari dan kekuatan yang berbungkus harga diri serta kewibawaan.

Perempuan yang ingin keluar dari sistem 3UR (Kasur, dapur, sumur) ini bersiaplah terkucil dalam sistem. Bukan terkucil dalam arti harfiah. Tetapi lihat saja perempuan-perempuan yang ingin tampil menjadi pendobrak di zaman sekarang. Banyak dari mereka kerap dicibir sebagai Pecinta Kebebasan, Kebablasan, sampai distigmatisasi sebagai perempuan yang tidak laku dan tidak layak diperistri. Karena mereka tidak mungkin menjadi ibu. Kalau dalam bahasa agama bukan dianggap sebagai perempuan shalihah. Sementara perempuan shalihah itu adalah yang nurut, yang mau diatur suami, yang tidak boleh membantah suami. Karena di dalam keluarga suami adalah pemegang kekuasaan tertinggi. Makanya munafiklah orang-orang yang di ranah publik teriak koar-koar tentang kesetaraan gender, kebebasan, dan hak asasi manusia tetapi tetap menjadikan istrinya sebagai warga kelas dua.

Rumah tangga adalah sarang domestik para suami melampiaskan ego mereka. Saya yakin banyak perempuan di negara ini yang tanpa sadar senang dianggap sebagai perempuan shalihah, perhiasan dunia, istri yang baik, mengabdi kepada keluarga, walaupun sejatinya ditindas kaum lelaki. Fenomena ini juga dialami tidak hanya di dalam keluarga yang kelas ekonominya menengah ke bawah, tapi juga yang bisa dikatakan berkecukupan. Tetapi juga mempraktikkan sistem 3UR kepada anggota perempuan di keluarga. Karena keluarga berarti satu, yaitu suami atau ayah. Sosok inilah yang jadi superman-nya. Semua orang berhak menjalankan peran apa saja di dunia ini. Namun peran pun melahirkan perang. Ya, perang stigma yang terjadi di negara ini dan latah dilontarkan oleh siapa saja.

Perang stigma bahwa perempuan yang baik dan pantas diperistri adalah yang begini; ribuan kriteria dicantumkan tetapi paling atas adalah patuh dan penurut kepada suami. Sebaliknya, perempuan tidak baik adalah bla bla bla. Bukan cuma soal kegemaran, pun merembet ke mana-mana. Bisa  soal fisik maupun asal suku bangsa, ras, agama dan sebagainya. Inilah sistem sosial kita. Sistem sosial di negara ini yang kian jengah dari hari ke hari. Ironisnya, hijab juga dijadikan sebagai penanda awal kategori perempuan baik-baik, shalihah, dsb (Mungkin karena itu Indonesia menjadi surganya bakul hijab). Tetapi untuk apa mengubah atau menggelontorkan konsep mendidik masyarakat. Toh, bahagia atau tidak adalah masing-masing individu yang menjalaninya. Hancur atau tidak juga tak ada yang peduli.

Ada banyak cara yang dilakukan dalam memberlakukan kebijakan politik anatomi tubuh terhadap perempuan; ada rangkaian praktik sublimasi dan indoktrinasi, terutama yang berbungkus agama. Isinya cuma rangkaian sistem pendisiplinan yang ditutup dengan tumpukan dalil dan pewacanaan yang katanya bersumber dari Tuhan. Padahal, manusia dan Tuhan tidak pernah setimpal, tapi sangat banyak manusia yang berlomba menjadi wakil-Nya. Untuk mendobrak itu semua, ranah perempuan bukan lagi di kasur, dapur, dan sumur. Mereka adalah penguasa dan pengendali struktur.

Sumber: siperubahan.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s