Muhammad: Sang Tokoh Yang Tidak Pernah Benar-benar Hadir


 

Sumber-sumber

Kita mungkin beranggapan bahwa sumber pertama dan terkemuka bagi informasi tentang kehidupan Muhammad adalah Qur’an, kitab suci Islam. Namun kitab itu hanya menyingkapkan sedikit saja tentang kehidupan figur sentral Islam ini. Di dalamnya, Allah seringkali berbicara pada Sang Nabi dan mengatakan padanya apa yang harus dikatakan pada kaum beriman dan kaum tak beriman. Para komentator dan pembaca biasanya beranggapan bahwa Muhammad bukanlah orang yang dituju dalam kasus-kasus ini, tetapi anggapan ini bukanlah sebuah kepastian, seperti halnya contoh lain dalam kajian ini.

Nama Muhammad muncul di Qur’an hanya 4 kali penyebutan, dan 3 diantaranya, kata ini bisa dianggap sebagai sebuah gelar – “yang terpuji” atau “yang terpilih” – bukannya sebagai nama seorang nabi. Kita bandingkan dengan nama Musa yang disebut sebanyak 136 kali, dan Abraham / Ibrahim 74 kali. Bahkan Firaun disebutkan 74 kali. Sementara “rasul Allah” atau utusan Allah muncul dalam berbagai bentuk sejumlah 300 kali, dan kata “nabi” muncul 43 kali. [1] Apakah semua itu merujuk pada Muhammad, sang Nabi Arab abad ke-7? Barangkali saja. Pastilah anggapan itu dipercaya oleh pembaca Qur’an di sepanjang jaman selama ini. Namun jikapun demikian, semua penyebutan itu tidak menceritakan kepada kita tentang kejadian-kejadian, tempat dan waktu kehidupannya.

Alih-alih di seluruh Qur’an utamanya tidak ada  informasi apa-apa tentang sang Utusan ini diluar penonjolan berkali-kali akan statusnya sebagai seorang wakil Alah dan meminta para pemercaya untuk menaatinya. Di tiga dari empat kali nama Muhammad disebutkan, tak satupun mengungkapkan kehidupannya.

Yang pertama dari keempat penyebutan nama Muhammad muncul  surah ketiga, “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul” (QS 3:144). Kemudian Qur’an mengatakan bahwa “Al Masih putera Mayram itu hanyala seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul (QS 5:75).  [2] Bahasa identik mengindikasikan bahwa ayat dalam QS 3:144 Yesus adalah tokoh yang dirujuk sebagai “yang terpuji” – yakni Muhammad.

Dalam surah 33 kita membaca bahwa “ Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” (33:40).[3]

Ayat ini hampir pasti khusus merujuk kepada nabi Islam dan bukan kepada seorang figur kenabian dengan gelar “yang terpuji.” Ayat ini pula menjadi sebuah ayat yang teramat penting bagi teologi Islam: para cendikia Muslim telah menafsirkan status Muhammad sebagai “Penutup dari pada Nabi” yang berarti bahwa Muhammad adalah nabi terakhir yang dikirim Allah dan setiap orang yang mengaku-aku sebagai nabi setelah Muhammad dianggap sebagai nabi palsu. Doktrin ini menorehkan antipati yang dalam, bahkan sering diekspresikan dengan kekerasan, sebagaimana perlakuan para muslim tradisional terhadap gerakan profetik yang timbul di dalam lingkungan Islam seperti halnya kaum Baha’i dan Ahmadiyah.

Yang kurang spesifik adalah QS 47:2 “Dan orang-orang mu’min dan beramal soleh serta beriman kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad dan itulah yang haq dari Tuhan mereka, Allah menghapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan memperbaiki keadaan mereka.” Dalam ayat ini “Muhammad” adalah seseorang yang kepadanya Allah telah berikan pewahyuan, namun ayat ini dapat diterapkan kepada nabi siapa saja yang ditunjuk Qur’an selain juga kepada Muhammad secara khusus.

Sementara QS 48:29 mungkin mengacu hanya kepada sang Nabi Islam: “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka.” Sekalipun kata “sang terpuji” disini bisa saja merujuk kepada sosok nabi lainnya, bahasa “Muhammad adalah utusan Allah” (Muhammadun rasulu Allahi) dalam syahadat Islam membuat QS 48:29 secara khusus mungkin merujuk pada sang Nabi Islam.

Sejauh itulah penyebutan-penyebutan Muhammad dalam Qur’an. Dalam banyak rujukan lain kepada utusan Allah, sang utusan ini tidak diberi nama, dan hanya sedikit disebutkan tentang tindakan-tindakan spesifiknya. Sebagai hasilnya, kita tidak bisa mengumpulkan banyak hal tentang biografi Muhammad. Tidak pula bisa diyakinkan atas dasar teks-teks Qur’an saja bahwa teks-teks tersebut merujuk pada Muhammad atau bersumber darinya.

Rincian melimpah tentang ucapan dan perbuatan Muhammad terkandung dalam Hadis, yang berisi koleksi tradisi Islam yang tebal dan memusingkan yang membentuk dasar bagi hukum Islam. Hadis

merincikan kejadian-kejadian bagi pewahyuan di setiap bacaan dalam Qur’an. Namun (sebagaimana kita akan lihat di bab berikutnya) ada alasan yang cukup kuat untuk percaya bahwa sebagian besar hadis tentang kata-kata Muhammad dan perbuatannya berasal dari jaman yang jauh terkemudian dari saat kematian Muhammad yaitu tahun 632 M.

Kemudian ada Sirah, biografi Nabi Islam. Biografi Muhammad yang paling awal ditulis oleh Ibnu Ishaq (w. 773), yang menulis di bagian akhir abad kedelapan, setidaknya 125 tahun setelah kematian sang tokoh utama, dalam suatu panggung dimana materi legendaris tentang Muhammad telah berkembang biak.

Dan bahkan biografi Ibnu Ishaq bahkan sudah tidak ada, yang datang kepada kita hanyalah fragmen-fragmen cukup panjang yang direproduksi oleh penulis sejarah di kemudian hari, Ibnu Hisham, yang menulis di kwartal pertama abad kesembilan, dan oleh sejarawan lain yang mereproduksinya, dan dengan demikian diberi catatan-catatan tambahan. Materi biografi lainnya tentang Muhammad bahkan berasal dari jaman-jaman terkemudian.

Hanya sebegitulah materi yang membuat gegap gempitanya apa yang disebut-sebut Ernest Renan tentang kehidupan dan karya Muhammad sebagai “yang dipenuhi terang sejarah.” Pada faktanya bisa dikatakan bahwa tidak ada rincian biografis Muhammad yang berasal dari abad di mana karir kenabiannya diberitakan dan diungkap.

Catatan-catatan Paling Awal Tentang Sang Nabi Arab

Tetapi bukankah seharusnya ada catatan berlimpah yang menyebutkan tokoh yang hidup dan karyanya konon “dipenuhi oleh terang sejarah” yang tercatat dalam tulisan-tulisan sejamannya baik oleh teman-teman maupun musuh-musuhnya?

Itulah paling tidak apa yang kita bisa harapkan. Setelah semuanya, ia menyatukan suku-suku Arab yang selalu berperang. Ia menempanya menjadi mesin peperangan yang, hanya selang beberapa tahun setelah kematiannya, mengguncangkan dan menciderai dua kekuatan besar di jaman itu, Kekaisaran Romawi Timur (Byzantium) dan Kekaisaran Persia, kemudian berkembang pesat di wilayah keduanya. Akan sepenuhnya masuk akal untuk mengharapkan bahwa para penulis sejarah abad ketujuh di Byzantium dan Persia serta dari kalangan Muslim untuk menuliskan semua pengaruh dan prestasi luar biasa dari tokoh ini.

Namun ternyata catatan-catatan paling awal justru menawarkan lebih banyak pertanyaan dari pada jawaban. Salah satu yang paling awal dan nampaknya jelas merujuk pada seseorang seperti Muhammad berasal dari sebuah dokumen yang dikenal sebagai Jacobi Doctrina, yang mungkin ditulis oleh seorang Kristen dari Palestina antara tahun 634 dan 640 M, yakni pada saat penaklukan awal Yerusalem oleh kaum Arab dan setelah tahun 632 yang dianggap sebagai tahun kematian Muhammad. Dokumen ini ditulis dalam bahasa Yunani dari perspektif seorang Yahudi yang percaya bahwa Mesias dari Kristen adalah yang benar dan juga ia menderang tentang seorang nabi yang muncul di tanah Arab.

Ketika sang kandidatus [yakni seorang anggota serdadu pengawas kekaisaran Byzantium] terbunuh oleh kaum Saraken [Sarakenoi], aku sedang berada di Kaesarea dan segera berangkat ke Sykamina dengan perahu. Orang-orang berkata “sang kandidatus telah terbunuh,” dan kami orang-orang Yahudi bergembira. Dan mereka berkata bahwa seorang nabi telah muncul, datang bersama kamu Saraken, dan bahwa ia memproklamasikan kedatangan yang terpilih, kristus yang akan segera datang. Setelah tiba di Sykamina, aku berhenti dan bertanya kepada seorang lelaki tua yang cakap dalam Kitab Suci, dan aku bertanya kepada beliau: “Apa yang anda bisa ceritakan tentang seorang nabi yang muncul dari kaum Saraken?” Ia menjawab dengan mengerang dalam-dalam, “Ia palsu, sebab para nabi tidak datang dengan pedang. Benar-benar mereka hanyalah kaum anarkis yang tengah beraksi jaman sekarang, dan aku takut bahwa Kristus pertama yang telah datang, yang kaum Kristen puja, adalah dia yang diutus oleh Allah, dan sekarang justru kita sedang bersiap-siap menyambut Antikris. Memang nabi Yesaya pernah berkata bahwa bangsa Yahudi akan tetap sesat dan berkeras hati sampai seluruh bumi dihancurkan. Tetapi anda, Tuan Abraham, pergilah dan cari tahu tentang nabi yang telah muncul.” Sehingga aku, Abraham, berniat mencari dan mendengar dari mereka yang telah bertemu dengannya bahwa tidak ada kebenaran yang bisa ditemukan dari ia yang disebut nabi, hanya pertumpahan darah manusia. Ia juga berkata tentang kunci firdaus yang merupakan hal berlebihan.  [4]

Dalam kasus ini kata “berlebihan” (incredible) artinya “tidak bisa dipercaya” (not credible).  Satu hal yang bisa diyakinkan dari sini adalah bahwa para kaum Arab penyerbu (kaum Saraken) yang menaklukan Palestina di tahun 635 datang dengan membawa berita tentang seorang nabi baru, seseorang yang “datang dengan senjata.” Namun catatan Doctrina Jacobi ini tidak menyebutkan nama nabi yang masih hidup itu, yang tengah berkeliling bersama tentaranya, sedangkan Muhammad dikabarkan telah mati tahun 632. Terlebih lagi, nabi kaum Saraken ini bukannya memproklamasikan dirinya sebagai nabi Allah terakhir (lihat QS 33:40) malahan ia “memproklamirkan kedatangan ia yang terpilih, Kristus yang akan segera datang.” Ini adalah rujukan kepada mesias kaum Yahudi, bukan kepada Yesus Kristus dalam keimanan Kristen (Kristus berarti : ia yang diurapi/ terpilih / Mesias dalam bahasa Yunani).

Perlu dicatat bahwa Qur’an menggambarkan Yesus yang menyatakan akan munculnya sosok yang Tradisi Islam identifikasikan sebagai Muhammad:  “Hai Bani Israel, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberikan khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad”(QS 61:6). Kata “Ahmad” berarti “yang terpuji,” yang para ulama Islam identifikasi sebagai Muhammad: Nama Ahmad adalah varian dari Muhammad (karena kedua kata ini berbagi trilateral akar h-m-d). Mungkin baik Jacobi Doctrina maupun QS 61:6 dengan cara yang berbeda memelihara kenangan akan figur profetik yang memproklamasikan dirinya sebagai “yang terpuji” atau “yang terpilih”  – ahmad atau Muhammad.

Dikatakan bahwa nabi yang digambarkan dalam Doctrina Jacobi “juga berkata tentang kunci firdaus,” yang dianggap “berlebihan”. Namun ini tidak hanya berlebihan, tetapi juga sama sekali tidak pernah ada dalam tradisi Islam, yang tidak pernah mengklaim bahwa Muhammad memiliki kunci firdaus. Namun Yesus mempercayakan kunci-kunci surgawi itu kepada Petrus berdasarkan Matius 16:19, yang mungkin mengindikasikan bahwa sosok yang memproklamirkan kejadian eskatologis ini memiliki hubungan dengan tradisi Kristen, dan juga ekspektasi mesias dalam Yudaisme.  Dan sepanjang berkaitan dengan “kunci firdaus” maka ini lebih mirip dengan “kunci kerajaan surga” dalam kekristenan dari pada apapun dalam pesan-pesan Muhammad. Sang Nabi dalam Doctrina Jacobi nampaknya lebih dekat dengan kaum Kristen atau kaum penanti mesianik yang terpengaruh oleh kekristenan dari pada tentang seorang nabi Islam sebagaimana yang digambarkan dalam literatur sastra Islam.

Apakah Sosok Itu Muhammad?

Sederhananya, dapatkah dikatakan bahwa Doctrina Jacobi merujuk pada Muhammad sang Nabi Islam? Nampaknya sukar untuk membayangkan ini merujuk pada sosok yang lain, sebab para nabi lain yang memegang pedang penaklukan Tanah Suci dan tentara yang beraksi atas dasar inspirasi dari nabinya – tidak pernah terjadi di tahun 630.   Dokumen-dokumen yang berangkat dari tradisi Islam yang menyoal kematian Muhammad dan isi ajarannya dapat dipahami dengan mudah sebagai kesalahpahaman seorang penulis Byzantium yang meneliti apa yang tengah terjadi dari jarak yang aman, dan bukan sebagai bukti bahwa Muhammad dan Islam adalah 2 entitas yang berbeda pada saat itu dengan adanya mereka sekarang.

Pada saat yang bersamaan tidak ada satu catatanpun yang berasal di jaman dimana Doctrina Jacobi ditulis yang meneguhkan kisah kanonikal Islam tentang Muhammad dan asal-usul Islam. Satu kemungkinan lain bahwa nabi tak bernama dalam Doctrina Jacobi adalah satu dari beberapa figur, yang sebagian dari atribut historisnya kemudian dibenamkan kedalam figur Nabi Islam dibawah salah satu namanya adalah Muhammad. Sebab tidak ada satu halpun yang berasal dari jaman Muhammad beraksi atau dari perioda yang tak lama setelah itu yang memberi kita kesaksian tentang seperti apa dia dan apa yang dia lakukan.

Satu penyebutan nyata tentang namanya dapat ditemukan disebuah koleksi beragam tulisan bahasa Syriak (sebuah dialek bahasa Aramaik yang umum diwilayah dan jaman itu) yang secara umum dirujuk sebagai tulisan seorang imam Kristen bernama Tomas dan bertanggal pada awal tahun 640an. Namun beberapa bukti mengindikasikan bahwa tulisan-tulisan ini telah direvisi di pertengahan abad kedelapan, sehingga bisa jadi ini sama sekali bukanlah rujukan awal tentang Muhammad. [5]   Namun demikian Tomas merujuk pada “sebuah pertempuran antara tentara Roma dengan “tayyaye d-Mhmt” di timur Gaza di tahun 634. [6] Kata tayyaye atau taiyaye berarti kaum nomad, dan catatan sejarah lain menggunakan kata ini untuk merujuk kepada kaum penakluk. Sehingga salah seorang sejarawan Robert G. Hoyland telah menerjemahkan tayyaye d-Mhmt sebagai  “kaum Arab  Muhammad”; terjemahan ini dan terjemahan yang serupa dengannya secara relatif sama artinya. Namun bahasa Syriak membedakan antara t dan d, sehingga tidaklah pasti (sekalipun mungkin saja) bahwa dengan kata Mhmt , Tomas memaksudkan Mhmd– Muhammad. Bahkan jika “Kaum Arab Muhammad” benar-benar terjemahan yang tepat bagi tayyaye d-Mhmt, tetap saja kita masih jauh dari figur nabi Islam, nabi poligami pengobar perang, penerima Qur’an, penyandang pedang terhadap kaum kafir. Tidak satupun dalam tulisan-tulisan atau catatan-catatan kaum Arab lainnya, atau orang-orang yang mereka taklukan yang berasal dari pertengahan abad ketujuh yang menyebutkan elemen  apapun tentang biografinya. Dipuncak penaklukan oleh bangsa Arab, sumber-sumber non-Muslim tetap tidak menuliskan apa-apa tentang sang nabi, sama halnya dengan pihak Muslim sendiri tentang nabinya dan kitab suci yang konon katanya telah menginspirasi penaklukan itu.

Tomas mungkin saja bermaksud untuk menggunakan Mhmt bukan sebagai nama perorangan, namun sebagai sebuah gelar, “yang terpuji” atau “yang terpilih” tanpa ada rujukan pasti. Di kasus-kasus lainnya, Muhammad yang Tomas rujuk tidak memiliki kesamaan apapun dengan Islam kecuali hanya dari namanya saja.

Sophronius dan Umar

Tak satupun yang berinteraksi dengan mereka yang menaklukan Timur Tengah di pertengahan abad ketujuh nampaknya mendapat kesan bahwa seorang nabi bernama Muhammad, yang para pengikutnya menyerbu keluar dari Arabia membawa sebuah kitab suci dan pengakuan iman yang baru dibelakang penaklukan itu. [7]

Pertimbangkanlah contoh berikut, sebuah catatan dari seorang Kristen abad ketujuh tentang penaklukan Yerusalem, nampaknya ditulis dalam beberapa tahun setelah penaklukan (sumbernya ditulis dalam bahasa Yunani, namun yang bertahan hanyalah terjemahannya ke dalam bahasa Geogia). Berdasarkan catatan ini, “kaum tak bertuhan Saraken memasuki Kota Suci dari Tuan kita Yesus Kristus, Yerusalem, atas perijinan Allah dan sebagai hukuman atas kelalaian kita.”  [8]  Sebuah homili (catatan kotbah) Koptik dari jaman yang sama menggambarkan kaum “Saraken” sebagai “penindas, yang menyerahkan diri mereka pada prostitusi, pembantaian dan membawa kepada penahanan anak-anak manusia, dengan mengatakan:’kita sama-sama berpuasa dan berdoa.” [9]

Sophronius, patriakh Yerusalem yang menyerahkan kota ke tangan Umar setelah penaklukan oleh Arab di tahun 637, mengeluhkan kedatangan  “ kaum  Saraken yang, oleh karena dosa-dosa kita, sekarang telah bangkit melawan kita secara tidak terduga dan membinasakan dengan segala kekejaman dan rencana jahat, dengan keberanian tak beriman dan tak bertuhan.”  [10] Dalam kotbah Natal tahun 634 M, Sophronius mendeklarasikan bahwa, “Namun karena dosa-dosa kita yang tak terhitung, kita tidak mampu melihat hal-hal ini, dan dilarang memasuki jalan menuju Betlehem. Diluar kemauan kita, bertentangan dengan keinginan kita, kita diminta untuk tetap tinggal di rumah, tidak dirantai oleh beban ragawi, tetapi diikat oleh ketakutan akan kaum Saracen.” Ia mengeluhkan bahwa “sebagaimana dulu oleh kaum Filistin, demikian sekarang kaum Saraken yang tak bertuhan telah merebut Betlehem yang suci dan menghalangi jalan kita menuju sana, mengancam untuk menyembelih dan merusak jika kita meninggalkan kota suci dan berani mendekati Betlehem kita yang suci dan tercinta.”  [11]

Tidaklah mengherankan apabila seorang Kristen abad 7 M seperti Sophronius akan merujuk para penyerbu sebagai “kaum tak bertuhan.” Lagipula, seandainya para penyerbu ini telah datang dengan mengacung-acungkan kitab suci dari Ilah yang mereka proklamasikan sebagai penguasa tunggal dari segala sesuatu, Sophronius tentu saja akan menolak keberadaan Allah mereka. Tetap saja, ia tidak menyebutkan bahkan tentang polemik diantara mereka, Allah dari para penakluk, nabi mereka dan kitab suci mereka.

Di semua diskusinya tentang “kaum Saraken,” Sophronius memperlihatkan suatu keakraban dengan kebencian mereka akan salib dan doktrin Kristen Ortodoks akan Kristus, tetapi ia tidak pernah menyebut para penyerbu ini “Muslim” dan tidak pernah merujuk pada Muhammad, Qur’an, atau Islam. Di sebuah kotbah dari Desember 636 atau 637, Sophronius membicarakan dengan panjang lebar tentang brutalitas para penakluk, dan dalam melakukannya ia membuat beberapa rujukan terhadap kepercayaan mereka:

 Tetapi keadaan saat ini memaksaku untuk berpikir berbeda tentang cara hidup kita, sebab mengapa ada banyak peperangan di antara kita? Mengapa kaum barbar menjarah kita? Mengapa ada banyak kehancuran dan perampasan? Mengapa ada banyaknya pertumpahan darah yang tiada putus-putusnya? Mengapa burung-burung langit melahap mayat-mayat manusia?

Para penyerbu tidak ganas secara serampangan, namun nampaknya mereka memiliki kejijikan dan kebencian khusus kepada kekristenan:

Mengapa gereja-gereja dirobohkan? Mengapa salib diejek? Mengapa Kristus, yang adalah penebar segala kebaikan dan pemberi kebahagiaan kita, dihujat oleh mulut-mulut pagan (ethnikois tois stomasi) sehingga ia menangis kepada kita: “karena engkau maka namaku dihujat di antara kaum pagan,” dan inilah yang terburuk dari semua hal buruk yang tengah terjadi kepada kita.

Kotbah Sophronius tepat dengan penolakan kaum Islam terhadap salib – sebuah penolakan yang juga tertulis di Qur’an, yang menegaskan bahwa kaum Yahudi “tidak membunuhnya dan tidak  menyalibnya, tetapi orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka.”  (QS 4:157). Dan ketika berbicara tentang penghujatan kepada Kristus dari kaum Pagan, Sophronius mungkin merujuk penolakan keilahian kristus dan pengorbanan demi keselamatan – penolakan yang menjadi bagian dari doktrin Islam.

Sophronius menganggap kaum Saraken sebagai alat dari amarah Allah terhadap kaum Kristen yang telah menjadi lemah, sekalipun ia menjelaskan kaum Saraken sebagai “pembenci Allah” dan “musuh Allah” dan pemimpin mereka sebagai “si jahat.” Tidak jelas apakah Sophronius merujuk kepada Iblis itu sendiri atau kepada Kalifah Umar, yang menaklukan Yerusalem, atau kepada Muhammad, atau kepada seseorang lain. Sophronius menyatakan:

Itulah kenapa  kaum Saraken yang penuh dendam dan pembenci Allah, saat-saat terkutuk yang telah dinubuatkan oleh para nabi, dibanjirinya tempat-tempat yang tidak diperbolehkan bagi mereka, mereka menjarah kota-kota, merusak lading-ladang, membakar desa-desa, membakar gereja-gereja suci, menjungkirbalikan biara-biara kudus, melawan tentara Byzantium yang berjajar melawan mereka, dan ketika bertempur mereka meninggikan piala-piala [peperangan] dan menambahkan kemenangan demi kemenangan. Lebih lagi, mereka terus menerus menentang kita dan meningkatkan penghinaan kepada Kristus dan gereja, dan sama sekali suatu penghinaan terhadap Allah. Para penentang Allah itu membual kemenangan mereka diatas segalanya terus menerus tidak bisa dikendalikan meniru-niru pemimpin mereka yang adalah iblis, dan menyamai kesombongannya yang karenanya ia telah diusir dari surga dan ditempatkan di tempat suram. Namun segala kebusukan ini tidak akan terjadi, tidak pula sampai pada derajat kekuasaan seperti sekarang dan tanpa hukum  di semua hal, sandainya kita dulu tidak menghinakan karunia  [baptisan] dan mengotori kemurnian, yang mana dengan cara ini mendukakan Kristus, pemberi segala karunia, dan membuat ia marah kepada kita. Namun ia masih tetap baik, ia tidak menyukai kekerasan, menjadi sumber dari kebaikang dan tidak berharap melihat keruntuhan dan kerusakan manusia. Kita sendiri, dalam kebenaran, bertanggung jawab untuk semuanya ini, dan tidak ada kata-kata yang perlu diungkapkan demi pembelaan kita. Kata-kata apa dan posisi apa akan diberikan kepada kita sebagai pembelaan ketika kita telah menyia-nyiakan semua karunia darinya, mengotorinya dan mencemarkan segalanya dengan perbuatan kita yang jahat? [12]

Penggambaran kekerasan dan brutalitas semacam itu sukar sekali diperdamaikan dengan catatan-catatan yang lebih umum dikenal tentang catatan penaklukan Arab atas Yerusalem. Catatan-catatan tersebut mencitrakan Umar menemui Sophronius dan memperlakukannya dengan hormat, bahkan secara baik hati menolak melakukan shalat di Gereja Kubur Suci agar pengikutnya tidak mengepung gereja itu dan mengubahnya menjadi mesjid. [13] Umar dan Sophronius membuat pakta / kesepakatan yang melarang kaum Kristen membangun gereja-gereja baru, membawa senjata, atau menaiki kuda, dan diharuskan membayar pajar, jizya, kepada kaum Muslim, namun kaum Kristen secara umum diijinkan untuk mempraktekan agama mereka dan hidup secara relatif dalam damai. [14] Ini adalah fondasi dari superstruktur hukum dhimmi yang menolak kesetaraan hak bagi Non-muslim di dalam negara Islam dan bertentangan dalam banyak hal dengan standar-standar modern, tetapi di abad ketujuh secara komparatif dianggap toleran.

Apa yang disebut “Pakta Umar” sebenarnya secara historical diragukan otentisitasnya. [15]  Rujukan paling awal kepadanya datang dari karya sejarawan Muslim, Tabari, yang meninggal hampir tiga abad kemudian, yakni tahun 923. Menurut Tabari Umar menulis kepada provinsi-provinsi tetangganya tentang bagaimana ia memperlakukan orang-orang di Yerusalem yang baru saja ditaklukan:

Demi nama Allah yang pengasih lagi penyayang. Ini adalah jaminan keamanan yang hamba Allah, Umar, Pemimpin kaum Beriman, telah menjamin penduduk Yerusalem. Ia telah memberikan kepada mereka jaminan keamanan untuk mereka, harta benda, salib-salib, kaum sakit dan kaum kaya di kota tersebut, dan atas semua ritual agama mereka. Gereja-gereja mereka tidak akan diambil oleh pihak muslim dan tidak akan diruntuhkan. Tidak mereka, tidak pula tanah dimana mereka berdiri, tidak pula salib mereka, tidak pula harta benda mereka akan dirusak. Mereka tidak akan dipaksa untuk beralih agama. Penduduk Yerusalem harus membayar pajak perkepala (jizya) seperti halnya penduduk di Byzantium dan para perampok. Sedangkan bagi mereka yang meninggalkan kota, nyawa dan harta benda mereka akan aman sampai mereka tiba di tempat aman. Mereka harus membayar pajak per kepala seperti halnya penduduk Yerusalem yang ingin pindah bersama kaum Byzantium, mengambil harta benda mereka, dan meninggalkan gereja-gereja dan salib mereka akan aman sampai mereka mencapai tempat aman. Jika mereka membayar pajak per kepala sesuai dengan kewajiban mereka. Isi dari surat ini berada di bawah perjanjian dengan Allah, dan tanggungjawab Nabinya, Kalifah, dan kaum beriman. [16]

Atmosfir isi dari surat Umar dan catatan Sophronius jelas tidak bisa dipersandingkan. Umar berjanji memelihara gereja-gereja dan membiarkan kaum Kristen bergerak bebas, bahkan untuk mengambil property dan meninggalkan tempat tinggalnya, sekalipun dia tidak sepenuhnya toleran, mengatakan bahwa ia akan membatasi kaum Yahudi dari Yerusalem. Sophronius, sebaliknya, mengeluhkan perusakan gereja-gereja dan pembatasan kaum Kristen untuk bepergian. Perbedaan yang paling mencolok adalah bahwa surat sang Kalifah tidak salah lagi ternyata ditulis dalam lingkungan Islami. Surat itu dimulai dengan pujian kepada Allah yang maha pengasih lagi penyayang, dan merujuk pada “nabiNya.” Sedangkan Sophronius, yang menulis pada saat Umar menaklukan Yerusalem, tidak memperlihatkan adanya kesan bahwa kaum Arab memiliki seorang nabi sama sekali, atau bahkan menyebut mereka sebagai Muslim.

Kaum Arab Yang Pagan?

Arabia sebelum kaum pagan; kaum Arab adalah polities. Islam, tentu saja dipercaya telah mengakhiri semua itu. Muhammad, menurut catatan standar, menyatukan dan mengislamkan Arabia. Segera setelah kematiannya, beberapa kaum Arab memberontak, yang membawa pada Perang Kaum Murtad di tahun 632 dan 633, namun kaum Muslim memenangkannya. Politeisme dan paganisme Arab segera menjadi relik sejarah.

Namun sekali lagi catatan sejaman secara jelas menggambarkan wajah berbeda. Pada tahun 676 seorang sinode Nestorian menyatakan dalam bahasa Syriak bahwa kaum Kristen di “bagian selatan pulau” yakni Arabia, bahwa “para wanita yang dulu beriman kepada Kristus dan ingin hidup dalam kehidupan Kristen harus menjaga diri mereka sekuat tenaga dari persatuan dengan kaum pagan [hanpê] ….. Perempuan Kristen harus betul-betul menghindari hidup dengan kaum pagan. [17]

Banyak penulis Kristen pada jaman itu merujuk kaum Muslim ini sebagai kaum Pagan, dan beberapa sejarawan telah mengasumsikannya sebagai bukti awal akan bukti keberadaan Muslim di jaman itu. Namun ada bukti-bukti yang diceritakan bahwa ketika para penulis Kristen melaporkan tentang “kaum Pagan” maka mereka benar-benar memaksudkannya sebagai kaum penyembah berhala dan bukan kaum Muslim seperti yang kita ketahui sekarang. Sinode Nestorian menetapkan bahwa “mereka yang didaftarkan sebagai kaum beriman haruslah menjauhkan diri merekka dari kebiasaan kaum pagan yang mengambil dua istri.” Islam tentu saja mengijinkan seorang pria beristrikan maksimal 4 orang ditambah dengan budak-budak perempuan sebagai selir (QS 4:3). Instruksi sinode ini mungkin menjadi sebuah laporan yang tidak tepat terhadap poligami Islam – atau justru adalah rujukan yang tepat terhadap kebiasaan kaum pagan. Sebagai tambahan sinode itu menyebutkan “orang Kristen yang meninggal harus dikuburkan sebagaimana tata cara Kristen, bukan tata cara kaum Pagan. Adalah kebiasaan kaum pagan untuk membungkus mayat dalam kain yang mahal dan mewah, dan membuat perkabungan dengan suara keras… Kaum Kristen tidak diperbolehkan menguburkan mayat dengan kain sutra atau kain mewah lainnya.” [18]  Nah, dari sini kita melihat bahwa tak satupun dari karakter kaum pagan yang digambarkan berhubungan dengan kebiasaan Islam sebagaimana yang kita kenal, yang tidak mengijinkan penguburan disertai dengan kain mewah, apa lagi sutra, serta berkabung dengan jeritan keras bagi orang yang mati.

Untuk itu Sinode Nestorian nampaknya membicarakan tentang benar-benar kaum pagan, empat puluh tahun setelah konon katanya dibersihkan dari tanah Arab.

Sebuah indikasi penyebutan lain berasal dari Athanasius II, patriak Monofisit dari Antioch (683-686), sebuah kota di Syria yang pada saat itu menjadi otoritas keempat tertinggi dalam kekristenan. Athanasius mengeluhkan tentang kaum Kristen “yang dengan bebas ikut ambil bagian dalam festival kaum pagan,” dan “beberapa wanita yang tidak beruntung bergabung dengan kaum Pagan.” Ia menggambarkan praktek yang kedengarannya asli kaum Pagan dan bukan tentang Islam: “Segera mereka makan, tidak membuat perbedaan diri mereka, korban-korban kaum pagan, dan melupakan apa yang… perintah dan nasihat para rasul, untuk menghindari perjinahan, memakan daging dari binatang yang dicekik, darah dan makanan dari persembahan kaum pagan.”[19]

Inilah rujukan kepada perintah para rasul bagi kaum non Yahudi yang berubah iman dari pagan menuju Kristen, yakni “….”(Kisah Para Rasul 15:20). Namun Athanasius nampaknya tidak hanya mengulangi nasihat sebagai formula pelarangan. Kaum pagan yang ia persoalkan  ini nampaknya mengajak-ngajak wanita Kristen dalam setidaknya praktek-praktek mereka, sebagaimana Athanasius lanjutkan, “Desar  mereka, tegur mereka, peringatkan mereka, dan khususnya wanita-wanita yang bergabung dengan laki-laki semacam itu, agar mereka menjauhkan diri dari makanan yang didapat dari persembahan itu, dari binatang yang mati dicekik, dan dari pertemuan terlarang mereka.” [20]

Kaum Muslim memang mempersembahkan binatang satu tahun sekali pada saat perayaan Idul Adha. Namun mereka tidak mencekik binatang tersebut untuk kemudian dikorbankan. Sehingga demikian tidak mungkin Athanasius memaksudkan kaum pagan itu sebagai Islam dan ritual tersebut sebagai perayaan Iedul Adha. Dan yang paling memungkinkan adalah ritual tersebut milik kaum pagan di wilayah tertentu dimana konon katanya Islam telah membasminya 50 tahun sebelumnya.

Mungkin bahwa para penakluk itu sendiri lebih pagan dari kaum Muslim – bukan karena mereka baru saja berpindah iman dan memeluk Islam tetapi mempertahankan praktek keagaamaan mereka terdahulu, namun Islam sendiri, sebagaimana yang kita kenal saat ini, tidak benar-benar ada pada saat itu. [21] Dan kemungkinan lain, entah islam itu sudah ada atau belum saat itu, baik kaum Arab maupun bangsa-bangsa yang mereka tundukan pernah pernah menyebutkannya.

Tidak Ada Muslim

Pada tahun 639 Patriak Kristen Monofisit John I dari Antiokia bertanya jawab dengan seorang komandan Arab Amir Ibnu al-As. Catatan ini bertahan di sebuah manuskrip tertanggal dari tahun 874. [22] Di dalamnya penulis merujuk kepada kaum Arab bukan sebagai kaum Muslim melainkan sebagai kaum “Hagarian” (mhaggraye), yakni kaum dari Hagar / Hajar, gundik Abraham/Ibrahim, ibu dari Ismail. Lawan bicara sang Patriak memang menolak keilahian Kristus, sejalan dengan ajaran Islam, namun tak satu pun dari mereka yang menyebutkan Qur’an, Islam ataupun Muhammad. [23]

Hal serupa di tahun 647 Ishoyahb III, patriak Seleukia, menulis sebuah surat tentang “Tayyaye” dan “Arab Hagarian” yang “tidak menolong mereka yang tertimpa penderitaan dan kematian di dalam Allah, Tuhan atas segala sesuatu.”[24] Dengan kata lain, kaum Hagarian menolak keilahian Kristus. Di sini pula, tidak pernah ada penyebutan Muslim, Islam, Qur’an, Muhammad sang Nabi Islam. Catatan-catatan Ishoyahb selaras dengan perdebatan delapan tahun sebelumnya (antara Patriak John I dengan Amir Ibnu al-As) yang mengatakan bahwa kaum Arab penakluk menolak keilahian Kristus, tetapi tidak menyebutkan doktrin apapun yang mungkin mereka bawa ke tanah taklukan yang baru ini.

Ketika sumber-sumber non-Muslim menyebutkan nama Muhammad, catatan mereka, seperti halnya Doctrina Jacobi, berbeda dalam hal-hal penting dengan kisah-kisah standar Islam. Sebuah catatan sejarah yang ditujukan kepada uskup Armenia dan ditulis antara tahun 660an atau 670an menggambarkan seorang bernama “Mahmet” sebagai seorang pedagang dan pengkhotbah dari antara kaum Ismael yang mengajarkan pengikutnya untuk menyembah satu Allah yang benar, Allah Abraham. Sejauh ini masih baik: kedengarannya itu seperti gambaran sang nabi Islam. Namun elemen lain dari catatan Sebeos ini tidak memiliki pijakan dalam tradisi Islam. Catatan sejarah itu dimulai dengan kisah pertemuan para pelarian Yahudi dengan kaum Ismael dari tanah Arabia setelah Edessa ditaklukan kembali oleh kekaisaran Byzantium di tahun 628:

Maka berangkatlah mereka (para pelarian Yahudi) ke padang gurun dan tiba di Arabia, di antara kaum Ismael; mereka mencari pertolongan, dan menjelaskan kepada mereka bahwa mereka bersaudara berdasarkan Bible. Sekalipun mereka (kaum Ismail) siap untuk menerima persaudaraan erat ini, namun demikian mereka (kaum Yahudi) tidak dapat meyakinkan kebanyakan orang di sana, sebab kultus mereka berbeda.

Pada saat itu ada seorang Ismail bernama Mahmet, seorang pedagang; menyatakan dirinya kepada mereka sekan-akan sebagai perintah Allah, sebagai pengkhotbah, sebagai jalan kebenaran, dan mengajar mereka mengenal Allah Abraham, sebab ia berpengetahuan dan akrab dengan cerita Musa. Karena perintahnya dari Yang Di Atas, maka mereka bersatu di bawah kuasa seorang pria, di bawah hukum tunggal, dan meninggalkan kultus sia-sia, kembali kepada Allah yang hidup yang telah mewahyukan diriNya kepada Bapak Abraham. Mahmet melarang mereka makan daging dari hewan yang telah mati, meminum anggur, berbohong atau berzinah. Ia menambahkan: “Allah telah berjanji memberikan tanah ini kepada Abraham dan keturunannya setelah ia wafat, ia beraksi seusai dengan janjiNya sementara ia mencintai Israel. Sekarang kalian anak-anak Abraham, pergilah dan rebutlah wilayahmu yang Allah berikan kepada Bapak Abraham, dan tak seorangpun mampu menahanmu, sebab Allah dipihakmu.”

Kemudian mereka bersama-sama berkumpul dari Havilah ke Shur dan seberang Mesir [Kejadian 25:18]; mereka keluar dari padang gurun Pharan dibagi ke dalam dua belas suku berdasarkan leluhur dan bapak-bapak mereka. Mereka membagi suku-suku mereka kedua belas ribu bangsa Israel itu, seribu untuk setiap suku untuk membimbing ke tanah Israel. Mereka keluar, kemah demi kemah, berdasarkan leluhur mereka: Nebajoth, Kedar, Abdeel, Mibsam, Mishma, Dumah, Massa, Hadar, Tema, Jetur, Naphish and Kedemah [Kejadian  25:13-15].

Itulah suku-suku Ismail…. Semua yang tersisa dari suku-suku Israel datang dan bergabung dengan mereka, dan mereka membangun tentara yang besar. Kemudian mereka mengirim utusan kepada kaisar kaum Yunani, dengan mengatakan: “Allah telah memberikan tanah ini sebagai warisan kepada Bapak Abraham dan keturunannya. Kami anak-anak Abraham, kalian telah cukup lama menguasai tanah kami; menyerahlah dengan damai, dan kami tidak akan menyerbu wilayahmu; kalau tidak kami akan mengambil kembali beserta keuntungan yang telah kalian ambil.” [25]

Adalah luar biasa bahwa salah satu catatan paling awal tentang Muhammad sebagai seorang nabi berisikan rincian yang menggambarkan dia yang bersikeras akan hak kaum Yahudi terhadap Tanah Suci – bahkan jika dalam konteks bahwa tanah itu pun milik kaum Ismael, kemudian beraksi bersama-sama dengan kaum Yahudi. Banyak elemen dalam tradisi Islam memang memperlihatkan Muhammad menyatakan dirinya sebagai seorang nabi dalam jalur kenabian Yahudi dan menggabungkan berbagai ketaatan yang diadaptasi dari hukum Yahudi bagi komunitas barunya. Dia bahkan pada awalnya menyuruh kaum Muslim untuk berdoa mengarahke Temple Mount di Yerusalem, sebelum wahyu dari Allah turun bahwa mereka harus menghadap Mekkah. Namun, adalah ganjil sekali bahwa catatan ini tidak memberikan isyarat tentang antagonism terhadap kaum Yahudi yang nantinya menjadi sifat khusus Muhammad dan Muslim terhadap mereka. Qur’an menggambarkan kaum Yahudi sebagai musuh paling berbahaya bagi kaum Muslim (QS 5:82)

Tentu saja catatan Sebeo ini jauh dari nilai historisitas. Tidak pernah ada catatan dua belas ribu orang Yahudi bersekutu dengan kaum Arab untuk menyerbu territorial Byzantium. Namun demikian penyebutan Muhammad merupakan salah satu catatan yang paling tua, dan ini selaras dengan tradisi Islam yang menggambarkan Muhammad sebagai pedagang dan dalam perjalanan karyanya, setidaknya satu titik dalam karirnya, ia memperkembangkan persatuan dengan kaum Yahudi. Namun dari catatan Sebeos kita mendapatkan kesan bahwa setidaknya sampai tahun 660an, kaum Muslim dan Yahudi merupakan saudara spiritual dan mitra politik. Hal ini sama sekali tidak selaras dengan tradisi Islam ataupun catatan konvensional.

Bahkan dengan cara yang sangat terdistorsi, jika catatan ini benar-benar mencerminkan kejadian historis aktual, bisa dipastikan bahwa kaum Yahudi yang bergabung dalam persatuan itu tidak menganggapnya sebagai apa yang dalam istilah eukumenis “Persaudaraan Muslim-Yahudi”. Sebab sampai saat itu tidak ada penyebutan Muslim atau Islam. Sebagaimana yang kita lihat, catatan-catatan sejarah sejaman dari tanah-tanah yang diduduki menyebut kaum Arab sebagai “Hagarian,” atau “Saraken,” atau “Taiyaye.”

Para penyerbu menyebut mereka sendiri sebagai Muhajirun, “kaum emigran / kaum yang hijrah” – sebuah istilah yang akhirnya merujuk pada suatu cerita tertentu dalam kisah Islam, tetapi pada jaman itu begitu jelas tidak ada penyebutan Islam dsb. Para penulis berbahasa Yunani kadang member istilah para penyerbu ini sebagai “Magaritai” yang nampaknya diambil dari kata Muhajirun. Namun dengan jelas bahwa dari semua penyebutan itu, mereka yang diserbu dan ditundukan tidak pernah memakai kata “Muslim.” [26]

Sebeos juga mencatat bahwa Muawiya, gubernur Syria dan kemudian menjadi Kalifah, mengirimkan sebuah surat kepada Kaisar Byzantium Konstantine “Si Berjenggot” di tahun 651. Surat itu meminta Konstantine untuk meninggakan kekristenan dan beralih kepada agama – bukan Islam – melainkan sejenis Monoteisme Abrahamik yang tidak jelas.

Jika engkau ingin hidup damai …tinggalkanlah agamamu yang sia-sia itu, dimana engkau telah dibesarkan sejak masih kanak-kanak. Tinggalkanlah Yesus ini dan beralihlah kepada Allah yang aku sembah, Allah dari bapak kita Abraham… jika tidak bagaiman Yesus yang engkau sebut Kristus itu, yang bahkan tidak mampu menyelamatkan dirinya sendiri dari kaum Yahudi, mampu menyelamatkan dirimu dari tanganku? [27]

Kejijikan Islam akan idea Kristus yang disalib adalah bukti. Namun sekali lagi, kita tidak menemukan penyebutan Muhammad, Qur’an, ataupun Islam. Seruan Muawiya kepada Konstantin untuk beralih iman ke agama “Allah dari bapak Abraham” mengingatkan pada formulasi quasi-kredo Qur’an: “……” (QS 2:136). Namun patut dicatat bahwa bacaan Qur’an ini sendiri tidak menyebutkan pewahyuan baru yang pokoknya ditujukan untuk seorang nabi yang nantinya menelurkan kitab suci ini, dan yang seharusnya meneguhkan pesan yang para nabi terdahulu bawa.

Sangat aneh juga bahwa Sebeos tidak menyebutkan Mahmet sang pedagang Ismail dalam hubungannya dengan surat Muawiya. Mungkin pemimpin Arab misterius ini bukanlah figur sentral bagi agama Abrahamik ini sebagaimana orang-orang sesudahnya menjadikannya. Dan catatan-catatan paling awal yang mengisahkan monoteisme Arab, jarang menggambarkan seorang nabi bernama Muhammad yang menempatkan dirinya di suatu posisi dalam agama Abraham, namun tidak ada sesuatu yang lebih dapat kita simpulkan. Seorang penulis sejarah anonimus non-Muslim menuliskan sekitar tahun 680 menggambarkan Muhammad sebagai pemimpin “kaum Ismail” yang Allah telah kirim melawan Persia “seperti pasir di tepi pantai.”  Ia menggambarkan Kabbah “kuil berbentuk kubus di Mekkah – sebagai pusat penyembahan kaum Arab, mengidentifikasikannya dengan Abraham, “Bapak dari kepala suku mereka.” Namun ia tidak menawarkan rincian tentang pengajaran khusus dari Muhammad. Dan seperti halnya para penulis sejarah lainnya, ia tidak pernah menyebutkan Qur’an, atau menggunakan kata “Muslim” atau “Islam”.  [28]

Sepuluh tahun kemudian, pada tahun 690, seorang penulis sejarah dari Kristen Nestorian, John Bar Pankaye menuliskan otoritas Muhammad dan kebrutalan kaum Arab dalam memaksakan kekuasaannya. Namun tetap ia tidak mengetahui apapun tentang kitab suci yang dari para penakluk ini. Ia juga menggambarkan sebuah praktek relijius baru yang jauh lebih mendekati Yudaisme dan Kekristenan dari agama apa yang nantinya disebut Islam:

Kaum Arab….. memiliki suatu perintah dari ia yang menjadi pemimpinnya, yang selaras dengan kaum Kristen dan para rahibnya, mereka juga, dibawah  kepemimpinannya, melakukan penyembahan kepada Allah yang satu, berdasarkan kebiasaan dalam Perjanjian Lama. Pada awalnya mereka begitu terikat dengan tradisi Muhammad yang adalah guru mereka, sehingga mereka membebankan rasa sakit kematian pada siapapun yang kelihatannya melawan tradisi mereka. Di antara mereka ada banyak orang Kristen, sebagaian dari mereka kaum sesat, dan sebagian dari kita. [29]

Pertama Kali Istilah Muslim Digunakan?

 

Juga di tahun 690an, seorang Uskup Kristen Koptik, John Dari Nikou, membuat penyebutan “muslim” yang pertama:

Dan sekarang banyak penduduk Mesir yang tadinya Kristen palsu menolak keimanan ortodoks dan baptisan pemberi hidup, dan menganut agama kaum Muslim, musuh Allah, dan menerima doktrin binatang yang menjijikan, yakni, Muhammad, dan mereka melakukan kesalahan bersama-sama dengan para pemuja berhala, dan memanggul senjata dan menyerang kaum Kristen. Salah satu dari mereka memeluk iman Islam ….. dan menyiksa kaum Kristen [30]

Namun, ada alasan untuk percaya bahwa teks yang tersisa ini bukanlah John dari Nikiou yang menulisnya. Teks ini sendiri bertahan hanya dalam bentuk terjemahan ke dalam bahasa Etiopia dari bahasa Arab, yang tertanggal 1602. Teks berbahasa Arab sendiri berasal dari teks asli berbahasa Yunani atau bahasa lain. Tidak ada laporan akan istilah Muslim dan Islam pernah digunakan entah oleh kaum Arab ataupun oleh kaum-kaum yang ditundukan di tahun 690-an, diluar prasasti di Kubah Batu, yang mana prasasti itu sendiri mengandung fitur beragam pertanyaan, sebagaimana kita akan kaji. Dengan demikian mungkin John dari Nikou menggunakan istilah lain seperti – Hagarian? Saraken? Kaum Ismael? – yang mana seorang penerjemah nantinya secara serampangan terjemahkan sebagai Muslim.[31]

Jikapun istilah Muslim digunakan di tahun 690-an, inipun tidak sepopular seperti penggunaan istilah Hagarian, Saraken,

Muhajirun, dan Kaum Ismail. Pada tahun 708 seorang penulis Kristen  Jacob dari Edessa masih merujuk pemakaian Mahgrayé—kata dalam  bahasa Syriac yang mengacu pada Muhajirun, or “kaum yang berpindah”:

Bahwa Mesias adalah keturunan Daud, setiap orang mengakuinya, kaum Yahudi, Mahgrayé, Kristen… Kaum Mahgrayé juga, sekalipun mereka tidak mau mengatakan bahwa Mesias sejati ini, yang datang dan diakui oleh kaum Kristen, adalah Allah dan anak Allah, namun demikian mereka mengakui dengan tegas bahwa dialah Mesias yang telah datang…. Atas hal ini mereka tidak memiliki perselisihan dengan kita, namun dengan kaum Yahudi……. [Namun] mereka tidak membenarkan menyebut Mesias ini Allah atau Anak Allah.  [32]

Pernyataan Jacob memperlihatkan bahwa menjelang dekade pertama abad kedelapan, istilah Muhajirun dikenali sebagai ajaran yang mengakui Yesus tetapi menolak keilahiannya – hal ini menggemakan gambaran Yesus di Qur’an sebagai seorang nabi Islam tetapi tidak bersifat ilahi.

John dari Damaskus Menyoal tentang kaum Hagarians, Ismael, atau Saraken

Sekitar tahun 730, seorang teolog terkeal Kristen, John dari Damaskus, mempublikasikan bukunya Menyoal Ajaran-ajaran Sesat , sebuah pemaparan kekristenan non-arus utama dalam perpektif ajaran ortodoks Byzantium. Ia memasukan sebuah bab tentang agama baru yang aneh dari orang-orang yang ia identifikasi dengan tiga nama, yaitu kaum Hagarian, Ismail, dan Saraken. John  menuliskan tentang seorang “nabi palsu” bernama Muhammad (Mamed) yang  “setelah mempelajari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dan nampaknya telah berbincang-bincang dengan seorang rahib Arian, ia memadukan kesesatannya sendiri. Dan setelah menyenangkan dirinya dengan orang-orangnya dengan berpura-pura sebagai orang suci, ia menebarkan rumor tentang sebuah tulisan (graphe) yang diturunkan padanya dari surga. Demikianlah, setelah menuliskan doktrin-doktrin menggelikan, dia membawanya untuk mereka bentuk penyembahan itu.” [33]

John mengulangi beberapa rincian dari kepercayaan kaum Saraken yang selaras dengan doktrin Islam — khususnya, kritik Islam terhadap kekristenan. “Mereka memanggil kita para pendua Allah – musyrik (hetairiastas) sebab kata mereka kite menduakan Allah dengan mengatakan Kristus adalah Anak Allah dan Allah….. mereka secara serampangan menganggap kita para penyembah berhala karena kita merendahkan diri kita dihadapan salib, yg sangat mereka benci.” Dalam meresponi hal ini John menyebut-nyebut beberapa praktek yang akrab dengan praktek agama Islam: “dan kita katakan pada mereka: ‘ bagaimana denganmu yang menggosok-gosokan dirimu di sebuah batu di Ka’ba (Chabatha) dan menghormat batu itu dengan ciuman mesra?’” [34]

Namun demikian John memperlihatkan suatu keakraban setidaknya dengan sebagian isi dari Qur’an, sekalipun ia tidak pernah menyebutnya sebagai “Qur’an”, hanya merujuk kepada nama surah-surah tertentu. “Perempuan/ An-Nisaa” adalah judul dari surah keempat dalam Qur’an, dan John menulis: “Muhammad ini, seperti yang telah disebutkan sebelumnya, mengarang beberapa cerita sembrono, yang kepada setiap kisahnya itu ia berikan sebuah nama seperti tulisan (graphe) tentang Perempuan, dimana ia secara jelas meresepkan mengawini empat istri dan seribu selir, jika itu memungkinkan.”  Surrah An-Nisaa memang mengijinkan seorang laki-laki menikahi empat istri dan menggunakan budak-budak wanita, “budak-budak yang kamu miliki”(QS 4:3), sekalipun secara spesifik tidak menyebutkan angka seribu, atau jumlah tertentu. Secara sederhana John memakai bahasa hiperbolis atau menggunakan angka seribu untuk mengindikasikan suatu jumlah tak terbatas selir-selir.

John juga merujuk pada “naskah tentang Sapi, yang tentangnya ia (Muhammad) mengatakan ada seekor sapi dari Allah” – sebuah  cerita yang muncul dua kali di Qur’an, sekalipun hanya dua kali penyebutannya secara tidak jelas (QS 7:77, 91:11–14). Lebih lagi, John mencatat bahwa “Muhammad menyebutkan naskah tentang Meja,”  sebuah catatan hidangan tentang Ekaristi Kristen ditemukan di QS 5:112–115, dan “naskah tentang Sapi,” yang menjadi judul dari surrah kedua dalam Qur’an,  “dan beberapa lagi hal bodoh dan menggelikan yang, karena jumlahnya yang begitu banyak, aku pikir seharusnya sudah lama hilang dari edaran.” [35]

John mendemonstrasikan suatu pengetahuan rinci tentang Yesus Kristus dari Qur’an, yang dianggap berasal dari Muhammad. Catat bahwa kata-kata dalam tanda kurung dibawah ini telah ditambahkan oleh penerjemah dalam bahasa Inggris, yang pada umumnya merujuk pada ayat-ayat dalam Qur’an, namun pemberian ayat ini tidak muncul dalam tulisan John yang asli. John menulis :

Dia  [yakni, Muhammad] mengatakan bahwa Yesus Kristus adalah Firman Allah dan Roh-Nya [lihat QS 9:171], diciptakan [QS 3:59] dan seorang hamba [QS 4:172, 9:30, 43:59], dan ia terlahir dari Maria [QS 3:45 dan Qur’an selalu menyebutkan Isa putra Maryam], saudara perempuan Musa dan Harun [QS 19:28], dilahirkan bukan dari benih pria [QS 3:47, 19:20, 21:91, 66:12]. Sebab dia berkata, Firman Allah dan Roh-Nya telah dihembuskan kepada Maria [QS 19:17, 21:91, 66:12], dan ia melahirkan Yesus, seorang nabi [QS 9:30, 33:7] dan hamba Allah. Dan [ia berkata] bahwa kaum Yahudi, yang bertindak melawan hukum, hendak menyalibkan dia, tetapi pada saat menangkap [nya], mereka [hanya] menyalibkan bayangannya; Kristus sendiri tidak disalibkan, dia berkata, dan tidak pula dia mati [QS 4:157]. Sebab Allah mengangkatnya ke surga… dan Allah bertanya kepada Yesus dengan mengatakan: “Yesus, apakah engkau mengatakan “Aku adalah putera Allah dan Allah?” Dan dia [Muhammad] mengatakan bahwa Yesus menjawab, “Kasihi aku, Tuhan, engkau tahu bahwa aku tidak mengatakan demikian”  [5:116]. [36]

Ini merupakan ringkasan mengesankan dari pengajaran Qur’an tentang Yesus. Namun ingat bahwa ayat-ayat rujukan di dalam tanda kurung itu telah ditambahkan oleh penerjemah ke dalam bahasa Inggris. John sendiri tidak merujuk pada surah dan ayat mana, dan ringkasan ini berisikan perbedaan yang kecil namun mencolok dari teks Qur’an yang ada sekarang. Contohnya, di QS 5:116 Allah tidak menanyakan Yesus entah ia menyebut dirinya Putera Allah atau Allah, melainkan “ Adakah kamu mengatakan kepada manusia :’ jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan [terjemahan tepatnya Ilah / allah- bukan tuhan] selain Allah?”   Dan Yesus tidak menjawab, “ Kasihi aku, Tuhan, engkau tahu bahwa aku tidak mengatakan demikian,” melainkan “Maha Suci Engkau, tidak patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku. Jika aku pernah mengatakan maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara-perkara yang ghaib-ghaib.”

Perbedaan ini, juga fakta bahwa John menuliskan ringkasan yang begitu mencolok sama seperti yang Qur’an katakan tentang Yesus, yang menjadi ketertarikan dia sebagai teolog Kristen (khususnya nubuatan yang dianggap dikatakan oleh Yesus akan kedatangan Muhammad dalam QS 61:6) memunculkan kemungkinan bahwa John sedang menulis bukan dari sebuah salinan actual dari Qur’an melainkan dari sebuah tradisi oral, atau dari beberapa naskah yang kemudian dimasukan ke dalam kanonisasi Qur’an.

Alasan lain untuk dikemukakan adalah bahwa John tidak sedang meringkas Qur’an yang dia buka dihadapannya adalah fakta bahwa ia tidak pernah merujuk satu kitab pun dengan menyebutkan namanya. Malahan ia member kesan bahwa “teks tentang Perempuan” dan “teks tentang Unta Allah” dan “teks tentang Sapi” sebagai dokumen-dokumen yang terpisah dan bukannya satu koleksi utuh. Naskah “Perempuan-perempuan” (bukan perempuan sebagai kata benda tunggal)  sebagaimana John tuliskan dan “Sapi” adalah dua surrah yang tercantum di Qur’an (QS 4 & QS 2). Sedangkan “Unta Allah” tidak tercantum dalam Qur’an. Adalah mungkin bahwa John sedang bekerja dari apa yang kaum Hagarian atau kaum lainnya yang memiliki hubungan dengan mereka ,telah mengatakannya kepada John, dan bukan dari naskah tertulis, atau setidaknya dari naskah tertulis yang tidak tepat seperti Qur’an yang kita kenal sekarang.

Adalah mungkin bahwa masalah penyebutan itu semata-mata adalah karena keanehan dari John, tanpa signifikansi lebih lanjut. Dalam kasus lain pemahaman actual John melebihi pemahaman pengajaran Islam dari pada para penulis non-Muslim awal yang menyoal tentang keyakinan para penakluk Arab ini. Tetapi catat bahwa John menulis satu abad setelah pewahyuan Qur’an yang diakui dan pendirian Islam.

Dan bahkan pada titik ini, hampir seratus tahun berlalu setelah tahun yang dianggap sebagai tahun kematian Muhammad, gambaran Muhammad tetap saja kabur. Malahan gambaran Muhammad yang gegap gempita, sebagai penerimat wahyu-wahyu Allah lewat malaikat Jibril, yang nantinya dijadikan Qur’an, hidup dan karyanya yang konon katanya “dipenuhi terang sejarah” ternyata tidak muncul sampai beberapa dekade kemudian.

 

Catatan :

1. Yehuda D. Nevo and Judith Koren, Crossroads to Islam (Amherst, NY: Prometheus, 2003), 265.

2. Ibid., 265–66.

3. Quotations from the Qur’an are taken, except where noted, from A. J. Arberry, The Koran Interpreted (New York: George Allen & Unwin, Ltd., 1955).

4. Doctrina Jacobi vol. 16, 209 (quoted in Robert G. Hoyland, Seeing Islam as Others Saw It: A Survey and Evaluation of Christian, Jewish, and Zoroastrian Writings on Early Islam [Princeton: Darwin Press, 1997], 57).

5. Historian Robert G. Hoyland notes that the first editor of this text suggested that it had begun as a continuation of Eusebius’s ecclesiastical history and was then updated a century after it was first written: “A mid-seventh century Jacobite author had written a continuation of Eusebius and…this had been revised almost a century later when the lists of synods and caliphs and so on were added (Hoyland, Seeing Islam, 119).

6. Thomas the Presbyter, Chronicle, 147–48 (quoted in Hoyland, Seeing Islam, 120).

7. Nevo and Koren, Crossroads to Islam, 264.

8. John Moschus, Pratum spirituale, 100–102, Georgian translation, Gérard Garitte, trans., “‘Histoires édificantes’ géorgiennes,” Byzantion 36 (1966): 414–16 (quoted in Hoyland, Seeing Islam, 63).

9. Homily on the Child Saints of Babylon, §36 (tr. de Vis, 99–100) (quoted in Hoyland, Seeing Islam, 121).

10. Sophronius, Ep. Synodica, Patrologia Greca 87, 3197D–3200A (quoted in Hoyland, Seeing Islam, 69).

11. Sophronius, Christmas Sermon, 506 (quoted in Hoyland, Seeing Islam, 70).

12. Sophronius, Holy Baptism, 162 (quoted in Hoyland, Seeing Islam, 72–73).

13. Steven Runciman, A History of the Crusades, vol. 1 (Cambridge: Cambridge University Press, 1951), 3.

14. Ibid., 1:4.

15. On the Pact of Umar, see Mark Cohen, “What Was the Pact of Umar? A Literary-Historical Study,” Jerusalem Studies in Arabic and Islam 23 (1999), 100–158.

16. Muhammad ibn Jarir at-Tabari, The History of al-Tabari, vol. XII, “The Battle of al-Qadisiyyah and the Conquest of Syria and Palestine,” trans. Yohanan Friedmann (Albany: State University of New York Press, 1992), 191–92.

17. Quoted in J. B. Chabot, trans. and ed., Synodicon Orientale, 3 vols. (Paris: Imprimerie Nationale, 1902), Syriac text, 1:224, French translation, 2:488 (quoted in Nevo and Koren, Crossroads to Islam, 218).

18. Quoted in Chabot, Synodicon Orientale, Syriac text, vol. 1, 224, French translation, 2:488, Nestorian Synod, 676 C.E., Canon 16 (quoted in Nevo and Koren, Crossroads to Islam, 219).

19. Quoted in F. M. Nau, “Littérature Canonique Syriaque Ineditée,” Revue de l’Orient Chrétien 14 (1909): 128–30 (quoted in Nevo and Koren, Crossroads to Islam, 217).

20. Quoted in Nau, “Littérature Canonique Syriaque Inéditée,” 128–30 (quoted in Nevo and Koren, Crossroads to Islam, 217–18).

21. For more on this from a different perspective, see Fred M. Donner, Muhammad and the Believers: At the Origins of Islam (Cambridge, MA: The Belknap Press of Harvard University Press, 2010).

22. Patriarch John–Arab Emir, Colloquy, trans. Francois Nau, “Un colloque de patriarche Jean avec l’émir des Agareens et fait divers des années 712 a 716,” Journal Asiatique 11/5 (1915): 225–79 (quoted in Hoyland, Seeing Islam, 459).

23. Alphonse Mingana, “The Transmission of the Koran,” in Ibn Warraq, ed., The Origins of the Koran (Amherst, NY: Prometheus, 1998), 105.

24. Duval, ed., Corp. Script. Christ. Orient, tomus LXIV, 97 (quoted in Mingana, “The Transmission of the Koran,” 106).

25. Sebeos, Histoire d’Héraclius par l’Evêque Sebêos, trans. Frederic Macler (Paris: 1904), 94–96 (quoted in Patricia Crone and Michael Cook, Hagarism: The Making of the Islamic World [Cambridge: Cambridge University Press, 1977], 6–7).

26. See Donner, Muhammad and the Believers.

27. Quoted in Sebeos, Histoire, 139–40 (translated into English and quoted in Nevo and Koren, Crossroads to Islam, 229).

28. Chronica Minora, tomus IV, 30, 38, in Duval, ed., Corp. Script. Christ. Orient (quoted in Mingana, “The Transmission of the Koran,” 106–7).

29. Quoted in Alphonse Mingana, Sources Syriaques, vol. 1, pt. 2, 146ff. (quoted in Mingana, “The Transmission of the Koran,” 107).

30. The Chronicle of John (c. 690 A.D.) Coptic Bishop of Nikiu, trans. and ed. Robert H. Church (London: 1916; reprinted Philo Press), ch. 121, pp. 10–11, 201 (quoted in Nevo and Koren, Crossroads to Islam, 233).

31. Nevo and Koren, Crossroads to Islam, 234.

32. F. Nau, “Lettre de Jacques d’Edesse sur la généalogie de la sainte Vierge,” Revue de l’Orient Chrétien (1901): 518–23 (quoted in Nevo and Koren, Crossroads to Islam, 235).

33. John of Damascus, De haeresibus C/CI, 60–61 (= Patrologia Greca 94, 764A–765A) (quoted in Hoyland, Seeing Islam, 486).

34. Ibid., 63–64 (= Patrologia Greca 94, 765C–769B) (quoted in Hoyland, Seeing Islam, 486–87).

35. Ibid., 64–67 (= Patrologia Greca 94, 769B–772D) (quoted in Hoyland, Seeing Islam, 487).

36. Ibid., 61 (= Patrologia Greca 94, 765A–B) (quoted in Hoyland, Seeing Islam, 488–89).

3 thoughts on “Muhammad: Sang Tokoh Yang Tidak Pernah Benar-benar Hadir

      • Hukum relativitas einstein pun bisa berlaku, baik dari sudut pandang orang yang berada dalam kereta berjalan, orang yg duduk di stasiun, atau orang yg berada di atas pesawat ulak-alik🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s