Feminisme, Post-Feminisme, dan Pseudo-Feminisme


9780748402373_p0_v1_s260x420Postfeminism atau pascafeminisme adalah reaksi terhadap beberapa kontradiksi dan absennya feminisme gelombang kedua. Pada tahun 1919, sebuah jurnal bertajuk ‘Female Literary Radicals’ menyatakan bahwa, “arah perjuangan kami kepada masyarakat, bukan perempuan dan laki-laki”, artinya, standar moral, sosial, ekonomi, dan politik seharusnya tidak terkait pada gender, atau mudahnya adalah ‘silahkan pro-perempuan, tapi tanpa harus menjadi anti-laki-laki,’ dan inilah yang kemudian disebut post-feminisme.

Adapun feminisme sendiri secara garis besar merupakan gerakan yang bertumpu pada filsafat untuk melawan misogini dan ketidakadilan dengan cara mengubah kesadaran atau cara pandang bagaimana dunia ini dikonstruksi dan dikonsepsikan.

Feminisme awal berkembang saat zaman renaissance, pada pertengahan abad 18. Feminisme muncul sebagai reaksi atas industrialisasi yang mendomestifikasi perempuan.

Feminisme Gelombang pertama adalah Feminisme Liberal dan Marxis. Dua aliran besar pemikiran itu juga mengimbas di ranah perjuangan emansipasi perempuan.

Liberalisme yang menekankan individu untuk mempraktikkan otonomi diri, tapi tetap saja tidak menghilangkan diskriminasi terhadap perempuan. Perempuan mengalami situasi ketertindasan karena keterbatasan/ketiadaan akses di wilayah publik. Oleh karena itu, perjuangan feminis Marxis lebih kepada kondisi ketertindasan perempuan yang mana sebagai akibat dari kapitalisme. Penindasan perempuan adalah bagian dari penindasan kelas dalam sistem produksi.

Pada Feminisme Gelombang kedua, arahnya lebih radikal. Muncul sekitar pertengahan 1970-an, gerakan ini bertumpu pada pemahaman bahwa ketertindasan perempuan akibat patriarki. Tubuh perempuan merupakan objek utama penindasan oleh kekuasaan laki-laki. Namun, bagi aliran feminis sosialis, patriarki itu sendiri sudah muncul sebelum kapitalisme dan tetap tidak akan berubah jika kapitalisme runtuh. Maka faktor yang menyebabkan perempuan tertindas lebih dikarenakan dua hal, yakni akibat dari hubungan yang terjadi antara patriarki dan kapitalisme. Padahal, di masa itu partisipasi perempuan dalam ekonomi dan politik sudah lumrah, tapi tetap tidak selalu menaikkan status perempuan lantaran adanya ‘perbudakan terselebung’ (virtual enslaves).

Kemudian lahirlah feminisme gelombang ketiga. Kemunculan gerakan ini menjelang era 90-an yang menitikberatkan untuk beranjak dari aktivitas yang sifatnya praksis menuju ke arah kegiatan yang sifatnya lebih teoritis, menjelaskan persoalan fundamental penindasan terhadap perempuan.

Oleh karena itu, lahirlah feminis eksistensialis yang berpendapat bahwa, akar opresi terhadap perempuan adalah karena faktor psike perempuan. Psike tersebut terbentuk dan lestari dimulai karena beban reproduksi pada tubuh perempuan. Sosok perempuan menjadi liyan (the others) karena mereka tidak memiliki kekuasaan. Keliyanan tersebut diturunkan dan disosialisasikan dari generasi ke genderasi. Lembaga perkawinan dan motherhood adalah perekatnya. Agak berbeda dengan aliran gynosentrisme yang lebih dalam mengkaji perbedaan psike antara laki-laki dengan perempuan yang mana sesungguhnya sudah menjadi akar masalah, ini terjadi karena perempuan disosialisasikan dan terinternalisasi dalam dirinya bahwa mereka lebih inferior dibandingkan laki-laki.

Gelombang ketiga ini lamat-lamat mandek, sama-sama tergerus kapitalisme, tak ayal gerakan perjuangan perempuan pun mengalami pergeseran. Kembali kepada istilah post-feminisme, istilah ini digunakan pada sekitar 1980-an untuk menggambarkan kegagalan demi kegagalan perjuangan perempuan. Feminisme dirasa tidak lagi relevan, terlebih ketika manusia memasuki abad 21. Namun, postfeminisme pun menjadi label bagi perempuan-perempuan muda yang menikmati keuntungan dari perjuangan kaum perempuan di masa awal sehingga sekarang ini mereka mendapatkan akses pendidikan, pekerjaan, sosial kemasyarakatan, yang pada saat bersamaan juga tidak didorong untuk melakukan gerakan perubahan secara politik.

Di sisi lain, semakin banyak orang yang berasumsi bahwa kesetaraan gender hanyalah mitos. Maka dari itu, perjuangan feminisme tidak lagi berkutat antara laki-laki dan perempuan, melainkan pada sisi kemanusiaan tanpa harus ada sekat gender.

Menurut Angela McRobbie, seorang profesor di bidang komunikasi massa di Goldsmiths College, Universitas London, menyatakan bahwa, postfeminisme telah mengesankan orang-orang seolah feminisme sudah usai bagi abad ini. Feminisme yang tampak sekarang hanyalah hasil buatan media, contohnya; Bridget Jone’s Diary, Sex and the City, dan Ally McBeal. Karakter-karakter perempuan yang mengklaim telah terbebaskan dan tercerahkan dalam mengeksplorasi seksualitas pribadi, tapi apa yang selalu dicari tokoh-tokoh perempuan itu hanyalah seorang pria yang akan membuat segala sesuatu menjadi sangat berharga.

Susan Bolotin, dalam artikelnya ‘Voices of the Post-Feminist Generation’ di majalah New York Times pada tahun 1982 menulis, generasi post-feminis adalah penerimaan luas dari para perempuan mengenai tujuan-tujuan dari feminisme, tapi bukan mengidentifikasi diri sebagai seorang feminis.

Beberapa feminis kontemporer seperti Katha Pollitt atau Nadine Strossen berpandangan bahwa feminisme kekinian sederhananya memandang perempuan sebagai bagian dari masyarakat. Justru bagi keduanya, pandangan feminisme awal yang menyekat antara perempuan dan laki-laki bukanlah feminisme, melainkan seksisme.

Lain halnya dengan Christina Hoff Sommers. Dalam bukunya, ‘Who Stole Feminism? How Women Have Betrayed Women, dia berpendapat bahwa, gerakan feminisme telah membuat perempuan seolah selalu menjadi korban dan layak mendapatkan perlakuan istimewa. Oleh karena itu, menurutnya sangat perlu gerakan perempuan yang bertindak sebagai alternatif. Dalam hal ini, Sommers dicap sebagai antifeminis oleh beberapa feminis.

Susan Faludi dalam bukunya ‘Backlash: The Undeclared War Againts American Women’, berpendapat bahwa, reaksi terhadap feminisme gelombang kedua di tahun 1980-an telah sukses mendefinisikan kembali feminisme. Menurutnya, pendefinisian kembali itu telah menyebabkan gerakan pembebasan perempuan sebagai sumber pelbagai masalah yang mengganggu perempuan di akhir 1980-an. Padahal, masalah-masalah yang terjadi itu sebagian besar hanya ilusi yang dikonstruksi media tanpa ada bukti-bukti yang dapat diandalkan. Postfeminisme sebagai suatu reaksi merupakan tren historis, sesuatu yang berulang dalam sejarah, di mana ketika perempuan kini telah berhasil menempatkan posisi dalam kesetaraan hak dan kewajiban.

Michael Lazar menambahkan dalam analisisnya mengenai konstruksi postfeminisme yang menyebabkan keperempuanan di masa kini mengalami hibrida neo-liberal antara kepemilikan identitas dan penyingkapan diri, yang mana di sisi lain, kapitalisme ikut menggunakannya sebagai simbol perjuangan dalam berbagai iklan di media. Artinya, ada koeksis antara normativitas baru mengenai feminisme yang bersimbiosis dengan status quo.

Nah, sekarang bila kita coba untuk mempertanyakan kembali apa yang menyebabkan postfeminisme lahir? Bisa jadi karena adanya susupan dari kapitalisme. Bukan mustahil pula jika nanti ada post-postfeminisme, atau malahan pseudo-feminism, yang mana saat ini telah terjadi bukan? Gerakan perjuangan perempuan yang cuma seremonial di televisi dan hari-hari tertentu berlabel hari perempuan nasional. Terlebih lagi di Indonesia, toh setegar dan sekokoh apa pun perjuangan perempuan di negeri ini, entah itu untuk masyarakat, identitas, atau kaumnya sendiri, tetap dianggap remeh temeh bagi lelaki. Mau tidak mau, lelaki-lah yang mengkonstruksi dan mengkonsepsikan sejarah manusia dan hasil produk budaya. Tak terkecuali tafsiran doktrin agama. Para perempuan tinggal dikasih hiburan seperti batas pemisah kursi atau gerbong khusus perempuan, ajang kecantikan (bahkan kini ada ajang ke-salehan), kuota 30% di fraksi-fraksi DPR, didirikannya komnas perempuan, sinetron-sinetron agamis yang seolah memuliakan perempuan, dan aneka produk rekayasa laki-laki. Pada akhirnya, perempuan hanya bisa berujar, “Zaman sekarang sih realistis saja.”

Ya. Sekadar nyanyian penghantar mimpi panjang.

Sumber: Siperubahan.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s