Memahami Kembali Apa itu Kekerasan Terhadap Perempuan


KDRT

Sebuah media menurunkan berita tentang seorang tukang kebun laki-laki dipukuli oleh majikan perempuannya. Sejumlah suara memprotes mengapa ini tidak disebut “kekerasan terhadap laki-laki”. Tulisan pendek ini akan mencoba menjelaskan apakah itu “Kekerasan Terhadap Perempuan” dan mengapa ia tidak serta merta ditemani oleh fenomena gender yang sebaliknya.

Manusia dan Kehidupan Sosial

Manusia tidak hidup dengan dirinya sendiri, melainkan dalam sebuah komunitas masyarakat. Karena itu keberadaan seorang manusia punya relasi dengan manusia lainnya yang konsekuensinya bersifat segera dan, umumnya, tanpa dibicarakan lagi. Begitu seorang anak lahir, pada saat yang sama ikutlah sebuah beban paket kontrak sosial yang berlaku baginya, yang bergantung dari budaya kemana ia beranggota dan afiliasinya.

Walaupun setiap budaya punya nuansa dan variasi masing-masing, tapi ada unsur mendasar yang dapat di-generalisasi, yaitu relasi antara perempuan dan laki-laki. Relasi perempuan dan laki-laki ini disebut relasi Gender. Relasi ini menjelaskan bagaimana hubungan antara laki-laki dan perempuan dalam suatu komunitas masyarakat, dan bagaimana masing-masing gender diharapkan berperan, bersikap, dan berekspresi agar dianggap cocok, diterima dan berfungsi di dalam suatu sistem sosial.

Relasi gender punya prioritas tertinggi, mengalahkan relasi yang lain, dan pada saat yang sama, menempel ketat dengan relasi kekuasaan. Relasi kekuasaan adalah kenyataan bagaimana individu yang satu punya derajat kekuasaan terhadap individu yang lain. Sebagaimana seorang ayah terhadap seorang anak. Atau seorang gubernur terhadap rakyat.

Apakah relasi kekuasaan ini datang dari politik atau budaya, pada dasarnya ia dibentuk oleh struktur sosial. Bagaimana struktur sosial ini membentuk suatu relasi kekuasaan sangat bergantung pada budaya setempat, tapi secara general, seperti telah ditulis di atas, relasi gender merupakan relasi dengan prioritas tertinggi, sehingga ia adalah elemen utama yang membentuk relasi kekuasaan.

Women’s Sufferage Movement di A.S. sejak abad 19 dan baru mendapat pengakuan konstitusional untuk hak memilih (hak politik) tahun awal abad 20 (1920).

Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana struktur ini mendapat justifikasi untuk mencapai keadilan. Seorang presiden atau gubernur ditempatkan pada puncak-puncak kekuasaan melalui pemilihan, karena seorang presiden dan gubernur akan berpengaruh pada kesejahteraan orang banyak, maka orang banyak yang harus menentukan siapa yang mereka tempatkan pada puncak kekuasaan untuk menghasilkan kesejahteraan maksimum bagi semua orang.

Kekuasaan atas diri seorang individual, atau otoritas dirinya, adalah milik orang itu sendiri. Otoritas ini, walaupun demikian, dibatasi oleh aturan main yang disebut “hukum” dengan tujuan menjaga agar otoritas orang yang satu tidak melanggar otoritas orang lain. Otoritas diri adalah hak dasar yang segera menjadi milik seseorang begitu ia dilahirkan, karena tidak seorangpun pernah memilih untuk dilahirkan, sehingga tidak ada konsekuensi pelanggaran hak hidup yang boleh ditimpakan pada manusia mana pun.

Ada pembatasan otoritas yang punya justifikasi, contoh pada anak-anak, berdasarkan fakta dan pengetahuan bahwa kapasitas mental dan intelektual seorang anak umumnya masih belum cukup untuk melakukan keputusan-keputusan penting dengan konsekuensi yang fatal. Karena itu, kekuasaan atas seorang anak berada di bawah otoritas orang tua. Relasi kekuasaan ini dianggap adil, dengan tetap mempertimbangkan bahwa orang tua sebagai pemegang otoritas tidak melanggar sejumlah otoritas individual yang dirangkum dalam “hak-hak anak“.

Penjaga utama dari keutuhan otoritas manusia terhadap dirinya ini adalah negara. Negara yang menegakkan dan menjaga agar setiap manusia punya otoritas terhadap dirinya, dan otoritas orang yang satu tidak melanggar otoritas orang lain, dan hak-hak anak tidak dilanggar oleh otoritas orang tua.

Relasi Gender

Sebelum abad 20, kemanusiaan perempuan praktis tak memiliki kekuatan atau perlindungan negara. Ia sepenuhnya berada di bawah kekuasaan laki-laki yang menjadi pemiliknya, yang kemudian disamarkan dengan kata “pelindungnya” atau “penjaganya”, apakah laki-laki itu ayah, kakak, atau suami. Kepemilikannya diserah-terimakan oleh ayah, kakak, atau wali lain yang adalah laki-laki, pada suaminya yang juga adalah laki-laki, ketika menikah. Dalam beberapa kultur, namanya pun berubah, dari nama belakang yang sebelumnya mengikuti ayah, kemudian menjadi mengikuti suami.

Kita bisa mengindentifikasi kepemilikan tersebut dari kenyataan bahwa perempuan harus menyerahkan kekuasaan atas dirinya pada laki-laki pemiliknya. Perempuan berperan sebagai pekerja atau pengatur rumah tangga dan menyediakan tubuhnya sebagai rahim untuk memproduksi anak. Dalam beberapa kultur, tubuhnya ditutup dan hanya boleh dilihat oleh pemiliknya (suami, ayah atau saudara), sehingga kehadirannya disembunyikan dari ruang publik, karena satu-satunya yang memungkinkan ia berada, yaitu identitasnya, ditutup, sehingga dengan otomatis menghapus keberadaanya dari kehidupan dan menolak kapasitasnya dalam membangun budaya dan berperan dalam sejarah. Justifikasinya adalah bahwa perempuan adalah mahluk lemah dan membutuhkan perlindungan laki-laki. Kenyataan yang terjadi, peran laki-laki bukan melindungi atau menjaga, melainkan memiliki.

Justifikasi tersebut datang dari sebuah sesat pikir (fallacy) yang melakukan imposisi bahwa kekerasan adalah natur dari kehidupan berkeberadaban; bahwa manusia dan peradabannya secara alamiah adalah kekerasan. Ini adalah sebuah pandangan bias yang tidak mengikut-sertakan pengetahuan ilmiah terhadap kehidupan manusia dan evolusinya.

Bila sutu spesies secara natural mengandalkan kekerasan untuk bertahan hidup, maka alat-alat kekerasan itu akan secara natural menjadi bagian dari tubuhnya, seperti Singa dengan taringnya, atau Elang dengan cakarnya. Kenyataanya, alat2 kekerasan manusia adalah kustomisasi yang dipikirkan dan ditambahkan secara nurtural. Artinya kekerasan bukanlah natural bagi manusia, melainkan nurtural.

Gender laki-laki dengan demikian memberikan false dilemma bagi gender perempuan. Kekerasan itu sendiri adalah produk pikiran maskulin yang dijadikan seolah-olah sebagai nature dari kehidupan manusia. Dan dengan alasan ini, menjustifikasi subjugasi posisi perempuan, sebagai “mahluk lemah yang harus dilindungi” bila akan bertahan dalam kehidupan. Padahal kekerasan itu sendiri adalah produk dari nurture gender laki-laki, dan bukanlah posisi default yaitu nature dari spesies manusia.

Yang hadir kemudian adalah bahwa alam kekerasan yang merupakan nurture dari gender laki-laki tadi membawa posisi gender laki-laki menjadi preferable dalam relasi kekuasaan. Laki-laki menjadi sesuatu yang dikonsepsualisasikan dalam term “the knight in shinning armor”, satria dalam jubah besi, yang merupakan pelindung dari perempuan; yang memberikan perlindungan dari sesuatu yang padahal diciptakan oleh gender laki-laki itu sendiri.

Maka ketika seolah-olah semua sudah bekerja dengan baik, yang sebenarnya terjadi adalah kenyataan yang seolah-olah terlihat demikian, hanya kerena perempuan dan kemanusiaan perempuan tidak dimasukkan dalam ukuran-ukuran pertimbangan. Separuh jumlah manusia dalam suatu masyarakat mengalami relasi yang tidak seimbang, namun karena separuh manusia tersebut tidak dianggap ada, atau tidak dianggap bagian dari ras manusia, maka tampaklah seolah-olah keadilan telah tercapai.

Dalam relasi gender kita melihat bagaimana relasi kekuasaan tidak seimbang, sebagai warisan dari era di mana manusia belum menggunakan sains untuk menjelaskan segala sesuatu yang belum dimengerti, sebuah era di mana kultur dibangun oleh mitos, sinkretisme, “kira-kira”, dan opini.

Kekerasan yang Damai

Mitos, sinkretisme, “kira-kira” dan opini ini juga dipengaruhi oleh ke mana kekuasaan membawa hal-hal tersebut. Dalam dunia di mana lingkungan mendorong manusia mengutamakan survival, penjagaan keberlangsungan diri dan resolusi konflik melalui kekerasan fisik, baik secara praktis maupun power bargain.

Baik perang itu sendiri maupun perdamaian yang terjadi karena adanya kontrak untuk tidak berperang, keduanya adalah resolusi konflik yang berdasar pada kekerasan. Sekali lagi boleh ditekankan, bahwa dalam mutual threat of violence, atau perjanjian atas dua kekuatan untuk berdamai karena masing-masing punya kapasitas yang sama untuk melakukan kekerasan, maka perdamaian yang dihasilkan tetaplah sebuah produk kekerasan. Perdamaian akibat mutual threat menghasilkan iklim kekerasan, di mana kekerasan adalah ancaman yang konstan demi mempertahankan kesetaraan atas kemungkinan kehancuran.

Cara lain di mana mutual threat dapat bekerja, adalah ketika adanya ancaman pihak ketiga untuk digunakan sebagai alasan, yang pula tak lepas dari penggunaan ancaman kekerasan untuk melakukan perdamaian. Cara ini, misalnya, digunakan Gengiz-Khan untuk mempersatukan Mongolia, dengan menjadikan China sebagai musuh bersama. Juga cara yang dipakai Obama sebagai bargaining power terhadap Russia dan Eropa, dengan menjadikan Islamic Statesebagai musuh bersama.

Contoh paling mudah dari konsep mutual threat ini adalah apa yang terjadi selama perang dingin antara pakta NATO dan WARSAWA. Saat itu dikenal dengan apa yang disebut MAD, Mutual Assured Destruction. Masing-masing blok NATO dan WARSAWA saling menyimpan rudal nuklir antar benua (ICBM, Inter-Continental Ballistic Missile) sebagai deterrence, sebagai alat yang akan memastikan kehancuran total bila salah satu memutuskan untuk meluncurkannya. Karena adanya ancaman kehancuran mutlak ini, maka “perdamaian” tercapai. Tapi tentunya kita paham bahwa ini bukanlah sebuah perdamaian. Konsep saling mengancam demi suatu jaminan kesetaraan kehancuran adalah sebuah kubah-kekerasan, sebuah violence sphere, yang dijaga dan dipertahankan, untuk membuat seluruh manusia yang hidup di dalamnya selalu berada di bawah bayang-bayang ketakutan.

Di dalam violence-sphere semacam inilah peradaban manusia tumbuh dan dilahirkan. Kultur yang diwarisi manusia saat ini adalah peradaban yang tumbuh, matang dan, pada saat yang sama, membusuk di dalam suatu iklim di mana kemanusiaan perempuan tidak pernah mengalami kesempatan untuk berada dan berperan.

Karena kekerasan fisik secara otomatis membutuhkan keunggulan fisik tubuh manusia, maka kekuasaan fisik tubuh manusia menjadi favorable traits; kekhasan kemana kekuasaan cenderung lebih diletakkan, yang otomatis menguntungkan posisi laki-laki sebagai favorable gender. Peradaban kekerasan ini kemudian dipolarisasi oleh dua kutub. Kutub yang satu adalah apa yangpreferable, yaitu “kekuatan”, dan secara natural kutub polar yang lain adalah cermin mutlak dari apa yangpreferable tersebut, yaitu weakness,  atau “kelemahan”.

Cara Pandang Misoginis

Pada situasi yang terjadi di Amerika Serikat, kita melihat sebuah wacana bergulir dan menjadi perdebatan sengit terutama antara kaum konservatif kanan dan liberal. Secara umum, perdebatan ini adalah tentang bagaimana kaum konservatif kanan berusaha menciptakan kesan bahwa masyarakat kelas bawah adalah pemalas yang hanya hidup dibiayai oleh uang pembayar pajak saja, dan oleh karena itu menuntut pemotongan pajak bagi orang-orang kaya, serta pemaksaan maksimum bagi kelas bawah untuk bekerja lebih keras, diikuti penolakan kenaikan gaji minimum. Pada kenyataanya, masyarakat kelas bawah di A.S umumnya adalah pekerja dengan jam kerja yang jauh lebih panjang dengan upah yang jauh dibawah taraf kesejahteraan. Anehnya, banyak individu masyarkat kelas bawah yang merupakan subscriber dari lingkaran politik kaum konservatif sayap kanan malah mendukung wacana-wacana konservatif tersebut.

Situasi di atas sangat kuat menjelaskan posisi gender perempuan dalam kubah kekerasan yang diciptakan oleh budaya patriarkat (patriarchy). Yang terjadi adalah demonisasi dan, bahkan, kriminalisasi dari kemisikinan. Mereka yang membutuhkan dukungan dan perlindungan lebih besar, malah menerima penindasan –justru– karena posisi mereka yang rentan dan lemah.

Dalam budaya di mana kekuatan adalah favorable, maka kelemahan adalah sesuatu yang dibenci dan dihindari. Dan budaya patriarkat menggambarkan gender perempuan dengan fitur-fitur khusus yang dianggap traits mutlak keperempuanan (feminity), yaitu kelembutan dan compassion, dan menganggapnya sebagai kelemahan. Maka dalam kubah kekerasan, kelemahan sebagai less preferable traits adalah sesuatu yang tidak disukai dan kemudian mejadi sasaran kebencian. Dalam relasi gender, kebencian terhadap perempuan disebut misogyny.

Budaya membenci perempuan atau misogyny ini mengakar dalam budaya patriarkat, dan telah terkristalisasi di dalam kultur, sehingga peran gender perempuan adalah sebuah subyek untuk dibenci. Hal ini tidak terbatas pada individu seks laki-laki saja. Karena ia sudah menjadi budaya, maka misogyny pun sesuatu yang dilakukan oleh individu seks perempuan juga, sebagaimana individu kelas bawah yang subscribe pada lingkaran sosial konservatif di A.S membenci kaum kelas bawah walaupun ia sendiri termasuk kaum kelas bawah.

Karena hampir seluruh peradaban manusia dibangun tanpa peran gender perempuan, maka budaya patriarkat hampir menjadi fundamen utama yang mengalasinya. Nurture misoginistik hadir dan bertahan di hampir seluruh aspek perdaban; dalam politik, budaya, sosial dan ekonomi. Maka kekerasan terhadap perempuan pun tinggal dan aktif bekerja di dalam seluruh aspek tersebut.

Walaupun kompleks dan serba berkait, pada dasarnya kita dapat mengenali potensi kekerasan terhadap perempuan dari relasi kekuasaan tidak setara yang ada di dalam unsur-unsur kehidupan manusia, karena seperti yang telah dijelaskan di atas, relasi kekuasaan menempel ketat dan menjadi sebab prinsipal dari relasi gender; mereka yang berada di bawah kekuasaan akan rentan terhadap subjugasi dan power abuse.

Pada contoh hypothetical seorang laki-laki pekerja yang menerima perilaku kekerasan dari seorang majikan perempuan di atas, ia tidak disebut “kekerasan terhadap laki-laki” karena tidak ada gender based violence, kekerasan berbasis genderdalam kasus itu. Yang terjadi adalah power abuse yang dilakukan oleh seorang perempuan yang kebetulan punya posisi power lebih tinggi. Yang dimaksud dengan gender based violence, adalah kekerasan yang terjadi karena imposisi relasi kekuasaan berbasis gender, atau kekerasan yang diterima seseorang karena gender-nya. Sedangkan dalam kasus hipotesis di atas, kekerasan yang terjadi adalah berbasis struktural dan ekonomikal. Posisi rentan yang dialami sang laki-laki bukan disebabkan karena dia laki-laki, melainkan karena posisinya dalam struktur kekuasaan dan ekonomi.

Bukan berarti laki-laki tidak pernah menerima kekerasan berbasis gender. Hanya saja, kasus di atas tidak termasuk di dalamnya karena subjugasi yang diterima sang laki-laki, bukan karena dia laki-laki. Secara umum, laki-laki dapat menerima kekerasan berbasis gender karena peran-peran budaya yang ditimpakan padanya -hanya- karena dia laki-laki. Contoh, banyak kasus laki-laki yang harus melepas cita-cita, hasrat dan gairahnya yang sebenarnya karena budaya mengharuskan seorang laki-laki untuk menafkahi istri, sehingga ia harus cepat-cepat memilih bidang pekerjaan yang dibencinya agar dapat mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya untuk menikah, dengan ekspektasi bahwa harus ia sendirilah yang akan menanggung beban finansial keluarga nantinya. Ini adalah kekerasan budaya terhadap gender laki-laki yang paling mudah dijadikan contoh.

Ekspektasi budaya lain terhadap laki-laki yang juga menjadi kekerasan terhadap laki-laki, contohnya, adalah tekanan untuk menjadi maskulin atau macho, untuk menjadi pelindung dan penjaga, untuk berpolitik, untuk ber-performa tinggi di atas ranjang, ber-birahi tinggi (sehingga terpaksa mengkonsumsi obat-obatan khusus untuk memenuhi tuntutan terebut), dan lain-lainnya, yang memaksa seorang laki-laki untuk tidak menjadi dirinya sendiri, dan mengenakan identitas yang bukan dirinya, hanya karena kultur setempat menekannya untuk mengambil posisi atau sikap tertentu.

Ini adalah budaya patriarchy, yang mengatakan bahwa “hidup itu keras”, dan masih kuat mencengkram kehidupan manusia, dalam kubah kekerasan yang belum menunjukkan tanda-tanda akan sirna dalam waktu dekat.

sumber: enlight-studio.com

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s