Kenapa KPAI Bungkam Terhadap Eksploitasi Anak dalam Aksi Demonstrasi?


Sungguh aneh dan sangat disayangkan bila KPAI yang vokal mengenai kekerasan terhadap anak, pekerja/buruh di bawah umur, pelecehan seksual terhadap anak, pornografi anak, termasuk soal LGBT, tapi melempem ketika anak-anak dieksploitasi oleh pihak-pihak tertentu, dan bahkan orangtuanya sendiri dalam aksi demonstrasi. Apakah KPAI mengabaikan soal pendidikan ajaran kebencian, ekstrimisme-radikalisme, terorisme yang ditularkan kepada anak?

Sedari kecil anak-anak Indonesia banyak yang sudah kena indoktrinasi mengkafirkan sesama. Contoh ketika aksi demonstrasi 212 hingga 313. Ke mana KPAI? Mereka yang diajak bolos sekolah oleh orangtuanya hanya demi meneriakkan kebencian dan isu SARA. Bocah-bocah cilik itu sudah diajari berkata ‘kafir’, dan membenci sesama warga Indonesia, membenci yang minoritas, mengelu-elukan ideologi transnasional. Sungguh miris bukan?

Mengapa KPAI diam saja? Bukan berarti hal-hal di atas (pelecehan seksual dan sebagainya) tidaklah penting. Namun ada sisi lain yang tidak berani dijangkau oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia, hal-hal yang barangkali tak diduga oleh KPAI bahwa efeknya akan berkembang seiring pertumbuhan generasi penerus negara ini.

Para orangtua dan penyelenggara mungkin boleh berdalih macam-macam dengan mengatakan bahwa, aksi tersebut merupakan aksi damai, menanamkan nilai-nilai perjuangan kepada anak, melatih anak untuk melek politik dari kecil, atau bahkan sekadar untuk ‘tamasya’ bela agama. Namun bagaimana jika kondisi di lapangan berbeda, bagaimana jika terjadi kericuhan? Haruskah kita mengajarkan kepada anak untuk hal-ihwal yang dapat mengorbankan nyawa mereka?

Seharusnya KPAI juga bekerjasama dengan instansi-instansi terkait yang mengawasi seputar gerakan dan ajaran keagamaan yang sifatnya ekstrim dan radikal. Kalau hanya imbauan dari kepolisian terhadap peserta aksi demonstrasi tampaknya tak berpengaruh. KPAI sebagai lembaga yang concern terhadap anak bisa mulai melakukan penetrasi ke sekolah-sekolah dan juga kelompok ibu-ibu yang notabene di Indonesia memegang peranan dalam pendidikan anak. Indoktrinasi ajaran-ajaran yang merusak kebhinekaan dan kerukunan antarsesama warga negara telah membanjiri kota-kota besar. Bahkan ke lembaga-lembaga pendidikan yang semestinya mendidik nilai-nilai universal kemanusiaan, justru mencuci otak anak dengan kebencian-kebencian.

Wahai, KPAI, bukalah mata, pikiran, dan nurani kalian jika memang peduli terhadap anak. Selama ini kalian terlalu sibuk mengurusi seksualitas anak. Okelah itu memang perlu. Kalian bisa membuat rakyat Indonesia sadar akan bahaya predator seksual terhadap anak. Bahkan menjadikan kejahatan seksual pada anak sebagai kejahatan luar biasa, lantas kapan kalian menjadikan indoktrinasi ajaran kebencian, terorisme, ekstrimisme, radikalisme kepada anak sebagai kejahatan luar biasa juga?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s