Kapitalisme, Agama, dan Alienasi


Alienasi

Rahasia kapitalisme adalah bahwa kekuatan-kekuatan politis telah diubah menjadi relasi-relasi ekonomi. Para kapitalis bisa memaksa pekerja dengan kewenangan mereka untuk memecat dan menutup pabrik-pabrik. Karena hal inilah, para kapitalis bebas untuk menggunakan paksaan yang kasar. Maka kapitalisme tidak hanya menjadi sekedar sistem ekonomi, pada saat yang sama, kapitalisme juga merupakan sistem politis, suatu cara menjalankan kekuasaan, dan suatu proses eksploitasi atas para pekerja.

Di bawah kapitalisme, ekonomi tampil kepada kita sebagai kekuatan alamiah. Para pekerja diberhentikan, upah dikurangi, pabrik-pabrik ditutup, itu semua karena ekonomi. Kita semua tidak melihat semua ini sebagai keputusan-keputusan sosial dan politis. Hubungan-hubungan antara penderitaan manusia dan struktur-struktur ekonomi dianggap tidak relevan. Orang-orang bermental kapitalis, meski bukan tinggal di negara adidaya, tetap saja serupa. Mereka gemar mengeksploitasi sesama manusia sehingga pada gilirannya, sebagai akibat dari eksploitasi sesama manusia, alam pun turut dieksploitasi.

Eksploitasi terhadap manusia tampak pada kondisi keterasingan yang khususnya mengimbas kaum pekerja atau buruh. Para buruh tak terhindarkan kehilangan kontrol atas hidup mereka karena tidak lagi memiliki kontrol atas pekerjaan mereka. Para pekerja ini tak pernah menjadi otonom, yakni manusia yang mencoba untuk mandiri mengembangkan diri dan selalu terkotakkan oleh kaum borjuis. Pada dasarnya, manusia adalah makhluk kreatif. Manusia membuat bentuk dari materi atau bahan di mana mereka mewujudkan jati diri mereka ke dalam apa yang mereka buat. Dalam masyarakat prakapitalis, manusia menjadi utuh ketika mereka menciptakan barang untuk mereka pakai sendiri atau mereka pertukarkan secara adil. Semua itu dirusak oleh sistem kapitalis. Di dalam masyarakat kapitalis, sistem atau mekanisme yang diselenggarakan membuat para pekerja harus menjual tenaga mereka sehingga mereka menjadi teralienasi/terasing. Setidaknya ada empat aspek keterasingan;

1. Teralienasi dari aktivitas atau proses produksi. Para pekerja tidak bekerja sesuai dengan tujuan mereka, tapi hanya ditujukan untuk menghasilkan kemanfaatan bagi kaum kapitalis.

2. Teralienasi dari produk. Kepentingan pemegang kapitalis benar-benar dipisahkan dengan para buruhnya. Apabila si buruh bekerja pada majikannya, mereka tetap harus membayar atas produk yang diproduksinya karena produk merupakan hak milik para kapitalis.

3. Teralienasi dari dari sesama pekerja alias teralienasi dari sesama manusia. Kapitalis mengadu para pekerja sejauh mana mereka mampu berproduksi. Situasi yang demikian menimbulkan permusuhan di kalangan pekerja, dan itu menguntungkan pihak kapitalis karena para pekerja akan kembali ke para majikannya yang mana otomatis keuntungan kembali kepada kaum kapitalis.

4. Teralienasi dari hak-hak dan kemanusiaan mereka sendiri, artinya pekerja dikontrol secara ketat hubungannya dengan manusia lain dan juga lingkungan alam sekitar sehingga potensi diri mereka terpuruk. Mereka hanya dicetak untuk menjadi mesin produksi yang hanya menguntungkan kapitalis tanpa memikirkan bagaimana jiwa dan kualitas pekerja sebagai seorang manusia.

Dalam buku berjudul “Alienasi” karya Richard Schacht, dikatakan bahwa konsep alienasi Marx terinspirasi dari Hegel, tapi juga mengkritik Hegel. Dalam pandangan Hegel, alienasi memiliki dua makna; Makna pertama merupakan hubungan yang mengandung keterpisahan dan pertentangan. Atau tercerabutnya diri dari substansi sosial. Adapun makna kedua, adalah upaya penyerahan diri secara penuh atas partikularitas dalam tindakannya untuk mengatasi alienasi. Sedangkan Marx berangkat dari proposisi tentang karakteristik produksi, natur pekerjaan, manusia sebagai makhluk sosial dan inderawi. Bagi Marx, ‘keterasingan’ adalah hasil dari ‘penyerahan’. Orang merasa ‘terasing’ setalah ia mengorbankan atau ‘menyerahkan’ realitas humanitasnya kepada substansi lain—bisa dalam wujud pekerjaan atau produksi. Disini Scacht mendapuk kegagalan Marx dalam menyelaraskan pengertian Hegel. Bahkan dalam membedakan ‘keterasingan’ dan ‘penyerahan’.

Namun jika kita mengikuti pandangan Hegel, apakah seharusnya individu yang terasing itu harus melakukan penyerahan diri pada subtansi sosial? Itulah yang kemudian seakan manusia harus tunduk dan patuh pada sebuah rutinitas sistem. Pantaslah jika kemudian Albert Camus—dengan gaya sarkasnya—menyatakan, “Neraka manusia modern adalah saat ketika di tengah rutinitas, seseorang bertanya: ‘apa gerangan yang sedang saya lakukan?’.” Terjebak dalam satu lingkaran rutinitas yang berulang-ulang, berpotensi membunuh kesadaran. Itulah yang banyak terjadi pada manusia modern.

Hal ini sejalan ketika kita menginterpretasi kembali ungkapan terkenal agama adalah candu, atau Die Religion ist das Opium des Volkes (Religion is the opium of the people). Apakah agama mengakibatkan manusia terasing dari proses keberagamaannya, dari agamanya, dari sesama manusia, dan dari kemanusiaan itu sendiri. Alih-alih manusia yang mengeksploitasi agama, atau malah agama yang mengeksploitasi manusia? Terkadang pula agama merupakan penghiburan bagi kaum yang tertindas. Buruh termasuk ke dalam kelompok marjinal yang tertindas. Jika agama sangat memberikan kekuatan penghiburan, apalagi penyerahan diri pada siklus rutinitas keterasingan, maka timbul absurditas di satu sisi. Di sisi lain, agama menciptakan ilusi fantasi bagi masyarakat miskin. Realitas ekonomi mencegah mereka dari menemukan kebahagiaan sejati dalam hidup ini, sehingga agama mengatakan kepada mereka bahwa mereka akan menemukan kebahagiaan sejati di kehidupan berikutnya. Marx menawarkan validasi parsial agama yang mencoba untuk menjadi jantung harapan dari dunia yang tak berperasaan. Untuk semua permasalahan, agama bukanlah masalah sebenarnya. Agama adalah seperangkat ide-ide, dan gagasan adalah ekspresi dari realitas material. Agama adalah gejala dari suatu penyakit, bukan penyakit itu sendiri.


Akan tetapi bukan itulah yang dimaksud Marx. Ia tidak membicarakan apakah fungsi agama dalam masyarakat adalah positif atau negatif. Melainkan ucapannya itu menanggapi kritik agama Feurbach. Marx setuju dengan kritik itu. Tetapi menurut Marx, Feurbach berhenti di tengah jalan. Betul, agama adalah dunia khayalan di mana manusia mencari dirinya sendiri. Tetapi, Feurbach tidak bertanya mengapa manusia melarikan diri ke khayalan daripada mewujudkan diri dalam kehidupan nyata. Jawaban yang diberikan Marx adalah: Karena kehidupan nyata, dan itu berati: struktur kekuasaan dalam tidak mengizinkan manusia untuk mewujudkan kekayan hakekatnya. Manusia melarikan diri ke dunia khayalan karena dunia nyata menindasnya. Namun bukan berarti Marx tidak kritis terhadap agama. Bagi Marx, masalahnya terletak pada kenyataan jelas bahwa “candu” itu gagal untuk memperbaiki cedera fisik. Hanya membantu melupakan rasa sakit dan penderitaan. Ini mungkin baik-baik saja sampai titik tertentu, tapi hanya selama manusia—dalam hal ini kaum tertindas—juga berusaha untuk memecahkan masalah mendasar yang menyebabkan rasa sakit. Demikian pula, agama tidak memperbaiki penyebab rasa sakit dan penderitaan rakyat. Sebagai gantinya, justru membantu mereka lupa mengapa mereka menderita dan membuat mereka hanya melihat masa depan yang imajiner.

Lebih buruk lagi jika “penenang sakit” ini dikelola oleh penindas yang sama bertanggung jawab untuk rasa sakit dan penderitaan—siapa lagi kalau bukan para kapitalis. Agama adalah ekspresi ketidakbahagiaan dan gejala mendasar dari realitas penindasan ekonomi. Mudah-mudahan tercipta sebuah masyarakat di mana kondisi ekonomi yang menyebabkan begitu banyak rasa sakit dan penderitaan akan diberantas dan, oleh karena itu, kebutuhan untuk obat penenang seperti agama akan berhenti. Namun tentu saja harapan ini merupakan sesuatu yang utopis lantaran kondisi seperti ini selalu menjadi siklus manusia yang tak terhindarkan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s