Karangan Bunga; Simbol Kelas Menengah Berisik Jakarta


karangan bunga

Jika kubu Anies-Sandi menggunakan barisan kuantitas massa dan agitasi, maka yang Ahokers menggunakan kuantitas uang dalam menunjukkan aspirasi politiknya.

Bunga yang satunya minimal 500,000 ini bisa jadi malah memperdalam social divide, dan meyakinkan bayangan masyarakat bahwa ‘teman-teman’ Ahok adalah mereka yang punya uang. Paling tidak (meskipun katanya ada yang patungan) bisa mengeluarkan uang sampai jutaan untuk rangkaian bunga untuk mewakili kehadiran atau presence-nya dalam landscape sosial politik.

Salah seorang aktifis pro-Ahok yang turun ke jalan dan untuk melakukan dukungan pada Ahok dalam menjalani proses penghakiman politis ini, dia katakan dalam status-status facebooknya, intinya, bahwa yang penting sebetulnya adalah kehadiran (baca: personal), bukan kiriman bunga (baca: uang).

Bila aktifis pro-Ahok pun—bisa—melihat situasi ini dalam cara itu, bagaimana dengan para masyarakat kalangan bawah, yang melihat ratusan karangan bunga itu, yang harganya bisa mencapai pendapatan mereka sebulan, dan bahkan berbulan-bulan?

Ini sebetulnya yang ingin saya katakan sejak lama, bahwa kalangan pro-Ahok sama sekali tidak paham bagaimana dunia terlihat oleh kalangan yang kurang beruntung/masyarakat miskin.

Mengirimkan bunga—yang biasanya dilakukan dalam rangka belasungkawa atau pemberian selamat—tanpa perlu hadir secara personal akan segera terlihat seperti bagaimana orang membayangkan basa-basi perilaku bisnis: bagi yang punya uang, tentu gampang mengeluarkan 500 ribu sampai 5 juta untuk kiriman bunga. Yang ‘susah’ bagi mereka untuk dilakukan adalah ‘kehadiran’.

Apabila maksudnya simbolik, satu ikat karangan bunga yang simpel dan bersifat personal, tentu sudah cukup. Tapi tipe karangan bunga yang digunakan malah justru yang biasanya menjadi ajang show-off, atau pamer. Dengan papan besar yang biasanya ditempeli merek-merek dagang dan nama perusahaan.

Fenomena ini malah akan dengan mudah terlihat sebagai arogansi, bagi banyak orang, apalagi yang tak punya uang.

Tampaknya memang kalangan pendukung Ahok masih belum sadar, bahwa bukan sekedar rasisme dan fundamentalisme yang menyebabkan Ahok kalah dalam pemilihan; melainkan juga persoalan sosial-ekonomi, dan ini hanya bisa diatasi dengan gerakan sosial yang riil, yang juga bukan sekedar ‘sumbangan uang bagi orang miskin’, sebagaimana biasanya kelas menengah menganggapnya, melainkan perhatian yang riil terhadap impoverishment (pemiskinan), dan penyetaraan akses sosial-ekonomi.


Dikutip dari laman sosial media Verdi Adhanta

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s