Mengapa Rasisme Tak Mati-Mati?


Memberi tanda tanya pada rasisme, baik sebagai ideologi maupun tindakan dalam politik praksis, seperti terjun ke dalam sumur tak berdasar.  Fenomena rasisme bercokol begitu kuat di Indonesia. Bahkan, setelah tragedi Mei ’98, bau amisnya tak kunjung hilang.

Buku ini mengupas pemikiran filsafat Slavoj Zizek yang ditulis oleh Robertus Robert. Buku ini merupakan disertasi doktoral Robertus Robert tentang pemikiran politik Zizek. Akan tetapi untuk resensi saya sekarang, saya akan menulis salah satu isi sub tema dalam buku tersebut yang mungkin berguna untuk kita renungkan juga, yaitu rasisme. Tapi mungkin bukan sesuatu yang bisa disebut resensi jika terlalu panjang, bisa jadi dibahasakan dengan kata saduran Fantasi dan Ideologi (atau: Mengapa Rasisme tak Mati-mati).

Contoh konkret persoalan fantasi ini bisa kita liat dalam rasisme, misalnya kasus rasisme terhadap etnis tionghoa di Indonesia, atau bukan hanya etnis tionghoa, sering pula kita mendengar, “Dasar Batak tukang anu”, “Dasar Madura si itu”, “Dasar Padang begini”, “Dasar Sunda begitu”, “Dasar Jawa”, dan segala macam dasar-dasar lain sering menjadi serapah melalui mulut kita yang pada dasarnya jika memakai perspektif Zizek adalah hanya fantasi rasis belaka.

Oke, mari kita tulis saja resensinya. Fantasi rasis bekerja dengan dimulai dari sangkaan: “Si Cina ini mencurigakan”. Saya (atau subjek) curiga karena tidak tahu apa yang dia inginkan. Berdasarkan ketidaktahuan itu, saya kemudian menciptakan sebuah skenario mengenai “agenda terselubung.” Saya merancang sebuah pikiran—tanpa perlu asosiasi apa pun—bahwa “Cina” ini sebenarnya menginginkan harta kekayaan bangsa saya, menyukai perempuan suku saya, mengincar uang, status, serta kedudukan saya di kemudian hari. Sangkaan dan fantasi ini saya bawa setiap hari. Persoalannya, apakah kemudian dengan mengenal dan memahami si “Cina” itu secara lebih dalam, mengetahui siapa dia, siapa keluarganya, apa pekerjaannya, bagaimana dia bekerja keras dan belajar, saya akan dengan serta merta melumerkan sikap dan prasangka saya?

Menurut Zizek, meski telah memahami sungguh-sungguh apa, siapa, dan bagaimana si “Cina” ini, saya akan tetap jadi seorang rasis. Mengapa? Di sinilah fungsi fantasi itu bekerja. Cara saya memandang si “Cina” bukan mengarah pada persoalan realitas yang obyektif atau bukan. Saya memandang melalui sudut pandangan fantasi. Di sini saya tidak dapat mengkontraskan realitas yang sebenarnya dengan fantasi saya. Sebab, kerangka fantasi saya telah lebih dahulu membentuk dan mendasari realitas. Jadi, misalnya, seandainya pun setiap hari saya melihat dengan jelas bagaimana si “Cina” ini belajar dan bekerja keras, saya tidak akan jadi lebih bersimpati, malahan saya justru akan menganggap semua fakta itu sebagai bukti bahwa si “Cina” adalah ancaman dan benar-benar berbahaya serta berpotensi menguasai negara dan kekayaan bangsa saya.

Dengan begitu terdapat dua tahap atau dua jenis fantasi rasis. Pertama, fantasi yang berakar dari dugaan bahwa “yang liyan” menginginkan “apa yang saya nikmati”. Kedua, fantasi rasis yang dihasilkan dari pandangan bahwa “yang liyan” selalu menggunakan cara-cara aneh dalam memuaskan hasrat atau memiliki hasrat yang asing bagi saya. Sebagaimana dikatakan Zizek: “Pada tataran identitas etnis, sesuatu yang serupa berlangsung ketika subyek yang bukan “salah satu dari kita” mempelajari bahasa kita dan bersusah payah menuturkannya, berperilaku sebagai bagian dari “komunitas kita”: reaksi otomatis setiap rasis adalah bahwa si asing itu, dengan berbuat demikian, mencuri dari kita substansi identitas kita.”

Lebih jauh lagi, acapkali rasisme juga merefleksikan ketegangan dan konflik antarfantasi. Apa yang menjadi fantasi “si asing” bertentangan dengan apa yang menjadi fantasi “kelompok saya”. Jadi seorang rasis, misalkan, akan merasa terganggu dan bereaksi apabila melihat seorang Cina berjalan dengan potongan rambut atau pakaian ngejreng (berbeda). Si “Cina”, dalam sudut pandang konvensional rasis, dianggap tidak tahu bagaimana bergaya rambut dan berpakaian sesuai fantasi dan gaya hidup “Meng-Indonesia”.

Dengan itu, cara berpakaian dan potongan rambut semacam itu akan dianggap sebagai ancaman bagi kehidupan budaya, dan bahkan moral orang Indonesia. Lantas bagaimana konflik antarfantasi ini dapat diredakan? Dengan unik Zizek mengajukan upaya oposisi, namun bukan oposisi kepada negara melainkan kepada masyarakat sipil sendiri. Berbekal pengalaman Slovenia dan lebih luasnya Balkan, Zizek melihat bahwa dalam keadaan di mana masyarakat sipil sendiri sangat dipengaruhi oleh politik sayap kanan dan rasisme merebak di dalamnya, masyarakat sipil mustahil dijadikan sandaran bagi upaya menghancurkan fantasi rasis.

Negaralah yang harus tampil berperan mentransformasi fantasi rasis ini. Namun persoalannya kemudian, dalam berbagai kasus, fantasi rasis juga mengindikasikan semacam hasrat untuk mengatakan bahwa “seandainya si Cina/ si Arab/ si Jepang/ si Bule tidak di sini maka hidup pasti lebih baik, masyarakat pasti akan lebih harmonis”. Akibatnya, sehebat apa pun negara berperan, fantasi rasis tidak dapat dihapuskan karena berakar pada eksistensi “yang liyan” dan harapan yang lebih besar mengenai ideal masyarakat yang utuh bersatu padu. Fantasi rasis mulai bergeser dari tingkat intersubyektif mengarah kepada kegagalan dalam memandang masyarakat sebagai sebuah ketidakmungkinan. Sebagaimana ditekankan Zizek, “figur fantasi rasis hanyalah sebuah cara untuk menutupi ketakmungkinan masyarakat secara utuh atau tatanan simbolik organik itu untuk merampungkan dirinya.”

“Yang tampak sebagai perintang bagi identitas utuh masyarakat pada dirinya sendiri sesungguhnya justru merupakan kondisi positifnya: dengan membubuhkan ke dalam diri orang Yahudi peran agen asing yang menghadirkan disintegrasi dan antagonisme dalam organisme sosial, imaji-fantasi dari masyarakat seabgai keutuhan harmonis yang konsisten jadi mustahil.”

Dengan demikian, ide bahwa masyarakat yang harmonis dan utuh secara total mesti dicapai dan dihadirkan itu adalah sebuah fantasi. Kegagalan menerima kenyataan bahwa masyarakat tak pernah utuh inilah, bersamaan dengan ilusi yang terus dipegang mengenai totalitas harmonis, yang membentuk pandangan rasis, yang selalu berupaya mencari sandaran dan kambing hitam atas fakta dramatis ini. Si Cina atau Yahudi, si Arab atau Komunis, hanya dipakai secara instrumental untuk memenuhi skenario masyarakat harmonis itu. Yang menjadi sumber inspirasi rasis berasal dari suatu mekanisme yang jauh lebih kompleks, mapan, dan massif, karena menyangkut pandangan hampir semua anggota masyarakat mengenai masyarakat itu sendiri. Maka, bila kita tarik analisa Zizek lebih jauh ke pendefinisian soal bangsa, bangsa pun harus dilihat sebagai “Jouissance”. Oleh karena itu, ia menjadi “hal” yang tidak dapat secara final dijelaskan atau direpresentasikan bahkan dalam diskursus nasionalisme sekalipun. Ia adalah obyek yang tak dapat dicecap, hanya dapat dibayangkan dalam semburat reflektif wajah protagonisnya. Dengan begitu, bangsa mengandung hasrat posesif di dalam dirinya sendiri.

“Yang dipertaruhkan dalam ketegangan etnis senantiasa kepemilikan hal-hal yang bersifat nasional. Kita selalu persalahkan ‘yang liyan’ atas kenikmatan berlebih: ia ingin mencuri kenikmatan kita dan atau dia punya akses pada kenikmatan rahasia tertentu. Singkat, kata yang benar-benar merisaukan kita soal “yang liyan” adalah caranya yang aneh dalam menata kenikmatannya, terutama surplus, “ekses” yang sampai kemari: bau makanan “mereka”, lagu-lagu dan tarian “mereka” yang berisik, sikap “mereka” terhadap kerja… Paradoks dasarnya adalah bahwa apa-apa yang milik kita dipandang sebagai sesuatu yang tak boleh diakses oleh “yang liyan” namun pada saat yang sama juga terancam oleh kehadirannya. Artinya, selama masih ada ilusi mengenai masyarakat organis yang harmonis dan utuh, selama itu pula pencarian mekanisme kambing hitam bekerja.

Fantasi rasis di sini berakar dalam kegagalan permanen masyarakat menyadari “yang kosong dalam dirinya”, sehingga terus bermimpi menjadikan dirinya total. Di sinilah kita kemudian memahami mengapa fasisme, rasisme, dan nasionalisme dikatakan sebagai gejala “nikmat yang berlebihan”. Dari keadaan inilah kemudian fantasi menunjukkan gap atau sumur tanpa dasar yang mendasari bekerjanya ideologi. Dengan demikian, dalam perspektif Zizek, ideologi mengandung karakter tautologis karena “tujuan sejati dari ideologi adalah konsistensi perilaku ideologis itu sendiri”.

Ideologi ada dalam keperluan untuk terus menerus mereproduksi afirmasi gap itu sendiri. Dengan demikan, jelas bahwa, ideologi berakar pada fantasi dan pembentukannya bersandar pada jarak permanen antara “Yang-Simbolik” dan “Yang-Riil”. Ada tidaknya  ideologi tidak ditentukan oleh sikap orang terhadapnya, tetapi oleh kesenjangan antara realitas (yang-Simbolik) di hadapan ketakmungkinan yang-Riil. Ideologi adalah “kesadaran palsu”, demikian menurut Zizek. Suguhan fantasi dan permanennya ideologi ini dicontohkan melalui cerita tentang seorang mandor yang curiga bahwa, ada buruh hendak mencuri di pabrik. Berdasarkan kecurigaan itu, tiap sore ia memeriksa isi tas si buruh. Namun karena tak pernah mendapati barang curian apa pun di tas si buruh, bukannya berhenti curiga, ia malah berpikir jangan-jangan tas itulah barang curian sebenarnya.

Di sini, ketika si mandor tak menemukan apa yang dicari tapi memaksakan tas sebagai barang curian, ia menjadikan ketaksadarannya bukan lagi sebagai ekses dari realitas yang termanipulasi. Yang terjadi adalah ketaksadaran itu menyediakan dan menguabah koordinat realitas itu sendiri. Ia tak peduli pada fakta apakah “si buruh benar mencuri atau tidak”, tetapi ia mengkonstruksi dan membentuk realitas pencurian itu terlepas dari fakta apa pun sebelumnya. Ini mirip dengan operasi ideolog Orde Baru yang selalu mengatakan, “anasir-anasir PKI” masih ada dan ancamannya nyata, terlepas dari fakta bahwa PKI sudah lama dihancurkan. Di titik ini jelaslah bahwa selama realitas ada selama itu pula ideologi itu ada.

Judul: Manusia Politik; Subyek Radikal dan Politik Emansipasi di Era Kapitalisme Global Menurut Slavoj Zizek

Pengarang: Robertus Robert

Penerbit: Marjin Kiri, 2010

Tebal: 243 hlm.


Tulisan lawas ini pernah disuguhkan di Kompasiana, ada baiknya untuk dimuat lagi di blog pribadi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s