Sains Meruntuhkan Agama


1778924_orig

Kebanyakan orang percaya bahwa Sang Pencipta alam semesta menulis (atau mendiktekan) salah satu kitab suci yang menjadi landasan kepercayaan bagi sekian banyak agama di dunia. Sayangnya, ada banyak buku yang berpura-pura memiliki kepengarangan ilmiah, dan masing-masing membuat klaim yang tidak kompatibel tentang bagaimana kita semua harus hidup. Meskipun upaya ekumenis dari kebanyakan orang itu bermaksud baik, komitmen agama yang tidak dapati direkonsiliasi ini masih menginspirasi sejumlah konflik mengerikan umat manusia.

Sebagai respons terhadap situasi ini, orang yang paling masuk akal mendukung sesuatu yang disebut “toleransi beragama.” Sementara toleransi beragama pasti lebih baik daripada perang agama, tetapi toleransi bukanlah tanpa kekurangan. Ketakutan kita terhadap provokasi kebencian kepada agama telah membuat kita tidak memiliki kapasitas untuk mengkritik ide-ide yang sekarang absurd dan semakin tidak dapat diadaptasi. Hal ini juga mengharuskan kita untuk berbohong kepada diri kita sendiri—berulang kali sampai pada tingkat tertinggi—tentang kompatibilitas antara iman agama dan rasionalitas ilmiah.

Konflik antara agama dan sains sangatlah inheren dan (hampir mendekati) zero-sum. Keberhasilan sains sering kali hadir dengan mengorbankan dogma agama, pemeliharaan dogma agama selalu datang dengan mengorbankan sains. Sudah saatnya kita membenarkan adanya fakta yang mendasari wacana manusia: baik seseorang memiliki alasan yang tepat atas apa yang dia percaya, atau dia tidak. Ketika seseorang memiliki alasan yang baik, keyakinannya berkontribusi terhadap pemahaman kita dalam memahami dunia. Kita tidak perlu membedakan antara sains yang “keras” dan “lunak” di sini, atau antara sains dan disiplin keilmuan berbasis bukti lainnya seperti sejarah. Ada alasan yang sangat baik untuk percaya bahwa Jepang membom Pearl Harbor pada 7 Desember, 1941. Apabila ada yang mengatakan bahwa orang mesir yang melakukan itu, maka ia akan kehilangan kredibilitasnya. Setiap manusia waras mengakui bahwa dengan mengandalkan semata-mata pada “iman” untuk memutuskan pertanyaan spesifik dari fakta sejarah adalah hal bodoh dan aneh—sampai ketika suatu percakapan berubah menjadi kitab suci seperti Alkitab dan Alquran, sampai kebangkitan Yesus, sampai percakapan Muhammad dengan Jibril, atau salah satu imitasi suci lainnya yang masih memadati altar kebodohan manusia.

Sains, dalam arti yang luas, mencakup semua klaim yang masuk akal untuk mengetahui tentang diri sendiri dan dunia. Jika ada alasan yang baik untuk percaya bahwa Yesus dilahirkan dari seorang perawan, atau bahwa Muhammad terbang ke surga dengan kuda bersayap, keyakinan ini tentu akan menjadi bagian dari deskripsi rasional kita tentang alam semesta. Iman tidak lebih dari lisensi yang mana orang beragama saling membagi satu sama lain agar meyakini proposisi seperti itu ketika mereka tidak berpikir rasional. Perbedaan antara sains dan agama adalah perbedaan antara kemauan untuk dengan tenang mempertimbangkan bukti baru dan argumen baru, dan keengganan melakukan itu semua dengan sangat bergairah. Perbedaannya tidak bisa lebih jelas, atau lebih konsekuensial, namun di mana-mana perbedaan itu tak dapat diabaikan, bahkan di menara gading sekalipun.

Ketidaksesuaian agama berkembang pesat seiring dengan munculnya civil society secara global. Keyakinan agama—meyakini adanya Tuhan yang memedulikan manusia dengna nama apapun dirinya disebut, adalah salah satu bukti dari ketidaksempurnaannya, bahwa Yesus akan datang kembali ke bumi untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati, bahwa para martir Muslim pergi langsung ke surga, dll—berada di sisi yang keliru dari meningkatnya ide peperangan. Perbedaan antara sains dan agama adalah perbedaan antara keterbukaan yang tulus untuk karya-karya hasil penelitian manusia di abad ke-21, dan ketertutupan sejak dini dari upaya penelitian yang dijadikan sebagai persoalan prinsipil. Saya percaya bahwa pertentangan antara akal dan iman hanya akan tumbuh lebih meresap dan tak terselesaikan di tahun-tahun mendatang. Keyakinan Zaman Besi –tentang Tuhan, jiwa, dosa, kehendak bebas, dll—terus menghambat penelitian medis dan mendistorsi kebijakan publik. Kemungkinan bahwa kita bisa memilih Presiden AS yang meyakini ramalan Alkitab secara serius adalah nyata dan menakutkan, kemungkinan bahwa kita pada suatu hari menghadapi kelompok Islamis bersenjata dengan senjata nuklir atau biologi juga menakutkan, dan ini meningkat dari hari ke hari. Kita hanya sedikit melakukan sesuatu, pada tingkat wacana intelektual, untuk mencegah kemungkinan tersebut terjadi. Dalam semangat toleransi beragama, ilmuwan kebanyakan berdiam diri ketika mereka seharusnya meledakkan fantasi mengerikan dari era para pemuka agama dengan semua fakta yang mereka miliki.

indonesia

Untuk memenangkan perang gagasan, para ilmuwan dan orang-orang rasional lain memerlukan menemukan cara-cara baru berbicara tentang etika dan pengalaman spiritual. Perbedaan antara sains dan agama bukanlah persoalan yang menghindari intuisi etis dan keadaan kesadaran yang tidak biasa dari percakapan kita tentang dunia; melainkan hal itu adalah permasalahan kita untuk mengetahui dasar-dasar mereka yang masuk akal atas kesimpulan yang mereka buat. Kita harus menemukan cara untuk memenuhi kebutuhan emosional kita yang tidak memerlukan adegan pelukan yang menjijikkan saat dalam keadaan sengsara. Kita harus belajar untuk menggunakan kekuatan dari ritual dan menandai setiap transisi dalam kehidupan manusia yang membutuhkan kedalaman intelektual—kelahiran, pernikahan, kematian, dan sebagainya—tanpa membohongi diri sendiri bahwasannya realitas adalah sesuatu yang alamiah.

Saya berharap pada pentingnya transformasi yang diperlukan dalam pemikiran kita agar muncul di masa mendatang sebagai pemahaman ilmiah kita. Ketika kita menemukan cara yang dapat diandalkan untuk membuat manusia lebih mengasihi, lebih takut, dan benar-benar terpesona oleh fakta kehadiran kita dalam kosmos, kita tidak akan memerlukan mitos agama yang dapat memecah belah. Dengan demikian, cara-cara membesarkan anak-anak kita untuk percaya bahwa mereka adalah orang Kristen, Yahudi, Islam, atau Hindu akan secara luas diakui sebagai kesalahan yang menggelikan. Dan kemudian kita akan memiliki kesempatan untuk memperbaiki retakan-retakan terdalam dan paling berbahaya di dunia kita.

Sam Harris. Dikutip dari laman situs http://www.huffingtonpost.com/sam-harris/science-must-destroy-reli_b_13153.html

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s