Kontradiksi dalam Masyarakat Kapitalis (Bag. 3)


Kontradiksi Masyarakat Kapitalis

Moving Contradictions berevolusi secara beragam, dan banyak memberikan kekuatan dinamis di balik evolusi historis dan geografis. Dalam beberapa kasus, kontradiksi-kontradiksi itu cenderung progresif. Pola-pola kontradiksi yang berubah-ubah, memberikan banyak energi dan semangat inovatif dalam ko-evolusi modal dan kapitalisme serta potensi kemampuan manusia yang memungkinkan inisiatif-inisiatif baru.

Dalam kerangka kontradiksi yang saling berinteraksi dan dinamis, ada beberapa proyek politik alternatif yang dapat ditemukan. Kebanyakan proyek-proyek ini merupakan respon khusus atas modal dan kontradiksi-kontradiksi di dalam dirinya sendiri yang digiring untuk memfasilitasi reproduksi modal dalam kondisi ketidakpastian yang berlangsung terus-menerus. Persoalan inovasi dalam politik (seperti halnya inovasi dalam teknologi) adalah masalah penempatan yang sampai sekarang terisolasi dan terpisah dari kemungkinan-kemungkinan politis dengan cara yang berbeda. Perkembangan geografis yang tidak merata, sementara waktu menghasilkan “ruang harapan” untuk modus baru bentuk-bentuk kerja sama, setidaknya sebeleum diserap ke dalam praktik-praktik modal yang dominan.

Adapun mengenai kontradiksi-kontradiksi yang berakibat fatal adalah ketika modal yang pada akhirnya runtuh lantaran semakin terbebani kontradiksi-kontradiksi internalnya sendiri. Preposisi ini mengandaikan suatu kerusakan mekanis dari mesin ekonomi kapitalisme yang akan terjadi karena tidak adanya agen manusia yang mengoperasikan mesin, atau karena kepentingan militer yang mulai mengatur kapan mesin berhenti dan harus diganti. Meskipun demikian, ada kemungkinan bahwa modal dapat terus berfungsi tanpa batas, tapi dengan cara-cara yang dapat menimbulkan degradasi sumber daya secara progresif dan pemiskinan massal yang secara dramatis meningkatkan ketimpangan kelas sosial. Dehumanisasi besar-besaran terjadi, diikuti dengan aksi-aksi represif dan otoriter seperti sistem kontrol yang militeristik dan demokrasi totalitarian.

Kontradiksi berikutnya adalah kontradiksi yang paling berbahaya secara langsung di masa sekarang. Tidak hanya untuk mesin ekonomi kapitalisme agar terus berfungsi, tapi juga untuk reproduksi kehidupan manusia (meskipun ketika berada dalam kondisi yang wajar).

1. Kontradiksi Pertumbuhan Compound yang Tiada Akhir

Compound berarti melipatgandakan profit yang sudah kita peroleh dan tidak menarik profit dalam jangka waktu yang sudah ditentukan. Apa pun yang berkenaan dengan modal adalah selalu tentang pertumbuhan, dan modal selalu tumbuh pada tingkatan yang berlipat ganda. Kondisi reproduksi modal seperti ini sangat berbahaya, tapi tidak banyak yang mencermatinya. Kebanyakan orang tidak memahami perihal matematika dari bunga yang terus-menerus bertambah. Mereka juga tidak mengerti fenomena pertumbuhan eksponensial tersebut. Pada dasarnya, compounding sangatlah sederhana. Misalkan Anda punya Rp 10 juta hari ini. Uang tersebut akan diinvestasikan dengan bunga 15% per tahun, dalam jangka waktu 10 tahun ke depan. Maka, bunga yang akan Anda peroleh seharusnya sebesar Rp 10 juta dikali 15% dikali 10 tahun atau sama dengan Rp 15 juta. Bila ditambahkan dengan modal pokok, maka total uang Anda akan menjadi Rp 25 juta.

Tapi nyatanya, hasil yang Anda peroleh akan lebih besar dari Rp 25 juta karena ada sistem bunga-berbunga (compounding interest). Jadi, pada tahun pertama, investasi Anda akan bertumbuh menjadi Rp 11,5 juta. Tahun kedua, Anda akan mendapatkan 15% dari Rp 11,5 juta tersebut, atau sebesar Rp 1,725 juta. Pada akhir tahun kedua total uang Anda akan menjadi sebesar Rp 13,225 juta. Pada tahun ketiga, Anda akan mendapatkan 15% lagi dari uang tersebut. Begitu seterusnya hingga akhir tahun ke-10. Pada akhir tahun ke-10 nanti, modal Anda akan bertumbuh menjadi tak kurang dari Rp 40 juta. Di sini Anda bisa melihat ada perbedaan signifikan antara suku bunga biasa dengan bunga-berbunga atau bunga jamak. Selisihnya cukup besar, yaitu Rp 40 juta dikurangi Rp 25 juta, alias sebesar Rp 15 juta.

Compounding Interest selalu berujung dengan grafik parabolik, tidak peduli persentase kenaikan yang digunakan sebesar apa. Kalau Anda termasuk orang yang percaya bahwa, bursa saham dalam jangka panjang selalu naik, dan asumsi 20% pertumbuhan adalah “wajar,” maka dengan asumsi nilai Index Harga Saham Gabungan (IHSG) di Indonesia hari ini misalnya sebesar 1.500, tentunya Anda juga termasuk orang yang percaya bahwa 50 tahun kemudian, IHSG akan menembus angka 11.300.000 (sebelas juta tiga ratus ribu poin). Padahal, tidak ada pasar yang sanggup mempertahankan pertumbuhan menurut hukum bunga-berbunga (compounding interest). Semua bubble (gelembung perekonomian) di pasar finansial pasti akan pecah di dunia ini.

Bubble atau gelembung ekonomi sering ditandai dengan naiknya harga properti, harga saham, dan pertumbuhan ekonomi yang cepat. Bubble tampak ketika terjadi lonjakan harga saham, bahkan melebihi kondisi fundamental perusahaan. Gelembung perekonomian ini akan terus berlangsung, harga saham terus naik, hingga pada suatu saat diakhiri dengan ‘meletusnya’ gelembung itu. Meletusnya gelembung perekonomian atau bubble ditunjukkan dengan turunnya harga saham secara tiba-tiba, seperti pada tahun 2008.

Mengembang dan meletusnya gelembung ekonomi memengaruhi siklus inflasi dan deflasi. Bisa menguntungkan dan juga merugikan. Terlebih lagi jika berada pada skala makro lintas-negara. Namun pertanyaannya, mengapa sistem seperti ini terus-menerus berkesinambungan? Karena dibutuhkan dalam proses akumulasi dan reproduksi modal. Para bankir besar sangat memahami kekuatan bunga-berbunga ini, dan kita seharusnya mulai berpikir berapa banyak uang yang sudah dihisap oleh perbankan, baik perbankan internasional maupun perbankan lokal.

Tidak semua orang bisa memercayai bahwa, kekayaan keluarga Rothschild dan klan bankir internasional lainnya jauh melebihi imajinasi paling liar yang pernah ada. Tapi begitu Anda memahami kekuatan compounding interest, Anda tidak akan heran lagi mengapa mereka bisa demikian sangat kaya raya, dan dengan kekayaan itu bisa menguasai dunia. Ditambah dengan kendali mereka di perbankan (bank sentral, dan terutama bank-bank komersial swasta), mereka mengendalikan siapa saja yang mendapatkan kredit, dan siapa yang tidak, dan juga kendali kapan menaikkan suplai uang untuk menciptakan inflasi dan kapan mengetatkan suplai uang untuk menciptakan deflasi, sama sekali tidak heran lagi bagaimana klan bankir-bankir ini bisa menguasai hampir semua aset berharga dan industri penting yang menguasai hajat hidup orang banyak di dunia ini. Semua negara akhirnya akan menjadi budak karena semua negara menciptakan uang kepada rakyatnya dalam bentuk kredit. Tidak seperti yang disangka kebanyakan orang, negara-negara yang dianggap sebagai negara maju, mereka sama saja seperti kita, diperbudak oleh bankir internasional. Negara-negara seperti Amerika, Inggris, Perancis, dll sedang menuju kebangkrutan, sama seperti negara-negara pinggiran.

Berbicara negara, pasti ujung-ujungnya adalah rakyatnya. Kebangkrutan negara pasti akan ditanggung oleh rakyatnya, bisa lewat penarikan pajak yang luar biasa tinggi, bisa lewat inflasi yang sangat tinggi karena negara memutuskan untuk membayar beban hutang dengan cara pencetakan uang baru, bisa juga lewat cara yang bahkan lebih barbarian lagi; penyitaan harta individu secara langsung. Bunga, ditambah dengan berjalannya waktu bisa membuat Anda kaya luar biasa, tetapi bisa juga mendorong Anda (dan keluarga Anda) ke jurang kemiskinan yang tak berujung. Ingatlah, untuk setiap sen kerugian yang Anda derita, Anda juga kehilangan potensi atas setiap sen yang bisa dihasilkan olehnya di kemudian hari.

2. Kontradiksi Relasi Negara dan Lingkungan

Modal memiliki sejarah panjang yang berhasil mengatasi hambatan-hambatan ekologisnya sendiri, tidak peduli apakah ini mengacu pada penggunaan sumber daya ‘alami’ yang mampu menyerap polutan, atau untuk mengatasi degradasi habitat, hilangnya keanekaragaman hayati, kualitas udara, tanah, air menurun, dan sejenisnya. Persoalan fundamentalnya terletak pada kelangkaan di mana manusia memiliki hasrat keinginan di dalam dunia yang sumber dayanya terbatas. Dengan demikian, produksi manusia untuk memenuhi keinginan menjadi terbatas. Namun yang dimaksud dengan kelangkaan bukan dititikberatkan pada sumber dayanya, melainkan pada sulitnya untuk mendapatkan sumber daya, kesulitan untuk membuat, atau gabungan dari kesulitan atas keduanya. Akibat kesalahpahaman pengertian atas kelangkaan ini, banyak orang yang sudah sejak dulu kala terus meramalkan kehancuran dunia. Padahal, sederhananya, biaya produksi komoditas-lah yang menentukan apakah sumber daya langka atau tidak.

Sebagai contoh; meskipun udara lebih penting bagi manusia daripada berlian, tapi udara menjadi murah karena ongkos atau biaya produksinya nol. Berbeda dengan berlian yang membutuhkan ongkos banyak dari proses eksploitasi alam sampai pengolahan. Tak heran bila berlian bernilai tinggi. Contoh lain adalah listrik bertenaga surya; menjadi murah dikarenakan ongkos produksi sinar matahari adalah nol, tetapi modal tidak melirik ini karena tidak bisa melipatgandakan akumulasi. Sebaliknya, sumber daya fosil seperti batu bara dan minyak bumi yang dilirik modal lantaran ongkos produksinya besar dan nantinya akan menghasilkan nilai tambah bagi modal.

Alam yang kita sangka terbatas dan eksploitatif, ternyata diinternalisasikan dalam sirkulasi dan akumulasi modal. Unsur-unsur alam adalah agen aktif dalam proses tersebut. Aliran uang merupakan variabel ekologi, dan transfer nutrisi melalui ekosistem juga merupakan aliran nilai. Sementara materi tidak dapat diciptakan maupun dihancurkan, konfigurasi dapat diubah secara radikal. Rekayasa genetika, penciptaan senyawa kimia baru, dan modifikasi lingkungan skala masif melalui urbanisasi dan penetapan modal dalam pertanian, ladang dan pabrik-pabrik di atas lahan, telah melampaui apa yang telah terjadi dalam sejarah panjang manusia. Dalam hal ini, organisme manusia menghasilkan situasi kondusif untuk reproduksi mereka sendiri, dan modal sebagai bentuk spesifik aktivitas manusia melakukan hal yang sama. Namun lama kelamaan modal mengatasnamakan modal, bukan manusia.

Pemikiran yang keliru telah mengkonstruksi dualitas bahwa, modal dan alam sebagai dua entitas yang terpisah dalam interaksi kausal satu sama lain; yang kemudian salah satunya lebih mendominasi. Padahal, modal merupakan sistem ekologi yang ber-evolusi dalam situasi di mana alam dan modal secara konstan diproduksi dan direproduksi. Akan tetapi, jenis sistem ekologi seperti apa yang merupakan modal, bagaimana caranya berkembang dan mengapa rentan terjadinya krisis?

Jenis sistem ekologi ini dibangun dari kesatuan kontradiktif dari modal dan alam, dan dengan cara yang sama bahwa, komoditas tersebut adalah unit kesatuan kontradiktif antara nilai guna dan nilai tukar. Kita akan kembali kepada teknologi sebagai mesin perampasan hal-hal yang berkaitan dengan manusia dan proses-proses alamiah dalam rangka memfasilitasi produksi. Sifat yang dihasilkan adalah sesuatu yang tidak hanya ber-evolusi tak terduga dengan sendirinya, tapi juga secara aktif dan terus-menerus dibentuk ulang dan direkayasa oleh perilaku modal. Misalnya, kulkas yang dulu diproduksi untuk memfasilitasi ketersediaan makanan agar tidak terkontaminasi, justru selanjutnya diidentifikasi sebagai sumber chloro-fluorocarbons (CFC) yang menghancurkan lapisan ozon stratosfir yang melindungi kita dari radiasi matahari berlebihan.

Modal telah mengubah lingkungan alam sekitar kita menjadi problem utama. Teknologi lingkungan masa kini merupakan jalur bebas hambatan di bursa saham dunia. Setelah semua ini terjadi, rekayasa relasi metabolisme dengan alam menjadi sebuah kegiatan yang relatif otonom dari kebutuhan yang sebenarnya. Alam menjadi strategi akumulasi. Ketika, misalnya, obat-obat baru diciptakan, atau cara-cara baru untuk mengurangi emisi karbon dibuat, maka cara penggunaannya pun harus dibuat. Komoditas diciptakan bukan untuk kepuasan konsumen. Obat seperti Prozac awalnya tidak memiliki jenis penyakit seperti apa yang tersedia dan bisa diatasi dengan obat itu. Karena itu, penyakitnya juga harus diciptakan sehingga menimbulkan apa yang disebut ‘generasi Prozac’. Sama halnya dengan obat yang apabila digunakan akan menghasilkan efek samping. Kemudian obat lain diproduksi untuk mengatasi efek samping itu. Teknologi yang diciptakan untuk mengatasi persoalan lingkungan juga menghasilkan persoalan lingkungan baru yang membutuhkan penciptaan teknologi baru lainnya. Tak ubahnya sebuah siklus industrialisasi.

3. Kontradiksi Alienasi Universal

Alih-alih humanisme universal, apa yang tampil dalam masyarakat kapitalis sekarang ini adalah alienasi universal. Konflik antara manusia dan alam sejatinya merupakan perluasan konflik antara sesama manusia.

Kapitalisme secara tradisional di atur oleh hukum politik oligarki dari suplai dan permintaan. Komoditas yang diproduksi saat ini semakin berkurang dan berbanding lurus dengan peningkatan marjin keuntungan yang dicapai. Kebutuhan ekonomi dan sifat tak terelakkan dari teknologi telah menunjukkan peningkatan investasi dan produksi, tapi tak berarti menambah jumlah lapangan pekerjaan.

Aktivitas bekerja memproduksi hubungan sosial kerja. Seseorang menjadi produktif hanya jika aktivitas tersebut dapat dijual. Jika tidak dapat dijual maka aktivitas tersebut dianggap tidak berharga. Kadang kala muncul argumen bantahan yang mengenaskan; kita harus menyukai pekerjaan, bukan pekerjaan yang menyukai kita. Dengan begitu, kita akan merasa senang dan bahagia dalam bekerja. Itu membuktikan mengapa para kapitalis dapat menemukan cara yang lebih mudah mengontrol orang-orang dengan menaklukan mereka untuk mengoperasikan mesin. Teknologi produksi telah diterapkan secara sistematis yang membutuhkan keahlian serta dapat membuat pekerja menjadi jinak. Padahal, jika kita melepaskan selubung kata-kata indah itu, sesungguhnya kita dipaksa bekerja agar supaya dapat memiliki barang-barang untuk dikonsumsi (Tapi tetap dikondisikan agar kita tidak bisa memiliki mesin produksi). Pekerjaan dilihat sebagai kekuatan dalam bermasyarakat, di mana tak seorangpun dapat meloloskan diri.

Kita menghadapi masa depan teknologi dan operasi masyarakat yang digunakan untuk memproduksi apa yang diinginkan oleh para kapitalis agar mudah menguasai orang-orang yang lemah dan mengontrol mereka. Sisi lain dari degradasi ini, rasionalisasi dan intensifikasi kerja menyebabkan lahirnya jumlah penyakit yang masif, stress dan kelainan mental. Semua hal tersebut akan meningkat secara tidak terelakkan sebagaimana teknologi modern memaksakan produktivitas yang lebih besar dari para pekerja. Pemujaan kerja dan konsumsi memiliki efek menghancurkan pada pikiran dan tubuh kita, terlebih lagi ketika kita menjadi pengangguran yang dijustifikasi semata tidak bisa membeli komoditas. Dipaksa untuk bekerja, berarti dipaksa untuk mengkonsumsi. Sebuah sistem di mana ketidaksetaraan dan pembagian masyarakat tetap berlangsung karena hierarki pekerja menciptakan hierarki sosial yang destruktif (merusak). Tanpa sadar, atau bahkan disadari tapi acuh tak acuh, terjadi proses alienasi dan reifikasi.

Alienasi adalah keadaan mental manusia yang ditandai oleh perasaan keterasingan dari segala hal; dari sesama manusia, alam, lingkungan, bahkan terasing dari dirinya sendiri. Hal ini terkait dengan gejala reifikasi, yaitu keadaan mental manusia modern yang menghayati dirinya sendiri sebagai benda atau objek. Segala sesuatu pada akhirnya dilihat sebagai benda. Dunia reifikasi adalah dunia keterasingan. Praktik-praktik konsumerisme dan hedonisme pada kehidupan manusia modern sejatinya merupakan pelarian dari bentuk-bentuk alienasi dan reifikasi.

Tentu saja, akumulasi modal tidak akan pernah berhenti. Kelas kapitalis tidak akan rela menyerahkan kekuasannya. Reproduksi masyarakat kapitalis terus berlanjut. Masyarakat semakin teralienasi dan terpenjara oleh kepentingan-kepentingan pribadi untuk memenuhi prakondisi-prakondisi ‘modern’, dan terpenjara oleh relasi ekonomistik yang memupuk krisis eksistensi. Konsumerisme dan hedonisme hanya pelarian, bukan jalan keluar. Kelas pekerja harus menghancurkan dinding alienasi, tapi terkadang yang menyurutkan langkah adalah persoalan keterbatasan. Berbagai macam alasan dibuat sebagai pembenaran. Namun ada sesuatu yang terlupa bahwa, keterbatasan manusia bisa menjadi alat pemberontakan. Dengan kata lain, dengan keterbatasan, manusia melakukan pemberontakan untuk mendapatkan kebebasan (atau nilai-nilai yang diperjuangkan). Manusia tidaklah bebas. Andaikan manusia memang bebas berarti manusia tidak dapat melakukan pemberontakan. Hanya manusia yang tidak bebas yang dapat melakukan pemberontakan. Yang dimaksud di sini adalah pemberontakan terhadap dinding keterasingan di dalam diri tiap individu.

Artikel ini pertama kali dipublikasikan di: siperubahan.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s