Kontradiksi dalam Masyarakat Kapitalis (Bag. 2)


Kontradiksi Masyarakat Kapitalis

Kontradiksi fondasional atas modal tidak terisolasi antara satu dengan yang lain. Mereka saling menyandera dalam berbagai cara untuk menyediakan arsitektur dasar bagi akumulasi modal. Kontradiksi fondasional adalah fitur modal yang konstan di segala ruang waktu. Sedangkan satu-satunya hal yang konstan tentang kontradiksi adalah ketidakstabilan dan terus berubah-ubah. Dalam Moving Contradictions, sifat dasar kontradiksinya harus dijelaskan dan dipahami terlebih dahulu. Dengan demikian, kita dapat memahami perubahan-perubahan dalam lintasan evolusi yang kemudian memprediksi kemungkinan-kemungkinan peristiwa di masa depan. Evolusi bukan sesuatu yang pra-destinasi. Tidak pula acak atau suatu kecelakaan historis. Tapi karena laju perubahan evolusioner cenderung relatif lambat (bisa berabad-abad), hal itu memungkinkan kita untuk memperkirakan prospek masa depan serta dilema di masa kini.

Sangat penting untuk menangkap pergerakan kontradiksi-kontradiksi ini lantaran ketidakstabilan dan perubahan-perubahan yang terjadi memberikan kesempatan politik, dan pada saat yang sama juga menimbulkan permasalahan serius. Ide dan strategi politik yang masuk akal dalam satu ruang waktu tidak selalu berlaku di ruang waktu lainnya. Banyak gerakan politik telah gagal karena berusaha untuk menggelontorkan ide dan ambisi yang menabrak batas tanggal kadaluarsa mereka. Kita harus mengenali pola-pola perubahan untuk memprediksi kontradiksi yang berkembang pesat di masa selanjutnya. Dalam Moving Contradictions ada sejumlah kontradiksi sebagai berikut;

1. Kontradiksi Teknologi, Pekerjaan, dan Limbah Manusia

Modal terikat untuk terus menyokong sistem oligarki dan plutokrasi dalam struktur kelas yang semakin rentan, di mana masyarakat penduduk dunia memilih untuk bertahan hidup atau mati kelaparan. Tapi yang jelas bahwa, peningkatan dramatis dalam produktivitas dicapai dengan bentuk modal dalam pola-pola pergerakan kontradiktif yang sewaktu-waktu bisa menimbulkan ledakan krisis. Tujuan langsung dari modal adalah keuntungan, yang diterjemahkan secara sosial ke dalam akumulasi modal sebagai dana abadi dan reproduksi kekuasaan kelas kapitalis. Untuk tujuan ini, kapitalis beradaptasi dan membuat perangkat keras teknologi (seperti mesin dan komputer), perangkat lunak (seperti pemrograman mesin), dan juga bentuk-bentuk pengorganisasian teknologi (seperti komando dan kontrol struktur atas penggunaan tenaga kerja). Tujuan jangka pendek modal adalah untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi dan tingkat keuntungan, dan untuk membuat produk baru yang lebih menguntungkan.

Perusahaan-perusahaan kapitalis, dalam persaingan dengan satu sama lain, berusaha untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas masing-masing untuk mendapatkan keuntungan berlebih dibandingkan dengan pesaing mereka. Mereka yang berhasil akan berkembang pesat, sementara yang lain tertinggal. Tapi keunggulan kompetitif dari bentuk-bentuk organisasi superior, mesin-mesin produksi, atau pengendalian persediaan secara ketat, biasanya akan berumur pendek. Perusahaan-perusahaan yang saling bersaing dapat dengan cepat mengadopsi metode baru. Maka dari itu, muncul teknologi-teknologi yang yang dipatenkan atau dilindungi oleh kekuatan monopoli.

Modal bukanlah satu-satunya agen yang terlibat dalam mengejar keunggulan teknologi. Berbagai aparatur negara juga selalu terlibat. Yang paling menonjol, tentu saja, adalah militer yang memanfaatkan teknologi untuk persenjataan yang paling canggih. Peperangan adalah perlombaan persenjataan yang sangat terkait dengan gelombang inovasi teknologi. Bahkan dalam sejarah awal kapitalisme, teknologi persenjataan telah memainkan peran dominan. Tapi berbagai aspek lain juga terlibat dalam pembangunan keunggulan teknologi para kapitalis dan perusahaan-perusahaan mereka dalam mengembangkan bentuk-bentuk teknologi baru. Semisal administrasi negara yang berkenaan dengan pengadaan dan pembayaran pajak, manajemen finansial, pemetaan lahan dan batas teritorial, pelatihan kepolisian, teknologi medis, dan prosedur lainnya yang digunakan untuk mengontrol seluruh populasi. Kolaborasi penelitian dan pengembangan antara sektor pemerintah dan swasta yang berkaitan dengan teknologi militer, medis, kesehatan masyarakat dan energi telah meluas.

Upaya menghentikan laju perkembangan teknologi yang kian cepat dan makin kuat di dalam masyarakat kapitalis ini separuhnya berisi kesia-siaan dan separuh lainnya kesombongan. Teknologi tumbuh sendiri melampaui pengendalian manusia. Tidak ada yang tidak bisa dilampaui teknologi. Tidak pula ada yang bisa menghentikan gerak laju dan mengarahkan sasarannya. Teknologi adalah mesin pendobrak yang di atasnya globalisasi kapitalisme menjamahi tiap inci muka bumi mengeruk semua yang dapat mengakumulasikan dan ekspansi kapital. Munculnya otomatisasi permesinan di masa depan, menurut Marx, adalah kelanjutan logis perkembangan permesinan dalam kapitalisme industri. Peningkatan daya teknologi merupakan prasyarat bagi akumulasi dan ekspansi kapital lebih lanjut. Ketika teknologi sudah sedemikian ‘kurang produktif’-nya untuk memenuhi kebutuhan akan akumulasi dan ekspansi kapital, maka revolusi permesinan akhirnya akan mencapai tahap otomatisasi, yaitu ketika mesin-mesin sudah bukan sekadar alat atau kepanjangan tangan tenaga manusia (atau hewan), tapi justru mengganti mereka.

Pandangan Marx tentang otomatisasi yang di jamannya sendiri belum muncul, telah menjadi kenyataan di hari ini, dan Herbert Marcuse yang mengatakan masa depan manusia begitu suram sebentar lagi akan terbukti. Gejala yang belum terbayang Marx saat itu adalah perubahan drastis corak perekonomian global yang bergeser dari ekonomi riil ke ekonomi maya. Pergeseran ini dimungkinkan oleh perkembangan teknologi informatika yang kecepatannya jelas melebihi kecepatan perkembangan kapal uap. Manusia justru menempati posisi menjadi limbah dari mesin-mesin yang pernah dibuatnya. Pada saat itu, tenaga kerja manusia bisa digantikan sepenuhnya atau disingkirkan oleh mesin.

2. Kontradiksi Divisi-Divisi Ketenagakerjaan

Divisi-divisi atau kita bisa bilang pembagian kerja buruh adalah spesialisasi dari bentuk kerja sama individu yang melakukan serangkaian tugas dan peran khusus. Karena banyaknya tenaga kerja yang diperlukan bisa dirampingkan dan tugasnya dapat dikerjakan oleh para pekerja dengan spesialisasi tertentu, pembagian kerja pun menjadi sangat dibutuhkan. Memiliki pekerja yang melakukan tugas-tugas tertentu juga dapat mengeliminasi periode pelatihan kerja yang panjang untuk melatih seorang pekerja.

Pembagian kerja yang semakin rinci dan peningkatan teknologi mesin-mesin membuat para kapitalis bisa memproduksi lebih banyak komoditas dengan jumlah tenaga kerja yang sama sehingga harga per satuan komoditasnya menjadi lebih murah. Tetapi, ia harus menjual lebih banyak komoditas, apalagi peningkatan teknologi produksi yang dilakukannya memiliki ongkos tersendiri. Dengan menjual lebih banyak komoditas yang harga satuannya lebih murah, ia bisa memenangkan persaingan dari kapitalis lain.

Jadi, para kapitalis berlomba-lomba untuk terus memerinci pembagian kerja dan meningkatkan teknologi mesin-mesin agar bisa menang bersaing. Apa dampaknya bagi pekerja? Pembagian kerja yang semakin rinci membuat satu orang bisa melakukan pekerjaan banyak orang. Pembagian kerja yang semakin rinci juga membuat pekerjaan semakin sederhana dan mudah dipelajari sehingga pekerjaan-pekerjaan yang ada semakin terbuka bagi banyak orang. Akibatnya, timbul kasta-kasta tenaga kerja. Begitu juga dengan persaingan antar-pekerja yang semakin meningkat sehingga upah cenderung turun. Pekerjaan yang semakin mudah juga mendorong turunnya ongkos produksi tenaga-kerja yang menjadi determinan upah lantaran yang dibutuhkan kemudian adalah pekerja tak terdidik.

3. Kontradiksi Monopoli dan Kompetisi; Sentralisasi dan Desentralisasi

Pembagian kerja pada skala internasional menjadikan aktivitas pengoordinasian manusia atau pengorganisasian buruh telah melewati batas nasional. Tangan tak kasatmata dijalankan oleh politik dan kuasa dalam level domestik maupun global. Kekayaan dan kesejahteraan yang ditawarkan oleh kapitalisme ditujukan hanya untuk beberapa orang saja, tapi mayoritas orang atau pihak yang notabene bertindak sebagai pekerja akan dihadapkan pada kondisi kemiskinan dan kesengsaraan. Pasar dengan sistem kapitalisme didalamnya akan menghasilkan ketimpangan dalam struktur sosial.

Sistem dunia kapitalis dibagi ke dalam tiga jenis, yaitu negara core atau pusat, semi-periferi atau setengah pinggiran, dan negara periferi atau pinggiran. Perbedaan bagi ketiga jenis negara ini adalah kekuatan ekonomi dan politik dari masing-masing kelompok. Kelompok negara-negara kuat (pusat) mengambil keuntungan yang paling banyak karena kelompok ini dapat memanipulasi sistem dunia sampai batas-batas tertentu dengan kekuatan dominasi yang dimilikinya. Kemudian negara semi-pinggiran mengambil keuntungan dari negara-negara pinggiran yang merupakan pihak yang paling dieksploitir.

Namun sebelum lahirnya sistem dunia tersebut, tatanan yang ada lebih menyerupai kekuasaan yang didominasi oleh satu negara, dan negara tersebut tetap mempertahankan kekuasaannya. Munculnya negara-negara semi-pinggiran dikarenakan jika hanya ada dua kutub; negara pusat dan pinggiran maka peperangan akan muncul dengan mudah dalam sistem dunia seperti itu. Peperangan adalah produk alami dari siklus panjang atau siklus dalam sistem global. Masyarakat internasional adalah komunitas anarkis, dan perang tidak lain adalah keputusan sistemik yang menekankan pergerakan sistem pada interval yang teratur yang merupakan bagian hidup dari pemerintahan global dan tatanan sosial. Pada kenyataannya, setiap periode di dunia pernah dipegang oleh hanya satu negara adidaya seperti pada abad ke-16 yang dipegang oleh Portugis, abad ke-17 oleh Belanda, abad ke-18 dan ke-19 yang dipegang oleh Inggris, dan dunia yang dipegang oleh Amerika Serikat pasca Perang Dunia II sampai sekarang. Akan tetapi, dengan kemunculan negara semi-pinggiran maka iklim ekonomi baru.

Moving contradictions terletak pada negara-negara yang bisa naik dan juga bisa turun kelas. Negara pusat bisa saja menjadi negara semi-pinggiran; dan negara semi-pinggiran bisa menjadi negara pusat atau negara pinggiran; dan negara pinggiran bisa menjadi negara semi-pinggiran. Kontradiksi yang terjadi adalah ketika setiap negara saling bersaing untuk mengeksploitasi. Para pemilik modal bisa memindahkan modalnya dari tempat yang sudah tidak lagi efisien ke tempat baru yang sedang tumbuh. Hal ini karena di negara pusat yang sebelumnya merupakan ekonomi unggul mengalami penurunan atau kehilangan keuntungan biaya komparatif sebagai akibat meningkatnya upah yang terus menerus karena eksploitasi buruh di negara-negara pinggiran.

4. Kontradiksi Perkembangan Geografis yang Tidak Merata dan Produksi Ruang

Kontradiksi antara modal dan tenaga kerja, persaingan da nmonopoli, milik swasta dan negara, sentralisasi dan desentralisasi, dinamika dan inersia, kemiskinan dan kekayaan, serta antara skala yang berbeda dari aktivitas, semua ini menyumbang perubahan-perubahan dalam lanskap geografis. Di antara seluruh kekuatan yang beragam, prioritas telah diberikan pada upaya kombinasi dari proses-proses akumulasi modal molekuler yang tak terbatas oleh ruang waktu dan usaha untuk mengatur ruang lanskap dengan beberapa cara yang sistematis melalui pelaksanaan kekuasaan negara. Lanskap geografis yang dibentuk modal tidak hanya produk pasif, melainkan turut berkembang menurut aturan dan kesiapan tertentu yang otonom, tapi bertentangan dengan logikanya sendiri. Perkembangan lanskap yang memengaruhi akumulasi modal layaknya kontradiksi modal dan kapitalisme yang dimanifestasikan dalam ruang waktu. Cara di mana lanskap geografis berkembang telah memainkan peran kunci dalam pembentukan krisis. Tanpa pengembangan geografis yang tidak merata dan kontradiksi, modal akan jatuh ke dalam kekacauan. Sedangkan tidak meratanya lanskap geografis merupakan sarana utama di mana modal memperbarui dirinya sendiri secara berkala.

Waktu adalah uang. Melintasi ruang membutuhkan waktu dan uang. Ekonomi waktu dan uang adalah kunci untuk profitabilitas modal. Kondisi geografis suatu negara akan menentukan peristiwa-peristiwa yang memiliki pengaruh secara global (termasuk perubahan negara pusat, semi-pinggiran, dan pinggiran). Ekspansi kapital mencari cara untuk mampu merealisasikan nilai tambah melalui penguasaan geografis sumber daya pendukung. Atas landasan ini, para kapitalis akan selalu menciptakan lahan produksi baru yang koheren dengan kategori sosial maupun nilai-nilai pendukung berdasarkan keistimewaan suatu kawasan. Watak yang ingin menguasai seluruh dunia dan menjadikan emas seluruh lahan yang disentuh, tumbuh berkembang dalam bentuk kolonialisme atau imperalisme. Demikian pula dalam cara-cara pemaksaan perekonomian global yang halus, atau melalui program penyesuaian struktural dengan dalil humanisme universal. Sebagai penopang hidupnya, ekspansi modal selalu membutuhkan agen yang memiliki kekuasaan di tingkat negara untuk menguasai ekonomi regional. Segala sesuatu dilakukan atas landasan untuk mengejar keuntungan yang sebesar-besarnya melalui penguasaan struktur produksi dan distribusi.

Kontradiksi muncul karena ruang-ruang dinamis akumulasi modal, pada akhirnya, menghasilkan surplus dan memerlukan cara baru untuk menyerap semuanya melalui ekspansi geografis. Oleh karena itu, para kapitalis berupaya memenangkan tender di bidang konstruksi, transportasi, dan distribusi. Salah satu sektor yang juga dianggap penting adalah sektor infrastuktur. Ini membuat penyediaan pembangunan infrastruktur menjadi tujuan investasi internasional untuk mencari keuntungan. Dana-dana yang mengalami kejenuhan dalam pasar keuangan kemudian beralih ke sektor infrastuktur dan menjadi dasar bagi tumbuhnya pasar keuangan yang baru.

Paradigma penyediaan barang publik seperti infrastruktur telah bergeser secara mendasar, yang sebelumnya merupakan tanggung jawab negara menjadi tanggung jawab swasta. Infrastruktur yang seharusnya dibiayai dengan pajak yang dibayarkan oleh rakyat, justru diserahkan kepada investor swasta dan melibatkan investasi publik. Infrastruktur akan dijadikan sebagai strategi untuk memobilisasi dana massa ke dalam pasar keuangan melalui bank-bank investasi dan bursa saham.

Pasar infrastruktur dijadikan dasar dalam menggerakkan kembali sektor manufaktur yang berasal dari pertambangan, besi baja, dan otomotif yang dalam beberapa waktu terakhir mengalami gejala kelebihan produksi dan penurunan konsumsi. Misalnya, negara-negara penghasil besi baja utama seperti China, India, AS, Korea, Jepang, dan Eropa telah kehilangan pasar secara signifikan. Masing-masing negara penghasil besi baja tersebut berusaha memburu pasar dunia dengan sekuat tenaga yang antaranya menggunakan instrumen perdagangan bebas.

Selain itu, pasar infrastuktur akan membantu pemulihan sektor keuangan yang juga mengalami kebangkrutan. Dana-dana yang berputar dalam pasar keuangan yang saat ini mengalami kemandekan dan menyebabkan perekonomian cenderung bergerak negatif akibat tidak adanya ekspektasi baru, nantinya akan kembali dapat digairahkan. Besarnya kebutuhan dana infrastruktur tersebut akan mendorong perbankan internasional mengambil peran besar dalam menyediakan dana yang diperlukan bagi kebutuhan investasi infrastruktur. Lembaga keuangan internasional seperti International Monetary Fund (IMF), World Bank (WB) dan Asian Developmnet Bank (ADB), berlomba-lomba menyediakan dana yang besar dalam rangka mendukung sektor infrastruktur. Selain itu bank-bank milik pemerintah negara maju seperti Japan Bank for International Cooperation (JBIC) siap membiayai perusahaan-perusahaan nasional Jepang untuk melakukan investasi infrastruktur di luar negeri. Demikian pula halnya dengan bank investasi terkemuka seperti JP Morgan yang merupakan lembaga keuangan yang memiliki 20,000 klien, termasuk korporasi, negara, organisasi pelayanan kesehatan, institusi pendidikan, bank dan investor, yang beroperasi di sekitar lebih dari 100 negara, telah menyediakan layanan lengkap dalam memberikan fasilitas keuangan dalam pembangunan infrastuktur dan tinggal menunggu saat yang tepat untuk mengarahkan dana mereka dalam investasi tersebut.

5. Kontradiksi Disparitas Penghasilan dan Kekayaan

Kontradiksi utama di sini adalah soal kesenjangan distribusi pendapatan dan kemiskinan. Tidak meratanya distribusi pendapatan memicu terjadinya masalah kemiskinan. Permasalahan ini tidak hanya dihadapi oleh negara pinggiran dan semi-pinggiran. Bahkan negara pusat sekalipun, tidak terlepas dari permasalahan ini. Perbedaannya terletak pada proporsi atau besar kecilnya tingkat kesenjangan dan angka kemiskinan yang terjadi, serta tingkat kesulitan mengatasinya yang dipengaruhi oleh luas wilayah dan jumlah penduduk suatu negara. Semakin besar angka kemiskinan, semakin tinggi pula tingkat kesulitan mengatasinya. Negara maju menunjukkan tingkat kesenjangan pendapatan dan angka kemiskinan yang relatif kecil dibanding negara pinggiran, dan untuk mengatasinya tidak terlalu sulit mengingat Gross Domestic Product (GDP) atau Produk Domestik Bruto (PDB) dan Gross National Product (GNP) atau Produk Nasional Bruto (PNB) mereka relatif tinggi.

Berbagai upaya yang telah dan sedang dilakukan seperti bantuan maupun pinjaman dari beberapa lembaga internasional seperti IMF dan Bank Dunia serta lembaga-lembaga keuangan internasional lainnya, justru acapkali berperan dalam kesenjangan itu sendiri. Pada kenyataannya, PDB negara yang tinggi belum tentu mencerminkan meratanya distribusi pendapatan. Ini menunjukkan pendapatan masyarakat yang tidak selalu merata, bahkan cenderung sebaliknya, dan mengakibatkan terjadinya disparitas. Negara-negara pinggiran yang bergantung pada eksploitasi sumber daya alam, apalagi itu dikelola oleh swasta dengan presentase bagi hasil yang timpang, ditambah upah buruh rendah, justru akan semakin melebarkan jurang kesenjangan. Kontradiksi tampak ketika sirkulasi dan akumulasi modal semakin menumpuk di segelintir orang. Seolah pertumbuhan ekonomi melaju pesat, tapi pendapatan masyarakat semakin timpang. Bukan hanya tidak merata dalam distribusi, tapi juga dalam produksi yang disebabkan tidak meratanya lanskap geografis. Biasanya dalam masyarakat kapitalis, kesenjangan ini terus dipelihara.

Ketidaksetaraan ini berasal dari fakta sederhana bahwa, modal dikonstruksi secara sosial dan historis sebagai kelas dominan atas tenaga kerja. Distribusi pendapatan dan kekayaan antara modal dan tenaga kerja sengaja timpang agar modal terus direproduksi. Kesetaraan distribusi dan modal dianggap tidak kompatibel. Kesenjangan distribusi tertentu sebenarnya mendahului kenaikan modal. Pekerja harus “dibajak” dari kepemilikan dan kontrol atas sarana produksi mereka sendiri dan dipaksa menjadi pekerja upahan untuk hidup. Kondisi distribusi seperti ini mendahului produksi nilai tambah dan itu harus dipertahankan dari waktu ke waktu. Setelah sirkulasi dan akumulasi modal sampai batas dianggap sesuai umumnya pasar, tingkat upah harus dijaga dalam batas yang memungkinkan membuat keuntungan. Bila ada langkah-langkah untuk memaksimalkan keuntungan berarti sama saja harus mengendalikan tingkat upah atau meningkatkan produktivitas tenaga kerja. Persaingan ketat antara modal-modal menyebabkan penurunan umum dalam upah, tidak peduli apakah individu kapitalis menghendaki penurunan itu atau tidak. Ironisnya, ketika ada seruan untuk kesetaraan di mata hukum, politik, dan hak-hak asasi masyarakat sipi, tapi justru terjadi ketidaksetaraan dalam distribusi penghasilan dan kekayaan.

6. Kontradiksi Reproduksi Sosial

Konon dahulu dikatakan bahwa modal tidak memedulikan kondisi kemelaratan pekerja. Kondisi ini membuat para pekerja berinisiatif untuk mereproduksi diri mereka sendiri secara biologis, psikologis dan kebudayaan, yang didasari upah rendah yang diberikan oleh modal. Para pekerja harus patuh karena mereka tidak punya pilihan. Ini adalah situasi yang dihadapi Karl Marx dan membuatnya mempertanyakan reproduksi sosial tenaga kerja di satu sisi dengan teorisasi ekonomi politik modal. Tapi jika buruh tidak memperbanyak diri, atau bekerja dalam kondisi memprihatinkan sehingga lebih cepat menemui ajal (seperti kerja paksa dalam tambang-tambang atau bunuh diri akibat tekanan pekerjaan di pabrik-pabrik), dan jika akses terhadap modal untuk surplus tenaga kerja diblokir, maka modal tidak dapat mereproduksi. Marx berpandangan bahwa, cara-cara seperti itu dianggap penting lantaran untuk melindungi reproduksi modal, tapi lebih penting pula untuk melindungi kehidupan para buruh. Kontradiksi antara kondisi yang diperlukan untuk memastikan reproduksi sosial tenaga kerja dan kondisi yang dibutuhkan untuk mereproduksi modal, kerap muncul kapan dan di mana pun. Namun selama dua abad terakhir berkembang menjadi kontradiksi yang jauh lebih menonjol dan kompleks dengan munculnya sistem pabrik dan meningkatnya kompleksitas dan metode-metode yang rumit dari sistem produksi modal.

Reproduksi sosial tenaga kerja dilakukan dengan memberikan upah kepada pekerja sebagai ongkos untuk membayar pemulihan tenaga kerja si pekerja agar ia bisa bekerja lagi keesokan harinya. Tercakup di sini, (1) ongkos pemenuhan kebutuhan si pekerja yang bukan hanya bersifat ‘biologis’ tapi yang juga merupakan konstruksi sosial-historis, dan (2) ongkos penciptaan tenaga kerja baru yang akan menggantikan si pekerja kelak ketika ia meninggal dunia (pemeliharaan anak). Di sini, tercakup pula ongkos reproduksi keterampilan si pekerja, yang dalam kapitalisme, kebanyakan dilakukan sebelum si pekerja masuk ke dunia kerja, yaitu di sekolah dan lembaga pendidikan lainnya. Namun, kapitalisme tidak hanya mereproduksi keterampilan yang nanti akan berguna untuk bekerja, seperti baca, tulis, dan juga beragam pengetahuan lainnya, tetapi ia juga mereproduksi ketundukan terhadap aturan-aturan kapitalisme―dan untuk elite atau ‘calon elite’. Kapitalisme juga mereproduksi kemampuan menundukkan pekerja―melalui berbagai aparatus yang ada di wilayah suprastruktur alias legal-politis. Di sini, kapitalisme tidak lagi hanya mereproduksi tenaga kerja sebagai kekuatan produktif, tapi juga mereproduksi relasi kelas yang eksploitatif antara kapitalis dengan buruh. Maka kemudian muncul istilah aparatus represi negara dan aparatus ideologi negara.

Negara sebagai ‘mesin represi’ untuk memastikan dominasi kelas yang berkuasa atas kelas pekerja. Fungsi ini dilakukan oleh beragam aparatus negara. Apakah itu aparatus represi maupun aparatus ideologi negara, keduanya sama-sama menggunakan tindakan represif dan juga jalur ideologi. Bedanya cuma soal kerja utamanya saja yang dominan apa represi atau ideologi. Akan tetapi, dalam masyarakat kapitalis, kelas pekerja dikonstruksi sebagai subjek dalam proses produksi yang mana ketika mereka memainkan peran reproduksi modal, mereka tidak merasa ”dipaksa” dari luar, tapi merasakannya sebagai sesuatu yang memang mereka lakukan dengan suka rela.

7. Kontradiksi Kebebasan dan Dominasi

Menyambung soal pekerja yang dikonstruksi agar tidak merasa “dipaksa”, dan bahkan suka rela melakukan proses produksi. Apa yang tampak di sini adalah gambaran kontradiksi dalam masyarakat kapitalis mengenai kebebasan dan dominasi. Nyatanya, kita akan menemukan hierarki totalitarian yang sama di dalam suatu kantor atau pabrik seperti halnya dalam penjara atau biara. Seorang pekerja merupakan budak paruh waktu. Majikan memerintahkan kapan waktunya datang dan pergi serta apa yang harus dilakukan pada saat itu. Ia memberitahu berapa banyak pekerjaan yang harus dilakukan dan dalam berapa. Ia bebas melaksanakan kontrol dan mengatur pakaian yang dikenakan buruh, atau bahkan membuat aturan yang merendahkan mereka. Ia dapat memecat buruh untuk beberapa alasan yang dibuat-buat, atau malah tanpa alasan sama sekali. Ia memata-matai pekerjanya melalui para pengadu bernama supervisor, dan sengaja menciptakan situasi senioritas di dalam proses produksi. Ia memiliki catatan mengenai semua pekerjanya. Pekerja yang membantah disebutnya “pembangkangan” seolah-olah pekerja merupakan seorang anak kecil yang nakal, dan hal tersebut bukan hanya dapat memecat mereka, tapi juga menghilangkan kompensasi pesangon. Sistem dominasi yang merendahkan seperti ini telah mengatur lebih dari separuh waktu yang dimiliki mayoritas perempuan dan pria saat mereka terjaga dalam banyak dekade peradaban manusia, dan juga dalam sebagian besar rentang hidup mereka. Akan semakin konyol bila kita mengatakan bahwa para pekerja adalah orang-orang bebas.

Sebagaimana diutarakan filsuf Perancis Michel Foucault bahwa, negara menjalankan strategi kuasa agar dominasi dan teknologi pendisiplinan terinternalisasi dalam diri individu. Ini berarti bahwa, konsepsi dominan mengenai kebebasan dan kemerdekaan masih dan terus tertanam dalam relasi sosial dan karakteristik kode-kode pasar pertukaran yang berdasarkan kepemilikan pribadi dan kepentingan hak-hak individu. Ini secara eksklusif mendefinisikan wilayah kebebasan versi mereka yang tidak dapat disanggah. Tatanan sosial dibangun sebagaimana ungkapan Marcuse bahwa, masyarakat kapitalis telah mengembang dan mengisi semua ruang sosial kita; telah menjadi suatu semesta politis selain psikologis. Kekuasaan totalitarian ini mempertahankan hegemoninya dengan merampas fungsi kritis semua oposisi, dan dengan memaksakan kebutuhan-kebutuhan palsu melalui iklan, kendali pasar, dan media. Maka, kebebasan itu sendiri menjadi alat dominasi, dan akal menyembunyikan sisi gelap irasionalitas. Inilah yang disebut Marcuse dengan ‘toleransi represif’ di mana ada batas-batas ketat yang tidak berhak diganggu gugat, yang selalu menekankan kemajuan kebebasan dan kemerdekaan. Sementara pada saat yang sama, retorika toleransi dikerahkan agar kita menoleransi apa saja yang sesungguhnya tidak dapat ditoleransi.

Selanjutnya kita akan membahas tentang kontradiksi-kontradiksi terakhir yang diistilahkan dengan Dangerous Contradictions.

Artikel ini dipublikasikan pertama kali di: siperubahan.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s