Benarkah yang Membangun Piramida adalah Para Budak Yahudi?


bangun piramid

Ada sebuah cerita populer tentang keberadaan orang-orang Yahudi sebagai budak yang membangun piramid, tapi semua dokumenter dan bukti sejarah memberitahu kita bahwa tidak ada orang-orang Yahudi di Mesir pada saat piramida dibangun. Mitologi populer mengatakan bahwa para budak Yahudi membangun piramida di bawah cambuk penguasa Mesir Kuno (Firaun). Cerita yang kita dengar ini tampaknya menjadi dasar untuk kepercayaan populer bahwa, orang-orang Yahudi dipaksa untuk membangun piramida di Mesir. Kemudian mereka diselamatkan oleh seorang juru selamat yang memimpin untuk meninggalkan Mesir dengan sebuah peristiwa eksodus. Itulah cerita di mana kita dibesarkan untuk selalu memercayainya, dan cerita itu diulang terus-menerus oleh film-film Hollywood.

Pada tahun 1956, aktor Charlton Heston berperan sebagai Musa pergi berhadap-hadapan dengan Yul Brynner sebagai Firaun Ramses II dalam film The Ten Commandments, yang mana sosok Musa telah dihanyutkan di sungai Nil dalam keranjang untuk menghindari kematian dengan perintah Ramses bahwa, semua anak laki-laki Ibrani yang baru lahir bisa dibunuh. Lebih dari 40 tahun kemudian, DreamWorks menceritakan kisah yang sama dalam film animasi Prince of Egypt.

Pada tahun 1977, Perdana Menteri Israel Menachem Begin mengunjungi Museum Nasional Mesir di Kairo dan menyatakan “Kamilah membangun piramida.” Tentu saja hal itu mengejutkan banyak orang, dan memicu kemarahan rakyat Mesir yang merasa bangga dengan warisan sejarah negeri mereka. Keyakinan bahwa, orang-orang Yahudi membangun piramida mungkin menonjol bagi seluruh populasi Kristen dan Yahudi, tapi pastinya tidak demikian dengan orang-orang Mesir.

Budaya pop memiliki cara mengaburkan sejarah (pseudohistory) dari fakta-fakta, dan banyak orang yang akhirnya tidak pernah mendengar kenyataan sejarah sama sekali; dan yang tersisa hanya pseudohistory sampai tidak ada alasan lagi untuk meragukannya. Hal ini tidak hanya patut disayangkan, tapi juga berbahaya. Dalam ucapan Primo Levi sebagaimana yang tertulis di Monumen Museum Holocaust di Berlin, “Itu terjadi, karenanya itu bisa terjadi lagi.” Sejarah abad 20 orang-orang Yahudi mungkin menjadi yang paling penting, dan paling sulit dipelajari (apalagi diutak-utik) lantaran ada pelajaran berharga lainnya bahwa, kemanusiaan pernah dinodai pengalaman memilukan yang tak sanggup dibayangkan. Namun, melupakan atau mendistorsi sejarah adalah hal yang selalu salah, dan tidak pernah menjadi kepentingan terbaik bagi pihak mana pun.

Untuk menemukan kebenaran, kita perlu mengambil sikap kritis melihat bukti-bukti arkeologi dan sejarah untuk mengetahui sejarah Yahudi di Mesir. Untuk melakukan ini secara bertanggungjawab, pertama kita harus mengenyampingkan setiap motivasi ideologis yang akan mencemari usaha kita. Kita juga tidak dapat mengatakan penelitian tersebut adalah penentangan karena berusaha untuk menyangkal Alkitab atau Taurat; kita tidak akan mengatakan penelitian tersebut adalah keharusan moral karena doktrin agama telah melakukan penipuan; dan kita tentunya tidak akan berpura-pura bahwa, penelitian ini termotivasi perihal ras terhadap orang Yahudi atau Mesir. Kita hanya ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, karena kebenaran sejarah sangatlah penting.

Pertama, kita harus mendapatkan definisi yang tepat. Istilah seperti Yahudi dan Ibrani tidaklah sama. Sebutan Yahudi adalah bagi seseorang yang praktek agama Yahudi. Sedangkan Ibrani adalah seseorang yang berbicara bahasa Ibrani. Seorang Israel adalah yang berwarga negara Israel. Sebutan Semit adalah untuk anggota dari sebuah kelompok etnis yang ditandai dengan salah satu bahasa Semit termasuk bahasa Arab, Ibrani, Assyria, dan banyak kelompok-kelompok kecil di seluruh Afrika dan Timur Tengah. Anda bisa saja menjadi salah satunya atau keseluruhan dari tiap istilah itu. Seorang Israel tidak perlu menjadi seorang Yahudi, dan seorang Yahudi tidak perlu menjadi Ibrani. Kebingungan atas penggunaan istilah-istilah ini mempersulit penelitian. Ibrani dapat terintegrasi dengan baik ke dalam masyarakat non-Yahudi, tapi pelaporan modern mungkin merujuk mereka sebagai orang-orang Yahudi, yang dapat secara signifikan akan menyesatkan.

Namun, mari kita lepaskan hal itu. Mari kita coba untuk menjawab sebuah pertanyaan. Adakah para budak Yahudi (jewish slaves) di Mesir kuno? Apakah piramida dibangun oleh budak-budak tersebut? Apakah Eksodus memang terjadi seperti yang umum diyakini orang-orang?

Bukti terbesar dan paling jelas adalah piramida sendiri sebagai titik awal yang mudah. Usia Piramida sudah banyak diteliti oleh para ilmuwan. Sebagian besar Piramida Giza di Necropolis (yang terdiri dari landmark terkenal seperti Piramida Besar Cheops dan Sphinx), antara piramida yang tertua besar Mesir, diperkirakan selesai sekitar 2540 SM. Sebagian besar piramida besar Mesir dibangun selama periode 900 tahun dari sekitar 2.650 SM sampai sekitar tahun 1750 SM.

Kita juga tahu cukup banyak tentang berapa tenaga kerja yang membangun piramida. Perkiraan terbaik adalah 10.000 orang menghabiskan 30 tahun untuk membangun Piramida Besar. Mereka tinggal di perumahan yang baik di kaki piramida, dan ketika mereka meninggal, mereka menerima penguburan terhormat di kuburan batu dekat piramida untuk berterimakasih atas kontribusi mereka. Informasi ini relatif baru karena makam para pekerja itu ditemukan pada tahun 1990. Dari hasil uji dan penelitian, diketahui mereka ternyata mendapat asupan makanan dengan baik dan menerima perawatan medis terbaik. Tidak seperti budak, mereka pun dibayar dengan baik. Para pembangun piramida direkrut dari masyarakat miskin dan bekerja dengan sistem shift per tiga bulan (termasuk petani yang bekerja selama bulan-bulan ketika Nil membanjiri pertanian mereka). Para Firaun pun mengalokasikan kekayaan dalam jumlah terbanyak kepada mereka. Setiap hari, 21 sapi dan 23 domba disembelih untuk memberi makan para pekerja. Hampir setiap fakta tentang pekerja yang telah ditunjukkan arkeologi kepada kita mengungkapkan bahwa, bukan para budak yang menjadi tenaga kerja untuk piramida.

Tidak sampai hampir 2.000 tahun setelah Piramida Agung menerima batu penjurunya yang paling awal, barulah sejarah mencatat bukti-bukti keberadaan Yahudi di Mesir, dan mereka tidak Ibrani atau Israel. Mereka adalah garnisun tentara dari Kekaisaran Persia yang ditempatkan di Elephantine, sebuah pulau di Sungai Nil, dimulai pada sekitar 650 SM.

Mereka berjuang bersama tentara Firaun ketika menyerang Nubia, dan kemudian menjadi portal perdagangan utama antara Mesir dan Nubia. Sejarah mereka ini diketahui dari naskah-naskah Elephantine yang ditemukan pada tahun 1903 dan dalam bahasa Aram (Aramaic), bukan bahasa Ibrani; dan keyakinan agama mereka tampaknya campuran Yahudi dan politeisme. Catatan arsip yang berhasil ditemukan juga menunjukkan bukti bahwa mereka mempraktikkan ritual Shabbat dan Paskah, begitu juga dengan catatan pernikahan lintas agama. Dalam konteks pembongkaran sejarah dari pop-pseudohistory, dalam catatan papirus itu ditemukan bukti bahwa, setidaknya beberapa dari para pemukim Yahudi di Elephantine yang justru memiliki budak Mesir.

Dokumentasi lainnya juga mengidentifikasi garnisun Elephantine sebagai imigrasi awal dari orang-orang Yahudi ke Mesir. Surat Aristeas, ditulis di Yunani di abad kedua SM, mencatat bahwa orang Yahudi telah dikirim ke Mesir untuk membantu Firaun Psammetichus I dalam kampanye melawan Nubia. Psammetichus I memerintah Mesir 664-610 SM, yang sesuai dengan catatan arkeologi dari garnisun Elephantine di 650.

Jika orang-orang Yahudi tidak berada di Mesir pada saat pembangunan piramida, bagaimana dengan Israel atau Ibrani? Israel sendiri tidak ada di Mesir sampai sekitar 1100 SM ketika berbagai suku Semit bergabung di Kanaan untuk membentuk kerajaan tunggal independen, setidaknya 600 tahun setelah penyelesaian terakhir dari piramida besar Mesir. Jadi, tidak mungkin untuk setiap orang Israel telah berada di Mesir pada saat itu, baik budak atau orang merdeka; dan belum ada semacam Israelite pada kurun waktu itu. Bukti paling awal dari keberadaan Bahasa Ibrani muncul adalah prasasti yang tertulis pada batu kapur, The Gezer Calendar, yang ditemukan pada tahun 1908. Sejarah Israel sangat erat dengan prasasti berbahasa Ibrani itu, dan untuk selama 3.000 tahun, mereka pada dasarnya satu budaya.

Tetapi jika tidak ada orang Yahudi atau Israel atau Ibrani di Mesir sampai berabad-abad setelah piramida dibangun, bagaimana kesalahan sejarah seperti itu bisa menjadi begitu tertanam dalam pengetahuan populer?

Kisah budak Yahudi membangun piramida berasal dari Herodotus dari Yunani, pada sekitar 450 SM. Dia sering disebut sebagai “Bapak Sejarah” karena dia berada di antara sejarawan pertama yang mendokumentasikan karyanya. Herodotus melaporkan dalam karyanya Book II of The Histories bahwa piramida dibangun dalam 30 tahun oleh 100,000 budak Yahudi. Pada kenyataannya, Herodotus hanya mengatakan 100.000 pekerja. Dia tidak menyebutkan baik orang Yahudi atau budak. Jadi, bahkan kepercayaan populer ini tampaknya menjadi kesalahan, dan asal gagasan Yahudi membangun piramida tetap menjadi misteri.

Sayangnya, pada masanya, garis antara fakta sejarah dan fiksi sejarah sangatlah kabur. Nilai dari studi sejarah tidak begitu banyak untuk melestarikan sejarah, melainkan untuk menjadi bahan pelengkap untuk cerita yang dibesar-besarkan; dan hasilnya, Herodotus juga disebut sebagai “Bapak Lies” dan sejarawan Yunani lainnya dari periode ini juga dikelompokkan dalam istilah “pembohong”. Banyak tulisan-tulisan Herodotus yang dianggap aneh oleh para sarjana modern. Kebetulan, teks Kitab Keluaran pada Perjanjian Lama diselesaikan hampir persis waktu yang sama seperti Herodotus menulis The Histories. Jelas, informasi yang sama tentang apa yang telah terjadi di Mesir 2.000 tahun sebelum itu tersedia untuk masing-masing penulis.

Yang membawa kita ke pertanyaan terakhir: Apakah ada Eksodus para budak Yahudi yang keluar dari Mesir? Tidak ada catatan dari hal seperti itu pernah terjadi, dan alasan sederhananya adalah bahwa tidak ada waktu di mana hal itu bisa terjadi.

Tidak ada catatan arkeologis yang ditemukan di Mesir berisi tentang referensi tunggal untuk apa pun yang dicatat dalam Kitab Keluaran; dan pada saat di mana orang Yahudi telah tinggal di Mesir cukup banyak—bahkan untuk melakukan eksodus, ternyata piramida telah selesai dalam waktu lama. Demikian pula, tidak ada dalam catatan sejarah tentang Firaun yang bernama Ramses memimpin pengejaran atas Musa dan pengikutnya sebagaimana kisah eksodus yang terkenal, dan juga kisah pembunuhan bayi-bayi Yahudi. Bahkan Ramses I belum lahir sampai waktu di mana Piramida Agung selesai dibangun. Cucunya, Ramses II, malah lahir lebih lama lagi dari masa pembangunan piramida.

Beberapa sejarawan berusaha untuk merasionalisasi kisah eksodus dengan menggambar garis paralel dengan kota-kota tertentu dan pusat perdagangan yang tumbuh atau menyusut selama berabad-abad karena berbagai alasan. Mungkin salah satu dari pergeseran ekonomi ini diinspirasi oleh kisah Keluaran. Yah, itu bisa jadi, tetapi sifat migrasi seperti itu, cukup jelas sangat berbeda dari apa yang digambarkan dalam Kitab Keluaran.

Pseudohistory mengenai Mesir kuno tentu tidak menghormati orang-orang Yahudi dan Mesir. Ini menggambarkan orang-orang Yahudi sebagai budak tak berdaya yang hanya berkontribusi dengan peluh keringat dan cambukan di punggung. Padahal, sebenarnya imigran Yahudi awal dihormati sebagai sekutu untuk Firaun dan mereka memberikan sumbangsih berharga terhadap perdagangan dan pertahanan. Pseudohistory juga mengaburkan kontribusi masyarakat Mesir kuno untuk pencapaian arsitektur terbesar kemanusiaan, dan menggambarkan mereka sebagai jahat, dan majikan orang yang haus darah. Hampir setiap kebudayaan di dunia pada masa itu dalam sejarah termasuk perbudakan dan konflik, dan Mesir mungkin tidak lebih baik atau lebih buruk daripada kebanyakan orang.

Memahami sejarah adalah penting untuk memahami diri kita sendiri. Meskipun cerita seperti Eksodus adalah amat penting untuk begitu banyak orang di seluruh dunia, ternyata sejarah itu menggambarkan kepalsuan. Dengan memahami sejarah sesungguhnya membuka pintu untuk pemahaman yang lebih baik dari siapa kita sebagai manusia—tidak peduli ras, warna kulit, atau budaya kita. Ini hanya satu dari sekian lebih manfaat yang disediakan oleh ilmu pengetahuan yang sejati (tidak tumpang tindih dengan mitologi atau hal-hal yang tidak bisa, atau bahkan tidak boleh untuk dikaji).

Diterjemahkan dari skeptoid.com

————————————–

Referensi

Awad, M. “Egypt tombs suggest pyramids not built by slaves.” Reuters. Thomson Reuters, 11 Jan. 2010. Web. 2 Feb. 2010. <http://www.reuters.com/article/idUSTRE6091E720100111&gt;

Comay, J. The Diaspora Story: The Epic of the Jewish People Among the Nations. New York: Random House, 1983.

Kraeling, E. Brooklyn Museum Aramaic Papyri: New Documents of the Fifth Century B.C. From the Jewish Colony At Elephantine. New York: Arno Press, 1969.

Lindenberger, J., Richards, K. Ancient Aramaic and Hebrew Letters. Atlanta: Scholars Press, 1994.

Omer, I. “Investigating the Origin of the Ancient Jewish Community at Elephantine: A Review.” Ancient Sudan-Nubia. Ibrahim Omer, 1 Jan. 2008. Web. 2 Feb. 2010. <http://www.ancientsudan.org/articles_jewish_elephantine.html&gt;

Porten, B. Archives from Elephantine: The Life of an Ancient Jewish Military Colony. Berkeley: University of California Press, 1968.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s