Parade Narsistik di Ruang Publik


narsis

Ada banyak konsep tentang ruang publik. Salah satu pemikir yang mengembangkan konsep tentang ruang publik, yaitu Jürgen Habermas, berpendapat bahwa, ruang publik merupakan ruang yang mandiri dan terpisah dari negara (state) dan pasar (market). Ruang publik memastikan setiap warga negara memiliki akses untuk menjadi pengusung opini publik. Opini publik ini berperan untuk memengaruhi, termasuk secara informal, perilaku-perilaku yang ada dalam negara dan pasar. Secara garis besar, ruang publik adalah lingkup spasial yang menjadi lokus atau tempat warga negara berpartisipasi. Ruang publik juga berkaitan dengan aktivitas suatu komunitas bahasa dan akal sehat manusia, atau rasionalitas, dalam lingkungan sosial tertentu. Dengan demikian, ruang publik merupakan sebuah ruang sosial yang terbentuk lewat interaksi dan komunikasi manusia di dalamnya.

Konsep ruang publiknya Habermas terpilah menjadi dua, yaitu konsep ruang publik borjuis (dalam bukunya berjudul The Structural Transformation of Public Sphere; An Inquiry into a Category of Bourgeois Society) dan konsep ruang publik dalam kerangka demokrasi deliberatif yang muncul dalam teks Between Facts and Norms. Habermas punya harapan besar proyek pencerahan bisa dilanjutkan dengan cara membangkitkan rasionalitas publik melalui medium dialog. Studi ini kemudian menjadi latar belakang penelitiannya tentang teori tindakan komunikatif (The Theory of Communicative Action).

Prinsip ideal dalam ruang publik borjuis adalah; pertama, dalam ruang publik hal yang menempati posisi lebih tinggi dari yang lain bukanlah status, pangkat, harta, atau keturunan, melainkan argumen yang lebih baik; kedua, argumen yang muncul dalam ruang publik harus berlandaskan pada kepentingan umum dan bukan kepentingan partikular; dan ketiga, ruang publik bersifat inklusif. Namun berbagai kritik dilancarkan terhadap ruang publik berjouis yang justru elitis dan terkesan eksklusif. Seolah tidak ada ruang bagi suara-suara kaum yang termarjinalkan. Karena itu, dalam tulisan lainnya, Habermas menempatkan ruang publik sebagai ruang yang plural. Setiap komunitas dan kelompok masyarakat dapat membentuk ruang publiknya sendiri. Sedangkan formula inti dari pemikiran ruang publik yang kedua ini adalah varian dari demokrasi yang memfokuskan dirinya pada isu legitimasi politik. Keputusan bisa bersifat legitim apabila keputusan tersebut memperoleh persetujuan rasional melalui partisipasi di dalam pertimbangan mendalam (deliberation) yang otentik oleh semua pihak yang berkepentingan terhadap keputusan tersebut. Menurut Habermas, arena untuk berpartisipasi dalam proses deliberasi tersebut adalah ruang publik.

Namun jika ruang publik sejatinya bersifat partikularistik, siapa pun bisa membentuk ruang publiknya sendiri, maka tidak ada ruang publik yang bersifat universal. Dengan kata lain, dalam ruang publik mana pun, selalu ada persaingan dan konflik karena ketimpangan struktur sosial selalu ada. Tak heran bila kemudian ruang publik ada yang dikooptasi kekuasaan, dan ada pula yang berusaha melepaskan jerat kekuasaan.

Dalam era globalisasi pasar dan informasi dewasa ini, sulit membayangkan adanya forum atau panggung komunikasi politis yang bebas dari pengaruh pasar ataupun negara. Kebanyakan seminar, diskusi publik, demonstrasi, dan seterusnya didanai, difasilitasi, dan diformat oleh kekuatan finansial besar, entah kuasa bisnis, partai politik, atau organisasi internasional, dan seterusnya.

Wajah pers juga menuju era ninja. Publik seperti terus didesak dengan berbagai macam berita mengenai selebritas setiap harinya: kasus perceraian, pernikahan, perselingkuhan, keributan, bahkan hingga isi tas atau warna behel. Hampir tak ada lagi lokus yang netral dari pengaruh ekonomi dan politik. Ruang publik pun bertransformasi menjadi ruang publik politis yang turut menghadirkan ruang publik tandingan, dan sifatnya informal. Ruang publik tandingan itu menggeser forum resmi ke tempat-tempat di mana saja warga negara bertemu dan berkumpul untuk mendiskusikan tema yang relevan untuk masyarakat, terbebas dari segala intervensi. Bahkan warung kopi juga bisa dibilang ruang publik.

Zaman semakin berubah dan ruang publik semakin terejawantahkan dalam wujud-wujud infrastruktur, utamanya di perkotaan, seperti taman kota, alun-alun, tugu peringatan, pedestrian dan sebagainya. Fungsi ruang publik di mana setiap orang dan setiap kelompok dapat berdialog membicarakan soal-soal yang berkaitan dengan kepentingan bersama, tampaknya tidak selalu berjalan secara diskursif. Di dalam Contingency, Irony, and Solidarity, Richard Rorty menggambarkan ruang publik tidak selalu harus berdasarkan pada rasionalitas. Banyak keputusan yang diperdebatkan di dalam ruang publik lebih sering memberi porsi pada sentimen-sentimen dan afeksi-afeksi yang tidak didasarkan pada argumentasi rasional. Ruang publik ini disebut poetic public sphere. Senada dengan Rorty, filsuf Slavoj Zizek juga menegaskan kekaburan distingsi antara ruang privat dan ruang publik. Contohnya, ketika sebuah skandal diperbincangkan dalam ruang privat, meski diperbincangkan sehari-hari, tidak akan ada ledakan yang setara jika skandal ini diperbincangkan dalam ruang publik.

Bagi Zizek, ruang publik membawa trauma tertentu karena sifatnya yang paradoks. Konsekuensi yang harus diterima adalah ketika pengungkapan akan sesuatu bisa berdampak buruk bagi “kenyamanan” hidup kita sendiri atau orang lain. Ada hal-hal yang kita tahu bahwa kita mengetahuinya. Ada pula hal-hal yang kita tahu bahwa kita tidak mengetahuinya. Tapi ada hal-hal yang kita tidak tahu, dan kita juga tidak mengetahuinya. Bahkan, ada hal-hal yang tidak kita ketahui, tapi kita sok tahu. Oleh karena itu, sikap untuk saling mengerti barangkali harus dipertahankan.

Permasalahan timbul ketika kebebasan dalam ruang publik menimbulkan kegelisahan. Berbeda dengan rezim otoriter yang punya kontrol terhadap informasi, dalam era seperti sekarang seolah kontrol itu menghilang. Namun kita tahu bahwa, pemerintah tetap mengontrol masyarakatnya dan mengawasi ruang publik. Oleh karena itu, dengan adanya penekanan pada ruang privat maka setiap individu tidak hanya memiliki wilayah publik yang bersifat komunal, tetapi juga memiliki wilayah privat yang tidak bisa dimasuki oleh orang lain. Bahkan di ruang publik pun, seseorang masih menghendaki berada ruang pribadinya, dan tidak terlibat interaksi dengan orang lain. Pencampuradukan wilayah publik dengan wilayah privat dapat menciptakan kekacauan yang menimbulkan tindak kekerasan. Ini dikarenakan adanya hasrat yang berbeda dari setiap individu, dan untuk mencegahnya, dibutuhkan “limit of desire”. Lantas perlukah adanya sekat terhadap ruang publik, semacam “alienasi” antara individu yang satu dengan yang lainnya?

Kita sering mendengar argumen bahwa, media yang lebih berani mengungkap segala hal ke publik, dan dengan adanya kontrol melalui instrumen digital, maka ruang privat semakin menghilang. Namun yang terjadi adalah ruang publik yang mulai memudar. Ada yang disebut dengan ekspansi ruang privat ke ruang publik. Misalnya, orang-orang yang menampilkan foto telanjang mereka di situs jejaring sosial. Mereka bukanlah eksibisionis yang sedang menyusup ke ruang publik. Mereka mengirim gambar-gambar itu dengan tetap berada dalam ruang privat mereka, tapi berekspansi untuk memasukkan orang lain ke dalam ruang privatnya.

Kini masyarakat semakin meyakini urusan kemiskinan adalah masalah pribadi, bukan masalah publik atau masyarakat. Ketimpangan struktur sosial sudah menjadi domain negara. Penolakan terhadap yang publik disertai dengan perayaan gaya hidup pribadi, memproduksi apa yang disebut “budaya narsisme”, yang didorong dari hasrat untuk menonjolkan diri. Ilusi dari hasrat ini menjadikan impresi dan aktualisasi diri ibarat sesuatu yang harus dilakukan. Walhasil, terjadi ekspansi ruang privat ke ruang publik. Bahkan, dalam ruang publik yang berbeda, antara yang elitis dan akar-rumput, juga dapat ditemukan budaya narsisme. Apakah budaya tersebut berkaitan dengan politik dan ekonomi? Ya. Menurut Christopher Lasch (The Culture of Narcissism: American Life in an Age of Diminishing Expectations), penyebab sikap dan perilaku narsistik bukan karena cinta diri sendiri secara berlebihan, melainkan suatu mekanisme defensif terhadap dorongan-dorongan agresi.

Proses deliberasi dalam ruang publik tak melulu secara diskursif. Terlebih lagi jika ruang publik itu sudah dimonopoli kekuasaan. Muncul-lah virus demagogi sebagai upaya untuk mengeksploitasi perasaan cemas, takut, dan marah kepada pihak lain demi kepentingan politik atau ekonomi. Virus demagogi berusaha mereduksi problematika yang tengah dihadapi oleh masyarakat menjadi wacana yang meneriakkan bahwa, persoalan yang terjadi di masyarakat disebabkan oleh kehadiran dan peran pihak-pihak tertentu. Individu-individu yang terhasut oleh demagog ini merasa terbebas dari tanggung jawab moral yang telah memperlakukan mereka sebagai korban dari keadaan sosial. Pada gilirannya, mereka akan menarik diri dari partisipasi produktif dalam ruang publik. Namun dorongan-dorongan agresi itu disalurkan melalui perilaku narsistik.

Dari budaya narsisme ini terpancar perilaku bermewah-mewahan, hedonisme, permisif, dan gila hormat. Apakah ini berarti ancaman bagi masyarakat? Bayangkan bila semua orang dari lapisan masyarakat mana pun ingin menonjolkan diri di ruang publik, dari presiden sampai pedagang kaki lima ingin mengkooptasi ruang publik, apa yang akan terjadi? Parade narsisme tumpah di taman kota, di alun-alun, pedestrian, plaza-plaza, dan ruang publik lainnya. Persoalan pun semakin bertambah. Ada benarnya, sebagaimana diungkapkan Nancy Fraser, untuk menekankan analisis terhadap kondisi-kondisi yang memungkinkan keberadaan ruang publik. Maka dari itu, jangan-jangan yang dibutuhkan masyarakat Indonesia memang bukan suatu konsep ruang publik yang ideal, tapi sekadar pembatasan atas hasrat saja.

2 thoughts on “Parade Narsistik di Ruang Publik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s