Homoseksual Bukanlah Penyakit dan Ancaman Umat Manusia


gay-love

Media massa, baik cetak maupun online, semakin gencar menghakimi LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender). Media menjadi hakim dalam membangun opini publik. Dalam proses menjadi hakim ini, dramatisasi dan personalisasi dilakukan untuk menjauhkan atau menyimpang dari pokok persoalan. Bumbu-bumbu di seputar kasus kadang jauh lebih penting dari fakta-fakta hukum yang ada. Tentu saja kebenaran hukum dan kebenaran jurnalistik berbeda, namun berlebihan dalam saling mengadu opini narasumber yang mengomentari sebuah persoalan hanya akan membawa publik pada realitas psikologis yang sudah dikonstruksi, alih-alih dari realitas sosiologis. Konsekuensinya, terjadi pembentukan opini yang tidak seimbang.

Masih ingat kasus pelaku pedofilia yang melibatkan sekolah internasional prestisius di Jakarta? Berdasarkan upaya korek-korek media (atau bahasa umumnya trial by the press) maka timbul penggiringan opini yang ujung-ujungnya adalah masyarakat kita menjadi telanjur menstigmatisasi bahwa LGBT merupakan suatu penyakit berbahaya dan wabah yang dapat menimbulkan kejahatan seksual. Dalil dari pengetahuan medis, psikis, dan segala macamnya—termasuk dalil agama, ramai-ramai menjustifikasi mereka.

Persoalan LGBT setiap kali selalu berkutat pada pertanyaan apakah itu salah atau benar. Mungkin saudara, atau salah satu anggota keluarga kita terlahir berbeda. Tidak ada yang salah dengan itu. Yang salah adalah, jika kita menyikapi hal tersebut dengan tidak bijaksana yang menjadikan kehidupan mereka, orang-orang yang kita sayangi dalam tekanan yang lebih besar lagi. LGBT bukanlah penyakit. Terserah Anda homoseksual atau heteroseksual. Tidak ada yang disebut penyimpangan dalam urusan orientasi seksual, yang ada ialah variasi dari yang disebut sebagai normal, semuanya normal.

Genetis atau Lingkungan

Salah satu perdebatan isu LGBT soal ‘genetis atau lingkungan’, berbagai pihak yang pro-kontra memberikan argumentasinya. Kelompok yang menolak meyakini LGBT bukan genetis tapi karena lingkungan/pergaulan, menganggap homoseksual merupakan penyakit dan harus ditolak/diubah. Sedangkan sebagian kelompok pendukung LGBT meyakini bahwa LGBT itu genetis, tak mungkin orientasi seksual bisa berubah-ubah, maka harus dihormati dan dihargai karena mereka lahir dengan kondisi demikian.

Namun demikian, kalau LGBT itu genetis, apakah kemudian tak boleh ‘memilih’ sebagai heteroseksual atau sebaliknya? Apakah penentuan seksualitas manusia harus berbasis genetis? Kemudian kalau LGBT bukan genetis, apakah kemudian tidak berhak menentukan mau jadi LGBT atau tidak?

Kalau, katakanlah, bila kebebasan beragama merupakan hak setiap individu, mengapa soal seksualitas justru tampak tidak ada kebebasan akan hal tersebut?

Sebelum membicarakan ini, kita perlu mengetahui bahwa, dalam animal kingdom, homoseksualitas adalah hal yang common. Kuda, domba, singa, lumba-lumba, dan banyak sekali hewan yang berperilaku homoseksual.

Banyak penelitian menemukan bukti perbedaan baik anatomis atau fungsional antara otak gay dan otak pria non-gay. Banyak juga riset yang menemukan bahwa gen ikut berperan dalam menentukan orientasi gender, secara tidak langsung menghasilkan perbedaan otak gay.

Salah satu riset awal, oleh Dick Swaab menemukan bahwa bagian dari hipotalamus, yaitu suprachiasmatic nuclei (SCN) gay dua kali lebih besar dari laki-laki hetero. Belakangan, perbedaan SCN pada otak gay ini terbukti disebabkan oleh perbedaan dalam reaksi testosteron terhadap otak yang terus berkembang. Riset lain menunjukkan bahwa commisura anterior, kumpulan ‘kabel extra cepat’ yang menghubungkan 2 belah otak, pada gay didapatkan lebih besar. Struktur commisura anterior pada gay lebih mirip yang ada perempuan heteroseksual, terlibat dalam membentuk orientasi gender, kognitif dan bahasa. Tahun lalu, Ivana Savic dari Swedia melaporkan bahwa ukuran 2 belahan otak yang tidak sama, yang ada pada laki-laki heteroseksual, tidak tampak pada otak gay. Ini juga sesuai dengan temuan bahwa gay, seperti perempuan heteroseksual (lesbian), mempunyai kemampuan lisan lebih baik ketimbang laki-laki heteroseksual. Bahkan dengan pemindaian MRI fungsional, Savic menunjukkan bahwa otak gay secara fungsional lebih menyerupai otak perempuan heteroseksual. Riset lain dengan PET-scan menemukan konektivitas amigdala otak gay yang juga lebih menyerupai otak perempuan heteroseksual ketimbang laki-laki heteroseksual. Savic juga melaporkan pola aktivasi yang berbeda pada otak gay dalam merespons pheromon yang dihasilkan di dalam keringat pria.

Savic menemukan bahwa hipotalamus dalam otak gay dirangsang oleh aroma keringat laki-laki lain. Ini tidak terjadi pada hipotalamus laki-laki heteroseksual. Hal ini menyatakan bahwa perbedaan pada sirkuit hipotalamus otak bisa membuat gay terpikat dengan aroma yang dihasilkan kelenjar keringat laki-laki. Respons hipotalamus dalam menanggapi pheromone laki-laki ini memainkan peranan penting dalam orientasi seksual gay. Reaksi yang kuat dalam talamus dan medial prefrontal cortex laki-laki heteroseksual pada saat melihat wajah perempuan, tidak terjadi pada gay. Sebaliknya, medial prefronal cortex gay justru bereaksi dengan kuat terhadap wajah seorang laki-laki. Penelitian genetika juga menghasilkan sejumlah bukti tentang perbedaan alamiah antara gay dan laki-laki heteroseksual.

Dr. Niklas Langstrom via studi laki-laki kembar, menemukan petunjuk bagian-bagian dalam genome yang berperan membentuk perilaku seksual. Riset Langstrom: sekitar 35% dari faktor-faktor orientasi seksual disebabkan oleh pengaruh genetis, sebelum faktor-faktor lain mulai berpengaruh. Berbagai riset genetis, sirkuit otak dan dampak hormon pada orientasi seksual, masih akan terus berlanjut. Bukti yang ada menunjukkan bahwa beberapa otak manusia berbeda tidak hanya terkait dengan perilaku gender, tapi juga orientasi seksual. Lingkungan hormonal pra-kelahiran inilah yang menimbulkan dampak permanen pada ciri-ciri perilaku, salah satunya adalah ketertarikan seksual. Secara biologis, variasi genetis dan paparan hormonal pada otak laki-laki dan perempuanlah yang menyebabkan ketertarikan sesama jenis. Jadi, seorang laki-laki menjadi gay atau non-gay lebih dikarenakan oleh perbedaan struktur di otak dan genetis. Bukan karena pola pengasuhan.

Dalam hal orientasi seksual, sebagian orang adalah heteroseksual, sebagian lagi homoseksual, sebagian lainnya biseksual. Semuanya normal. Ilmuwan lain berpendapat bahwa homoseksualitas disebabkan karena baik genetis maupun lingkungan saling berperan satu sama lain, dan hal itu membutuhkan penelitian lebih lanjut.

Apakah Homoseksualitas Ancaman bagi Reproduksi Manusia?

Hal lain yang kerap dituduhkan kepada LGBT adalah jika semua orang di dunia berperilaku homoseksulitas maka reproduksi berhenti dan manusia nantinya bisa punah. Pertanyaan yang sama bisa kita ajukan sebaliknya; “Jika homoseksualitas dapat menyebabkan punahnya umat manusia, maka mengapa sampai sekarang, gen yang membawa homoseksualitas tidak kunjung punah?”

Pertanyaan besarnya adalah, apakah homoseksual bertentangan dengan nature?

Dalam jurnal Human Genetics, dikatakan bahwa ‘gay genes’ terbukti eksis. Sven Bocklandt dari University of California, Los Angeles, menjelaskan tentang kromosom.

Kromosom adalah molekul seperti benang besar yang mengandung instruksi genetik organisme. Manusia sendiri memiliki 46 kromosom atau 23 pasang kromosom di dalam setiap sel yang berfungsi untuk menahan sekitar 25.000 gen. Dari 23 pasang kromosom tersebut maka tiap satu setnya berasal dari sel ibu (dari sel telur) sedangkan sisa set yang lain berasal sang ayah (dari sperma).

Dari total 46 kromosom tersebut maka 22 pasangannya (44 kromosom) merupakan kromosom yang sama baik pada pria atau wanita, disebut juga dengan autosom. Sedangkan pasangan yang ke 23 merupakan kromosom kelamin yang berbeda jenisnya untuk pria ataupun wanita. Wanita akan mempunyai 2 kromosom X (XX) sedangkan pria akan mempunyai 1 kromosom X dan 1 kromosom Y (XY).

Meskipun wanita memiliki dua kromosom X, hanya satu yang fungsional karena yang lain tidak aktif melalui proses yang disebut ‘metilasi’ (methylation).

Jika kedua kromosom X pada perempuan tetap aktif, maka akan ada kelebihan materi genetik, yang dapat menimbulkan efek dari protein berlebih. Down syndrome, misalnya, adalah hasil dari kehadiran tambahan salinan kromosom 21.

Sel 42 dari ibu yang memiliki setidaknya dua anak gay, mereka menemukan bahwa sekitar seperempat dari perempuan dalam kelompok ini menunjukkan sesuatu yang berbeda.

“Setiap sel dalam tubuh para ibu itu menyebabkan ketidak-aktifan pada kromosom X yang sama,” Bocklandt. Sebaliknya, pada ibu yang tidak memiliki anak gay dan yang hanya mempunyai satu anak gay, tidak memilki sifat tersebut.

“Kami berpikir bahwa ada satu atau lebih gen pada kromosom X yang memiliki efek pada orientasi seksual,” kata Bocklandt.

Bocklandt juga terlibat dalam studi sebelumnya pada genom manusia laki-laki yang memiliki dua atau lebih saudara gay. Para peneliti menemukan bentangan identik DNA pada tiga kromosom—7, 8 dan 10—yang dimiliki oleh sekitar 60 persen dari saudara gay.

Hasil dari dua studi ini menunjukkan bahwa ada beberapa faktor genetik yang terlibat dalam menentukan orientasi seksual seseorang dan mungkin hal tersebut berbeda tergantung pada masing-masing individu.

Kebanyakan peneliti sekarang berpikir bahwa tidak ada gen gay tunggal yang mengendalikan apakah seseorang adalah homoseksual atau tidak. Sebaliknya, itu adalah pengaruh beberapa gen, dikombinasikan dengan pengaruh lingkungan, yang pada akhirnya menentukan apakah seseorang adalah gay.

Adapun soal punah atau tidaknya manusia gara-gara homoseksual, itu sama sekali omong kosong. Bahkan ilmuwan lain berpendapat bahwa, perempuan heteroseksual yang bersaudara dengan lelaki homoseksual justru lebih subur dalam reproduksi ketimbang yang memiliki saudara laki-laki heteroseksual. Artinya, dalam skenario reproduksi, potensi mereka untuk melahirkan banyak anak justru lebih unggul.

Homoseksualitas dan Kejahatan Seksual

Berita mengejutkan datang dari Brunei Darussalaam, yaitu hukum rajam bagi pelaku homoseksual. Adapun di negara Eropa sendiri, seperti Rusia, atau di negara-negara seperti Uganda dan Suriah yang masih belum menerima keberadaan LGBT. Sedangkan beberapa waktu lalu kongres Amerika Serikat telah menyetujui legalitas pernikahan sesama jenis. Bahkan di Prancis lebih progressif dengan adanya masjid yang dikhususkan bagi kaum gay.

Kita perlu memperjelas definisi kita. Ketika membicarakan pelecehan seksual dan penganiayaan anak-anak, sering ada konflik terminologi. Salah satu peneliti yang sering dikutip pada topik homoseksualitas dan penganiayaan anak, Gregory Herek, seorang psikolog di University of California, mendefinisikan pedofilia sebagai ‘gangguan psikoseksual ditandai dengan preferensi untuk anak-anak praremaja sebagai mitra seksual, yang mungkin atau tidak mungkin bertindak atas itu.’ Dia mendefinisikan pelecehan seksual anak sebagai ‘kontak seksual yang sebenarnya terjadi antara orang dewasa terhadap seseorang yang belum mencapai usia di atas umur secara legal’. Tidak semua pedofil benar-benar menganiaya anak-anak. Seorang pedofil dapat tertarik ke anak-anak, tapi tidak pernah benar-benar terlibat dalam kontak seksual dengan mereka. Yang cukup sering adalah pedofil tidak mengembangkan orientasi seksual terhadap orang dewasa lainnya.

Herek menunjukkan bahwa penganiayaan anak dan pelecehan seksual anak mengacu pada ‘tindakan’, tanpa menyiratkan ‘psikologis tertentu atau motif apa pun dari pelaku’. Dengan kata lain, tidak semua insiden pelecehan seksual anak dilakukan oleh pedofil. Mereka biasanya tidak mengidentifikasi sebagai homoseksual; mayoritas diidentifikasi sebagai heteroseksual, bahkan mereka yang menyalahgunakan anak-anak dari jenis kelamin yang sama. Mereka terangsang secara seksual oleh anak-anak, bukan berdasarkan gender.

Sebaliknya, penganiaya anak sering mengerahkan kekuasaan dan kontrol atas anak-anak dalam upaya untuk mendominasi mereka. Mereka ingin menikmati pengalaman hasrat seksual untuk orang dewasa, tapi melakukannya pada anak-anak secara episodik untuk alasan selain hasrat seksual, sebagaimana pemerkosa menikmati saat mengendalikan korban mereka yang tengah dipermalukan. Sedangkan beberapa penelitian menunjukkan bahwa untuk pedofilia, jenis kelamin anak tidaklah penting. Faktor penting terjadinya pedofilia lebih banyak disebabkan aksesibilitas. Dalam situasi ini, dalam kehidupan keseharian, seorang pria dewasa dipercaya oleh orang-orang di sekelilingnya, termasuk keluarga mereka, untuk mendapatkan akses; baik sebagai pengajar, pelatih, mentor dan sebagainya. Oleh karena itu, pedofil laki-laki mungkin memiliki akses lebih mudah. Untuk memahami pelecehan seksual terhadap seorang anak laki-laki, banyak dari kita melabeli itu sebagai tindakan homoseksualitas, sebenarnya tidak demikian.

Kaum feminis berpendapat selama bertahun-tahun bahwa perkosaan bukanlah tindakan seks, tapi tindakan kekerasan menggunakan seks sebagai senjata. Dengan cara yang sama, seorang pedofil menyalahgunakan anak dari jenis kelamin yang sama, bukan untuk melakukan tindakan homoseksual, tapi tindakan kekerasan dan eksploitasi yang menggunakan seksualitas. Ada perbedaan besar antara dua hal itu, tapi diperlukan lebih jauh pemahaman terhadap motivasi pelaku.

Untuk menyebut penganiayaan anak laki-laki oleh seorang pria homoseksual, atau seorang gadis dengan seorang pria heteroseksual, adalah kesalahpahaman atas pedofilia. Tidak ada pedofil yang benar tertarik pada orang dewasa, demikian juga berlakunya homoseksualitas maupun heteroseksualitas. Adapun Anna C. Salter yang menulis buku Predators, Pedophiles, Rapists and other Sex Offenders mengatakan bahwa, ketika seorang pria ‘menggauli’ gadis kecil, kami menyebutnya ‘pedofilia’ dan bukan ‘heteroseksual’. Demikian pula ketika pria ‘menggauli’ anak laki-laki, itu merupakan ‘pedofilia’ dan bukan ‘homoseksual’.

Namun demikian, banyak masyarakat kita yang antipati terhadap homoseksualitas, dan menyangka bahwa orientasi sesama jenis itu membahayakan ‘nilai-nilai keluarga’. Banyak orang di masyarakat kita langsung berpikir bahwa pelecehan terhadap anak laki-laki adalah perilaku homoseksualitas.

Kejahatan seksual bisa dilakukan oleh siapa pun, mau dia hetero ataupun homoseksual. Dan segala profesi apa pun, mau dia polisi, tokoh agama, artis maupun budayawan. Bahkan aktivis. Dan tindakan pelecehan seksual atas alasan apa pun tak bisa dibenarkan.

Bio-Politik terhadap LGBT

Dalam konteks kelompok homoseksual, banyak yang hidup dalam keterkekangan, kemunafikan, ketidakjujuran sebagai homoseksual. Makanya banyak yang menikah secara heteroseksual karena tak sanggup dengan tekanan untuk ikut maunya masyarakat dan negara.

Jika demikian, lantas apa yang disebut normal? Normal merupakan produk dari normalisasi, dan normalisasi dilakukan oleh faktor ekstrinsik di luar individu. Bisa tatanan sosial, sistem hukum, dan lain hal. Mirip seperti apa yang dikatakan Michel Foucault tentang bio-politik, yaitu teknologi kuasa baru yang muncul dalam pelbagai level dan skala, serta situs-lokus tertentu, dengan memakai tubuh sebagai instrumen kekuasaan. Tubuh dilihat, secara lebih parah, sebagai tak hanya instrumen kekuasaan, tapi bahkan mekanisme disiplin sebuah negara. Misalnya; rasio kelahiran-kematian, rasio kesuburan, reproduksi dan populasi, dan lain-lain—yang kemudian dikembangkan lebih jauh oleh para feminis kontemporer bahwa bio-politik juga mencakup politisasi kesehatan reproduksi perempuan untuk tujuan-tujuan demografis tertentu sebuah negara. Contoh paling mutakhir adalah bagaimana Putin merayu perempuan Rusia untuk memiliki lebih banyak anak, dengan pembiayaan dari pengeboran sumur-sumur minyak di kutub utara. Contoh lain adalah bagaimana China memberlakukan kebijakan satu anak sejak 1979 dan sampai dengan sekarang mengalami gender-gap, kekurangan anak-anak perempuan karena tingginya fentisida (pengguguran janin perempuan).

Konsep bio-politik jika dirunut ke belakang, pernah dilontarkan secara lebih klinis oleh Jean-François Bayart dengan konsep politik perut (la politique du ventre) bahwa, pertama, politik diukur dari apa yang masyarakat makan. Politik mengukur derajad kerakusan manusia dalam konsumsi. Dalam perihal ini politisi dimata-matai dari hasratnya untuk berkuasa via menguasai sumber-sumber pangan primer sebuah negara. Konsepsi kekuasaan adalah apa-apa yang dimakan dan dikonsumsi warga-negaranya. Hierarki dan sejarah kekuasaan dapat dilacak bagaimana penguasaan atas bahan-bahan pokok dimainkan oleh politisi dan penguasa. Hierarki politik yang menghasilkan kelas ini kemudian juga melahirkan solidaritas aksi-aksi empatik jika sumber-sumber pangan kelas tertentu terancam langka atau punah.

Kedua, rahim sebagai metafora dari perut, yang menguasai pangkal dari segala hajat reproduksi sebuah bangsa. Penguasaan politis atas rahim merupakan kunci kepada kekuasaan. Kapasitas kekuasaan dilekatkan pada tubuh perempuan dan lanskap penguasaannya adalah kontrol negara atas organ-organ reproduktif dan seksual perempuan. Ambisi-ambisi politik ini mengambil topeng dalam aturan-aturan moral yang dilayangkan hanya kepada perempuan, saja. Bagaimana kontrol atas alat kontrasepsi, kontrol atas perilaku seksual, kontrol atas status tubuh (perawan, janda, dll), kontrol atas pakaian, dan lain-lain—yang kesemuanya tak ada atas tubuh laki-laki. Politik benar-benar tak berdaya di hadapan rahim. Dus pemiliknya, hanya perempuan saja, harus dikontrol, dimanajemen, diatur, dan ditundukkan via kebijakan, hukum, undang-undang, perda, perbub, dan lain-lain agar patuh. Separuh warga-negara ini merupakan kapital paling vital yang harus dapat ditundukkan oleh sebuah negara—atau dia akan menjadi negara gagal.

Bagaimana dengan politik tubuh terhadap LGBT? Praktik seksualitas sehari-hari dari tiap individu tidak dapat dilepaskan dari politik atau kekuasaan (negara dan kelompok dominan), baik organisasi masyarakat, kelas sosial tertentu, organisasi kesukuan maupun agama.

Michel Foucault dalam bukunya A History of Sexuality (Seks Dan Kekuasaan: Sejarah Seksualitas) menganggap bahwa dalam sejarah manusia banyak label yang kadung menyesatkan; definisi normal dan abnormal, seperti homoseksual, banci, dan lain sebagainya yang semuanya merupakan kontrol. Pendefinisian ini senada dengan mekanisme kontrol terhadap orang-orang yang dicap berdosa, pezinah, gila, sakit, dan patologis, yang semuanya diatur dan dihukum menurut norma sosial yang berlaku, dan menurut siapa yang berkuasa pada suatu kurun waktu tertentu.

Kerangka ini berawal dari keyakinannya bahwa hubungan kita dengan realitas sosial diatur melalui berbagai discourse, kesatuan-kesatuan kepercayaan, konsep-konsep dan ide-ide yang kita anut. Selain itu,dia menegaskan bahwa maskulinitas, feminitas, dan seksualitas adalah akibat praktik disiplin dan diskursif, efek wacana atau buah relasi pengetahuan-kuasa (power-knowledge). Bahkan sains pun, menurut Foucault, juga berperan dalam konstruksi tersebut.

Foucault menyayangkan heteroseksualitas dianggap sebagai satu-satunya bentuk seksualitas yang berorientasi prokreasi, diinternalisasi, dinaturalisasi, sedangkan bentuk seksualitas lainnya dipatologikan dan diabnormalkan. Seolah-olah heteronormatifitas adalah satu-satunya orientasi seksualitas yang mengatur kehidupan manusia, kapan pun, dan di mana pun. Hal ini tentu saja menyembunyikan realitas dan relativitas yang sangat kompleks dalam seksualitas.

Masyarakat Indonesia masih berpikir bahwa perempuan dan laki-laki memiliki kodratnya masing-masing berkait dengan seks biologisnya. Pembagian peran berdasarkan yang feminin-maskulin masih terjadi dan menjadi ukuran bagi norma yang ada. Terlebih norma agama, relasi perempuan dan laki-laki menjadi sesuatu yang menjadi sakral pada akhirnya dalam pernikahan yang berarti meneruskan keturunan (prokreasi). Inilah kenapa konstruk budaya di Indonesia selalu diarahkan pada prokreasi, di mana perempuan dan laki-laki secara biologis telah memiliki karakteristiknya masing-masing yang tidak dapat dipertukarkan. Dan hal ini menjadi sesuatu yang dilegitimasi oleh berbagai institusi, terlebih institusi agama.

Meskipun pada 17 mei 1990 organisasi kesehatan dunia (WHO) telah memutuskan bahwa homoseksualitas tidak tergolong suatu penyakit atau gangguan jiwa, fatwa WHO tersebut sudah tercantum pula dalam kitab PPDGJ milik Depkes RI (Pedoman Penggolongan dan Diagnosis dan Gangguan Jiwa) edisi III tahun 1993, namun diskriminasi terhadap kelompok minoritas ini masih kerap terjadi di negeri ini.

Prinsip-Prinsip Yogyakarta dan Hak Asasi Manusia

Pada tahun 2006 para ahli hukum internasional dari 25 negara mengadakan pertemuan di Yogyakarta. Pertemuan tersebut membahas isu Hak Asasi Manusia (HAM) internasional terkait orientasi seksual dan identitas gender. Para ahli hukum tersebut bukanlah perwakilan resmi dari masing-masing negara, tapi mereka bertemu karena memiliki komitmen yang sama terhadap HAM terkait orientasi seksual dan identitas gender. Yogyakarta Principles bukanlah dokumen resmi, tetapi dapat menjadi acuan hukum mengenai HAM terkait orientasi seksual dan identitas gender yang sudah digunakan di beberapa negara.

Yogyakarta Principles adalah panduan universal HAM yang menegaskan standar hukum internasional. Para ahli HAM tersebut mengakui bahwa setiap manusia terlahir dengan bebas dan setara dalam hak dan martabat yang dimiliki. Oleh karena itu, segala bentuk pelecehan dan diskriminasi harus ditiadakan. Orientasi seksual dan identitas gender adalah bagian integral dari martabat dan hak setiap orang. Yogyakarta Principles ditujukan sebagai rekomendasi untuk sistem HAM PBB, kewajiban negara dalam melindungi HAM warganya, Non-Goverment Organization (NGO), media, donatur, institusi nasional HAM dan aktor-aktor lainnya.

Pelanggaran HAM terkait orientasi seksual dan identitas gender yang terjadi di tingkat global serta tidaknya adanya pendekatan hukum dan praktik yang jelas dan konsisten menjadi perhatian serius bagi ahli hukum internasional HAM yang mengadakan pertemuan di Yogyakarta. Pelanggaran HAM berbasis orientasi seksual dan identitas gender ada berbagai macam bentuknya seperti pembatasan akses pendidikan dan kesehatan, pengabaian, diskriminasi, tidak diakui, pembunuhan, pemerkosaan dan lain sebagainya. Beberapa negara masih menerapkan hukuman mati terhadap praktik seks sesama jenis. Selain itu, banyak terjadi pembunuhan yang menimpa orang dengan orientasi seksual dan identitas gender yang berbeda. Pembunuhan tersebut sebagian besar tidak mendapat hukuman dan dilakukan oleh agen negara.

Pemahaman kebanyakan masyarakat yang biner mengenai ide dasar gender turut berkontribusi terhadap terjadinya berbagai pelanggaran HAM berbasis orientasi seksual dan identitas gender. Lesbian, Gay, Bisexual dan Transgender (LGBT) misalnya menantang pemahaman masyarakat tentang ide dasar gender bahwa LGBT berada diluar dua pengkategorian gender yang selama ini dipahami. Ketidakmampuan kita untuk memahami realitas dunia sosial membuat kaum LGBT harus membayar dengan berbagai pelanggaran HAM yang harus dialaminya.

Negara wajib menghormati, melindungi dan memenuhi Hak-hak tersebut kepada warganya. Penyelenggara negara, baik eksekutif maupun legislatif, dituntut berperan aktif dalam melindungi dan memenuhi Hak-hak ekonomi sosial budaya karena mereka secara efektif memiliki kewenangan menentukan alokasi sumber daya nasional.

Peran masyarakat luas patut untuk dilibatkan. Sebagai bangsa yang demokratis, peranan masyarakat sipil dapat menjadi alternatif dalam melindungi dan menjaga hak ekonomi sosial budaya. Masyarakat sipil yang tergabung dalam berbagai ormas atau LSM dapat berperan aktif dalam mempengaruhi para pengambil kebijakan atau proses legislasi di parlemen. Oleh karena itu, landasan agama yang terkesan menghukumi dan menghakimi kaum LGBT tidak bisa digunakan, apalagi dijadikan pondasi untuk merajut toleransi dalam realitas masyarakat yang majemuk.

One thought on “Homoseksual Bukanlah Penyakit dan Ancaman Umat Manusia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s