Ilusi Nasionalisme


doug-stanhope-on-nationalism-2

Nationalism is an infantile disease. It is the measles of mankind. – Albert Einstein

Dalam sistem demokrasi yang sarat berbagai macam kepentingan, sang pemenang adalah yang ‘menyuap’ rakyat dengan paling meyakinkan. Yang dimaksud dengan menyuap adalah yang paling populer dan efektif dalam menggait pemilih agar mau memilih mereka dengan melibatkan apa yang disebut sebagai ‘negara’ sebagai suatu entitas bangsa. Ini merupakan sebuah konsep naif yang memercayai bahwa semua orang berada di sisi yang sama dan menyebabkan mayoritas warga direkayasa dengan opini. Untuk menarik massa entitas tunggal ini, politisi mengontrol pikiran orang-orang yang percaya pada entitas tersebut. Mereka meyakinkan orang-orang untuk memilih mereka dengan persuasi yang artistik; membuat orang percaya bahwa visi dan misi mereka adalah yang terbaik bagi bangsa.

Dikatakan bahwa, nasionalisme mesti dirajut oleh ingatan kolektif yang bersumber penghayatan akan masa lalu sebuah bangsa yang dibaca dan ditafsirkan untuk kepentingan masa kini. Namun ingatan tentang bangsa bagi abad modern membuka kembali gerbang misteri yang menakutkan sekaligus membanggakan. Atas nama ‘kolektif’, orang rela bertempur dan saling membunuh. Lalu dengan cepat kata ini memperoleh latar teoretis dan praktik yang faktual seiring dengan merebaknya kolonialisme; dan hadirlah nasionalisme. Ingatan kolektif apa yang digali selain bahwa nasionalisme hadir pascakolonialisme. Sumber dari kesatuan sebuah ‘bangsa’ ada pada identitas, dan sudah menjadi nasib bahwa identitas selalu berulang kali menjadi ‘dagangan’ politik dan strategi kuasa.

Nasionalisme adalah ide. Fungsinya adalah untuk membujuk orang untuk setia kepada negara atau pemerintah. Nasionalisme adalah ide yang membuat orang-orang yang tinggal di suatu negara menganggap diri mereka sebagai warga negara itu. Nasionalisme Prancis membuat orang-orang yang tinggal di negara Prancis berpikir bahwa mereka orang Prancis. Oleh karena itu, fungsi dari nasionalisme Prancis adalah untuk membuat orang-orang yang tinggal di sana setia kepada Prancis. Fungsi nasionalisme Inggris adalah untuk membuat orang yang setia kepada sistem monarki dari pemerintahan Inggris. Orang-orang yang setia kepada pemerintah melakukan apa yang dikatakan pemerintah kepada mereka.

Untuk memenangkan dukungan rakyat, negara menggunakan segala macam simbol dan mitos. Ini disebut simbol nasional atau budaya bangsa. Misalnya, negara merancang sebuah desain kain yang disebut bendera nasional. Pada acara-acara tertentu orang-orang akan mengikat ke tiang atau bagian dari bangunan-bangunan mereka. Di beberapa negara, misalnya Amerika, orang melihat kain ini dan kemudian menyentuh dahi mereka dengan tangan mereka. Mereka menyebut ini menghormat bendera. Kadang-kadang pada saat seperti itu, mereka akan menyanyikan sebuah lagu khusus yang mengatakan betapa besar dan mulianya bangsa mereka. Setiap kali mereka mendengar lagu ini orang-orang diharapkan untuk menghayatinya sebagai ingatan kolektif.

Mitos Nasionalisme

Contoh dari mitos nasionalisme adalah legenda Joan of Arc. Dia adalah seorang gadis petani miskin yang dikatakan telah mendengar suara Tuhan yang memerintahkan agar dirinya mengangkat senjata dan mengusir Inggris dari Prancis. Dia dibakar di tiang oleh Inggris atas kesakitannya. Hal ini membuat dirinya sebagai martir nasional. Pemerintah perlu nasionalisme untuk membuat orang mematuhi mereka. Mereka menggunakan nasionalisme untuk membuat orang berpikir bahwa mereka tidak dikendalikan oleh segelintir orang atau kelompok tertentu. Pemerintah mencoba untuk membujuk masyarakat bahwa mereka melakukan sesuatu yang lebih penting yang disebut ‘kewajiban untuk kepentingan bangsa’.

Ide nasionalisme menjadi umum dalam dua ratus tahun terakhir. Ia berkembang seiring dengan perkembangan kapitalisme. Pada zaman feodal orang-orang tidak mementingkan nasionalisme. Alih-alih bernyanyi lagu kebangsaan dan hormat bendera, mereka bersumpah setia kepada orang tertentu. Orang ini disebut penguasa. Orang-orang berjanji untuk taat kepadanya dan berjuang untuknya. Ada pula yang bersumpah untuk mematuhi pemimpin klan lokal atau berbagai jenis kaum bangsawan. Namun kemudian, nilai-nilai feodal juga dianut oleh para ‘peracik’ ide dengan berbagai variasi dan sub-sub prinsip serta konsep yang menyokong nasionalisme.

Nasionalisme mengisi ruang demi ruang dalam jiwa kita yang memberi identifikasi akan diri kita sendiri. Di era pasca-kolonial, nasionalisme inilah yang sedang menjadi komoditas naik daun. Ketika kita merasa bahwa kita sama-sama terancam, di saat itulah kita bersedia untuk saling mendukung dan saling membantu. Itu semua terjadi ketika kita menyadari bahwa kita memiliki tujuan yang sama. Namun begitu tujuan itu pudar, begitu tujuan itu tidak kita sadari kembali keadaannya, maka keadaan pun kembali seperti sediakala. Itu pulalah sebabnya kenapa bangsa ini mudah sekali dijajah, atau lebih tepatnya, membiarkan dirinya dijajah.

Ketika ternyata dunia semakin mengglobal dan semakin menyatukan manusia sebagai spesies yang sama, nasionalisme ternyata turut ‘beranak-pinak’. Lahirlah-salah satunya-sikap etnosentris, segala sesuatunya diukur hanya berdasarkan selera kesukuan kita masing-masing, segala sesuatu diukur berdasarkan standard kelompok kita masing-masing, dan apa yang di luar itu tidak akan kita anggap sebagai sesuatu yang pantas dibela. Seberapa kita mau turut merasa terganggu ketika ada orang yang tidak kita kenal mengalami penderitaan, seberapa kita mau turut merasa harus membela orang yang tidak kita sukai ketika mereka mengalami kesulitan? Ternyata masih ada sudut dalam diri kita masing-masing di mana kita merasa tidak harus melakukan sesuatu bagi orang-orang di luar kelompok kita sendiri. Bahkan, ketidakpedulian itu dapat dengan mudah dibelokkan menjadi prasangka, untuk kemudian menjadi stereotip terhadap kelompok-kelompok tertentu, dan akhirnya berbuahkan kebencian akan mereka.

Rasa minder pun masih banyak kita pelihara, minder atas kemajuan bangsa lain sehingga secara tidak sadar kita selalu memaklumi kekurangan-kekurangan diri kita sendiri yang menyebabkan kita tidak mau mengejar ketertinggalan dari mereka, dan pada gilirannya malah membuat kita menyalahkan pihak lain atas hal-hal yang tidak kita lakukan. Mental pecundang seperti ini terlalu dalam menggerogoti kebanyakan dari kita: menyerahkan bahkan melemparkan tanggung jawab atas kehidupan kita sendiri kepada orang lain. Contoh paling sederhana dalam kehidupan sehari-hari adalah, lebih mudah bagi kita untuk membuang sampah sembarangan di jalan melalui jendela mobil, bahkan lebih parah lagi, ke saluran got. Kita melakukan itu dengan entengnya sambil berdalih bahwa sudah ada para petugas kebersihan yang bertugas untuk menjaga kebersihan kota kita. Padahal, tanggung jawab untuk menjaga kebersihan ada pada setiap orang.

Beberapa waktu lalu kita juga disibukkan dengan urusan klaim-mengklaim budaya. Tiba-tiba semua orang berang ketika negara lain menggunakan budaya yang dianggap ‘asli’ Indonesia sebagai iklan daya tarik pariwisata ke negeri mereka (lagi-lagi kepentingan komersial juga ujungnya). Padahal, kalau mau kita membaca sejarah manusia, apa sih yang ‘asli’ dari budaya? Namanya budaya adalah sesuatu yang dibuat oleh manusia juga, bukan hal yang given ketika kita lahir. Jika manusia sejak zaman nomaden dulu kala saling berbagi perilaku, berinteraksi, berkomunikasi, dan akhirnya membentuk budaya. Bahkan, peperangan pun sejatinya proses interkultural. Namun anehnya, di era modern di mana dunia bak ‘buku yang dilipat’ dan segala jenis informasi dari segala penjur bisa diakses, lantas mengapa manusia semakin mudah disekat-sekat. Entah itu sekat agama, kesukuan, dan juga identitas kebangsaan?

Nasionalisme Sebagai Komoditas

Alasan bahwa nasionalisme telah menjadi umum sejak awal kapitalisme adalah bahwa kelas kapitalis di berbagai belahan dunia ingin melindungi pasar dalam negeri mereka. Untuk melakukan hal ini mereka diperlukan untuk mengatur pemerintahan kapitalis. Pemerintah ini kemudian akan memasang hambatan adat istiadat yang akan melindungi mereka dari persaingan asing dan melewati berbagai undang-undang lain untuk membantu pengembangan industri. Pemerintah ini akan terdiri dari kombinasi konglomerat, pengusaha, profesi spesialis seperti pengacara, dan kalau perlu angkatan bersenjata.

Dahulu, penguasa mengklaim bahwa mereka harus ditaati karena bertindak sebagai wakil Tuhan di bumi. Dengan kata lain mereka mengklaim hak ilahi untuk memerintah. Di zaman modern ide ini menjadi irasional. Jika orang-orang tidak lagi percaya mitos bahwa raja adalah wakil Tuhan, inilah sebabnya mengapa ide nasionalisme menjadi perlu. Warga negara diindoktrinasi bahwa ketaatan kepada pemerintah adalah tugas mereka untuk bangsa. Dengan menggunakan lagu, simbol, upacara, dan apparatus lainnya, bangsa dibuat sebagai entitas yang supernatural.

Nasionalisme telah lama diabaikan sebagai sebuah topik di dalam filosofi politik, dianggap sebagai peninggalan masa lalu. Menjadi fokus perdebatan filosofi dua dasawarsa lalu, di abad sembilan belas, sebagian dianggap sebagai konsekuensi dari pertikaian nasionalisme yang cukup spektakuler dan meresahkan, misalnya yang terjadi di Rwanda, bekas Yugoslavia dan republik Soviet. Gelombang nasionalisme biasanya menyampaikan moral yang ambivalen, dan karenanya sering digambarkan seolah megah. ‘Kebangkitan bangsa’ dan perjuangan untuk kemerdekaan politik acapkali heroik sekaligus kejam secara kemanusiaan; pembentukan sebuah negara-bangsa acap disertai sentimen populer yang terkadang membangkitkan konsekuensi tidak manusiawi, termasuk pengusiran dengan kekerasan dan ‘pembersihan’ non-sebangsa, sepenuhnya sebagai pembunuhan massal terorganisir.

Debat moral terhadap nasionalisme mencerminkan tekanan moral yang dalam antara solidaritas terhadap kelompok bangsa yang tertindas di satu pihak dan kengerian yang orang rasakan terhadap tindak kejahatan atas nama nasionalisme di pihak lain. Lagi pula, isu nasionalisme menunjuk pada domain masalah yang lebih luas, berhubungan dengan praktik diskriminatif di dalam bentuk pemerintahan yang demokratis.

Lalu apa pilihan berikutnya bagi negara-bangsa, dan juga bagi nasionalisme? Negara kedaulatan beradasarkan teritorial, atau negara bercorak plural. Tawaran datang dari agama, yaitu pembentukan suatu negara-kawasan di bawah nilai-nilai agama (ada yang berbentuk khilafah, ada pan-islamisme, dll). Apakah kosmopolitanisme? Kosmopolitanisme sering diistilahkan world citizenship, dibangun dari nilai-nilai sekuler yang tetap menghargai budaya, tradisi, dan agama yang majemuk.

Dalam satu aspek, kosmopolitanisme bertentangan dengan fundamentalisme, yakni ketika kaum fundamentalis menginginkan adanya universalitas di bawah suatu nilai tertentu yang tertulis dalam teks agama, sementara kaum kosmopolitan mengedepankan unity of tolerance. Sedangkan mengenai hubungannya dengan nasionalisme, kosmopolitanisme tak bertentangan dengan paham tersebut selama nasionalisme tidak bersifat etnonasionalis dan xenophobia.

Nasionalisme hanyalah suatu ilusi yang membakar semangat kita dan hanya membuat kita membeli produk-produk apa pun yang mengatasnamakan cinta negeri, bila kita tidak benar-benar menyadari seberapa jauh kita harusnya bertanggung jawab, setidaknya terhadap diri sendiri.

Di zaman sekarang, bukan lagi nasionalisme yang patut digembar-gemborkan. Kalau kita mau mencintai negeri maka sudah seharusnya kita mencintai sesama tanpa pretensi latar belakang primordial. Mau menghargai jasa para pahlawan? Hargailah dulu diri kita sendiri dengan bertanggungjawab sekecil apa pun atas apa yang kita perbuat, lalu hargailah segala perbedaan yang muncul di sekitar.

Bila kita tidak mau mengambil peran itu terhadap diri sendiri, maka adalah sebuah omong kosong bila kita menyatakan bahwa kita mencintai negeri ini, sementara di saat yang sama kita terus membuang sampah sembarangan, mudah menyalahkan orang lain, mudah tersinggung, mudah merasa dilecehkan atas dasar gengsi yang kosong dan mudah merasa tersakiti atas dasar solidaritas yang hampa.

Sumber: siperubahan.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s