Perbincangan dengan Pakar: Penyuntingan Gen, Babak Baru Teknologi Genetic Engineering


strain

George Church adalah seorang profesor genetika di Harvard Medical School. Dia juga menjabat sebagai Direktur Center for Causal Consequences of Variation, sebuah pusat institusi kesehatan nasional di bidang genomic science, dan Direktur PersonalGenomes.org

Simak wawancaranya bersama newscientist.com mengenai teknologi gene-editing.

Q: Ada banyak perbincangan mengenai teknologi tentang penyuntingan gen (gene-editing) pada embrio manusia baru-baru ini. Apa yang dimaksud dengan CRISPR (Clustered Regularly Interspaced Short Palindromic Repeats), bagaimana cara kerjanya?

Penyuntingan gen (Gene-Editing) dilakukan dengan cara mengeluarkan target dari urutan DNA dan menggantinya dengan yang lain. Kalau bicara masa lalu, prosesnya memakan waktu lama dan kerap terjadi kekeliruan, tapi saat ini Anda dapat mengubah setiap genom makhluk hidup dengan menggunakan komputer maka Anda melihat dengan jelas bentangan urutan DNA. Dengan memasukkan data-data RNA sebagai petunjuk untuk memandu mesin molekular CRISPR kepada target, di mana enzim akan melakukan pemotongan. Ini bisa jadi menghancurkan fungsi DNA pada lokasi tersebut, atau malah mengubah fungsi dengan memanipulasi bagaimana sel-sel dapat memperbaiki potongan itu, misalnya dengan memasukkan sekuensi genetika yang Anda pilih.

Q: Apakah yang bisa kita lakukan dengan CRISPR?

Kita dapat memanfaatkannya sebagai terapi gen yang akan memudahkan para ilmuwan untuk mengobati penyakit genetik, seperti beberapa tipe kebutaan, kelainan darah thalassemia, dan gangguan neurodegeneratif Tay-Sachs. Hal ini juga akan sangat berarti bagi era baru proses penyembuhan kanker dan infeksi viral, termasuk HIV.

Q: Awal tahun ini, ada sejumlah kontroversi kita sekelompok tim peneliti dari Cina yang menggunakan CRISPR untuk meng-edit gen embrio manusia. Bagi sebagian kalangan ini melangkahi sisi etik. Bagaimana pendapat Anda?

Dari sisi teknis, ada sejumlah teknik yang telah terbukti dapat meningkatkan spesifikasi dan keberhasilan penyuntingan gen melalui CRISPR, beberapa telah saya kembangkan di lab saya. Tim peneliti dari Cina pasti mengetahui bahwa apa yang mereka kerjakan akan mengundang kontroversi. Jadi, sangat mengecewakan ketika mereka tidak menggunakan teknik-teknik ini. Mereka mungkin juga merasa kalau menunggu terlalu lama maka akan ada peneliti lain yang melakukannya. Namun, peneliti-peneliti lain tentu tidak akan melakukannya kepada embrio manusia, jadi saya tidak tahu mengapa mereka menunda menggunakannya.

Ini jelas berbeda dengan evil science, eksperimen-eksperimen yang mereka lakukan adalah legal di beberapa negara.

Q: Jadi Anda tidak khawatir dengan isu etis/tidak yang berkembang?

Bagi saya, isu seputar keselamatan adalah isu etika itu sendiri, dan isu keselamatan tidaklah secara fundamental berbeda dengan adanya terapi baru. Teknik-teknik penyuntingan gen telah diuji coba kepada hewan secara ekstensif, termasuk kepada primata, tikus, dan suatu saat pasti kepada manusia.

Saya khawatir secara profesional. Namun, kekhawatiran saya mendorong untuk berbuat. Semakin banyak orang khawatir atau menyalahkan jalannya penelitian, maka saya akan melakukannya. Kita dapat berinovasi dengan ukuran-ukuran keselamatan yang jelas.

Q: Beberapa orang menentang adanya perubahan yang dapat mempengaruhi ‘kolam gen’ dan menghadirkan ‘bayi-bayi buatan’.

Kita sebagai manusia telah sering ‘mengacaukan’ kolam gen ketika ada seseorang yang mewarisi penyakit seperti Tay-Sachs; dengan adanya konseling kesehatan, orang tua bisa memutuskan apa yang terbaik bagi keturunan mereka di masa depan.

Kita ‘mengaduk-aduk’ kolam gen ketika kita berada di ketinggian tertentu saat terbang, yang mana meningkatkan mutasi-mutasi gen dalam mengembangkan sel sperma dan telur. Kalau Anda tidak suka dengan kenyataan seperti itu maka sebaiknya Anda menyinggung seluruhnya. Jangan terkecuali pada CRISPR saja.

Lalu ada isu mengenai nilai-nilai yang kita yakini. Bukankah kita menghargai usia panjang, intelijensia, kebugaran, kecantikan, dan lain sebagainya? Kita telah membuat generasi seterusnya lebih ter-edukasi daripada leluhur-leluhur mereka. Toh kita melakukan itu tanpa harus permisi dengan anak-anak kita. Orang-orang membayar berbagai produk untuk meningkatkan penampilan dan kesehatan mereka. Apabila hal-hal tersebut tidaklah baik maka kita ‘berangus’ saja sekalian. Tapi kita harus fair. Jangan melarang sesuatu yang lebih partikular dari semua itu, kecuali memang sangat rawan.

Q: Haruskah anak-anak mempunyai hak asasi atas apa yang diperbuat orang tua sebelum mereka lahir, atau memang itu karena pilihan yang diambil orang tua?

Para orang tua berutang pada anak-anak mereka untuk menyokong awal mula yang baik. Edukasi, nutrisi, gizi, cara hidup, keyakinan, acapkali menjadi ‘sabda’ orang tua untuk mendikte dengan alasan ‘demi kebaikan anak’. Dan para orang tua telah menggunakan konseling genetis untuk memandu pra-konsepsi dan pilihan prenatal yang diambil sehingga ketika anak mereka lahir dengan pencegahan dari terjangkit penyakit genetis serius. Kemudian ketika anak-anak mereka tumbuh dewasa, mereka akan melakukan hal yang sama kepada anak-anak mereka dengan dikte-dikte berbeda. Tentu hal itu menjadi informasi masukan baru untuk gen embrio anak mereka.

Q: Perihal penyuntingan gen ini juga menyentuh persoalan modifikasi genetik yang dianggap tak dapat diubah atau dibalikkan ke semula sehingga terus-menerus diturunkan ke generasi selanjutnya.

Isu mengenai ini yang sering menyerang saya, dan sangat jelas bahwa, penyuntingan gen tidak dapat dibalikkan ke semula pada tingkat populasi yang luas.

Jika populasi berubah karena setiap individu membuat keputusan-keputusan, itu dapat berubah lagi jika setiap pemerintahan atau individu membuat keputusan alternatif. Faktanya, semua itu dapat diubah karena teknologi selalu berkembang setiap waktu dan biayanya pun semakin berkurang. Sekarang, bisa jadi bahwa orang-orang tidak akan ingin membalikkan perubahan-perubahan yang terjadi, tapi ternyata perubahan itu bisa dilakukan walau dengan cara berbeda.

Q: Jika manusia tidak mengambil kesempatan untuk mengembangkan genetic engineering, apakah itu berarti kita mengabaikan diri sendiri?

Tentu. Pertanyaan ini sering menghampiri saya. Dengan jumlah 7 miliar lebih manusia di muka bumi yang terus beranak-pinak, tidak melakukan sesuatu bukanlah sebuah opsi. Contoh, kita dapat menghapuskan penyakit malaria dengan mendorong gen yang membantu resistensi terhadap malaria untuk menyebar luas melalui populasi nyamuk.

Q: Pasti terlalu berisiko

Sebagian dari kita mengatakan rekayasa genetika itu terlalu berisiko karena ketidaktahuan mereka. Misalnya dengan mengatakan populasi nyamuk akan punah. Tapi kalau Anda melakukan hal itu, akan ada 600 ribu orang yang selamat dari kematian akibat malaria setiap tahunnya.

Q: Anda juga tertarik pada apa yang disebut genetic augmentation. Bukankah menggunakan gen untuk terapi seperti itu, apakah fisik atau mental, merupakan kontroversi juga?

Akan menjadi kontroversi jika tidak adanya persetujuan dari konsensus orang-orang. Jika ternyata penggunaan obat-obatan, perangkat, atau terapi gen, disetujui orang banyak, dan lolos tes dari pihak-pihak berwenang (FDA) maka bukanlah sesuatu yang kontroversial dalam pandangan saya.

Q: Anda telah mengenalkan 10 varian gen langka yang bermanfaat bagi manusia.

Ya, contohnya, PCSK9 melindungi Anda dari penyakit kardiovaskular, dan itu memberikan efek manusia super dalam artian melampaui manusia rata-rata yang berisiko kardiovaskular rendah. Tiga daftar lainnya; MSTN, LRP, APOE, akan berguna sebagai terapi untuk mencegah degenerasi otot, osteoporosis, dan demensia.

Q: Bagaimana jika kita melakukan penyuntingan terhadap gen yang tidak bertalian dengan persoalan wabah penyakit? Apa jadinya masyarakat kita?

Saya pikir tidak semua orang menginginkan hal yang selalu sama. Kita tidak menginginkan semua orang tingginya sama, berambut pirang, dan bermata biru kan? Saya pikir justru dengan proses augmentasi genetik akan semakin meningkatkan keragaman.

Jika Anda ingin mengkhawatirkan sesuatu maka yang harus Anda khawatirkan adalah seberapa cepat akan menjadi tren baru. Kalau saya melakukan augmentasi pada embrio manusia maka hasilnya akan sangat signifikan ketika 20 tahun mendatang. Namun, jika saya melakukan itu untuk meningkatkan intelijensi orang dewasa, gosipnya akan menyebar cepat dan orang-orang akan mulai mencobanya. Itu akan menjadi tren, dari jutaan orang hingga miliaran.

Q: Pada 2012, Anda menerbitkan buku berjudul Regenesis, dan Anda membicarakan laboratorium Anda sebagai pusat dari teknologi baru yang bertujuan untuk mengkreasikan lagi hal-ihwal yang cocok bagi umat manusia. Bukankah karena itu banyak yang menuduh Anda tengah bermain sebagai Tuhan?

Itu tidak pernah menjadi perhatian saya. Sejatinya, kita manusia adalah insinyur. Kita membangun dunia ini sesuai kebutuhan kita dan apa yang kita lakukan. Istilah ‘bermain sebagai Tuhan’ umumnya digunakan sebagai tuduhan bahwa Anda melakukan sesuatu tanpa tujuan dan maksud tertentu.

Saya setuju bahwa kita harus berhati-hati dan saya merasakan bahwa umat manusia telah melangkah tahap demi tahap. Tentu kadang hanya tahapan kecil, tapi bisa juga lompatan besar. Namun untuk persoalan gene-editing ini membutuhkan ketelitian.


Q: Akan tetapi, teknologi kini berkembang pesat dan terlalu ‘menohok’.

george churchEinstein pernah berkata bahwa, teknologi berkembang melebihi kemanusiaan. Saya tidak setuju akan hal itu. Saya pikir bahwa, bahkan ketika teknologi berkembang terlalu pesat, kita telah menguji-coba berkali-kali dengan cara tradisional untuk dapat melesatkan teknologi. Kita tidak membutuhkan moratorium teknologi. Yang kita butuhkan adalah berpikir besar dan juga hati-hati.

Sumber: newscientist.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s