Menempuh Jalan Rasionalitas


dawkins6

Emile Durkheim dalam bukunya The Elementary Forms of the Religious Life berpendapat bahwa, bentuk agama yang paling fundamental dan primitif adalah totemisme. Apa itu totemisme? Menurut Durkheim, adalah kepercayaan kepada suatu kekuatan yang impersonal, yang meskipun terdapat pada diri makhluk-makhluk manusia, hewan dan benda atau tumbuhan, tidak dapat dicampurbaurkan dengan mereka. Ia merupakan suatu kekuatan yang bebas. Kekuatan ini akan hidup terus dan tetap sama. Ia menghidupi setiap generasi, baik yang sekarang ini, yang telah lalu maupun yang akan datang. Seseorang yang memuja kekuatan itu tidak hanya karena ia kagum terhadapnya, melainkan ia merasa memenuhi kewajibannya, tidak karena takut, melainkan hormat. Pertanyaan berikutnya dari mana gagasan asas totemik tersebut?

Totem hanyalah lambang, suatu pernyataan material dari sesuatu yang lain. Dalam hal ini Durkheim menyatakan bahwa keyakinan dan ritual-ritual agama adalah ekspresi simbolis dari kenyataan sosial. Keyakinan-keyakinan itu kemudian berevolusi dan kemudian dikenal sebagai agama modern. Kesadaran manusia primitif akan kemahabesaran alam semesta sekaligus ketidakberdayaan dirinya membuat mereka berusaha merumuskan sesuatu yang menguasai semua itu. Sesuatu yang menciptakan kosmos dan kemudian memeliharanya sehingga serasi dan selaras. Dari upayanya tersebut lahirlah mitos dalam budaya berpikir mereka. Kisah yang mereka susun sedemikian rupa hingga dianggap bisa menjawab tanya akan fenomena alam yang mereka saksikan dan rasakan.

Ketidaktahuan akan cara memahami jalannya alam semesta membuat orang-orang zaman dahulu menggagas dewa-dewi sebagai penguasa tiap segi hidup manusia. Ada dewa cinta dan perang; dewa matahari, bumi, dan langit; bahkan dewa laut dan sungai; dewa hujan dan badai petir; bahkan dewa gempa dan gunung berapi. Ketika dewa-dewi berkenan, umat manusia dianugerahi cuaca baik, perdamaian, dan perlindungan dari bencana alam dan penyakit. Namun kala dewa-dewi murka, datanglah kekeringan, perang, wabah dan penyakit. Karena hubungan sebab dan akibat di alam tak tampak di mata mereka, maka nasib seolah manusia berada dalam kehendak dewa-dewi tersebut.

Kemudian wujud kekuatan mahadahsyat itu berubah dan berevolusi. Ada era ketika tak bernama, ada era dewa-dewi, dan juga era lahirnya sosok Tuhan personal. Lalu dibentuklah aturan sistem yang mengatur tata kepercayaan, keyakinan, dan peribadatan kepada kekuatan besar yang diejawantahkan ke dalam sosok “Tuhan personal”. Aturan-aturan itu bernama agama. Fundamen aturan dari tata sistem agama tidak berbeda jauh dengan kepercayaan mitos kepada para dewa-dewi, di mana menerima dan meyakini segala kepastian yang menimpa diri dan sekitarnya berasal dari Tuhan personal yang monoteis, kemudian menaati segenap ketetapan, aturan, hukum dan lain-lainnya yang diyakininya berasal dari Tuhan.

Teori mengenai evolusi agama ini sejalan dengan apa yang diistilahkan oleh Richard Dawkins dalam bukunya The Selfish Gene, mengenai evolusi meme (baca: mim). Apa itu meme? Akar katanya dari bahasa Yunani, mimeme, alias sesuatu yang menyerupai/menirukan. Contoh meme adalah lagu-lagu, ide-ide, frasa, gaya busana, cara pembuatan pot, atau bangunan lengkungan. Sama seperti gen yang berkembangbiak dalam kolam gen dengan meloncat dari tubuh ke tubuh melalui sperma atau telur, meme berkembangbiak dalam kolam meme dengan meloncat dari budaya ke budaya manusia melalui suatu proses yang—dalam arti luas—bisa disebut imitasi.

Imitasi, dalam arti luas, adalah bagaimana meme bisa menyalin. Meme menyalin segala macam produk budaya dalam rentang ruang waktu manusia dari generasi ke generasi. Meme diteruskan kepada orang lain dalam bentuk yang telah diubah. Transmisi meme seolah tunduk pada mutasi dan pencampurbauran terus menerus. Apakah meme agama terkait dengan meme tertentu lainnya, dan apakah asosiasi ini berpartisipasi membantu kelangsungan hidup masing-masing meme? Mungkin kita bisa menganggap agama yang terorganisir (organized religion), dengan arsitektur, ritual, hukum, musik, seni, dan tradisi tertulis, sebagai satu set stabil yang bersama-sama diadaptasi oleh beberapa meme yang saling bahu membahu.

Sebagai contoh, aspek doktrin yang sangat efektif dalam menegakkan ketaatan beragama adalah ancaman api neraka. Banyak anak-anak dan bahkan beberapa orang dewasa percaya bahwa mereka akan menderita siksaan mengerikan setelah kematian jika mereka tidak mematuhi aturan agama. Ini adalah teknik khas persuasi, menyebabkan penderitaan psikologis yang besar sepanjang abad pertengahan hingga hari ini. Tapi itu sangat efektif. Mungkin telah direncanakan dengan sengaja oleh pemuka agama, dan dilatih dalam teknik indoktrinasi psikologis yang mendalam. Ide mengenai api neraka cukup sederhana, yaitu mengabadikan diri akibat dampak psikologis pribadi. Hal ini kemudian dihubungkan dengan meme agama karena keduanya saling memperkuat satu sama lain, dan membantu kelangsungan hidup satu sama lain.

Christopher Hitchens mempertanyakan dalam bukunya, God Is Not Great: How Religion Poisons Everything, agama akan tetap bertahan dalam hidup manusia, tapi layakkah ia dibela? Bagi Hitchens agama adalah sebuah pengganda besar (an enormous multiplier) atas kecurigaan dan kebencian antargolongan. Kita mungkin sering berdalih begini: bukan agamanya yang salah, melainkan manusianya. Namun ketika melihat banyak aksi kekerasan dilakukan atas nama agama, lantas apa peran agama bagi perbaikan dunia? Jangan-jangan peran agama justru memberikan keuntungan ontologis dan mendelegasikan otoritas kepada pemuka agama untuk menjaring pengikut serta mengklaim bahwa ajaran agamanyalah yang paling benar. Dalam hal ini, menjadi patut apa yang dikatakan Sam Harris dalam bukunya The End of Faith, bahwa agama adalah sesuatu yang terbuka untuk didiskusikan. Agama bukanlah sesuatu yang bisa mendapat perlakuan khusus. Kekeliruan kita selama ini adalah menganggap agama sebagai sesuatu yang istimewa sehingga selalu ada keraguan setiap kali hendak masuk ke wilayah ini.

Kemudian Daniel C. Dennet dalam karyanya Breaking the Spell: Religion as a Natural Phenomenon, berusaha menegaskan bahwa agama adalah fenomena alam belaka. Sama seperti Harris, Dennet berpendapat bahwa tak ada yang suci dari agama. Ia hanyalah sebuah produk ciptaan manusia, sebagaimana manusia menciptakan bidang ekonomi, politik, teknologi, dan bidang-bidang kehidupan lainnya. Ada beberapa hal yang perlu dilontarkan terhadap agama. Misalnya mengenai toleransi, agama tidak akan bertahan jika terus menerus mengedepankan standar gandanya soal toleransi. Karakter toleransi yang sering ditampik oleh banyak kalangan adalah soal kesetaraan posisi. Bukan hanya kepada antarumat beragama, tapi juga kepada yang menolak untuk beragama. Di masa depan, agama terancam bukan oleh isme-isme hasil penalaran spekulatif filsafat, melainkan oleh sains. Proposisi dasar dalam pertentangan agama versus sains masih sama dan simpel: agama dan sains bekerja dalam epistemologi yang berbeda. Epistemologi agama adalah wahyu Tuhan, sedangkan epistemologi sains adalah bukti empiris.

Temuan-temuan sains modern kini semakin menyerang diktum-postulat-aksioma agama. Kian kemari, sains makin menyerobot wilayah-wilayah yang dulu merupakan monopoli agama. Semakin banyak kawasan yang “diserang” itu sehingga nanti tidak ada, atau setidaknya nyaris tiada, yang tersisa untuk agama. Maka tak heran lahir ilmuan-ilmuan di bidang sains seperti Dawkins, Hitchens, Ayaan Hirsi Ali, Dennet, Sam Harris, Carolyn Porco, dan lain-lain, yang bisa dikatakan dalam buku-buku mereka juga menyerang agama. Eksistensi “totem” selama berabad-abad digoyah oleh hasil penelitian saintifik dari berbagai aspek.

Inilah tahapan perkembangan umat manusia ke depan yang menempuh jalan rasionalitas. Oleh karena itu, ketika sekarang ini masih ada orang-orang yang melarang untuk mengkritik agama, sesungguhnya itu suatu pembodohan politik yang meminimalisir daya intelektualitas masyarakat. Pembodohan sistematis yang sengaja dipelihara oleh rezim penguasa. Padahal, di sisi yang lain penguasa sendiri suka memainkan isu seputar agama melalui ormas-ormas radikal yang memang sengaja dipelihara oleh kekuasaan status quo untuk mengalihkan kesadaran masyarakat dari persoalan yang menyangkut hajat hidup masyarakat secara langsung yaitu persoalan ekonomi-politik.

Di Indonesia rasa sensitifitas masyarakat begitu kuat dipelihara, jadi jangan kaget jika banyak kekerasan berlatar belakang isu primordialisme dan agama yang sebenarnya tidak terlalu penting untuk dibahas. Jika ada hukum di Indonesia seperti Pasal 156a KUHP dan PNPS ’65 tentang penodaan agama yang melegitimasi pemberian hukuman terhadap suatu subjek hukum personal, maka sesungguhnya hukum itu adalah hukum yang absurd. Hukum yang berusaha menghukum keyakinan seorang warga negara yang tidak diatur dalam kaidah-kaidah hukum positif adalah secacat-cacatnya hukum.

Hukum adalah milik pemenang, dan hukum positif tentang kebebasan berkeyakinan dipelihara oleh elite-elite politik yang memang suka memelihara kebodohan. Sementara di negara yang demokrasinya sehat dan peradabannya maju, bicara lintas agama dan kritik terhadap dogma agama sudah menjadi sesuatu yang lumrah. Bukan lagi menjadi isu sensitif, apalagi dianggap sebagai upaya pemecah belah persatuan bangsa. Tuduhan tak mendasar dan lagi-lagi absurd. Maka dari itu, jika ada pertanyaan mengenai bagaimana langkah untuk memajukan bangsa ini? Melangkah di jalan rasionalitas lebih penting ketimbang jalan agama.

 

Sumber: siperubahan.com

One thought on “Menempuh Jalan Rasionalitas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s