Membongkar Penafsiran Otoriter dalam Beragama


otoriter2

Adolf Eichmann adalah seorang aparat di kamp konsentrasi Nazi. Ia diadili sebagai salah satu pelaku pembantaian ratusan orang Yahudi dalam peristiwa Holocaust. Ia tak merasa bersalah karena menganggap itu tugas negara.

Filsuf Jerman, Hannah Arendt, yang mengamati sidang itu, melihat para eksekutor seperti Eichmann bukan pengidap skizofrenia atau psikopat, melainkan warga negara yang menganggap wajar tindakannya karena dibenarkan negara. Arendt menyebut fenomena ini sebagai kedangkalan yang akut.

Ketika Hitler berkuasa, mereka seolah sami’na wa atho’naHitler befiehlt wir gehorchen, kalau Hitler sudah memerintah kita tinggal mematuhi saja. Filsuf Jerman lainnya, Theodor W. Adorno berpandangan bahwa, gejala akut sesungguhnya diderita oleh orang-orang yang menaati penguasa tiran dan otoriter akibat adanya kepribadian otoritarianisme, yaitu kepribadian yang dengan mudahnya tunduk pada otoritas tanpa adanya secuil pertanyaan. Hal ini ditandai oleh labilnya kondisi psikis dan malas berpikir. Daripada berpikir macam-macam, lebih baik tunduk, patuh, dan laksanakan perintah pemegang otoritas.

Meskipun seseorang itu sangat jenius, tapi jika mempunyai kepribadian otoritarianisme, justru akan sangat adaptif terhadap rezim otoriter. Kepribadian otoritarianisme menimbulkan sikap adaptif, dan dengan cara beradaptasi itu membuat mereka survive. Ciri lain dari pemilik kepribadian ini adalah rigidity in viewing, artinya cara pandang yang rigid sehingga kalau melihat dunia hanya hitam-putih belaka, yang berbeda dari dirinya berarti salah semua. Kemudian ciri berikutnya adalah loyalitas terhadap nilai-nilai tradisional yang radikal.

Kedangkalan akut juga ditemui dalam realitas keberagamaan (religiosity). Kepribadian-kepribadian semacam ini dapat ditilik dari praktik-praktik keberagamaan yang terjadi di Indonesia. Orang-orang yang memiliki kepribadian otoritarianisme, selalu menggunakan cara pandang oposisi biner keliru-benar, hitam-putih, buruk-baik, kami benar dan kalian keliru. Itulah kacamata yang digunakan.

Padahal, sering kita mendengar pendakwah-pendakwah yang menyampaikan bahwa, ijtihad dapat menghasilkan kebenaran atau kekeliruan. Kalau benar, berarti mendapat dua pahala dan kalau salah dapat satu pahala. Ada pula yang mengatakan bahwa di dalam kebenaran pasti ada kekeliruan. Dan di dalam kekeliruan ada kebenarannya. Artinya, di sini adalah bahwa kita tidak bisa memandang perilaku keagamaan dengan cara pandang oposisi biner tersebut.

Kepribadian otorianisme juga ditandai dengan etnosentrisme, kesetiaan yang berlebihan kepada kelompoknya, dan menganggap yang di luar kelompoknya berada dalam kekeliruan, kesesatan, kekafiran, dan sebagainya. Seperti Hitler yang terlalu memuja rambut pirang, kulit putih, dan mata biru ras aryan. Ini sama saja dengan orang-orang fanatik dalam beragama. Mereka yang menganggap kelompok keagamaannya paling benar dalam beragama. Orang-orang yang menganut agama dengan kepribadian otoritarianisme disebut oleh Adorno sebagai penganut neutralized religion.

Mereka biasanya menganut agama untuk memperoleh keuntungan praktis, atau menggunakan agama untuk memanipulasi orang lain. Semisal untuk menunjang harga dirinya, status sosialnya, ekonominya, dan sebagainya. Di sisi lain, mereka menggunakan agama untuk menghakimi orang lain yang tak sejalan. Sekalipun apabila secara sosial mereka berada di dalam strata kelas terendah, maka mereka akan tetap bertahan dengan sikap militan disebabkan apa yang mereka taati dan jalankan berasal dari sang pemilik otoritas. Dengan berpemahaman demikian, mereka akan terus merasa bahwa mereka itulah individu-individu paling benar, pilihan, juru selamat, penghuni surga, dll.

Aksi kekerasan berbasis agama yang marak terjadi di Indonesia memperlihatkan bahwa penafsiran ‘otoriter’ atas ajaran agama masih eksis di tengah-tengah kita. Tafsir otoriter terjadi ketika seseorang mengklaim bahwa, penafsirannya yang paling benar dan sepenuhnya merepresentasikan kehendak Tuhan. Adapun penafsiran lain yang berbeda dianggap salah dan jauh dari kehendak Tuhan.

Di sinilah seseorang itu secara sadar atau tidak telah bertindak sebagai tentara Tuhan, dan mengatasnamakan Tuhan. Orang yang demikian ini pada dasarnya, menurut Khaled Abou el Fadl dalam Speaking in God’s Name: Islamic Law, Authority and Women, tidak hanya keliru karena mengklaim dirinya sebagai tentara Tuhan, tapi lebih dari itu seolah ia telah memposisikan dirinya sebagai Tuhan yang memiliki kuasa (otoritas) untuk menghakimi orang-orang yang tidak sepaham dengannya. Tafsir otoriter ini pada akhirnya mengkristal menjadi sebuah ideologi otoriter yang destruktif, bukan hanya dari segi pemikiran, tapi juga gerakan.

Mengingat batas otoritatif dan otoriter memang sangatlah tipis. Jika otoritatif mengandaikan adanya pengkajian mendalam sebelum bertindak, maka otoriter akan menunjukkan dirinya sebagai pihak yang paling otoritatif dan wajib diikuti. Sebagai konsekuensinya, keberagamaan manusia telah mengalami materialisasi, yang tergambar dari keangkuhan manusia yang merasa paling tahu tentang kehendak Tuhan.

Acapkali dengan berdalih menjaga “kemurnian” agama, tidak sedikit agamawan yang menjustifikasi benar dan salahnya pemahaman tertentu. Di negeri ini seakan berlaku hukum yang mewajibkan bahwa, pemikiran yang berbeda harus diluruskan sesuai dengan parameter-parameter yang diusungnya. Terdapat kekakuan identitas komunal yang dianggap superior dan paling autentik.

Yang diperlukan kini adalah membongkar logika penafsir tunggal atas teks agama. Padahal, penafsiran agama cenderung otoriter, apalagi kalau sudah melembaga. Ada benarnya perkataan Jean-Paul Sartre, “Kalau pun Tuhan itu ada, kita mesti menolaknya sebab Tuhan itu menghalangi kemerdekaan”. Dalam artian, kita sebagai manusia harus menolak eksistensi kita yang melampaui kemanusiaan dan bahkan bertindak sebagai Tuhan.

Lebih berbahaya lagi apabila sikap otoriter ini dilegitimasi agama dan juga negara. Biasanya negara mendukung penafsiran tunggal dalam keberagamaan masyarakat lantaran ada motif untuk meredam gejolak yang terjadi di masyarakat dan juga mengontrol mereka-mereka yang bertindak sebagai penafsiran tunggal. Seperti yang diungkapkan Nietzsche bahwa, Tuhan sebagai pengarang teks agama (kitab suci) telah mati, dan kita manusia telah membunuh-Nya. Dalam pandangan post-modernisme, peradaban itu sendiri yang membunuh Tuhan melalui ‘mulut’ Nietzsche maka Tuhan akan bangkit lagi dalam peradaban manusia melalui ‘tangan-tangan’ otoriter. Saat itu pula bayang-bayang kuasa menyelubungi apa yang disebut-sebut sebagai rahmat bagi alam semesta.

Sumber: siperubahan.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s