Teknologi, Ekonomi, dan Ekologi


egoeco
Banyak orang masih hidup dalam anggapan lama. Mereka mengira, bahwa kemajuan ekonomi suatu negara tergantung pada perkembangan teknologi di negara tersebut. Jika kita ingin maju secara ekonomi sebagai suatu bangsa, maka kita harus membangun industri-industri berat yang berpijak pada teknologi canggih, seperti pesawat, mobil, satelit, internet dan sebagainya. Ahli ekonomi ternama sampai dengan pedagang di pinggir jalan di Indonesia masih hidup dan bekerja dengan anggapan ini.

Filsafat, Sains dan Teknologi

Teknologi adalah anak dari ilmu pengetahuan. Teknologi adalah rekayasa alam demi pemenuhan kepentingan manusia dengan menggunakan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan sendiri berkembang dari upaya manusia untuk memahami alam dengan metode eksperimental (melalui rangkaian percobaan dan penggalian data) dan empiris (hanya mengakui apa yang bisa dicerna dengan panca indera dan diukur dengan menggunakan statistik).

Ilmu pengetahuan sendiri adalah anak dari filsafat, yakni upaya manusia untuk secara rasional, kritis, logis dan sistematis di dalam memahami segala sesuatu di sekitarnya. Ilmu pengetahuan menyempitkan filsafat ke dalam metode eksperimental dan data empiris semata. Teknologi lalu menyempitkan ilmu pengetahuan ke dalam rekayasa teknis semata, guna menghasilkan mesin dan prosedur tertentu untuk mengubah alam demi kepentingan manusia. Semua ini dilihat sebagai aktivitas yang mampu mengembangkan ekonomi suatu negara secara khusus, dan peradaban manusia secara umum.

Hampir semua negara di dunia menanamkan uang yang sangat besar untuk mengembangkan filsafat, sains dan teknologi di negara mereka. Milyaran rupiah digunakan untuk mendanai beragam bentuk penelitian yang berpusat di universitas-universitas dan pusat-pusat penelitian. Begitu banyak hal baik yang muncul dari perkembangan filsafat, sains dan teknologi ini, mulai dari terciptanya sistem politik dan ekonomi yang mengedepankan martabat manusia, sampai dengan perkembangan teknologi kedokteran yang menyelamatkan begitu banyak orang dari kematian, akibat penyakit. Namun, batas akhir kini mulai tampak.

Krisis Ekologi

Anggapan lama tentang hubungan erat antara perkembangan ekonomi dan kemajuan teknologi kini mulai digoyang. Perkembangan teknologi tidak otomatis menciptakan perkembangan ekonomi, melainkan sebaliknya, ia justru mendorong terciptanya kesenjangan sosial dan, yang terpenting, kerusakan lingkungan. Beragam industri dibangun untuk menghasilkan beragam produk secara cepat, murah dan banyak. Namun, begitu banyak limbah dihasilkan oleh beragam industri tersebut.

Sampai sekarang, industri pengolahan limbah di berbagai negara masihlah amat lemah. Limbah dan sampah hasil produksi pabrik banyak sekedar ditimbun ke tanah dan dibuang ke laut begitu saja. Akibatnya, lingkungan menjadi rusak. Air menjadi tercemar oleh polusi, dan begitu banyak ekosistem laut rusak, akibat limbah yang dibuang begitu saja.

Negara-negara miskin dipaksa menjual tanahnya kepada negara-negara kaya untuk pembuangan limbah. Akibatnya, lingkungan sekitar tempat pembuangan limbah tersebut rusak. Panen gagal dan air tercemar. Orang-orang yang tinggal di daerah sekitarnya pun menjadi sakit, dan terpaksa meninggalkan tanah kelahiran mereka.

Yang paling parah memang industri pertambangan. Pertambangan tidak hanya menghasilkan limbah yang besar, tetap secara agresif merusak alam, demi mengambil sumber daya alam yang terkandung di dalamnya. Gunung diratakan demi emas yang ada di dalamnya. Hutan dibabat habis demi minyak ataupun logam-logam lainnya yang terkandung di tanahnya.

Ini semua adalah hasil dari perkembangan teknologi yang mendorong pembangunan beragam industri, mulai dari industri tekstil sampai dengan pertambangan raksasa. Pendek kata, industri-industri buah dari perkembangan teknologi ini merusak alam, dan demikian juga menciptakan penderitaan yang berat, baik secara ekonomi, kultural, sosial, politik maupun kesehatan, kepada berbagai komunitas di dunia. Dalam arti ini, perkembagan teknologi tidak mendorong perkembangan ekonomi, melainkan justru pengrusakan alam, dan pemiskinan berbagai komunitas di dunia, terutama komunitas-komunitas di daerah miskin di dunia. Perkembangan teknologi telah menjadi begitu tanpa arah dan kehilangan kendali, sehingga justru menghasilkan penindasan global terhadap mereka-mereka yang miskin.

Mengubah Anggapan

Anggapan lama tersebut harus dibuang sekarang ini. Fokus kita bukanlah mendorong perkembangan teknologi untuk perkembangan ekonomi lagi, tetapi mendorong pembagian kekayaan secara merata ke seluruh dunia. Kata “perkembangan“ haruslah ditinggalkan, dan diganti dengan kata “pembagian“. Dunia ini cukup untuk menunjang hidup yang bermartabat untuk semua mahluk hidup di dalamnya, asal ditata dengan adil, yakni menciptakan pembagian yang adil dan merata untuk semua mahluk, tanpa kecuali. Obsesi pada “perkembangan“ teknologi dan “perkembangan ekonomi“ justru merusak lingkungan hidup dan menghancurkan ekonomi itu sendiri.

Untuk bisa mencapai arah ini, kita perlu melepas pandangan antroposentris yang bercokol di kepala kita. Pandangan ini menekankan, bahwa manusia adalah mahluk spesial di alam ini yang berhak untuk mengatur semuanya demi memuaskan kebutuhan dan kepentingannya. Pandangan ini salah kaprah, dan justru menghancurkan semua mahluk hidup, termasuk manusia sendiri. Kita perlu melihat diri kita sebagai bagian yang tak terpisahkan dari alam semesta ini.

Hanya dengan begitu, peradaban manusia bisa bergandengan tangan dengan seluruh alam semesta ini dan menciptakan komunitas yang adil dan makmur untuk semua, tanpa kecuali. Ini disebut juga sebagai kesadaran etis-ekologis. Kesadaran ini jauh lebih penting dari obsesi pada perkembangan teknologi untuk perkembangan ekonomi semata. Kesadaran ini berpijak pada “pembagian“ sumber daya yang merata demi kehidupan semua mahluk hidup, dan bukan kehidupan segelitir orang saja.

Untuk apa kaya dan maju secara teknologi, tetapi kita tidak lagi bisa menghirup udara segar di depan rumah kita? Untuk apa menggunakan telepon seluler seri terbaru dan mobil canggih, namun selalu melihat saudara kita di belahan dunia lain tercabik oleh perang dan kemiskinan? Untuk apa? Apakah hidup hanya sekedar mobil mewah, rumah indah, dan memiliki semua peralatan canggih?

Oleh: Reza A. A. Wattimena

Dosen Filsafat Ilmu Pengetahuan dan Filsafat Politik

Unika Widya Mandala, Surabaya

sumber: rumahfilsafat.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s