Seksisme Seharusnya Digolongkan Sebagai Hate Speech


seksismeKalau kita perhatikan beberapa trend dalam penggunaan bahasa Indonesia akhir-akhir ini, timbul kesan bahwa bahasa Indonesia mempunyai persoalan dengan gender. Di negara-negara Barat, politik bahasa adalah sebuah persoalan yang sangat penting bagi gerakan perempuan. Apakah bahasa Indonesia bersifat seksis sehingga berbagai perubahan (reformulasi kebahasaan) untuk menghilangkan bias gender perlu diadakan? Dan apakah kecenderungan baru ini memang berhasil menghapus atau melawan seksisme?


Dalam sejarah emansipasi perempuan, ada beberapa gerakan perjuangan yang kemudian sering disebut sebagai feminisme. Acapkali awal-awal feminisme diasosiasikan pada gerakan perempuan tahun 1920-an di Amerika yang memperjuangkan hak suara dalam pemilu, menentang pembatasan-pembatasan terhadap perempuan di dunia kerja, dan juga mengenai upah yang setara dengan pria. Pada tahun ‘60 sampai ’70-an, arah perjuangan terus berkembang. Yang terkenal adalah Women’s Liberation Movement yang terkenal dengan sebutan feminisme revolusioner (tokoh-tokohnya seperti Carol Hanisch dan Elizabeth Sutherland) yang berpandangan bahwa, pembebasan kaum perempuan (women’s liberation) tidaklah cukup untuk dijelaskan dengan istilah-istilah umum di dalam sistem, di mana sistem itu sendiri merepresi berbagai kelompok dengan berbagai cara. Perempuan harus mempelajari metode-metode spesifik yang digunakan agar para perempuan tetap berada dalam keadaan direpresi, bahwa perempuan terus diyakinkan sepanjang waktu sebagai warga negara kelas dua di bawah pria, dan seluruh aspek kehidupan mereka didefinisikan sesuai konsepsi pria.

Kemudian muncullah pernyataan bahwa, kita tidak dapat berbicara soal emansipasi perempuan sampai mereka benar-benar membebaskan diri dari mitos dan menerima bahwa diri mereka juga sebagai warga negara utama selayaknya pria. Gerakan ini terinspirasi dialektika materialisme Marxis, yang kemudian dikenal sebagai gelombang kedua feminisme. Dialektika materialisme mempostulasikan bahwa, di dalam sejarah selalu ada konflik atau pertentangan antara the forces of progress dan the forces of reaction. Sebagai contoh, konflik antara buruh dan modal dasar, yang mana konflik selalu diselesaikan secara destruktif yang menghancurkan reaction (modal) oleh progress (buruh). Secara paralel, pengejawantahan dialektika Marxis tersebut menempatkan pria pada posisi reaction dan perempuan pada posisi progress.

Shulamith Firestone yang dikutip oleh Sara Mills dalam tulisannya berjudul Language and Sexism mengatakan bahwa, “bahasa tidak memberitahukan kepada kita tentang nilai-nilai suatu kelompok atau institusi yang terkandung dalam budaya kita di masa lalu, yang mana secara instrumental memasukkan perspektif mereka sendiri melalui bahasa. Bagaimanapun, bahasa sebagaimana yang kita gunakan sekarang ini memuat sumber-sumber berharga di dalamnya untuk perjuangan kita, baik politis dan moral, di atas siapa pun yang menyuarakan perlunya direpresentasikan dan dimediasi.”

Dengan demikian, menurut Sara Mills, bahasa adalah arena perjuangan. Dialektika materialisme klasik berkontribusi pada pembeberan kekuatan-kekuatan sosial sebagai massa yang bertentangan dengan massa lain yang sedang berkonflik, dan konflik itu memproduksi wacana-wacana dan ideologi-ideologi. Represi terhadap perempuan, apa pun warna kulitnya, meski berbeda-beda, tapi mempunyai kesamaan bentuk. Dengan demikian, perlu diperbincangkan di antara gerakan perjuangan perempuan mengenai faktor-faktor kesamaan itu dan mulai membangun jejaring di antara mereka. Dengan jejaring itu, kekuatan revolusioner dapat saling bergabung dalam rangka beroposisi.

Dialektika Marxis memberikan konsep yang familiar mengenai kerangka permanen revolusi sebagai kesatuan dari aneka ragam bentuk perjuangan perempuan. Mengutip perkataan Sara Mills;

“It is clearly not the hostility of individual men alone which is responsible. Since the hostility of individual men is only possible because there are institutional supports to see this type of viewpoint as permissible. In example, the ‘struggle’ is that of the ‘progressive’ woman base rising against the reactionary man base. The discourses deployed in the Radical Feminist ‘struggle’ count among the more progressive discourses.”

Penggunaan bahasa-bahasa seksis semestinya diposisikan sebagai salah satu kategori dari hate speech, yang mana bukan hanya ekspresi individu, melainkan suatu sarana yang digunakan untuk merekatkan kelompok dominan atas minoritas. Preposisi ini kemudian menjadikan bahasa sebagai wacana yang tidak hanya kita produksi, tapi juga diproduksi untuk kita dalam rangka mengkonstruksi diri kita sebagai individu dan juga bagaimana kita berinteraksi dengan orang lain. Oleh karena itu, diperlukan pemograman bahasa—tentunya membutuhkan kebijakan politik negara juga—untuk mengonter bahasa-bahasa seksis yang berkembang di masyarakat.

Istilah Greco-Latin yang berkaitan dengan gender dan sampai sekarang digunakan adalah “sex” untuk mendefinisikan jenis kelamin. Sesungguhnya bahasa ini tidaklah pas dan menyudutkan perempuan yang kemudian dipakai dalam tema-tema literatur yang kerap tidak memisahkan antara “sex” dan anatomi tubuh perempuan. Sebagai langkah perjuangan perempuan, para pengarang feminis menggunakan istilah “gender” ketimbang “sex” di mana gender cakupannya lebih luas dan tidak diskriminatif.

Contoh lain adalah kata female (fem dan elle) untuk menciptakan subordinasi dari male. Etimologi kata women juga bermasalah. Asal katanya wyfman, terdiri dari wyf asal kata dari wife. Maka woman berarti wife of man. Sementara itu, kata man sendiri tadinya adalah penamaan untuk sisi jantan dari spesies manusia. Karenanya, wyfman (yang kemudian menjadi woman) juga bermakna pejoratif. Pria dewasa dalam bahasa Inggris hanya memiliki satu sapaan Mr.(Mister) meskipun pria itu sudah menikah atau belum. Sedangkan perempuan disebut Miss, Mrs, Ms. Ketika ia masih gadis disapa dengan Miss, ketika menikah menggunakan Mrs., dan kata Ms. merupakan tawaran kata sebagai Mr. yang digunakan sebagai sapaan tanpa menghiraukan masih gadis atau sudah menikah. Kalau menilik dalam bahasa Indonesia, misalnya, istilah “wanita” bermakna pejoratif wani ditata, yang secara implisit gambaran perempuan adalah sosok yang harus ditata oleh pria.

Studi kesetaraan gender yang didengungkan oleh para feminis tak pelak menghadapi dilema dalam hal ini. Di satu sisi, mereka memperjuangkan bagaimana para perempuan mampu keluar dari tugasnya di dalam ruang privat. Tapi di sisi lain, ketika para perempuan mampu terlepas dari ruang privat dan aktif di ruang publik tak sedikit masalah baru justru bermunculan. Citra perempuan yang cenderung tidak positif telah mereduksi harkat dan martabatnya ke tingkatan paling rendah. Salah satu penyebabnya adalah bahasa seksis, yakni bahasa yang merepresentasikan pria dan perempuan secara tidak setara atau tidak seimbang, di mana anggota kelompok gender yang satu dianggap lebih rendah kemanusiaannya, lebih sederhana, lebih sedikit hak-haknya daripada anggota kelompok gender yang lain. Contoh paling sederhana adalah nama belakang seorang perempuan yang telah menikah. Biasanya setelah nama diri, tidak sedikit yang menambahkan nama suami di belakangnya. Atau, penambahan nama ayah (bukan nama ibu) di belakang nama seorang anak demi melanggengkan eksistensi, dinasti, patrilineal dalam keluarga.

Stereotip dalam bahasa seperti ini jelas merupakan produk kultural (terbentuk melalui nurture) dan bukan yang timbul karena sifat alamiah (terbentuk oleh nature). Hal-hal yang sifatnya kultural ini tercermin dalam bahasa yang digunakan oleh suatu masyarakat. Selain sebagai alat komunikasi, bahasa juga mencerminkan masyarakat dan budaya tempat bahasa itu hidup dan digunakan, termasuk pandangan hidup masyarakat pemakainya. Namun, bahasa juga membantu membentuk cermin tersebut. Konsep yang terbentuk secara kultural ini seringkali diperkuat lagi melalui lembaga pendidikan sebagai lembaga yang secara sistematis ‘membentuk’ konsep seksisme bahasa lewat pelajaran sekolah. Ambil saja sebuah contoh yang sering dijumpai dalam pelajaran bahasa Indonesia anak sekolah dasar, misalnya siswa mempelajari penggunaan kata ‘sedangkan’. Contoh, “Ibu memasak di dapur, sedangkan ayah membaca koran”. Dari hasil pekerjaan siswa itu, seorang guru bahasa Indonesia–yang kebetulan perempuan–meminta murid lainnya untuk membuat kalimat yang menggunakan kata ‘sedangkan’. Lagi-lagi seorang siswa menulis “Ayah pergi ke kantor, sedangkan ibu pergi ke pasar”.

Adapun bahasa seksis yang berkonsep “bertanda-tak bertanda” merujuk kepada istilah asimetri yang dibentuk dengan memberikan penambahan pada kata untuk memberikan ciri feminitas. Sebagai contoh adalah kata polisi, dokter, hakim, maupun tentara. Kesemua kata itu akan merujuk kepada maskulinitas karena ketika menyebutnya maka asumsinya adalah laki-laki. Kemudian dengan menambahkan “wanita” (polisi wanita) yang menjadi subordinasi profesi dengan asumsi maskulinitas tersebut. Sebaliknya, untuk kata-kata seperti perawat, sekretaris, penari, maka akan sangat identik dengan feminitas, sehingga tidak perlu kita tambahkan kata “wanita” di belakangnya.

Konsep “bertanda-tak bertanda” juga dijumpai dengan penanda morfologis, yakni penggantian akhiran “i” atau “ti” pada kata pemuda menjadi pemudi, siswa menjadi siswi. Atau dengan akhiran wan dan wati, seperti kata karyawan dan karyawati, wartawan dan wartawati, dan lain sebagainya. Dalam bahasa Inggris dikenal akhiran “ess”, seperti “actress”, “hostess”, yang merujuk kepada feminitas. Sedangkan dalam bahasa Arab dikenal adanya penandaan huruf ta’ marbuthah, seperti “muslimah”, “mu’minah”, dan lain sebagainya. Sebagaimana dikatakan oleh George Lakoff, asumsi yang mendasari seksisme adalah ideologi yang mencerminkan ketidakadilan (kalau tidak boleh dikatakan “merendahkan”) martabat wanita, dan tercermin dalam berbagai tataran kebahasaan yang merupakan perwujudan ideologi tersebut. Asumsi ini seringkali menimbulkan stereotip seksual. Dalam keseharian kita, ada bentuk-bentuk seksisme (Sexism) yang dipraktikkan masyarakat dalam berbicara;

Old fashioned Sexism. Tipe-tipe seksisme yang sekuno kepercayaan bahwa satu gender secara harafiah lebih superior dari gender yang lain. Disebut old fashioned karena pernyataan-pernyataan seksis seperti ini umumnya sering kita dengar. Misalnya:

“Laki-laki itu lebih pinter dari perempuan.”

“Yang jadi pemimpin harusnya laki-laki, soalnya perempuan itu suka berpikir nggak logis.”

“Perempuan nggak usah sekolah tinggi-tinggi, toh akhirnya harus ke dapur juga.”

“Perempuan itu konco wingking, teman di belakang/pengikut.”

“Perempuan itu 3M, Macak, Masak dan Manak (Berdandan, masak dan beranak).”

“Wilayah kekuasaan perempuan itu di 3Ur, Sumur, Kasur, Dapur.”

Modern Sexism. Sexisme modern ini muncul dari anggapan bahwa laki-laki dan perempuan sudah setara dan sejajar dalam masyarakat; biasanya mereka melihat dari kenyataan bahwa perempuan sekarang sudah melakukan banyak hal luar 3 M, dan menempati wilayah kekuasaan di luar 3 Ur. Jadi muncullah pendapat bahwa seksisme itu sudah bukan lagi masalah dalam masyarakat, hal-hal yang dirancang untuk memudahkan perempuan sudah tidak diperlukan lagi dan perempuan yang masih mengeluhkan soal seksisme akan dianggap ketinggalan zaman, atau bahkan perusuh.

Modern sexism ini mengabaikan fakta-fakta bahwa untuk beberapa kasus diskriminasi gender itu masih ada, semisal gaji untuk perempuan yang lebih rendah dari laki-laki, atau jumlah perempuan yang mewakili perempuan di ranah politik lebih sedikit dari laki-laki. Maka kemudian muncul ejekan, “Sudah diemansipasi, masih ribut, masih bawel,” orang-orang yang memperjuangkan masalah ini, lama-lama akan dianggap jadi pengganggu yang rewel sehingga harus dibungkam.

Ada 3 jenis seksisme lagi menurut Post-modern feminisme; yaitu ambivalenthostile, dan benevolent. Namun ambivalent masuk ke dalam modern sexism, sementara yang hostile dan benevolent itu menjadi komponen ambivalent sexism.

Hostile Sexism, yaitu yang berdasarkan ‘kebencian’, dianggapnya bahwa perempuan itu makhluk cengeng yang suka mengontrol laki-laki. Perempuan sumber masalah (laki-laki).

Contoh hostile sexism;

“Ah, perempuan sih, tinggal nangis/merengek untuk mendapatkan apa yang dia mau. (atau perempuan tinggal memanfaatkan tubuhnya untuk mendapatkan yang dia mau).”

“Perempuan nggak menghargai pengorbanan yang dilakukan laki-laki.”

“Para feminis itu kan geng patah hati, makanya benci cowok dan semuanya lesbian.”

Sementara benevolent sexism itu arahnya kepada anggapan bahwa perempuan memiliki kemurnian dan moral yang lebih baik dari kaum laki-laki sehingga mereka harus dilindungi dan dijaga dengan baik. Apa bahayanya benevolent sexism?

Benevolent itu mudah diterima karena bersikap simpatik, tapi ujungnya bakal memelihara diskriminasi. Perempuan adalah makhluk lemah yang harus dilindungi oleh laki-laki, tidak boleh bekerja berat, harus selalu dibantu, harus disokong finansial oleh laki-laki, pada akhirnya bakal membuat perempuan tidak sebagai manusia mandiri seutuhnya, tapi sebagai sosok yang tergantung pada sosok lain.

Diskursus mengenai bahasa seksis kemudian berkembang menyoroti budaya pop di masyarakat, terutama di media massa seperti televisi atau surat kabar. Misalnya, sebuah majalah menulis judul berita, “pembunuh perempuan ber-BH putih sudah ditemukan”. Dari judul tersebut yang patut untuk dikrtitisi yaitu mengapa harus membawa unsur gender “perempuan ber-BH” yang disandingkan dengan korban pembunuhan. Perempuan dalam posisi tersebut adalah korban. Kenapa bukan gender laki-laki sebagai pelaku yang dicantumkan dalam berita itu. Hal demikian memperlihatkan adanya ketimpangan kekuasaan yang terdapat di masayarakat. Dengan kata lain, perempuan berada pada posisi subordinat dan hanya dijadikan sebagai objek.

Media televisi juga cukup sarat dengan diskriminasi dalam iklan yang selama ini ditayangkan. Dari iklan pemutih kulit hingga produk kopi susu. Ada iklan yang merepresentasikan bahwa laki-laki yang kuat adalah mereka yang mongkonsumsi produk minuman berenergi. Sosok laki-laki keren dan kuat tersebut diwujudkan dengan pemilihan model dengan badan six pack dan tinggi besar. Walhasil, masyarakat selalu memiliki penilaian bahwa laki-laki yang sempurna dapat dilihat dari sisi fisik yang tinggi, berbadan tegap dan six pack. Contoh berikutnya, yaitu iklan pemutih wajah juga sangat mempengaruhi pemikiran para perempuan. Di setiap iklan selalu dimunculkan pernyataan bahwa perempuan cantik adalah perempuan dengan kulit putih merona. Mereka yang berkulit gelap atau sawo matang menjadi tidak cantik. Padahal, jika dikaji lebih dalam, konstruksi tampan dan cantik yang dilihat dari tubuh tinggi, kulit putih hingga hidung mancung adalah konstruksi yang disebarkan oleh warisan kolonialisme karena bangsa penjajah merasa bahwa ciri fisik mereka adalah sosok yang tampan dan cantik. Konstruksi yang ditanamkan demikian kemudian dimanfaatkan oleh para pemodal untuk menjual produk-produknya agar dapat memperoleh keuntungan sebesar-besarnya dari masyarakat Indonesia.

Sebagai contoh dalam ajang pemilu, kita melihat banyaknya perempuan yang berprofesi di dunia panggung televisi ramai-ramai mencalonkan diri sebagai caleg. Lalu tiba-tiba di jejaring sosial internet, muncul gambar-gambar perempuan itu yang hanya berpakaian BH dan celana dalam. Di sini, pelaku penyebaran gambar tersebut berupaya mengkonstruksi moralitas dan keterwakilan perempuan di lembaga legislatif dengan tolak ukur BH dan celana dalam sekalipun mendadak para pesohor itu langsung menggunakan jilbab dan busana tertutup. Frasa “menutup aurat” pun sebenarnya juga bahasa seksis yang digunakan oleh dominasi patriarki sebagai politik anatomi tubuh perempuan. Sambil mempromosikan konsep “tutup aurat”, bahkan melalui perda-perda yang legal formal, mereka juga mengkonstruksi bagaimana sosok perempuan yang “baik”, “sempurna”, “bidadari surga”, dan istilah lainnya.

Sangat diperlukan adanya reformulasi kebahasaan supaya bahasa yang seksis diubah menjadi bahasa yang berkesetaraan gender agar menghilangkan sub-ordinasi terhadap perempuan yang selama ini dilakukan oleh masyarakat, termasuk dalam penggunaan bahasa keseharian mereka. Upaya dekonstruksi makna gender melalui bahasa akan menjadi sarana yang fair dan konstruktif. Karena seksisme bahasa juga dilakukan melalui penggunaan bahasa yang bias maka hal ini menjadi bentuk tanggung jawab seluruh elemen masyarakat dan juga negara. Dengan Reformulasi kebahasaan diharapkan kemudian akan menggeser pola pikir pengguna bahasa dan sistem budaya yang selama ini menghasilkan seksisme bahasa.

Sumber: siperubahan.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s