Masyarakat Berjejaring dan Mesin Produksi Virtual


mesin produksiMaraknya protes dan pemogokan buruh merupakan bentuk kesadaran buruh atas peran vital mereka dalam proses produksi. Mereka mulai merapatkan barisan, memperkuat serikat buruh dan menaikkan posisi tawarnya di hadapan pihak manajemen. Para buruh menolak kerja overtime yang kerap diperintahkan demi meningkatkan produktivitas pabrik (mengingat saat itu produksi massal menjadi ujung tombak bagi kapitalisme). Alhasil pemogokan terjadi di mana-mana. Efeknya tentu detrimental bagi pihak manjemen: produksi terhenti, akumulasi kapital terganggu, profit mandek. Di sini kapitalisme berada di ambang transisi.

Sejarah menunjukkan, politik-ekonomi neoliberal turut membantu menyelesaikan krisis ini. Serikat buruh dibubarkan, sistem kerja kontrak (outsource) diperkenalkan, relokasi industri difasilitasi dan berbagai instrumen hukum untuk memperkuat manajemen vis-a-vis buruh dikeluarkan. Semuanya demi satu hal: menciptakan iklim bisnis yang kondusif. Namun demikian yang menarik adalah apa yang terjadi di dalam pabrik kapitalisme itu sendiri. Transformasi paradigmatik melanda pola manajerial kapitalisme yang kesemuanya dilakukan tidak hanya untuk keluar dari problem pemogokan buruh ini, melainkan juga untuk mencegah tragedi serupa di kemudian hari. Tepat pada konteks inilah kita sebaiknya meletakkan dan memahami rupa-rupa transformasi dalam logika kapitalisme, yaitu untuk menundukkan para pekerja dan membuat mereka kembali bekerja.

Restrukturisasi logika produksi kapitalisme sangat ditentukan dari caranya menyelesaikan setiap krisis yang melandanya. Setiap gestur untuk menyelesaikan krisis tersebut akan senantiasa diiringi dengan munculnya teknologi baru, baik itu di lini produksi maupun di lini manajemen buruh. Di lini produksi setidaknya terjadi beberapa transformasi: pertama, pada sifat produksinya yang tidak lagi berupa produksi massal dan in advance, melainkan eksklusif dan just in time. Produksi kini mensyaratkan komunikasi konstan dengan para konsumen di luar sana. Saat konsumen memesan, barulah produk diproduksi. Kedua, bentuk produk yang diproduksi pun mulai mengalami variasi jika bukan perubahan ke arah yang lebih berorientasi jasa—mulai kesehatan, pendidikan, konsultan, transportasi, keuangan, hiburan, komunikasi dan periklanan. Ketiga, kualitas produk yang tidak lagi bernilai material, melainkan mulai bersifat imaterial. Hal ini terlihat dengan bergesernya nilai suatu barang dari nilai guna ke nilai simbolik. Konten dan sifat kultural, informasional dan afektif yang tadinya tersier, perlahan mulai menggantikan konten dan sifat instrumental dan industrial dari suatu produk yang tadinya primer.

Di sisi manajemen pekerja juga terjadi beberapa transformasi. Pertama, pekerja yang tadinya spesifik mengerjakan satu bagian saja, kini mulai disyaratkan untuk mampu mengerjakan beberapa hal sekaligus dan mampu bertahan di bawah tekanan; singkatnya, fleksibilitas mulai muncul sebagai suatu bentuk kerja “modern.” Kedua, seiring dengan bergesernya produksi ke bentuk yang lebih imaterial, maka ia mensyaratkan jenis pekerja baru, atau yang disebut sebagai pekerja imaterial. Pekerja imaterial ini tentu mensyaratkan kualifikasi yang lebih dari pada pekerja material konvensional; ia diharapkan berpendidikan, memiliki kemampuan khusus tertentu, singkatnya terspesialisasi. Ketiga, terkait ruang dan waktu kerja yang tadinya fix, seiring dengan fleksibilisasi dan spesialisasi, mulai menjadi longgar dan tidak menentu: seseorang bisa bekerja di rumah, kafe, taman dengan pakaian apapun dan tidak harus seragam, dan bisa kapanpun: yang penting pekerjaan selesai. Keempat, pola koordinasi pun menyaksikan perubahan yang cukup dramatis: pola assembly line kini digantikan dengan pola jaringan semenjak para pekerja berpencar ke mana-mana (mencari konsumen, menjajakan produk, dst).

Masyarakat berjejaring (network society) dalam pandangan Slavoj Zizek akan melahirkan masyarakat virtual yang baginya bukanlah suatu revolusi besar. Apa yang mengesankan dari masyarakat atau komunitas virtual adalah sejauh mana fenomena dunia maya ini memungkinkan kita untuk menemukan bahwa diri kita selalu menjadi virtual. Bahkan pengalaman yang paling fisik dari diri kita memiliki pengalaman simbolik lantaran ada elemen virtual di dalamnya. Misalnya, fantasi seksual manusia. Intinya tidak benar-benar memenuhi kebutuhan seks seseorang melalui dunia maya, tapi hanya mengetikkan fantasi kita sebagai daya tarik kita sendiri. Ada potensi simbolik yang bisa memberikan kepuasan. Namun ada ancaman pengebirian yang berpotensi menguasai kita.

Seolah-olah kita bisa melakukan sesuatu, tapi sesungguhnya tidak. Kita hanya akan menerima kepuasan semata secara simbolik. Kita berada pada apa yang dicetuskan Bentham sebagai penjara panopticon. Bahkan paling murni yang pernah dibuat. Siapa pun bisa mengikuti kita di dunia maya, tapi kita tidak yakin apakah ada yang mengikuti, dan itu lebih menakutkan daripada kita tahu bahwa ada seseorang sedang mengikuti kita di trotoar jalan. Itu adalah ketidakpastian yang radikal.

Kekeliruan kita adalah ketakutan pada masa lalu bahwa hantu komunisme akan bangkit kembali setelah keruntuhan Soviet di era akhir perang dingin. Tapi sesungguhnya kita sedang dirasuki hantu kapitalisme yang masuk melalui teknologi informasi dan komunikasi. Ini terbukti di balik beroperasinya seluruh media di dunia bahwa; semakin banyak perusahaan-perusahaan media bermunculan, justru semakin terkonsentrasi kepemilikan media. Inilah paradoks dalam demokrasi media hari-hari ini. Kapitalisme yang “bergentayangan” pascakematian ideologi-ideologi berdasarkan keberlangsungan komunikasi. Fordisme yang memerlukan kecepatan dan keakuratan transmisi informasi yang disediakan aparatus komunikasi.

Suatu konten yang tidak relevan. Dikirim oleh pengirim yang tidak relevan. Diterima oleh yang tidak relevan. Yang butuh untuk direspon karena ketidakrelevanannya. Satu-satunya yang relevan adalah sirkulasi, dan elemen-elemen kontributif yang tersisa menjadi fakta sirkulasi sekunder. Suatu kontribusi yang tidak patut dimengerti; tapi perlu untuk diulang, direproduksi, dan disebarkan lagi. Demikianlah yang diungkapkan J. Dean dalam Communicative Capitalism: Circulation and the Foreclosure of Politics. Repetisi praktik komunikasi adalah yang dituju oleh model kondisional ini; komunikasi demi komunikasi demi komunikasi demi komunikasi… Inilah pergeseran paradigmatik yang terjadi saat komunikasi telah bersatu dengan kapitalisme—kapitalisme komunikatif.

Dengan meningkatkan performa komunikasi dan mereduksinya kepada sekedar partisipasi, maka komunikasi membuka jalan bagi kapitalisme untuk mengkomodifikasi partisipasi. Setiap pesan yang masuk, yang dihitung sebagai partisipasi, akan direkam sedemikian rupa, dan akumulasi partisipasi ini menjadi sekelompok audiens yang berpotensi “dijual” sebagai target iklan. Mereka-mereka ini, dengan partisipasinya, ditransformasi menjadi suatu komoditas, atau yang disebut Dallas Smythe dalam Dependency Road: Communications, Capitalism, Consciousness, and Canada, sebagai komoditas audiens. Sederhananya, masyarakat yang hanya dijadikan penonton dalam suatu media jejaring di dunia maya yang kemudian digunakan untuk meraup keuntungan lewat angka statistik oleh pemilik media tersebut. Dengan mengkondisikan pertukaran yang demikian itu, maka komunikasi menyediakan relasi sosial-produksi yang baru bagi kapitalisme.

Apakah dengan hadirnya masyarakat berjejaring otomatis menghapus kelas dalam masyarakat? Misalnya, menurut Karl Marx, kelompok borjuasi didasari oleh setidaknya dua faksi, masing-masing diwakili oleh partai politik. Keduanya berbagi minat untuk mempertahankan ada monopoli kekuasaan. Untuk menyembunyikan hal ini, mereka bersama-sama memainkan permainan konflik palsu. Menurut Zizek dalam The Year of Dangerous Dreams, bagaimana jika monopoli itu dipertahankan dengan seolah tiada konflik sama sekali?

Konflik diciptakan sengaja untuk mempertahankan adanya kelas dalam masyarakat. Sebagaimana Zizek berpendapat bahwa Napoleon Bonaparte melakukan itu ketika merepresentasikan dirinya sendiri melalui kelompok-kelompok Bohemian, sastrawan, vagabound, dan semua kalangan yang ditolak oleh semua kelas, sehingga mereka dipaksa untuk mewakili diri mereka sebagai individu. Ini representasi ego yang memungkinkan Napoleon untuk menyatakan bahwa ia berdiri di atas semua kepentingan kelas sementara ia merujuk secara bersamaan kepada kelas-kelas masyarakat yang diam dan buruh-buruh tani. Para kapitalis sekarang ini juga begitu. Hasilnya adalah kelas menengah yang mayoritas, tapi menjadi komoditas audiens.

“Mengapa World Trade Center memiliki dua menara?” tanya Jean Baudrillard pada awal tahun 1980-an. Menara kembar WTC adalah bentuk paralel sempurna yang saling mencerminkan satu sama lain, sehingga menunjukkan ketidakrelevanan perbedaan dan antagonisme dalam dunia postmodern. WTC merupakan simbol pasca-politik yang ingin ditegaskan Amerika bahwa ideologi-ideologi sudah selayaknya mati. Oposisi ideologi politik tidak ada lagi, tanpa konsekuensi harus berada dalam keadaan netral. Sebuah gambaran yang acuh tak acuh. Dengan kata lain, lama sebelum dihancurkan, WTC adalah simbol kehancuran politik. Apabila meminjam konsep Marcuse, WTC adalah simbol dari “masyarakat satu dimensi” di mana kritik telah menghilang dan orang-orang tidak bisa lagi membayangkan bahwa masyarakat lain, dunia yang mungkin berbeda. Dunia nyata yang menjadi satu-satunya dunia.

Ketika Baudrillard memandang WTC, yang ia lihat adalah proses perataan ditandai dengan hilangnya perbedaan, dengan mutasi tak terbatas domain sosial. Ketika segala sesuatu menjadi seakan politis, maka politik pun menghilang. Ketika semuanya menjadi seksual, maka seks menghilang. Ketika semuanya menjadi sosial, maka masyarakat menghilang, dan sebagainya. Dalam masyarakat seperti itu, perubahan sosial cenderung kehilangan dimensi historisnya, informasi tidak lagi menjadi suatu peristiwa, politik yang diambil alih pasca-politik, dan nyata tersedot ke dalam simulasi. Dan tentu saja, di dunia seperti itu satu dimensi. Anda dapat dengan bebas memilih untuk menjadi optimis atau pesimis. Dapat memilih seolah Anda berideologi “kanan” atau “kiri”. Namun, dunia satu dimensi bukanlah dunia yang damai. Pihak penguasa ingin menciptakan masyarakat yang pasca-politik. Tapi dengan kehancuran WTC, dunia menyadari sesuatu bahwa kekerasan dalam masyarakat pasca-politik ternyata menjadi satu-satunya bentuk politik yang tersedia.

Karena masyarakat menjadi simulacrum, maka produksi merupakan “histeria” yang nyata. Kita hidup di dunia imaterial, alam semesta buatan, yang memprovokasi pergeseran tak tertahankan terhadap “realitas nyata (real reality)”. Zizek mengatakan bahwa kecemasan muncul tidak dari apa yang terlihat, tapi dari yang terlupakan, dari prospek untuk menjadi tidak terlihat. Transparencytrans-appearance, atau disappearance, adalah sumber dari kecemasan dalam masyarakat kontemporer. Ketika sosialitas masyarakat menghilang, kekecewaan dengan kehidupan menjadi obyek keinginan jahat, diinvestasikan dengan harapan bahwa realitas akan kembali ketika selubung simulacrum diangkat dari kehidupan sehari-hari. Kekerasan muncul dalam konteks ini sebagai intervensi traumatis dari “realitas” dalam transparansi yang tidak riil (transparent unreality). Dan tentu saja ini sangat terlihat, bahkan sebelum perisitwa 9/11: bahwa fantasi dari reaksi atas kekerasan masyarakat yang tidak riil telah menjadi tema yang biasa di film-film Hollywood.

Film-film yang dibingkai oleh fantasi kehancuran sosial, menghancurkan konsumerisme, dan meledakkan fantasi paranoid Amerika tentang keamanan negara. Sementara di akhir film, muncul adegan protagonis berjalan bergandengan tangan, dan di belakang mereka sebuah pesta kehancuran dilakukan dengan ledakan-ledakan. Dengan runtuhnya World Trade Center, fantasi ini direalisasikan kembali dalam kenyataan, mengubah WTC menjadi gejala dari masyarakat berjejaring (network society) kontemporer. Gejala paralel yang sama ketika peristiwa tenggelamnya Titanic menjadi gejala masyarakat industri.

Salah satu yang perlu dikritik dari Marx oleh Zizek adalah bahwa tidak pernah hanya ada dua kelas yang berkonflik dalam kehidupan sosial. Namun justru karena tidak pernah ada dua kelas yang bertentangan, maka terjadi konflik. Lihatlah konflik di dalam masyarakat kelas menengah zaman sekarang. Kelompok mayoritas, tapi minoritas dalam peran. Zizek menempatkan kembali dengan mengatakan bahwa konflik itu tersembunyi di balik serangkaian pemindahan terutama didasarkan pada penyamaran perjuangan politik di balik perjuangan budaya. Zizek berargumen bahwa kekuatan-kekuatan politik didasarkan pada perjuangan kelas antara kelas atas dan bawah sementara kekuatan ekonomi menentukan struktur keseluruhan dengan mengendalikan cara bagaimana politik semestinya mengorganisasi perjuangan. Untuk menggarisbawahi argumen ini, ia menunjukkan beberapa konsekuensi. Salah satunya adalah mentalitas politik kelas menengah. Di satu sisi mereka tidak ingin bahwa cara hidup mereka terganggu oleh politik—mereka ingin dibiarkan bekerja dan hidup damai. Di sisi lain mereka adalah pendukung utama gerakan politik tertentu, khususnya status quo. Konsekuensi lain adalah munculnya sosok baru teknokratis dan ahli keuangan yang mampu memerintah di jalur pasca-ideologis tanpa mewakili kepentingan tertentu.

Kehidupan berjejaring di dunia maya sama halnya dengan bersosialisasi di kehidupan riil sehari-hari. Meskipun yang terpenting dalam dunia berjejaring ini bukan lagi tempat, kelompok atau organisasi tertentu. Pun gaya hidup menjadi sangat dinamis, tapi sumber daya seperti media independen dan gerakan sosial berkompetisi dengan cara dan regulasi kapitalistik. Semua elemen struktur sosial dilipat satu sama lain, dan saling berdasarkan ketergantungan ekonomi dan politik. Sampai di sini kita akan kembali lagi bahwa ekonomi dan politik selalu menciptakan kelas dan konflik antarkelas. Perbuatan usil hantu kapitalisme yang selalu gentayangan di abad ini—bisa jadi sampai abad mendatang. Mungkin perlu segera mencari pembasmi hantu, dukun, atau tukang ruqyah online pula.

Sumber; siperubahan.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s