Jokowi dan Alternatif Utopia Indonesia


Utopia Poster

Selepas perang dunia, orang-orang masih berdebat seperti apa masa depan manusia; komuniskah, sosialiskah, fasiskah, kapitaliskah, atau lainnya. Tapi hari ini perdebatan itu mulai memudar, khususnya di tengah generasi muda. Bahkan kita diam-diam menerima kapitalisme global sambil terobsesi ada bencana global yang menghancurkan bumi agar semuanya bisa dimulai dari awal lagi. Entah itu tabrakan asteroid, terjangkit virus, semua musibah yang kita dapat dari cerita-cerita kitab agama tentang wujud kiamat. Intinya kita sama-sama mengiyakan bahwa, kiamat sudah dekat. Namun timbul suatu paradoks, jauh lebih mudah bagi manusia zaman sekarang untuk membayangkan akhir dari semua kehidupan di bumi daripada membayangkan perubahan peradaban dan tatanan dunia yang melingkupi setiap lini kehidupan.

Sejumlah ramalan diungkap, berbagai prediksi dibuat akurat, dan budaya populer juga mempertontonkan alur cerita soal kehancuran dunia. Tapi mari kita hentikan omong kosong tersebut. Kita beralih pada konteks kehidupan manusia sekarang yang katanya telah diporak-porandakan kapitalisme. Terutama dalam arena politik, sosial, dan ekonomi Indonesia yang sering dibilang telah dimiskinkan sedemikian rupa, dan hanya menjadi target untuk mengeruk keuntungan raksasa-raksasa dunia. Masyarakat cuma penonton, atau kacung yang sengaja menjilat biar kecipratan uang. Tak ayal kemudian muncul tuntutan agar bangsa ini harus membangun kembali utopianya, tapi dalam arti apa?

Ada sebuah buku yang ditulis Ignas Kleden tentang negeri dengan segudang mimpi, berjudul Indonesia sebagai Utopia: Menulis Politik. Bagi Ignas Kleden, selama ini masyarakat Indonesia telah biasa hidup dengan utopia. Dengan utopia itulah bangsa ini mengarungi masa depan yang tidak pasti. Dari rezim ke rezim, beberapa proyek utopis coba ditawarkan pemimpin negeri.

Ketika Soekarno menjadi presiden pertama Indonesia, ia menawarkan suatu utopia yang dapat menggerakkaan seluruh bangsa dan masyarakat Indonesia ke arah yang dikehendakinya. Utopia yang ditawarkan adalah utopia pembentukan karakter bangsa yang khas sehingga mendapatkan pengakuan dan bahkan penghormatan dari bangsa-bangsa lainnya di dunia.

Era Soeharto, mitos yang dikembangkan adalah pembangunan nasional. Utopia ini mengandung banyak janji akan suatu kehidupan yang lebih baik, menarik, baik yang menyangkut kemiskinan, peningkatan taraf hidup yang dimungkinkan oleh pertumbuhan ekonomi maupun modernisasi cara hidup dan demokratisasi sistem politik. Utopia demikian, nyaris membunuh sikap kritis dan kreativitas masyarakat, meskipun mereka menikmatinya juga. Reformasi membuka borok dari slogan dan proyek utopis sebelumnya sehingga apa yang ditawarkan ketiga pemimpin ini ibarat angin lalu. Habibie yang membangun legitimasinya dengan memberikan angin keterbukaan masing-masing komunitas (termasuk daerah-daerah) untuk menuntut hak-hak mereka yang selama ini dirampas Orde Baru justru gagal. Kasus Timor-Timur menjadi preseden buruk bagi legitimasinya. Gus Dur yang ingin membuka keran investasi di tengah krisis yang masih melanda Indonesia, dituding cuma plesir sana-sini. Bahkan, Megawati lebih nahas karena dicap sebagai tukang jual aset negara. Sedangkan SBY yang memberi janji perubahan, justru berkubang dalam sengkarut oligarki.

Keadaan bertambah kompleks akibat utopia menjadi sekedar permainan wacana ideologis. Hal ini turut mengubah jati diri dan identitas bangsa. Padahal, dalam pandangan Ignas Kleden, masyarakat Indonesia tidak bisa hidup tanpa utopia yang jelas. Utopia menjadi bayaran mahal yang harus diberikan oleh penguasa untuk mendapatkan legitimasinya. Tidak adanya utopia berbuntut melahirkan krisis kepercayaan kepada pemerintah. Bahkan, kecenderungan pemerintah yang hadir saat ini terkesan tidak peduli lagi dengan apa kata rakyatnya. Yang penting mampu meraih kekuasaan dengan jalan dan cara apa pun. Utopia yang ditawarkan masih semu.

Ada dua makna utopia, yang pertama adalah utopia berdasarkan gagasan lama tentang suatu masyarakat ideal yang tidak akan pernah terwujud. Yang lahir dari utopia ini adalah obsesi untuk menghancurkan yang sudah ada hanya untuk membangun yang baru. Utopia kedua adalah utopia yang dipropagandakan dalam arti memuaskan hasrat. Bahkan masyarakat digiring untuk menyadari dan melayani hasrat itu. Utopia sejati bukanlah semacam imajinasi bebas, melainkan persoalan membangun ruang baru sebagai jalan keluar paling mendesak ketika situasi di sekeliling tidak memungkinkan menghasilkan solusi untuk segala persoalan yang ada, apalagi dengan cara-cara yang sudah ada.

Di Indonesia saat ini, utopia itu berjalan pada dua arus sejarah. Ada yang ingin melanjutkan kembali masa lalu dengan menghidupkan semangat rezim-rezim yang telah ada. Ada pula yang ingin melanjutkan gagasan reformasi. Membangun kembali utopia bukan sekadar memperjuangkan apa yang terlihat mustahil untuk dilakukan. Namun melihat ada kemungkinan lain yang mungkin dilakukan. Salah satu strategi kapitalisme yang demikian kompleks saat ini berhasil membuat orang-orang, khususnya generasi muda, tidak dapat membayangkan tersedianya alternatif bagi dunia yang kita huni. Apakah bangsa Indonesia pernah membayangkan alternatif lain dari kapitalisme global?

Kalau kita buat semacam pertanyaan dalam soal ujian sekolah; Apakah kita ingin hidup di dunia di mana satu-satunya alternatif adalah model neoliberalisme Anglo-Saxon, atau kapitalisme China-Singapura dengan nilai-nilai Asia? Pastinya sebagai orang Indonesia, kita bisa membuat jawaban alternatif lainnya. Saat ini jawabannya mulai tampak masuk akal. Lihat saja politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif kembali menemukan pengejawantahannya di era Presiden Joko Widodo (Jokowi). Indonesia kembali pada khittah sebagai negara pelopor gerakan non-blok. Namun Indonesia saat ini tidak mau mengalienasi diri dengan sekadar jargon swasembada. Fakta yang muncul di lapangan adalah kebijakan Jokowi yang terus menarik minat investor ke tanah air.

Cukup mengejutkan ketika Jokowi menyatakan ingin Indonesia bergabung dengan Trans-Pacific Partnership (TPP). Selama ini TPP kental dengan “cara khas” Amerika (USA) dalam menerapkan aturan perdagangan bebas, penghargaan atas intellectual property right, dan penyelesaian sengketa dalam investasi. Pada sisi lain, China yang ukuran ekonominya berada persis di bawah USA, sangat mendorong Free Trade Area of Asia Pacific (FTAAP). Sekilas, TPP dan FTAAP menggambarkan perebutan hegemoni USA dan China di kawasan Asia Pasifik. Lantas bagaimana Indonesia melakukan positioning dalam perebutan hegemoni tersebut. Meskipun demikian, Jokowi tidak ingin masyarakat Indonesia terasing dari komunitas dunia. Ia hanya melihat segala sesuatu yang ada di depan mata, dan segera berangkat menuju arah lainnya yang mana jika tidak segera melakukan itu maka Indonesia akan berada pada perangkap blok-blok politik dan ekonomi negara-negara adikuasa.

Langkah yang dilakukan Jokowi mengubah paradigma pembangunan infrastruktur dengan memprioritaskan daerah-daerah perbatasan, daerah timur Indonesia, dan pembentukan kawasan ekonomi khusus, telah menggerus model lama yang Jakarta-sentris. Dengan merangkul investor dari semua blok ekonomi dunia untuk berinvestasi di tanah air menunjukkan bahwa, Jokowi telah melangkah keluar dari tradisi pemerintahan sebelumnya. Demikian pula dengan perluasan destinasi pasar luar negeri baru. Tidak mengandalkan Uni-Eropa, Amerika, China, dan Jepang saja. Kebijakan Jokowi yang berbentuk paket-paket secara bertahap juga melenceng dari mainstream. Sejumlah deregulasi dan peraturan baru digelontorkan. Pro-kontra pun pasti bermunculan, tapi Jokowi juga manusia yang tidak bisa menyenangkan semua pihak. Barangkali inilah jalan alternatif bagi Indonesia; utopia yang tidak terlalu utopis. Bahkan mungkin amat realistis.

 

sumber: siperubahan.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s