Presiden Harus Meminta Maaf Terhadap Korban Tragedi ’65


65Terkait kasus G30SPKI/GESTOK dan tragedi ’65 sudah seharusnya pemerintah meminta maaf dan melakukan pelurusan sejarah. Berpuluh tahun lamanya sejarah telah dibengkokkan demi kepentingan rezim Orde Baru. Pelurusan sejarah merupakan bagian penting dari proses rekonsiliasi. Selama ini, negara masih belum mau melakukan hal itu sementara rakyat terus dibiarkan mengenyam hasil ‘cuci otak’ Orde Baru. Seperti yang tampak dengan sikap saling curiga di masyarakat sipil. Walhasil, setiap kali ada upaya untuk melakukan pelurusan sejarah, muncul stigma dan kengerian bahwa komunis akan bangkit kembali, terutama sering diserukan kalangan agamawan.

Dahulu Karl Marx berkata bahwa agama adalah Candu, lalu pandangan Marx dianggap sebagai anti-agama. Pandangan itu kemudian ditanamkan sebagai kebencian terhadap komunis, terlebih lagi dengan mengambil contoh rezim Stalin, Polpot, atau Mao Tse Tung/Mao Zedong, yang melakukan pembantaian terhadap umat beragama.

Lalu Marxisme dan komunisme terstigmakan sebagai tukang bantai umat agama. Benarkah?

komunis=ateis

Tidak. Mari kita lihat contohnya di Palestina di mana Partai Komunis Palestina merupakan partai terbesar kedua di sana. Bahkan partai komunis yang bernama Popular Front for the Liberation of Palestine (PFLP) berkoalisi dengan Organisasi Pembebasan Palestina atau Palestine Liberation Organization (PLO). Mayoritas anggota partai tersebut adalah Muslim dan Kristen. Sebuah pemandangan yang mungkin akan sulit dicerna oleh banyak orang di tanah air yang telah dicuci-otak puluhan tahun oleh Pembodohan Rezim ORBA untuk percaya ‘Komunis adalah anti-agama’.

Apakah Marxisme atau komunisme mengajarkan untuk membunuh dan membantai? Tentu tidak. Marxisme dan komunisme merupakan gagasan pemikiran mengenai sosial ekonomi. Sama halnya dengan kapitalisme. Karl Marx melakukan perlawanan terhadap kesenjangan kelas yang diciptakan oleh kapitalisme, dan dia menuliskan pemikirannya dalam sebuah karya magnum opus bertajuk Das Kapital. Lalu di mana ajaran membunuh sesama manusia. Justru kalau kita pelajari lebih dalam, justru kapitalisme yang menggunakan kekuatan uang-lah yang gemar menindas rakyat kecil dengan berbagai macam cara.

Kita harus mempertanyakan lagi, jangan-jangan memang kita merupakan anak didik Orde Baru sehingga mati-matian memberantas komunisme dengan mengangkat senjata, seperti yang terjadi dalam tragedi ’65. Pemerintah juga tidak pernah jujur bahwa, pada tahun 1965, Soeharto melancarkan operasi besar-besaran ganyang komunis yang menewaskan jutaan orang Indonesia. Data-data jumlah korban tidak pernah dirilis secara resmi, meski sejumlah penelitian baik dari lembaga swadaya masyarakat lokal dan asing banyak mempublikasikan hasilnya. Sampai ketika seorang Joshua Oppenheimer merilis film dokumenter berjudul Jagal/The Act of Killing dan Senyap/The Look of Silence yang menggemparkan.

Ketika dikatakan bahwa, PKI pernah membunuh dan bertindak kejam terhadap para Kiai, tidak ada data-data yang bisa disajikan dan diteliti lebih lanjut. Namun, anggap saja jika memang PKI pernah melakukan itu kepada para ulama. Tentu kemudian lahir pertanyaan.

Anggota PKI itu pejabat negara bukan? Anggota PKI itu penguasa bukan? Anggota PKI itu TNI bukan ?

Jika Sipil versus sipil, lalu siapakah yang dapat mewakili untuk meminta maaf atas nama PKI terhadap keluarga ulama tersebut?

Lalu kemudian, ketika terjadi kejadi G30S, siapakah yang membunuh para Jenderal? Apakah pemerintah pernah membukanya? Padahal, para Jenderal itu diculik oleh Cakrabirawa yang notabene merupakan bagian dari TNI. Bahkan, jika TNI berdalih Cakrabirawa disusupi PKI, mengapa para Jenderal TNI tidak mengambil langkah preventif sebelum kejadian pembunuhan para Jenderal?

Yang tampak jelas, peristiwa G30S merupakan ajang TNI vs TNI, lalu mengapa yang dibunuhi malah rakyat sipil dengan dalih sebagai pengikut PKI?

Setelah kejadian itu, barulah terjadi peristiwa pembantaian PKI sampai ke akar-akarnya. Beberapa perempuan yang dituduh Gerwani (Gerakan Wanita) diperkosa dan dibunuh. Para pegiat budaya dan sastrawan yang dianggap Lekra (Lembaga Kerakyatan) dipenjarakan tanpa pengadilan. Karya mereka dibakar. Apakah kita tidak patut mempertanyakan; “Pesanan siapa ini?” mengingat ketika kejadian G30S itu, konteks politik dunia sedang dilanda perang dingin Sekutu vs Soviet.

Namun pembantaian terhadap warga sipil yang dituduh PKI secara besar-besaran, itulah yang disebut Genosida. Tentu ada perbedaaan saat sipil bunuh sipil, tentara bunuh tentara, setelah kejadian G30S itu justru para tentara membunuh sipil dalam jumlah banyak dan tersebar ke berbagai daerah. Bahkan beberapa organisasi sipil diperalat oleh TNI sebagai algojonya. Hal itu tampak sekali ketika kita menonton film Jagal/The Act of Killing.

Maka saat ini, negara yang memiliki perangkat bernama tentara, haruslah meminta maaf kepada rakyat sipil, dan menyesal telah melakukan hal itu. Demikian pula dengan pelurusan sejarah.

Tujuan dari meminta maaf bukanlah kepada siapa, tapi pada perbuatan apa.

Berkaitan dengan permintaan maaf atas peristiwa 65, yang diisukan bahwa “Jokowi akan meminta maaf kepada PKI” lalu disanggah presiden sendiri bahwa tidak ada pemikiran untuk meminta maaf, saya jujur saja kecewa dengan sikap/jawaban presiden cap dua jari itu.

Dalam hal ini, Presiden Jokowi bila berpikiran progresif, akan tetap meminta maaf pada keluarga korban atas pembantaian yang mencapai 500 ribu (versi Orba) sampai 3 Juta jiwa (versi lembaga-lembaga hak asasi manusia).

Dia sebagai Presiden atas nama KEMANUSIAAN dan NEGARA haruslah berjiwa besar meminta maaf dan mengakui kekejaman yang terjadi oleh Negara terhadap Rakyat Sipil. Tidak peduli itu karena kondisi politik, tidak peduli karena kondisi ekonomi rupiah lagi anjlok, tidak peduli karena kondisi bencana asap, dan lain-lain.

Permintaan maaf itu bukan ditujukan kepada SIAPA, tapi kepada perbuatan apa. Ini sangat penting sekali agar tidak terjadi peristiwa lagi pembantaian oleh tentara terhadap sipil.

Semua negara pernah melakukan aib, pernah melakukan pembantaian. Seperti di Amerika melakukan perbudakan kepada keturunan Afrika dan melakukan invasi suku-suku Indian, Seperti di Australia pernah membantai suku Aborigin, seperti di Jepang pernah menjajah Asia dan melakukan perkosaan terhadap perempuan-perempuan dan kerja paksa (Romusha).

Mereka semua mengakuinya dan meminta maaf, hasilnya mereka membuat UU kesetaraan. Indonesia yang katanya PANCASILA lah kok masih bermental preman, masih terjadi diskriminasi, masih terjadi penggolongan keturunan PKI. Apa seperti itu PANCASILA?

Sumber: siperubahan.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s