Tiada Tunggal Ika Bila Bhinneka Tinggal Duka


garuda

Semboyan Bhinneka Tunggal Ika bisa ditemukan dalam Kitab Sutasoma karya Mpu Tantular yang ditulis pada abad XIV pada era Kerajaan Majapahit. Mpu Tantular merupakan seorang penganut Buddha Tantrayana, namun merasakan hidup aman dan tentram dalam kerajaan Majapahit yang lebih bernafaskan agama Hindu.

Bhinneka Tunggal Ika mulai menjadi bahan diskusi terbatas antara Muhammad Yamin, I Gusti Bagus Sugriwa, dan Bung Karno di sela-sela sidang BPUPKI sekitar 2,5 bulan sebelum Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Bahkan Bung Hatta sendiri mengemukakan bahwa Bhinneka Tunggal Ika merupakan ciptaan Bung Karno pascakemerdekaan Indonesia. Ketika mendesain lambang Negara Republik Indonesia dalam bentuk burung Garuda dan perisai Pancasila, semboyan Bhinneka Tunggal Ika disisipkan ke dalamnya. Secara resmi lambang ini digunakan dalam Sidang Kabinet Republik Indonesia Serikat yang dipimpin oleh Bung Hatta pada tanggal 11 Februari 1950 berdasarkan rancangan yang diciptakan oleh Sultan Hamid ke-2 (1913-1978). Pada sidang tersebut mengemuka banyak usulan rancangan lambang negara, selanjutnya yang dipilih adalah usulan yang diciptakan Sultan Hamid ke-2 dan Muhammad Yamin, dan kemudian rancangan dari Sultan Hamid yang akhirnya ditetapkan.

Karya Mpu Tantular tersebut oleh para founding fathers diberikan penafsiran baru sebab dianggap sesuai dengan kebutuhan strategis Indonesia yang merdeka dan terdiri atas beragam agama, kepercayaan, etnis, ideologi politik, budaya dan  bahasa. Dasar pemikiran tersebut yang menjadikan semboyan “keramat” ini terpajang melengkung dalam cengkeraman kedua cakar Burung Garuda. Burung Garuda dalam mitologi Hindu ialah kendaraan Dewa Vishnu. Konon, di sela-sela Sidang BPUPKI antara Mei-Juni 1945, Muh. Yamin menyebut-nyebut ungkapan Bhinneka Tunggal Ika itu. Namun I Gusti Bagus Sugriwa (temannya dari Buleleng) yang duduk di sampingnya sontak menyambut sambungan ungkapan itu dengan “tan hana dharma mangrwa.” Sambungan spontan ini di samping menyenangkan Yamin, sekaligus menunjukkan bahwa di Bali ungkapan Bhinneka Tunggal Ika itu masih hidup dan dipelajari orang-oran. Meksipun Kitab Sutasoma ditulis oleh seorang sastrawan Buddha, pengaruhnya cukup besar di lingkungan masyarakat intelektual Hindu Bali.

Bhinneka Tunggal Ika merupakan imajinasi kita sebagai bangsa. Falsafah ini yang kemudian mendasari Indonesia sebagai negara kesatuan. Namun dari Sabang sampai Papua, Indonesia tampaknya terasa hanya di Jakarta—atau mungkin di pulau Jawa. Kita terbiasa pertama kali akan menyebutkan suku, agama, dan terakhir baru mengaku sebagai orang Indonesia. Padahal, mimpi para bapak bangsa ini adalah idealnya kita pertama mengaku sebagai orang Indonesia tanpa mempersoalkan suku, jender, dan agama. Namun, ternyata tidak semua orang Indonesia berpikir dan berimajinasi seperti itu. Kita baru mengidentifikasikan diri bahwa kita orang Indonesia kalau berada di luar negeri.

Pertanyaan besarnya adalah; apakah negara kesatuan (NKRI) ini sudah final? Negara ini berbentuk kesatuan. Karenanya, imajinasi yang dibangun bukan imajinasi sebuah negara, melainkan identitas kultural, sosial, atau agama. Apabila kita tarik pada persoalan sederhana saja, masihkah kita sebagai bangsa Indonesia memandang saudara-saudara kita warga Papua sebagai warga Indonesia atau orang lain? Atau saudara-saudara kita dari etnik Papua masihkah mengidentikkan diri mereka sebagai warga Indonesia? Lalu mengapa pelanggaran hak asasi manusia (HAM) berat yang mereka alami kita anggap angin lalu saja? Apakah kita butuh negara persatuan untuk menyatukan kebhinekaan kita?

Barangkali kesatuan kita hanya secara geografis. Negara yang dibangun di atas fondasi imajinasi kebangsaan niscaya membutuhkan ikatan emosional sebagai bangsa. Biasanya ikatan emosional itu dibangun lewat identitas budaya. Ada imajinasi kebangsaan masa lalu dan juga masa depan. Ernest Renan (1882) dan para penganut nasionalisme konstruktivis lainnya mengingatkan kita dari dulu bahwa entitas kebangsaan itu ditentukan oleh kesamaan nasib di masa lalu dan kesamaan visi dan misi. Dalam bahasa Kymlica (1992), bangsa adalah a historical community. Dalam pelajaran sekolah dulu, yang kita pelajari adalah soal kerajaan-kerajaan di Nusantara dan penjajahan oleh VOC dan negara Eropa lainnya. Apakah itu cukup menjadi perekat kita sebagai bangsa?

Kebangsaan dalam pandangan E. Gellner seperti dikutip oleh Benedict Anderson dalam bukunya yang terkenal, Imagined Communities, bukanlah persoalan kebangkitan bangsa-bangsa pada tatanan kesadaran diri, tapi ia menemukan bangsa-bangsa yang sebenarnya tidak eksis. Atau selanjutnya dalam tesis Anderson, sebuah bangsa, sebuah komunitas, sekecil apa pun, sebenarnya adalah soal ”yang terbayangkan” karena toh pada dasarnya kita tidak pernah kenal, bertemu, atau tahu-menahu sebagian besar anggota komunitas itu, terlebih kalau diluaskan sebagai bangsa. Jadi, memang harus ada proses imajiner yang mampu membentuk affinity sekaligus perasaan percaya bahwa kita terikat menyongsong masa depan bersama. Nyatanya, proses itu sekarang disabot para penguasa, dirongrong dari para pengutil sampai para tikus garong yang meng-korup kekayaan bangsa secara besar-besaran. Sebagian besar dari bangsa ini justru dijajah bangsa sendiri. Di sisi lain, dalam “logika kebangsaan” Indonesia, kebhinekaan atau kemajemukan kita justru berpotensi memecah-belah bangsa lebih besar daripada kemampuan memperkuat kesatuan. Pancasila yang semestinya dianggap sebagai pandangan hidup dan mengikat segala perbedaan dalam satu kesadaran yang sama, yakni kesadaran keindonesiaan, malah berbalik menyerang.

Pada aras elite, kita masih sulit menemukan praktik politik yang berpihak sepenuhnya pada rakyat. Acapkali elite bekerja untuk kelompoknya atau sekadar untuk popularitas. Dalam hal pembangunan, yang diutamakan adalah kepentingan material sehingga politisi mudah berselingkuh dengan korporasi besar dalam berbagai aktivitas pertambangan. Bahkan dalam ‘proyek penghijauan’, juga akhirnya menghancurkan alam dan manusia. Demikian pula adegan kekerasan horizontal yang seolah sudah lazim. Sikap diam aparat hukum dan pemerintah juga sudah lazim. Itu sebabnya, sulit bagi sebagian orang memisahkan kelompok radikal dengan kepentingan politik tertentu. Apalagi, politik terus berubah substansinya dari hal yang berkaitan dengan ideologis menjadi sekadar kontestasi kekuasaan pragmatis.

Imajinasi kebangsaan rupa-rupanya harus menemui tanda tanya. Sektarianisme, sukuisme, tribalisme, dan nuansa disintegrasi mulai dirasakan bangsa ini. Kita beragam, kita berbhinneka, tapi kita berdiri masing-masing. Lalu apa gunanya? Tidak ada kesadaran—apalagi bayangan—bahwa kita saudara sebangsa. Ketika globalisasi yang sifatnya politis menggerus negara kita, bagaimana rakyat Indonesia di wilayah-wilayah pedalaman akan mampu menukarkan cara-cara tradisional mereka di bidang ekonomi dan sosial budaya, jika ternyata mereka ditindas dan dilupakan oleh negara ini. Konflik antar suku, konflik agraria, konflik fundamentalisme keagamaan, bahkan seperti tawuran pelajar dan pendukung klub sepak bola marak terjadi. Satu hal yang akan menjadi pertanyaan besar adalah di mana jati diri bangsa nan bersatu, sudah lenyapkah di tengah dentuman keras globalisasi? Apakah ini yang dinamakan krisis kebhinekaan kita?

Jika dibilang kebijakan politis, tentu pemimpin negara harus mengeluarkan kebijakan-kebijakan untuk mengembalikan lagi imajinasi kebangsaan akan Indonesia ke depan. Salah satunya adalah pemerataan ekonomi dan pembangunan yang mana sudah saatnya dimulai dari kawasan Timur. Indonesia adalah negara kesatuan, bukan negara persatuan, paling tidak itulah bentuk negara yang sudah dicetuskan. Menjalin kesatuan bukan dengan cara keseragaman dan penyeragaman. Kemajemukan adalah jati diri bangsa dan bukan hak milik atau dikuasai oleh satu kelompok, suku, agama, dan golongan saja. Proses-proses asimilasi, akulturasi, eklektik dan sinkretis adalah suatu hal yang niscaya dalam merajut kebhinekaan. Dengan demikian maka kita bisa saling menghargai dan menghormati perbedaan-perbedaan. Lantaran adanya perbedaan-perbedaan tersebut yang justru membuat kita berani berimajinasi soal kesatuan bangsa.

Sumber: siperubahan.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s