Jalan Pintas Demokrasi?


jalan pintasDalam bukunya, Penyair dan kritik Sosial, Rendra menyebut bahwa primordial sebagai memori kolektif, karena ia dibawa oleh ingatan dalam sel-sel di dalam diri kita, dan ada kesesuaian ingatan dengan orang-orang lain. Inilah yang menjadi sebab perbedaan suatu kelompok dengan kelompok lainnya; seperti perbedaan adat, budaya, etnik, dan sebagainya. Lantaran ia tertanam dalam sel-sel kita, dalam kealamiahan kita, maka ia tak dapat dihapus dari dalam diri kita. Dengan sendirinya Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau menjadi meragam pula budayanya. Artinya, budaya di negara ini sejatinya beragam. Ada orang yang mengaku sebagai orang Batak, Sunda, dll, tapi setelah itu mereka pun mengaku juga sebagai orang Indonesia. Maka Indonesia menjadi primordial yang kedua. Menjadi orang Indonesia pun sudah primordial.

Memori kolektif ini tidak perlu dihilangkan, hanya perlu dihargai saja dan dibiarkan seperti apa adanya. Yang perlu dikembangkan justru adalah kesadaran akal sehat kolektif sehingga akal sehat bisa terus berkembang. Semua monumen dan tugu peringatan adalah bentuk fisik material dari memori atau ingatan kolektif. Bahasa juga dihasilkan dari ingatan kolektif. Kita berbahasa berarti mengaitkan diri kita dengan satu sistem tertentu yang telah berkembang lama, jauh sebelum kita dilahirkan, yakni sistem bahasa itu sendiri. Di dalam sistem bahasa, ada beragam simbol yang telah diciptakan oleh generasi sebelum kita, yang kemudian diwariskan ke generasi berikutnya, sampai ke tangan kita. Proses mencipta dan mewariskan tersebut membutuhkan suatu medium, dan medium itu adalah ingatan sosial, yakni proses mengingat yang dilakukan oleh suatu masyarakat untuk menjaga dan mengembangkan identitas sosial masyarakat tersebut. Dalam arti ini, ketika kita berpikir, kita sudah selalu melakukannya dalam konteks ingatan sosial suatu komunitas tertentu. Bahkan, pikiran-pikiran kita yang paling intim dan pribadi pun mengandaikan adanya suatu sistem sosial tertentu yang menjadi latar belakangnya. Inilah berarti bahwa proses mengingat pada hakekatnya sudah selalu merupakan proses sosial.

Setiap individu menciptakan simbol, dan kemudian memaknainya. Akan tetapi, proses interaksi antarindividu yang saling mencipta simbol dan memaknainya tersebut akan menghasilkan suatu kolektivitas tertentu yang disebut Emile Durkheim sebagai fakta sosial, atau kolektivitas itu sendiri. Proses untuk mencipta dan memberikan makna pada simbol, serta kemudian mewariskannya ke generasi masyarakat berikutnya, membutuhkan ingatan. Proses mengingat yang dilakukan sedemikian banyak orang pada skala waktu tertentu, dan kemudian diwariskan ke generasi berikutnya, akan membentuk struktur ingatan kolektif tertentu. Ingatan kolektif ini akan tetap ada, dan diwariskan ke generasi berikutnya walau waktu berubah, dan tradisi menghilang. Argumen ini dikembangkan oleh Maurice Halbwachs, seorang filsuf dan sosiolog asal Prancis yang hidup pada awal abad 20. Ia berpijak pada konsep yang dikembangkan Durkheim tentang fakta sosial yang berisi mentalitas kolektif dan struktur perasaan masyarakat yang terdiri dari beragam individu yang saling berinteraksi secara sosial. Ia pun membuat argumen bahwa, ingatan manusia pada dasarnya tidak pernah bersifat murni individual, melainkan sudah selalu merupakan proses sosial, atau proses kolektif. Simbol-simbol yang ada di dalam peradaban manusia, dan pemaknaan atasnya, pun tidak pernah semata-mata bersifat individual, melainkan diciptakan dan ditujukan untuk kegunaan-kegunaan yang bersifat kolektif, seperti untuk mempertahankan masyarakat, mewariskan nilai-nilai kehidupan, membuat perubahan sosial, dan sebagainya. Dalam arti ini, ingatan kolektif memiliki fungsi yang khusus, yakni mencipta ulang sebuah peristiwa masa lalu untuk menjadi dasar bagi peristiwa masa kini, dan sebagai pijakan harapan bagi masa depan yang lebih baik.

Akan tetapi, menurut Rendra, ingatan kolektif bangsa ini telah terjebak pada nilai lama yang feodalistis, agraris, dan fasistis. Kenyataan sejarah membuktikan bahwa budaya kita dipengaruhi oleh budaya Jawa ala Mataram II. Penguasanya terlalu banyak berpolitik dan kurang membina kemandirian rakyat. Penuh dengan intrik politik, bunuh-membunuh antarkeluarga, gampang minder terhadap tokoh informail yang terkenal, gandrung akan kekuasaan yang absolut atau pemusatan kekuasaan. Hal ini terjadi karena para penguasa Mataram bermental agraris. Modal utamanya adalah tanah; modal yang tak bergerak. Untuk menguasai modal tak bergerak yang luas perlu tatanan masyarakat yang secara hirarkis ketat dan memusat. Mereka sangat histeris terhadap ide otonomi. Pemusatan itu menimbulkan rendahnya sumber daya manusia Kerajaan Mataram, terutama karena tidak ada jaminan kepastian hukum, rakyat tidak punya jaminan kepastian hidup pula. Mereka diorganisir dari pusat secara terperinci, tapi lemah dalam mengorganisisr diri sendiri, mereka digerakkan tapi daya geraknya sendiri lemah. Akibatnya, mereka gampang dijajah oleh VOC.

Tatanan sosial, politik, ekonomi, dan agama, semua dikuasai oleh sabda raja. Tentu saja ketergantungan pada sabda raja menimbulkan mental feodalistis. Keterpengaruhan itu dapat terasa hingga zaman reformasi di mana pembangunan dunia industri masih dilatarbelakangi oleh mental feodal dan agraris. Memperluas industri seperti memperluas sawah. Memonopoli alat-alat berproduksi yang vital dan jalur-jalur distribusi produk vital. Namun melupakan memproduksi benda-benda kapital. Sumber daya alam dikuras demi kepentingan segelintir pihak, dan pembagian kekuatan ekonomi di dalam masyarakat kurang merata. Sehingga kita punya kelas menengah yang mengambang: tidak punya kekuatan ekonomi, dan tidak punya kekuatan politik.

Sifat fasistis juga masih terbawa ke dalam situasi politik dewasa ini. Fasisme di sini bukanlah militerisme semata. Fasisme di Indonesia adalah cara berpolitik dengan mengandalkan pemaksaan dengan kekerasan, yaitu budaya untuk cenderung memakai kekerasan dalam keinginan-keinginan politik. Budaya seperti ini sudah muncul sejak masa lalu dan menjadi primordialnya orang Indonesia. Dalam menyelesaikan persoalan sosial-politik, kita cenderung mengandalkan kekuatan dan kekuasaan. Inilah mengapa hak asasi manusia dan demokrasi hanya menjadi slogan, tapi tidak benar-benar berlaku dalam kehidupan sehari-hari. Ironisnya, sekarang ini timbul gejala mengikutsertakan agama (bahkan Tuhan) ke dalam konflik di akar rumput masyarakat. Mengapa demikian? Karena isu agama adalah isu yang paling murah untuk dijual. Konflik yang sifatnya ideologis, politis, teritorial, mungkin hanya mengena di tataran elite. Berbeda dengan isu agama yang membuat masyarakat luas merasa terpanggil untuk ikut terlibat langsung (bahkan menembus sekat kesukuan dan etnis). Semua itu dianggap seolah baik-baik saja dan tidak ada persoalan serius yang sedang terjadi. Bahkan kemudian juga dilembagakan, sehingga memerosotkan daya hidup dan mutu kehidupan bangsa.

Dalam kondisi terjebak sedemikian rupa, kita tak bisa lagi membiarkan begitu saja, kita harus mengembangkan akal sehat yang dapat membongkar perangkap primordial bangsa. Identitas primordial kita merupakan satu unsur kunci dari kenyataan subyektif dan berhubungan secara dialektif dengan masyarakat. Identitas masyarakat dibentuk oleh proses-proses sosial. Begitu memperoleh wujudunya, ia dipelihara, dimodifikasi, atau malahan dibentuk ulang oleh hubungan-hubungan sosial. Proses-proses sosial yang terlibat dalam membentuk dan mempertahankan identitas ditentukan oleh struktur sosial. Sebaliknya, identitas-identitas yang dihasilkan oleh interaksi antara organisme, kesadaran individu, dan struktur sosial bereaksi terhadap struktur sosial yang sudah diberikan, memeliharanya, memodifikasinya atau malahan membentuknya kembali. Ada kutipan menarik dari Peter L. Berger dan Thomas Luckmann dalam buku mereka The Social Construction of Reality, bahwa masyarakat mempunyai sejarah dan di dalam perjalanan sejarah itu muncul identitas-identitas khusus; tetapi, sejarah-sejarah itu dibuat oleh manusia dengan identitas-identitas tertentu.

Kebhinekaan atau kemajemukan bangsa Indonesia merupakan modal menuju bentuk kehidupan yang mengalami pluralisasi ideologi, pluralisasi ide, pluralisasi teologi, sehingga pengaruh dominan suatu pemikiran seperti pada masyarakat pra-modern akan semakin kecil, bahkan bergeser ke dalam kehidupan privat individu-individu. Mengembangkan akal sehat untuk membongkar perangkap primordial adalah sekurang-kurangnya menggunakan prinsip logis dan kontradiksi. Itu berarti kemampuan berpikir dialektis (tesis, antitesis, dan sintesis) merupakan persyaratan awal. Masyarakat adalah produk manusia dan manusia sebagai produk masyarakat. Fakta sosial atau kenyataan di masyarakat itu merupakan suatu konstruksi sosial buatan masyarakat sendiri dalam perjalanan sejarahnya dari masa silam, ke masa kini dan menuju masa depan. Namun proses dari semua itu hendaknya dimulai pada hari ini. Sebagaimana dikatakan oleh Rendra bahwa proses adalah hal yang tak bisa diremehkan, sedangkan jalan pintas adalah rekayasa yang sembrono.

Jika akal sehat kolektif bangsa ini seharusnya dibangun dalam konteks demokrasi (untuk melepaskan diri dari feodalistis, agraris, dan fasistis), maka tidak ada jalan pintas bagi demokrasi. Kedaulatan para tuan (elite) harus dikembalikan ke kedaulatan rakyat. Dengan apa kedaulatan rakyat dibangun? Bukan berdasarkan suara terbanyak. Jika kita memaksakan demokrasi berdasarkan suara terbanyak, maka usia demokrasi itu sendiri tidak akan panjang, sebab suara terbanyak belum memahami kedaulatan pribadi yang menjadi dasar kedaulatan rakyat.

 sumber tulisan: siperubahan.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s