Umat Islam Bukanlah Pemilik Bahasa Arab


biblegabung

Pada 10 Desember 2007, edisi bahasa melayu The Catholic Herald memakai kata ‘Allah’ dalam menyebut Tuhan. Kemudian warga muslim di Malaysia berang. Pemerintahnya ikut-ikutan berang. Mereka menetapkan ‘Allah’ jadi eksklusif untuk orang Islam.

Inilah yang aneh. Entah orang Islam atau orang Malaysia yang terkenal suka mengklaim. Padahal, kata ‘Allah’ sudah digunakan orang Timur Tengah jauh sebelum adanya Kristen atau Islam.

Sampai sekarang, ambil contoh, orang Kristen Koptik di Mesir dan di Jazirah Arab lainnya, masih menggunakan kata ‘Allah’. Mereka mengucapkan ‘bismillah’ dan ‘alhamdulillah’ sama seperti orang Islam. Di Mesir, ada adat kebiasaan kalau orang naik angkutan umum, ketika masuk kendaraan mereka mengucapkan salam ke penumpang lainnya. Dan penganut Koptik atau Muslim pun sama-sama berkata ‘Assalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh’. Ada kata ‘Allah’ dalam ‘warahmatullahi’ di situ. Lantas, apa itu jadi persoalan di sana? Tentu tidak. Tapi kenapa di Malaysia sampai jadi polemik? Mereka tidak baca sejarah atau bagaimana? Maka dari itu, akan semakin kelihatan bodohnya jika MUI di Indonesia dan pemerintah negeri ini sampai meniru Malaysia yang meng-eksklusifkan kata ‘Allah’ untuk orang Islam.

Namun tampaknya gejala kebodohan itu kian mewujud di Indonesia. Saya pernah mendengar seorang ulama di Indonesia mengklaim bahwa, bahasa Arab adalah bahasa yang dipakai di surga. Jelas sekali ini merupakan klaim yang mengada-ada.

Andaikan Tuhan yang dipanggil Allah itu benar-benar ada, patut kita pertanyakan bahasa apa yang Dia gunakan di surga sana? Apa benar bahasa Arab? Sedangkan orang-orang yang hidup di Jazirah Arab sebelum kedatangan Islam pun sudah berbahasa Arab. Sungguh aneh pula bila bahasa Arab dianggap sebagai ‘Bahasa Murni’ yang digunakan dalam dialog Adam dengan Allah di surga, lantas mengapa ada banyak bahasa digunakan umat manusia di bumi, termasuk bahasa Arab yang di tiap akar katanya memiliki kemiripan dengan bahasa Ibrani dan bahasa Aram? Contoh sederhana, Aleph adalah aksara pertama dalam bahasa Ibrani sebagaimana Alif dalam bahasa Arab.

Evolusi bahasa manusia, jika boleh dikatakan demikian, tidaklah berpangkal dari satu bahasa, apalagi bahasa Arab. Meminjam sebuah artikel dalam situs Standford University, seorang dosen Antropologi Merritt Ruhlen berkolaborasi dengan Murray Gell-Mann, pendiri dan Profesor terkemuka dari Santa Fe Institute, telah memetakan evolusi susunan kata dalam sebuah makalah berjudul The Origin and Evolution of Word Order, diterbitkan dalam Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS).

Dengan menggambarkan sampel dari 2.135 bahasa di dunia yang dikenal, mereka telah menciptakan Pohon Bahasa filogenetik, dan melalui itu menunjukkan bahwa struktur kalimat dalam bahasa modern pertama mengikuti tatanan Subject-Object-Verb (SOV), seperti yang masih bertahan dalam bahasa Jepang modern. Dengan bukti terobosan yang menunjuk ke suatu evolusi yang berkelanjutan dari bahasa, para pakar memberikan wawasan baru bagaimana nenek moyang kita berkomunikasi.

Manusia modern pertama kali muncul 200.000 tahun yang lalu, Ruhlen menjelaskan, tapi kemampuan sosial, teknologi dan linguistik sebagian besar bermula dari pendahulu mereka, Neanderthal. Hanya sekitar 50.000 tahun yang lalu bahwa perubahan besar terjadi di mana manusia-manusia menjadi tidak hanya secara anatomis modern, tapi juga berperilaku modern. Seiring dengan inovasi teknologi, seperti pembuatan alat dari bahan lain selain batu, seni dan memancing, hadir pula perkembangan bahasa yang sepenuhnya modern.

Adapun perubahan susunan kata kepada bentuk yang lain, benar-benar muncul dimulai sekitar 20.000 tahun yang lalu sebagai akibat dari migrasi global umat manusia dari Afrika. Migrasi ini memungkinkan urutan kata berdasarkan SOV berubah menjadi lima bentuk kemungkinan susunan kata lainnya pada waktu dan tempat yang berbeda.

Pohon kata tersebut dibangun dengan menggunakan rumpun bahasa, atau kata-kata yang memiliki asal-usul etimologis umum. “Rumpun adalah kata-kata yang lahir bersama-sama,” jelas Ruhlen. “Misalnya, kata untuk tangan dalam bahasa Spanyol dan Italia adalah mano, berasal dari bahasa Latin.”

Para ahli mencatat terjadinya setiap jenis urutan kata dalam masing-masing rumpun bahasa, ternyata lebih sebagian besar bahasa di dunia ini menggunakan struktur SOV, walaupun ada beberapa kemungkinan jenis lainnya yang muncul (SOV; SVO, OSV, OVS, VSO dan VOS). Hampir tidak ada yang berkembang secara mundur ke belakang, kecuali dalam kasus yang disebut Ruhlen sebagai “pinjaman”. Ini, menurut mereka, menunjukkan bahwa evolusi bahasa bukanlah sebuah proses acak.

Ruhlen dan Gell-Mann mendapatkan inspirasi untuk pekerjaan mereka dari ahli linguistik terkenal di Stanford, Joseph Greenberg. Dalam publikasi 1963 yang ditetapkan menjadi salah satu karya yang paling banyak dikutip pada persoalan klasifikasi bahasa, Greenberg menunjukkan bahwa bahasa Afrika—lebih dari 1.000 jumlahnya–dapat direduksi menjadi hanya empat rumpun bahasa. Juga pada tahun 1963 Greenberg menerbitkan sebuah artikel di mana dia mengamati “susunan elemen-elemen bermakna” dalam bahasa dan dalam makalah itu pertama kali ia membahas susunan kata. Makalah oleh Gell-Mann dan Ruhlen merupakan kelanjutan dari penelitiannya.

Jadi, dari sini merupakan sesuatu yang nonsens bila ada suatu bahasa yang sakral dan unggul di antara majemuknya bahasa di dunia. Namun, itu bisa saja terjadi atas nama politik identitas, dan agama sudah terlampau sering melancarkan politik identitas.

Banyak orang beragama yang langsung emosi kalau ada orang yang menyodorkan kenyataan sisi lain dari agama. Padahal memang kenyataannya seperti itu, contohnya: bentuk kubah yang diperebutkan milik umat agama siapa, bentuk pakaian, dan begitu juga terhadap polemik kata ‘Allah’. Mereka tidak menyadari semua itu cuma simbol yang dibela. Bahkan, bisa jadi mereka menyadarinya, tapi sengaja berselimut di balik konflik untuk mengail keuntungan pribadi atau komunitas.

Bila kita kembali pada polemik kata ‘Allah’ di atas, sejatinya bahasa Arab bukan eksklusif milik orang Islam. Sangat janggal ketika ada umat beragama yang mengklaim suatu bahasa dari suku-bangsa tertentu menjadi identitas eksklusif milik mereka saja. Sudah sangat wajar jika terjadi pertukaran-pertukaran dan perubahan dalam tutur kata manusia. Bahasa Indonesia sendiri mengenal istilah ‘kata serapan’ yang berasal dari bahasa bangsa lain, malah bahasa Indonesia itu sendiri dibangun dari fondasi bahasa-bahasa yang dituturkan oleh banyak suku di tanah air. Jika demikian, mengapa kita tidak bisa dan tidak berani memikirkan bahwa bahasa Arab pun juga menyerap dari bahasa suku-bangsa dan ras lainnya?

Seorang Ludwig Wittgenstein pernah berucap, “The limits of my language means the limits of my world.” Bagaimanapun juga, yang namanya bahasa manusia pasti mengalami keterbatasan. Karena itu, mau tak mau bahasa Arab harus menyerap bahasa lain. Proses wajar ini hadir bersamaan dengan interaksi dan komunikasi sesama manusia. Bukan dibawa oleh sosok bernama Adam dari surga. Bukan diturunkan oleh Tuhan dengan bentuk yang sedemikian baku sejak awal mula manusia diciptakan. Maka tidak ada yang sakral dengan bahasa. Seseorang bisa belajar banyak bahasa; Inggris, Jerman, Arab, Spanyol, dan lain sebaiknya. Hanya orang degil yang mengira ada suatu bahasa yang eksklusif dimiliki komunitas mereka saja.

One thought on “Umat Islam Bukanlah Pemilik Bahasa Arab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s