RUU Perlindungan Umat Beragama (PUB); Wujud Indonesia Semakin Absurd


PUBLihat betapa naifnya Indonesia ini. Sudah naif, pun manipulatif dan munafik. Bagaimana tidak, sudah ada undang-undang penistaan/penodaan agama, sekarang mau ada lagi keluar Undang-Undang Perlindungan Umat Beragama. Agama terus-menerus dibentengi dengan berbagai macam produk kebijakan politik. Lalu bagaimana dengan perlindungan terhadap orang-orang yang tidak beragama, adakah?

Yang namanya agama; sesuatu yang rapuh itu terus dipelihara supaya para elite bisa cari makan di sana, bisa mengambil keuntungan politis di sana, makanya negara tak henti mengurusi agama. Tidak heran bila agama terus melatih manusia untuk menjadi manipulatif. Melatih orang untuk mengeruk uang bagaikan bunglon buntung yang bermuka-muka (bukan cuma muka dua). Ironisnya, banyak orang di Indonesia yang tidak taat beragama, tapi justru memusuhi orang-orang yang jujur dan terus terang mengakui ketidakberagamaannya. Dengan adanya pembahasan RUU Perlindungan Agama (PUB), maka bangsa ini semakin dididik untuk bermuka-muka.

Yang namanya agama, terutama agama terorganisir (organized religion), seolah menyediakan kepada banyak orang dan masyarakat tentang suatu tujuan hidup. Komunitas-komunitas keagamaan dapat memiliki banyak pengaruh yang menguntungkan dan menduduki pusat berbagai macam identitas budaya seseorang, tapi itu tidak membuat klaim yang dilakukan agama-agama berisi sesuatu yang benar. Pada kenyataannya, agama itu sendiri tidak berhak menetapkan satu-satunya makna kehidupan bagi seseorang. Sebaliknya, masing-masing individu berhak memilih untuk memberikan makna pada hidup mereka melalui berbagai macam aktivitas yang mereka lakukan setiap hari. Dengan demikian, hal itu dapat ditemukan di luar agama, dan mencari makna dalam hidup bisa jauh lebih memuaskan daripada mengikuti aturan dari otoritas agama.

Misalkan, seseorang bertanya; kalau kita mati masuk mana, neraka atau surga? Seseorang yang beragama terus menerus berceramah tentang surga dan neraka. Semua sikap dan tingkah laku dalam hidup dibangun berdasarkan agama, malah segala hal ditarik ke agama. Selama hidupnya pun berada dalam ketakutan akan neraka dan siksaan-siksaannya.

Namun kalau kita mau mencari sesuatu di luar agama mengenai pertanyaan-pertanyaan dalam kehidupan kita maka kita akan mendapat jawaban lain. Seperti misalnya yang dikatakan Carolyn Porco, seorang astrofisikawati dunia, “All the atoms of our bodies will be blown into space in the disintegration of the Solar System, to live on forever as mass or energy. That’s what we should be teaching our children not fairy tales about angels and seeing grandma in heaven.”

Seseorang bisa memilih untuk percaya yang dikatakan ajaran agamanya, tapi bisa juga memilih untuk hidup dengan hasil observasi saintifik. Lantas mengapa perlu ada segala macam Undang-Undang yang dibuat negara hanya untuk melindungi agama? Sesuatu yang non-sense dan percuma.

Memercayai sesuatu bukan langsung membuat yang dipercayai itu adalah sesuatu yang benar. Demikian pula, menginginkan sesuatu tidak memastikan keingingan itu benar-benar menjadi kenyataan. Yang terjadi adalah delusi. Hal yang sama berlaku untuk agama. Tidak peduli apakah Anda percaya sesuatu yang membuat Anda merasa lebih baik tentang diri Anda, atau menjadikan hidup Anda lebih berarti. Namun jika tidak ada bukti untuk mendukung itu, maka sama saja hanya ber-delusi.

Ketika seseorang mengatakan, “Tanpa Tuhan, hidup tidak ada artinya,” apa yang dia katakan sesungguhnya adalah: “Saya ingin percaya bahwa kehidupan memiliki makna, dan saya tidak bisa membayangkan bagaimana itu mungkin tanpa Tuhan, jadi saya ingin percaya bahwa Tuhan adalah nyata.”

Nahasnya, kita hidup dalam dunia “klaim kebenaran”, bukan berdasarkan bukti-bukti yang nyata, dapat diverifikasi, diobservasi, dan difalsifikasi. Sementara itu, ketika keyakinan berdasarkan ajaran agama ini terus dipertahankan, psikologis Anda hanya akan semakin rusak. Ketika Anda bersikeras mengklaimnya sebagai kebenaran di saat bersamaan mendapat benturan dari luar.

An Uncomfortable Truth Is Always Better than a Comforting Lie. Pertanyaannya sekarang adalah; apakah kita menjadi penakut karena kenyamanan kita dalam beragama terganggu?

Dalam rangka untuk mengindoktrinasi pengikutnya dan jaminan ketaatan, agama sering memanfaatkan (atau kasarannya mengelabui) masyarakat kelas bawah dengan menciptakan kekosongan yang kemudian harus diisi dengan Tuhan. Setelah itu orang-orang akan dengan mudah mengatakan bahwa mereka secara inheren menjadi buruk atau berdosa, dan bahwa satu-satunya cara untuk menjadi baik adalah dengan memberikan kendali atas hidup mereka dengan keimanan. Padahal, tidak ada bukti bahwa semua itu benar. Agama, pada dasarnya, menciptakan masalah imajiner sehingga dapat menjual solusi imajiner.

Pengalaman akan ketidakberdayaan diciptakan oleh agama agar dapat membuka jalan bagi penipuan untuk mengambil keuntungan dari orang-orang yang mudah tertipu, dari orang-orang yang rentan. Ide-ide yang salah tentang alam semesta, termasuk janji-janji bahwa orang-orang yang baik dikasih pahala dan orang-orang berdosa dihukum, dapat menetapkan harapan palsu tentang keimanan atas Tuhan. Kemudian menjauhkan diri dari perangkat-perangkat observasi yang dibutuhkan untuk benar-benar menghasilkan solusi atas peristiwa yang menantang mereka untuk bertahan hidup dengan cara yang sehat dan rasional.

Seperti dikatakan oleh Bertrand Russell, “No satisfaction based upon self-deception is solid, and, however unpleasant the truth may be, it is better to face it once for all, to get used to it, and to proceed to build your life in accordance with it.”

Kita seharusnya bebas menentukan makna tanpa terikat dogma. Tidak ada kekuatan tunggal di luar sana yang memaksakan makna pada setiap peristiwa dalam kehidupan Anda. Tidak ada bukti apa pun bahwa peristiwa kehidupan masyarakat sesuai dengan semacam rencana ilahi atau takdir. Hidup ini, secara obyektif berarti berkenaan dengan skala ruang waktu di mana kita sebagai manusia hanyalah berperan kecil dari alam semesta yang luas. Karena itu, sangat absurd bila kita berpikir ada semacam sosok kosmik yang perannya sangat menentukan diri kita.

Begitu juga dalam hubungan antara beragama dan bernegara. Untuk apa negara mengurusi agama orang? Negara memakai bahasa “melindungi umat beragama”. Padahal, undang-undang lain sudah ada. Misalnya, jika ada konflik antar-umat beragama, lihat saja siapa yang melakukan kekerasan terhadap yang lain. Bukankah undang-undang untuk itu sudah ada. “Melindungi umat beragama” dari apa? Dari penghinaan atas ajaran agamanya? Tidak ada yang mempertentangkan jika ajaran agama diterapkan pada individu pemeluk dan kepada komunitasnya. Tetapi yang terjadi di Indonesia adalah agama diterapkan untuk orang lain di luar komunitas, malahan diterapkan dalam publik. Semua yang ada di publik diatur berdasarkan nilai-nilai agama. Inilah yang absurd. Maka bertambah absurd lagi jika negara melindungi sesuatu yang absurd.

Kita sebagai manusia bebas untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang mendalam atau menikmati kesenangan sederhana, seperti seks dan makanan. Kita memiliki kemampuan untuk menciptakan makna bagi kehidupan kita dengan menetapkan tujuan yang berharga, bekerja untuk meningkatkan kehidupan orang-orang di sekitar kita, menikmati waktu kita di bumi, membuat koneksi dengan manusia lain dan mencintai orang-orang yang dekat dengan kita. Semua kegiatan ini bermanfaat, dan tidak satupun dari mereka membutuhkan keberadaan Tuhan.

Sebaiknya Indonesia belajar untuk tidak menjadi negara yang memuja kebodohan. Jika sesuatu yang rapuh terus-menerus dibentengi, maka suatu saat Anda akan kehabisan beton dan baja, lalu menggantinya dengan tengkorak manusia. Ingatlah, dunia pernah ada di abad-abad kegelapan itu.

– Sumber: siperubahan.com

One thought on “RUU Perlindungan Umat Beragama (PUB); Wujud Indonesia Semakin Absurd

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s