Ketika Tuhan Tidak Punya Tongkat Sulap


tongkat sulapBeberapa waktu lalu Paus Fransiskus mengeluarkan pernyataan yang kesannya mengakui teori evolusi, big bang, dan modern sains.

“When we read about Creation in Genesis, we run the risk of imagining God was a magician, with a magic wand able to do everything. But that is not so,”

“He created human beings and let them develop according to the internal laws that he gave to each one so they would reach their fulfillment.”

“God is not a divine being or a magician, but the Creator who brought everything to life,”

“Evolution in nature is not inconsistent with the notion of creation, because evolution requires the creation of beings that evolve.”

Reaksi berdatangan dari kalangan saintis yang notabene kebanyakan dari mereka adalah ateis atau agnostik. Pernyataan Paus Fransiskus seolah mendukung sains, tapi justru sebaliknya hanya menggunakan sains sebagai “senjata” kaum kreasionis. Dengan kata lain, institusi Gereja semakin menyimpang-siurkan kreasionisme dan sains. Sedangkan kaum kreasionis yang memang gemar suka mencocok-cocokkan antara sains dan dogma, sangat mengapresiasi ucapan Paus tersebut. Para kreasionis ini terus-menerus menolak dasar-dasar ilmiah yang melandasi pemahaman atas sejarah planet kita. Mereka dengan tegas mengandalkan pada penafsiran literal dari kitab-kitab dogma agama mengenai penciptaan dan sebagainya.

Jadi, apa maksud Paus mengeluarkan pernyataan itu? Apakah karena Tuhan tidak mempunyai tongkat sulap maka Tuhan menciptakan jagad raya ini dengan mekanisme bernama “Big Bang” dan “Evolusi”?

Ada sebuah tulisan menarik di situsnya Richard Dawkins. Ditulis oleh seorang profesor biologi Amerika Serikat, Jerry Allen Coyne. Ia mengatakan bahwa evolusi telah menjadi fakta ilmiah yang diterima sejak sekitar tahun 1870, kira-kira satu dekade setelah teori ini diusulkan oleh Darwin pada tahun 1859. Dan ada begitu banyak penelitian yang mendukung teori tersebut, seperti yang didokumentasikan dalam buku Jerry Coyne sendiri Why Evolution is True, lantaran tidak adanya bukti untuk “penciptaan” alternatif berdasarkan kredo agama yang mengandalkan sosok bernama Tuhan. Menurutnya, ketika Paus Fransiskus/Francis mencoba memasukkan unsur Gerejawi ke dalam modernitas, itu hanya akan terlihat kreasionisme semata.

Benar bahwa teori evolusi dicetuskan di abad ke-19, yang relatif kurang pembuktian ilmiah dibanding masa kini. Tapi sekian banyak teori dan penemuan ilmiah bahkan dihasilkan lebih tua lagi. Dan teori yang terbukti salah akan digugurkan, sementara teori yang telah terbukti ilmiah akan bertahan, dan makin berkembang seiring kemajuan pengetahuan. Teori evolusi bisa bertahan dan makin berkembang seperti sekarang dengan melalui proses yang sama. Terlebih, jika tidak ada pembuktian, maka teori bahkan tak bisa disebut teori, paling banter hanya berupa hipotesa. Teori adalah hipotesa yang sudah teruji. Ini salah satu alasan mengapa kreasionisme bahkan bukan sebuah teori.

Tetapi jika kita mengurai kata-kata Paus Fransiskus kemarin, itu diucapkan saat ia meluncurkan patung pendahulunya, Paus Benediktus XVI, kita akan menemukan bahwa yang didukung Gereja tetaplah kreasionisme. Bahkan, sikap resmi Vatikan tentang evolusi secara eksplisit tidak ilmiah: kombinasi teori evolusi modern dan kitab agama, khususnya soal penciptaan. Gereja tidak bisa memasuki dunia sains modern. Sebelumnya juga sama, pernah ada Paus yang mencoba merekonsiliasi antara sains dan agama, tapi itu cuma omong kosong.

Untuk kepentingan mereka, kaum agamawan suka sekali mengutip sebuah pernyataan Albert Einstein bahwa “sains tanpa agama lumpuh, dan agama tanpa sains buta”. Sehabis mengutipnya, mereka langsung berkata, “Lihatlah Einstein itu saintis yang saleh beragama, maka itu hidupnya lurus, sehat dan bugar, tak seperti Stephen Hawking yang lumpuh.” Malah ada agamawan yang sangat eksentrik sampai bisa menyatakan bahwa Einstein adalah seorang Muslim syiah yang hidupnya diberkati Allah.

Pada sisi lain, banyak juga orang Kristen evangelikal menyatakan bahwa Einstein adalah seorang Kristen saleh yang hidupnya diperkenan dan diberkati Yesus. Kaum agamawan Buddhis juga mengklaim bahwa Einstein pernah menyatakan Buddhisme non-theis adalah agama yang sejalan dengan sains modern.

Rupanya kaum agamawan berkepentingan untuk menarik Einstein ke kubu agama mereka masing-masing dan memanfaatkannya. Pertanyaan pentingnya adalah apakah Einstein seorang saintis yang beragama. Kalau kita telusuri tulisan-tulisan Einstein tentang Allah dan agama, kita harus simpulkan bahwa Einstein tidak percaya pada Allah yang diberitakan agama-agama monoteistik, termasuk Allah bangsa Yahudi, bangsanya sendiri. Dia bukan seorang monoteis.

Kalau Einstein memunculkan kata “Allah” dalam tulisan-tulisannya, kata ini diberi makna metaforis olehnya, bukan makna ontologis. Umumnya memang begitu: Kalau seorang saintis memakai kata Allah, kata ini bermakna metaforis, tidak bermakna literal. Kalau Einstein berkata-kata tentang Allah, bagi dia Allah adalah struktur kosmologis yang sangat mempesonanya, yang ditata oleh hukum-hukum kosmologis. Bagi Einstein, Tuhan adalah kemahabesaran jagat raya, yang terungkap dalam strukturnya yang sangat menakjubkan, yang dibangun dan ditata dengan berfondasi hukum-hukum kosmik, yang bekerja juga lewat hukum-hukum alam ini. Hanya sebagian kecil saja dari kemahabesaran kosmik ini yang sudah dipahami manusia lewat sains modern. Namun manusia akan terus menguak rahasia alam semesta sampai kapan pun juga. Einstein dengan tegas menolak untuk percaya pada suatu Tuhan personal yang diberitakan oleh agama-agama, terutama tiga agama monoteistik, Yahudi, Kristen dan Islam.

Pada 22 Maret 1954 Einstein menerima sebuah surat dari Joseph Dispentiere, seorang imigran asal Italia yang telah bekerja sebagai seorang masinis eksperimental di New Jersey. Sang masinis ini telah menyatakan dirinya ateis dan sangat kecewa ketika membaca sebuah berita yang menggambarkan Einstein sebagai seorang yang beragama konvensional. Pada 24 Maret 1954, Einstein menjawab, tulisnya:

“Tentu saja suatu dusta jika anda membaca tentang keyakinan-keyakinan keagamaan saya, suatu kebohongan yang dengan sistimatis diulang-ulang. Saya tidak percaya pada suatu Allah personal dan saya tidak pernah menyangkal hal ini tetapi telah mengungkapkannya dengan jelas. Jika ada sesuatu dalam diri saya yang dapat disebut religius, maka ini adalah suatu kekaguman tanpa batas terhadap struktur dunia yang sejauh ini sains dapat menyibaknya.” (Lebih lanjut, sila baca bukunya Richard Dawkins, The God Delusion).

Baca juga: Einstein’s Famous Quote About Science and Religion didn’t mean what you were taught

Dahulu Paus Pius XII pernah menyatakan bahwa evolusi mungkin memang benar, tapi evolusi itu menegaskan bahwa ada pengecualian khusus untuk manusia karena manusia telah diberikan oleh Allah dengan jiwa, fitur yang tidak ada dalam spesies lain. Lantas pengecualian itu berbuntut pada Adam dan Hawa yang dipandang sebagai nenek moyang dalam sejarah dan literal dari seluruh umat manusia.

Kedua fitur tersebut tentu berseberangan dengan sains. Kita tidak punya bukti bagi jiwa karena yang disebut perasaan, emosi, keyakinan, cinta, hanya proses kimiawi yang dihasilkan “otak reptil” kita. Sebagaimana ahli biologi yang melihat spesies kita hanya sebagai produk dari evolusi alamiah dari spesies sebelumnya. Selanjutnya, evolusi genetika telah secara meyakinkan menunjukkan bahwa kita tidak pernah memiliki nenek moyang atau leluhur yang hanya dua orang. Jika kita mau menghitung dari jumlah variasi genetik yang hadir dalam spesies kita hari ini, ukuran populasi minimum manusia dalam jutaan tahun terakhir adalah sekitar dua belas ribu. Artinya, minimal kita punya nenek moyang berjumlah dua belas ribu, bukan hanya dua orang yang bernama Adam dan Hawa.

Gagasan Adam dan Hawa sebagai leluhur tunggal dan sejarah manusia modern hanyalah sebuah fiksi yang masih dipertahankan agama-agama monoteistik. Namun biasanya, kalangan kreasionis berdalih dengan memainkan teks literal kitab dogma agama dengan ranah penafsiran. Mereka mencoba untuk mengkonversi menjadi metafora. Inilah yang membuat sengkarut kreasionisme bermunculan.

Seorang Astrofisikawan, Neil deGrasse Tyson, menyindir ucapan Paus Fransiskus. Mengapa Paus Fransiskus berani mengakui teori evolusi dan big bang, “jangan-jangan dia baru saja menonton Cosmos.”

Cosmos adalah tayangan sains di sebuah kanal berbayar National Geographic Channel. Lengkapnya, Cosmos: A Spacetime Oddysey. Acara ini sangat bagus. Sayangnya, di Indonesia justru hanya bisa ditonton di kanal berbayar sementara tidak semua orang Indonesia mampu berlangganan TV Kabel. Neil deGrasse sendirilah yang membawakan acara tersebut. Mungkin memang sudah ada tayangan sains di kanal-kanal publik kita, tapi masih berbau kreasionisme. Alangkah bagusnya bila ada stasiun televisi swasta nasional yang mau membeli hak siar acara Cosmos tersebut, dan menayangkan secara luas di Indonesia daripada menayangkan acara-acara tidak bermutu.

– Sumber: Siperubahan.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s