Ketika UU Ujaran Kebencian (Hate Speech) Jadi Kedok Pembungkaman


hate speechBeberapa waktu lalu ada debat di televisi Amrik antara Ben Affleck, Bill Maher, Sam Harris, Nicholas Kristof dan Michael Steele. Ada kutipan atau quote dari Affleck yang mengatakan bahwa, mengkritik Islam adalah gross (menjijikkan), rasis, dan stereotip. Sementara itu, Kristof, seorang kolumnis New York Times, mengatakan bahwa biasanya orang kulit putih yang rasis menggunakan karikatur untuk menyuarakan kritik mereka. Namun Sam Harris, seorang saintis, mengatakan bahwa, “Islam is not a Race. Criticism of Islam is not Racism“. Agama bukanlah ras, dan mengkritik agama sama sekali bukan rasis.

Tentu ini berlaku juga buat kristen. Mengkritik kekristenan bukan rasis karena bukan ras. Mengkritik agama sama halnya dengan blasphemy, dan biasanya blasphemy memang distempel oleh kalangan agama sebagai penodaan atau penistaan terhadap agama. Indonesia termasuk negara yang masih memberlakukan undang-undang itu.

Bagaimana dengan hate speech dan hate crime? Sejak 1960-an, beberapa negara demokrasi liberal di Eropa telah mengesahkan undang-undang yang mengkriminalkan ujaran kebencian. Undang-undang ini membatasi kemampuan seseorang untuk misalnya menyuarakan keyakinannya yang bersifat rasial atau penolakannya terhadap peristiwa Holocaust atau genosida di Armenia. Di Denmark, misalnya, Pasal 266(b) KUHP yang mengkriminalkan orang yang “menyampaikan dan menyebarluaskan kebencian rasial”. Pada 2001, beberapa politisi Denmark diadili berdasarkan pasal ini karena ulah mereka mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang “anti-Islam”. Pada Juni 2010, jaksa negara Denmark berusaha mencabut kekebalan parlementer PM Jasper Langballe sehingga dia bisa diadili berdasarkan pasal ini dengan tuduhan menerbitkan artikel mengenai “Islamisasi Eropa” yang berlangsung deras dan status perempuan yang terpinggirkan di dalam Islam.

Di Perancis, undang-undang mengenai ujaran kebencian terdapat misalnya dalam UU Pers 1981, yang Pasal 24-nya mengkriminalisasi penghinaan yang bisa berakibat pada terjadinya diskriminasi, kebencian, dan kekerasan rasial berdasarkan keanggotaan seseorang (atau non-keanggotaannya) ke dalam satu kelompok etnis, kebangsaan, ras, atau agama. UU seperti ini sudah digunakan berkali-kali. Pada 2002, empat organisasi Muslim mengadukan penulis Michel Houellebecq yang dalam sebuah wawancara menyatakan bahwa Islam itu “bodoh” dan “berbahaya”. Contoh lainnya, pada 2005, politisi Jean Marie Le Pen, yang menduduki posisi kedua dalam pemilihan presiden Perancis tahun 2002, juga diadili karena komentarnya di majalah Le Monde pada 2003 yang menyatakan akibat berbahaya dari imigrasi kaum Muslim di Perancis.

UU tentang ujaran kebencian juga ada di Belanda. Pasal 137(c) dan 137(d) dalam KUHP melarang orang untuk dengan sengaja menghina atau menyatakan kebencian terhadap orang atau kelompok lain berdasarkan ras, agama, orientasi seksual, atau keyakinannya. Kasus terbesar yang terkait dengan pasal-pasal ini adalah kasus yang menimpa politisi Geert Wilders, pada 2009, akibat pernyataan-pernyataannya mengenai Islam dan kaum Muslim serta film dokumenternya yang menghina kitab suci al-Qur’an. Sementara itu, di Inggris, Pasal 18(1) dari Public Order Act (1986) menyatakan: “[a] person who uses threatening, abusive, or insulting words or behaviour, or displays any written material which is threatening, abusive, or insulting, is guilty of an offence if: (a) he intends to thereby stir up racial hatred, or; (b) having regard to all the circumstances racial hatred is likely to be stirred up thereby,” Selain itu, sebagai pelengkap, pemerintah Inggris juga mengesahkan apa yang disebut “Racial and Religious Hatred Act” pada 2006. Pada April 2010, Harry Taylor, seorang atheis yang dengan sengaja meletakkan gambar-gambar yang mengandung satire terhadap agama Kristen dan Islam di satu ruang ibadah di bandar udara, diadili berdasarkan aturan di atas dan dihukum enam bulan penjara.

Tapi persoalannya adalah; di negara-negara Barat, selain UU hate speech dan hate crime, juga diakui kebebasan berbicara dan berekspresi. Kritik adalah bagian dari kebebasan berbicara. Kritik bukan mencemooh. Namun sayangnya, ini pula yang dikemukakan dalam perdebatan yang mengerucut antara Ben Affleck dengan Sam Harris, bahwa hate speech menjadi luas cakupannya sehingga tidak boleh sama sekali mengkritik doktrin agama. Padahal, menurut Sam Harris, yang mengambil contoh Islam dalam perdebatan itu.

“We have to be able to criticize bad ideas, and Islam is the Mother lode of bad ideas.’ This statement has been met with countless charges of ‘bigotry’ and “racism” online and in the media. But imagine that the year is 1970, and I said: ‘Communism is the Mother lode of bad ideas.’ How reasonable would it be to attack me as a “racist” or as someone who harbors an irrational hatred of Russians, Ukrainians, Chinese, etc. This is precisely the situation I am in. My criticism of Islam is a criticism of beliefs and their consequences—but my fellow liberals reflexively view it as an expression of intolerance toward people.”

Intinya, kita harus bisa mengkritik ide-ide, gagasan-gagasan, doktrin-doktrin yang bodoh dan irasional. Jangan jadikan hate speech justru sebagai piranti untuk membungkam hal tersebut.

Tapi bagaimana dengan mengkritik Yahudi, khususnya Yahudi yang dikaitkan dengan Israel. Apakah Israel adalah suku bangsa, ras, atau etnis? Lalu apakah Yahudi eksklusif pada orang Israel? Apakah Yahudi merupakan ras yang menyatu dengan agama, dan menjadi agama ras? Bagaimana jika mengkritik mereka, apakah rasis?

Menurut beberapa artikel, Israel itu sebuah bangsa. Sedangkan Yahudi itu mengacu kepada suku bangsa Israel yakni kaum Yehuda dan Dua suku lain yang tinggal di tanah Judea orang Benyamin dan orang Lewi. Jadi, Israel itu belum tentu Yahudi, sedangkan Yahudi itu merupakan Israel. Saat pecahnya kerajaan Israel sepeninggal raja Salomo, kuil peribadatan orang Israel berada di tanah Judea di mana orang Yahudi beribadah di sana, lokasinya diperkirakan di masjid the dome of the rock (kubah emas) sekarang. Sedangkan 10 suku Israel yang lain yang disebut orang Samaria (mengacu kepada tempat mereka tinggal) dibuatkan kuil peribadatan lain oleh rajanya sendiri. Tapi apakah semua historical artefact ini masih eksis dan patut dipertahankan, terlebih dikultuskan?

Yahudi bentuknya ethnoreligion, terbatas eksklusif hanya untuk mereka yang berketurunan etnis Yahudi, atau yang menikah dengan etnis Yahudi lalu memeluk Yudaisme. Ketika yang dikritik itu ideologi yang mereka anut misal: tindakan mutilasi kelamin atau istilah kita adalah sunat pada perempuan, itu bukan sebuah tindak rasisme. Namun ketika yang dikritik itu karakteristik lahiriah etnis mereka, maka itu rasisme.

Ideologi adalah sesuatu yang nurture, sedangkan karakteristik etnis itu nature. Kita tidak bisa memilih lahir sebagai suku apa, tapi kita bisa memilih mau menganut ideologi apa. Mau beragama atau tidak beragama. Tidak ada ideologi atau agama yang bebas dari kritik. Berusaha melanggengkan ideologi yang tidak boleh dikritik merupakan pembunuhan kebebasan berpendapat dan berekspresi. Demikian pula soal kritik dan mencemooh. Misalnya di Indonesia, ada beberapa sistem keyakinan atau kepercayaan yang mengikat sistem keturunan darah atau kesukuan. Katakanlah, etnis Tionghoa. Untuk apa SBY gonta-ganti istilah keturunan China atau Tionghoa, sebenarnya itu tidak terlalu berpengaruh. Yang lebih substansial adalah perlakuan masyarakat Indonesia yang masih terdapat diskriminatif.

Jika kita mengatakan China atau Tionghoa, itu bukanlah sesuatu yang rasis lantaran mereka tidak bisa memilih mau dilahirkan sebagai orang China atau bukan. Itu adalah sesuatu yang nature. Namun ketika ada orang yang mengungkit soal “sipit”, baru bisa dikatakan sebagai rasis. Sama seperti tindakan diskriminatif terhadap warna kulit atau gender. Sesuatu yang nature kemudian dijadikan alat untuk mengkritik, apalagi mengolok-olok, adalah sesuatu yang rasis.

Melihat Israel pada masa sekarang, yang terjadi adalah Israel is a state not a religion. Saat ini Israel mewujud pada negara. Oleh karena itu, menyikapi Israel tidak perlu dikaitkan terus-menerus kepada agama. Banyak warga negara Israel yang juga mengkritik kebijakan politik pemerintahnya yang kerap merugikan negara lain tanpa memandang agama atau etnis mereka. Namun mengkritik doktrin Yudaisme juga tidak ada salahnya, sama saja dengan mengkritik Islam, Kristen, dan agama-agama lain. Yang sering diungkap dan dibesar-besarkan orang adalah bahwa kebebasan beragama harus dihargai, bagaimana dengan kebebasan tidak beragama? Sedangkan para orang beragama bukan hanya hate speech, mereka bahkan mengutuk, menjelek-jelekkan, atau memusuhi dari mimbar-mimbar dalam rumah peribadatan mereka kepada orang-orang yang tidak beragama. Jadi, Untuk apa kita sok “berpolitik” dan membentengi diri kita dengan peraturan semacam hate speech, ini yang membuat kita semakin dangkal dan bersikap standar ganda.

– Sumber: Siperubahan.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s