Tarik-Menarik Islam dan Humanisme


humanisme

Antara agama dan budaya selalu melahirkan “tarik-menarik”, bahkan tidak jarang pencampuradukan antara keduanya. Indonesia, sebagai bangsa yang majemuk telah belajar menyikapi “tarik-menarik” itu dalam tradisi-tradisi eklektik dan sinkretisme yang terlestarikan sampai sekarang. Agama apa pun yang masuk ke negeri ini bisa diserap dan juga “di-Indonesiakan”, meski ada yang berpendapat sebaliknya: justru Indonesia yang “diagamakan”. Tidak dapat dimungkiri bahwa, sejarah pun mencatat muncul keresahan-keresahan ketika sebuah budaya menerima pengaruh dari luar, baik karena masuknya agama, budaya, maupun agama bersama-sama dengan budaya. Kenyataan itu tidak hanya terjadi pada budaya nusantara karena pengaruh Hindu, Buddha, Islam, Kristen, tapi juga pada masyarakat Eropa di abad pertengahan dulu.

Dominasi agama/gereja yang melakukan ekspansi ke wilayah budaya, pada abad pertengahan itu, menimbulkan berbagai reaksi. Salah satu reaksi itu adalah kehendak untuk kembali kepada masa Romawi-Yunani kuno, mengembalikan harkat kemanusiaan agar terlepas dari dominasi agama/gereja, kemudian memunculkan gerakan-gerakan humanisme. Globalisasi yang oleh beberapa pengamat disebut sebagai pemaksaan budaya Barat terhadap budaya-budaya lokal, juga menimbulkan keresahan-keresahan. Dalam pandangan sosiolog Emile Durkheim, keresahan itu disebabkan oleh keadaaan anomie, ketika nilai-nilai lama sudah luntur (bahkan hilang), tapi nilai-nilai baru belum terbentuk.

Abad pertengahan (13-16 Masehi) merupakan abad yang khas, karena di abad ini perkembangan gereja (seiring dengan bangkitnya budaya Yunani dan Romawi) semakin nyata, Karel Agung sebagai Raja Eropa mengadopsi gereja sebagai agama negara, kemudian ia mempersatukan Eropa Barat, sehingga menjadi suatu badan yang sangat kuat, yang berjiwa Katolik. Namun dimasa ini juga terjadi perpecahan gereja, hal ini terjadi karena munculnya Martin Luther yang memprotes sistem sistem di dalam gereja. Pergerakan gereja yang begitu dinamis diiringi dengan penggalian kembali warisan warisan budaya Yunani dan Romawi kuno oleh para cendekiawan yang saat itu disebut sebagai kaum humanis, mereka berangapan bahwa budaya klasik sebagai puncak peradaban barat. Budaya ini jauh dianggap lebih tinggi dari seniman maupun ilmu hukum, mereka mempelajari tentang gramatika retorika, sejarah, seni puisi ataupun filsafat moral.

Periode Abad Pertengahan agaknya menimbulkan trauma serius bagi perkembangan sikap keagamaan orang-orang Eropa. Pada periode tersebut, ke-Kristen-an memegang peran utama dalam segala aspek kehidupan (posisinya berada di atas seni, filsafat, maupun sains). Meski posisinya sangat sentral, namun banyak pihak menganggap bahwa justru periode tersebut lebih cocok disebut dengan Abad Kegelapan karena dominasi gereja yang amat memberangus kebebasan berpikir. Perbedaan sikap dalam hal sains misalnya (seperti mengatakan bahwa bumi ini bulat atau bumi ini bergerak mengelilingi matahari), akan berujung pada hukuman mati. Selain itu, kenyataan bahwa sikap para pengikut keagamaan yang tidak mencerminkan suatu moralitas yang luhur pun membuat banyak orang merasa tidak lagi simpatik terhadap agama. Misalnya, kenyataan bahwa gereja pada masa itu menjual surat pengakuan dosa dengan harga tinggi menjadi alasan yang dianggap cukup untuk menyuarakan ateisme di kemudian hari.

Di samping ke-Kristen-an, secara umum konsep agama tampak tidak menjelma menjadi suatu contoh tentang perdamaian bagi umat manusia. Slogan agama sebagai penunjuk jalan, pencari solusi, atau pemberi rahmat, justru menjadi kontradiktif ketika mereka malah menjadi sumber problematika seperti perang dan terorisme. Hal tersebut semakin menjadi-jadi ketika disandingkan dengan perkembangan sains dan teknologi yang semakin maju. Agama seolah berbicara tentang hal-hal yang lampau dan terlalu teknis seperti tata cara peribadatan, ketimbang berbuat sesuatu untuk kepentingan umum. Secara umum, Tuhan yang diagungkan oleh agama-agama pun dianggap sudah ketinggalan dan tidak mampu lagi menjawab tuntutan zaman. Hal tersebut membuat orang merasa tidak perlu lagi untuk beragama atau bahkan ber-Tuhan, jika segala persoalan bisa diselesaikan tanpa hal-hal tersebut.

Ada beberapa tokoh humanisme yang terkenal pada abad pertengahan, yakni Petrarkha (1304 – 1374), Desiderius Erasmus (1466 – 1536), Rabetais (1490 – 1553), Thomas More (1478 – 1535) dan Cervantes (1547 – 1616). Mereka sangat percaya akan kemampuan manusia, kemampuan rasio dan mendorong pemisahan kekuasaan politis dan agama, mereka memiliki tujuan yang sama, memajukan seni, peradaban dan penghargaan atas martabat manusia, serta menguatkan toleransi di antara agama agama yang ada. Lantas bagaimana dengan Islam?

Kondisi “tarik-menarik” juga dialami antara agama dan konsep-konsep yang dikonstruksi “di luar” kredo agama, semisal humanisme. Relasi antara humanisme dan Islam juga memunculkan situasi “tarik-menarik”. Tak sedikit ulama Islam yang mengharamkan humanisme. Terutama tatkala menyangkut persoalan ideologis. Setali tiga uang dengan liberalisme, pluralisme, sekulerisme, bahkan demokrasi, demikian pula dengan humanisme yang dianggap produk Barat atau kafir dan bertentangan dengan Islam. Seolah humanisme mengajarkan  orang untuk bersifat manusiawi terhadap sesamanya, dan sebuah gagasan yang positif karena mengingatkan orang untuk cinta kepada sesama, memiliki toleransi, berperikemanusiaan, cinta akan perdamaian, dan persaudaraan. Akan tetapi sesungguhnya, secara filosofis makna humanisme jauh lebih signifikan dari itu karena humanisme adalah cara berpikir yang mengemukakan konsep perikemanusiaan sebagai fokus dan satu-satunya tujuan. Dengan kata lain, humanisme mengajak manusia berpaling dari Tuhan, dan hanya mementingkan keberadaan dan identitasnya sendiri. Humanisme dinilai nyaris identik dengan ateisme. Bahkan sebagian orang menggunakan humanisme sebagai nama lain bagi ateisme (di sini ateisme didefinisikan sebagai ajaran anti-Tuhan).

Sebuah buku terjemahan berjudul Kritik Islam atas Marxisme; dan Sesat Pikir Barat Lainnya, karya Ali Syari’ati, seorang cendekiawan Iran, salah satu isinya membahas tentang humanisme. Menurut Syari’ati, dewasa ini terdapat empat aliran humanisme. Kendatipun memiliki perbedaan–perbedaan pokok dan pertentangan-pertentangan satu sama lain, keempat-empatnya mengembangkan pemikiran humanisme. Misalnya pemikiran humanisme dalam kerangka marxisme. Demikian pula dalam kerangka kapitalisme, atau kredo-kredo religiusitas, dan juga materialisme. Namun, yang menjadi ciri khas humanisme barat adalah pemisahan aspek transenden dari manusia, atau setidaknya reduksi terhadap nilai tersebut.

Menurut Ali Syari’ati, dalam Islam manusia memiliki kedudukan yang sangat istimewa. Filsafat humanisme dalam Islam adalah Tauhid. Manusia diciptakan dari sesuatu yang hina, yaitu debu (tanah). Namun, Allah menawarkan kepada seluruh alam (termasuk gunung dan laut) untuk menjadi pemimpin di Bumi (Khalifah fi al-ardh). Tidak ada yang bersedia menanggung amanah tersebut, tetapi manusia menerimanya. Karena itulah malaikat diperintahkan sujud kepada manusia sedangkan iblis menolak. Dalam pemikiran filsafat Islam, sejak pertama kali manusia diciptakan manusia sudah diberikan kekuasaan yang dahsyat. Bahkan kasus Adam adalah sebuah simbol kebebasan bagi manusia untuk berbuat dan berkehendak semaunya setelah diciptakan dengan segala konsekuensi dan tanggung jawab atas perbuatannya. Islam memberikan filsafat humanisme yang paling jelas dalam koridor Tauhid dan berbeda dari ideologi mana pun.

Pandangan Syari’ati tampaknya agak berbeda dengan cendekiawan muslim lainnya, misal kita ambil contoh Gus Dur. Toh tidak ada salahnya juga membandingkan antara tokoh muslim Iran dan Indonesia. Gus Dur berangkat dari pandangan “tarik-menarik” itu ketika Islam “di-Indonesiakan” dan menjadi etika sosial. Humanisme Gus Dur bukan antroposentrisme yang meniadakan agama dan Tuhan. Sebaliknya, ia berangkat dari pemuliaan Islam atas manusia, di mana manusia menjadi subjek sekaligus objek humanisasi kehidupan karena Allah telah menitahkannya. Meskipun berangkat dari konsep ketauhidan seperti Syari’ati, tapi Gus Dur menitikberatkan pada konsep maqaashid al-syari‘ah yang terwujud pada konsep kulliyatul khams, yaitu tujuan utama syariah untuk melindungi hak dasar manusia. Dalam arti lainnya, yaitu melindungi Hak Asasi Manusia, seperti hak hidup (hifdz al-nafs), hak beragama (hifdz al-din), hak kepemilikan (hifdz al-maal), hak profesi (hifdz al-‘irdl) dan hak berkeluarga (hifdz al-nasl). Perlindungan atas hak dasar manusia ini Gus Dur sebut sebagai universalisme Islam, yang bisa diwujudkan melalui kosmopolitanisme Islam. Artinya, perjuangan pemenuhan hak dasar manusia hanya bisa diwujudkan melalui perluasan cakrawala Islam ke ranah peradaban kosmopolitan-modern. Mengapa demikian? Mengutip buku Humanisme Gus Dur: Pergumulan Islam dan Kemanusiaan, karya Syaiful Arif, bahwa persoalan manusia kontemporer hanya bisa diselesaikan melalui pranata modern. Oleh karenanya, kosmopolitanisme dalam bentuk modernisasi Islam dilakukan Gus Dur bukan dalam rangka Westernisasi, melainkan demi penegakan universalisme Islam.

Upaya mempertemukan Islam dengan modernitas ini Gus Dur lakukan melalui pendaulatan nilai-nilai modern. Artinya, ada tiga nilai untuk mewujudkan humanisme yang dapat digali dari Islam dan juga kompatibel dengan pranata modern, seperti demokrasi, keadilan sosial dan kesetaraan di hadapan hukum. Inilah nilai-nilai substantif Islam yang dibutuhkan demi perwujudan humanisme sesungguhnya. Tanpa ketiga kondisi tersebut, hak-hak individu yang juga menjadi bagian dari negara tidak akan terlindungi.

Dalam praktik sosial, humanisme yang dicontohkan Gus Dur adalah ketika melepas “baju” agamanya atau “formalisme” agamanya, tetapi tetap berada di dalam dunia keberagamaannya yang substantif. Hal ini bukanlah sebuah penodaan keyakinan atau bahkan melepas keyakinan keberagamaan yang sangat dijunjung tinggi, tetapi sebuah kecintaannnya terhadap dunia kemanusiaan yang memang harus dijaga juga secara maksimal. Gus Dur keluar masuk ke dalam gereja, Vihara atau bahkan Sinagog dalam kerangka untuk menyambung relasi berbasis kemanusiaan itu. Atau juga pembelaannya terhadap kelompok agama minoritas yang sering terjadi. Beliau tanggalkan “formalisme” agama yang sering menjerat untuk hidup saling menyapa. Beliau tanggalkan “kesombongan” beragama demi martabat kemanusiaan. Beliau hindari cara beragama dengan pandangan sempit hanya karena keyakinan yang membelenggu atau karena klaim kebenaran yang tertuang dalam kitab-kitab suci agama. Manusia modern yang humanis hadir ketika kecintaan kepada semua manusia dapat termanifestasi dalam diri tanpa membedakan latar belakang apa pun.

 

sumber tulisan: siperubahan.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s