Tujuh Dosa Sosial yang Menggerogoti Kemanusiaan Kita


7 dosa

Ada petuah dari Mahatma Gandhi yang terkenal mengenai tujuh dosa sosial. Pasti banyak yang sudah mengetahuinya, yaitu; 1. Politics without principle; 2. Wealth without work; 3. Commerce without ethics; 4. Pleasure without conscience; 5. Knowledge without character; 6. Science without humanity; 7. Worship without sacrifice.

Apabila kita cermati dan renungkan, sepertinya bangsa ini tengah mengidap ketujuh hal itu (urutannya tidak selalu ajek). Mari kita lihat yang pertama; politik tanpa prinsip. Semua orang sudah tahu bagaimana dunia politik di tanah air. Banyak politisi menggelontorkan rupiah demi pencitraan. Meskipun itu superfisial, jauh dari substansi, tapi untuk mendapatkan penilaian dan keuntungan, mereka rela menghabiskan dana tidak sedikit. Lantas bagaimana kinerja mereka? Silakan menilai sendiri. Politik di negeri ini juga gampang diombang-ambingkan berbagai isu. Tidak ada batas yang jelas di antara ideologi-ideologi parpol dan juga integritas politisi. Kesimpangsiuran seolah sengaja dibiarkan demikian agar mengaburkan perspektif dan persepsi masyarakat. Tidak perlu heran pula bila kasus demi kasus para politisi membanjiri publik setiap hari.

Selanjutnya adalah kekayaan tanpa kerja keras. Budaya ingin mendapatkan segala sesuatu dengan instan sudah merasuki mental bangsa. Akibatnya, agar cepat kaya, segala cara dianggap halal. Kalau zaman dulu menggunakan praktik perdukunan, di zaman sekarang justru dengan cara yang lebih rasional, yaitu korupsi dan nepotisme. Belum lagi yang menjilat kekuasaan demi posisi tertentu. Sisi lainnya di akar rumput adalah ketika kita melihat fenomena orang-orang yang meninggal karena berjibaku dalam antrian pembagian sembako atau sumbangan di hari raya keagamaan. Hal ini juga menyangkut dengan poin nomor tiga, perniagaan tanpa etika, yang membuat orang kaya semakin kaya dan orang miskin semakin miskin. Kesenjangan itu semakin lebar. Acapkali kita berpikir bahwa itu sudah tugasnya pemerintah. Namun sebagai individu, kita sering abai terhadap lingkungan sekitar. Empati dan simpati kita kandas saat berada dalam kemapanan dan kenyamanan. Setiap hari disibukkan dengan menumpuk kekayaan, tapi lupa mengulurkan tangan bagi yang membutuhkan.

Melebarnya kesenjangan antara konglomerat dan melarat turut memunculkan kalangan kelas menengah yang digadang-gadang sebagai penyeimbang dan motor ekonomi. Tapi kelas menengah terjebak pada perilaku yang digambarkan sebagai dosa berikutnya; kesenangan tanpa nurani. Lihatlah budaya permisif kelas menengah kita, pelanggaran yang mereka anggap remeh dan sepele, seperti membuang sampah sembarangan, melanggar ketertiban lalu lintas, dan gemar mencari kambing hitam. Mereka merasa berkuasa dalam strata sosial dan konstelasi politik. Dengan adanya kuasa itu sendiri mereka dengan mudah melihat kesalahan ada di orang lain tapi tidak di dirinya sendiri. Mentalitas ini terlihat bagaimana para politisi kita menghadapi kritik atau persoalan di masyarakat. Kambing hitam favorit adalah globalisasi. Semua keruntuhan budaya dianggap dampak dari globalisasi. Padahal, mereka sendiri yang menuruti budaya konsumtif kelas menengah dengan membangun banyaknya mall besar dan pelbagai tempat-tempat yang memuaskan hasrat konsumerisme.

Sialnya, kelas menengah sendiri sudah terlalu nyaman nongkrong di tempat ber-AC sambil minum cappuccino. Mereka bicara krisis multidimensi yang ada, tapi ikut menikmatinya dan menjadi kelas pengecut bernama silent majority. Salah satu kebanggaan kelas menengah Indonesia adalah pendidikan. Mereka bayar mahal untuk bisa masuk universitas. Namun, daya pikir mereka bukan layaknya mahasiswa yang bisa berpikir kritis. Mereka tidak terbiasa untuk berpikir di luar perspektif baku. Artinya, mereka gampang sekali terjangkit amnesia sejarah. Berkaitan dengan ini adalah poin berikutnya yang merupakan pengetahuan tanpa karakter, dan juga sains tanpa kemanusiaan. Tentu saja yang menjadi sorotan adalah dunia pendidikan kita.

Satu-satunya pendidikan karakter paling sukses di negara ini adalah mengajarkan sikap pragmatis dan oportunis. Maka tak heran bila kelicikan dan kecurangan bermula dari bangku sekolah. Kita boleh berbangga bahwa ‘katanya’ kurikulum anti-korupsi mulai masuk ke sekolah-sekolah, tapi semua itu akan menjadi normatif di atas kertas saja apabila pihak sekolah, atau dinas pendidikan terkait, ternyata mempraktikkan korupsi dalam lingkungan kerja mereka. Betapa menyedihkan bila institusi pendidikan pun dirongrong korupsi.

Apa benar negara ini sudah menjadi negara plutokrasi? Semua orang yang mau bergelimang kemewahan, prestis, dan keistimewaan berbondong-bondong mendekati lingkaran elite para mafia dengan menjilat pantat dan bermanis muka. Kalau perlu diangkat menjadi bagian dari keluarga. Namun untuk menembus lingkaran elite lagi-lagi harus lewat jaringan koneksi yang pelik. Maka uang demi uang tersalurkan agar akses semakin terbuka lebar dan cepat-cepat merangsek naik untuk mendapat semua tujuan tersebut. Banyak orang berbondong-bondong cari proyek, menghubungi ke sana kemari dan membangun koneksi agar menang tender. Tidak cuma pengusaha swasta yang sibuk keluar masuk senayan untuk mencari calo anggaran. Tetapi pemerintah daerah pun harus sering bolak balik ke pusat agar dapat jatah anggaran, dan lagi-lagi caranya dengan mencari koneksi serta memberikan uang pelicin.

Selain itu, institusi pendidikan juga lekat dengan banyaknya bully dan kekerasan. Pada tingkat dasar hingga menengah, sekolah masih jauh dari pengajaran hal-hal yang bersifat kemanusiaan, toleransi, saling menghargai sesama, menjaga lingkungan, dan sebagainya. Sekolah justru menjadi ajang siswa melampiaskan ego. Demikian pula dengan peran sekolah yang hanya dikonsepsikan untuk mengejar target angka-angka. Walhasil, sisi lain dunia pendidikan yang mana berkaitan dengan sains dan teknologi, justru melahirkan prototip-prototip manusia robot, yaitu subjek otonom yang terpisah secara tegas dari objek pengamatannya.

Apabila sains meninggalkan jiwa kemanusiaan maka hanya akan mendatangkan bencana bagi manusia, dan setelah terjadi bencana maka manusia mulai melempar tanggung jawab untuk mendapatkan posisi aman atas kesalahan yang dilakukan. Itu pernah terjadi di perang dunia II, Proyek Manhattan yang dipimpin oleh DR. Robert Oppenheimer, seorang ahli fisika eksentrik, telah berhasil menguji coba bom atom pertamanya. Presiden Truman setuju menggunakan bom atom itu terhadap Jepang, yang waktu itu belum menyerah seperti Jerman. Akhirnya, kota Hirosima dan Nagasaki dibom dengan total sekitar 500.000 orang meninggal. Mengerikan, sangat mengerikan. Penemuan bom atom merupakan puncak gunung dari perkembangan senjata pemusnah massal yang meliputi senjata biologi (bakteri/fungi/virus), kimia (gas beracun), dan fisika (nuklir). Senjata pemusnah massal pun masih terus digunakan dalam konflik besar dunia sampai detik ini, dan kita tidak bisa berkata bahwa sains adalah sesuatu yang bebas nilai. Itulah mengapa dunia pendidikan, termasuk sains, semestinya tidak boleh dilepaskan dari aspek kemanusiaan.

Yang terakhir adalah peribadatan tanpa pengorbanan. Dengan kata lain, banyak dari kita mempraktikkan kesalehan ritual dan praktik keagamaan. Tapi realitas di masyarakat justru melakukan kekejian. Kita bisa bercermin dari jumlah orang Indonesia yang mengadakan perjalanan ke Tanah Suci setahun sekali, tapi kemiskinan tetap menjamur, korupsi dan pencucian uang tetap marak terjadi. Maaf saja, bahkan apa yang menjadi bagian dari ritual keagamaan juga dikomersialisasi, atau dijadikan ajang bancakan untuk menggerogoti anggaran negara. Tak luput aktor-aktor otoritas keagamaan juga terlibat di dalamnya. Apa yang dikatakan oleh Gandhi ada benarnya, sekaligus menjadi cerminan buat kita bangsa Indonesia untuk merenungkan dosa-dosa sosial apa yang telah kita perbuat.

 

 

sumber: siperubahan.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s