Latah Media: Republik Rakyat Cina pun Disebut Tiongkok


Gara-gara SBY menetapkan (atau apa bahasanya, entahlah) bahwa penggantian sebutan kata Cina bagi orang-orang keturunan “Cina”, dengan Tiong Hoa, maka media ikut-ikutan mengganti penyebutan negeri yang dijuluki tirai bambu itu dengan Tiongkok. Kedengaran mirip cerita silat Kho Ping Ho kan? Apalagi pemberitaannya berbarengan kasus kecelakaan Malaysia Airlines. Okelah, kalau di suatu masa dalam sejarah, negeri itu pernah disebut Tiongkok, tapi saat ini mereka pun punya nama Internasional yang sudah umum dikenal sebagai China (People’s Republic of China), atau Cina dalam ejaan Indonesia.

Pernah dengar bagaimana istilah ‘black’ diklaim kembali oleh kaum Afro-America sebagai identitas mereka? Dulunya, orang tersinggung disebut ‘black’ dan sekarang mereka menepuk dada dan berucap: “I am proud to be black”, meski istilah “Nigger” atau Negro tetap tidak mereka terima. Namun terlepas dari itu, berkaca dari sikap SBY yang seolah ingin meredakan penderitaan warga negara keturunan “Cina” pasca kejadian 1998 lalu, tampaknya menjadi “apologi” belaka di penghujung karir kepresidenannya. Saya jadi teringat tentang Gusdur yang waktu itu meminta maaf karena kejadian pembunuhan jutaan orang anggota PKI. Kontan sikap itu dikritik oleh Pramoedya Ananta Toer sebagai salah satu yang juga termasuk “korban” walau cuma diasingkan belasan tahun. Permintaan maaf Gusdur mewakili dirinya sendiri karena telah menjadi bagian dari apa, atau kedudukannya sebagai kepala pemerintahan negeri ini? Atau mengatasnamakan seluruh bangsa Indonesia, atau apa?

Ya, apologi pemerintah yang latah diikuti media “sok” anti diskriminasi. Lalu bagaimanakah dengan etnis lain di Indonesia ini? Arab, India, apa perlu dilabeli pakai kepres segala? Saya pernah menyaksikan ada seorang aktris Indonesia yang keturunan Inggris dan Indonesia, dia cerita ketika pertama kali ke Indonesia dipanggil “bule”, padahal orang “bule” sendiri katanya tidak suka disebut “bule” begitu sudah tahu pengertiannya. Lalu si aktris bilang begini, “Kalau saya dipanggil bule, lalu Anda mau dipanggil pribumi?”

Kenapa sih di Indonesia yang sudah “sangat” majemuk perlu ada yang seperti itu? Makanya saya tidak pernah mau dibilang “Orang Jawa” karena ayah saya lahir di Jawa Tengah, atau “Orang Sunda” karena ibu saya lahir di Jawa Barat, dan juga “Orang Jakarta” karena saya lahir di Jakarta. Saya orang Indonesia ya Indonesia saja. Bukan berarti saya kehilangan “identitas budaya” dan “asal usul” yang jelas sekali bisa saya perdebatkan. Terlebih jika kita ngotot asli-aslian budaya Indonesia yang kebanyakan percampuran, asimilasi, eklektis, dari sejak zaman baheula hingga kini. Maka dari itu, tanpa menyudutkan etnis Cina atau Tionghoa atas diskriminasi yang diterima mereka di masa lalu, saya tidak pernah melabeli mereka dengan kata-kata itu (baik Cina atau Tiong Hoa). Yang terpenting bukan panggilannya, melainkan pengakuan kita terhadap mereka sebagai bagian dari bangsa ini.

Mengapa tidak menyebut orang ‘ajam atau mawali bagi orang-orang keturunan Arab? Ya, dalam bahasa Arab, literatur Arab, sejarah dunia Arab, ada istilah macam-macam untuk orang-orang yang tidak murni kearabannya, alias percampuran;

– Ada mawali, orang yang lahir dari orang tuanya, ayahnya Arab dan ibunya non-Arab. Ini yang umum di zaman modern dipakai. Banyak di Saudi Arabia sana, anak-anak remaja yang disebut mawali-mawali. Istilah ini sudah ada sejak zaman dahulu. Dalam buku-buku sejarah fikih, banyak ahli fikih yang datang dari kalangan mawali, tapi kalau zaman dulu istilah ini untuk muslim lain yang non-Arab. Saat ini, seperti fenomena keturunan mawali di Saudi, mungkin maknanya sudah melebar.

– Ada ‘Ajam, orang non-Arab yang berbahasa Arab. Pernah dalam satu masa, ketika ekspansi dinasti-dinasti Arab sampai ke Eropa, banyak orang-orang ‘Ajam yang dituding merusak kemurnian bahasa Arab karena logat dan dialeknya yang berubah.

Kenapa orang Indonesia nggak sekalian sebut mawali untuk keturunan etnis Arab yang menikah di Indonesia dan melahirkan keturunan, seperti orang Indonesia lancar menyebut blasteran (atau cukup blaster) untuk pernikahan antaretnis, atau antar ras. Atau sebut mereka etnis Arab yang ada di Indonesia sesuai daerahnya, ada yang Hadramaut (Arab Yaman), Mesir, Saudi, dan lain sebagainya. Kayaknya banyak banget label di Indonesia ini yang disematkan untuk orang-orang yang dibilang “non-pribumi” Indonesia (negeri label; halal pun pakai label).

Taruhlah kita lupakan semua deskripsi sejarah itu, tidak perlu juga kali media latah mengubah apa yang sudah ada dan umum. Sebut negara Cina ya Cina saja, untuk apa harus Tiongkok segala. Tionghoa perlu kepres, nanti Tiongkok juga?

Same Regime, Same Story

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s