Siapa Mengenali Dirinya Maka Mengenali Tuhan


dervish-infra

“Maaf sebelumnya kalau boleh tahu, apakah pernah Anda merasa butuh Tuhan dalam keadaan tertentu, dan apa masih ada meskipun mungkin sedikit, rasa percaya sama Tuhan? Saya cuma pengen tau aja sih.”

Pertanyaan dari seorang sahabat ini menginspirasi saya untuk membuat tulisan singkat. Sebenarnya ada banyak teori dan konsep yang bisa digunakan untuk menjawabnya dan juga jika mau bisa diterapkan dalam kehidupan kita.

Saya menjawab dengan, “sosok Tuhan itu sudah tergantikan. bukan tuhan personal.”

“Tergantikan dengan apa Bang kalau boleh saya tau?”

Mungkin bagi saya atau Anda yang pernah, atau masih menjadi muslim pernah mengenal konsep yang disodorkan oleh pakar sufistik Al-Hallaj dan Syeikh Siti Jenar.

Al-Hallaj menelurkan konsep Wihdatul wujud yang bisa diterjemahkan dalam bahasa Syeikh Siti Jenar sebagai Manunggaling kawula gusti. Kata-kata al-Hallaj “Ana al-Haq” yang diartikan “Akulah Kebenaran” mengacu pada pandangan bahwa pemilik kebenaran yang absolut adalah Tuhan. Jika “Aku” mengaku sebagai pemilik kebenaran maka “Akulah Tuhan.”

Konsep wihdatul wujud ini sering ditafsirkan sebagai penyatuan antara Makhluk dan penciptanya pada tataran ruh, spirit, zat, apapun namanya. Hal itu tergambar pada puisi al-Hallaj, “Wahai kaum muslimin, bantulah aku! Selamatkan aku dari Allah! Wahai manusia, Allah telah menghalalkanmu untuk menumpahkan darahku, bunuhlah aku, kalian semua bakal memperoleh pahala, dan aku akan datang dengan suka rela. Aku ingin si terkutuk ini (menunjuk pada dirinya sendiri) dibunuh.” Kemudian, al Hallaj menengadah seraya berseru, “Ampunilah mereka, tapi hukumlah aku atas dosa-dosa mereka.”

Kisah pengakuan wihdatul wujud al-Hallaj tidak jauh berbeda dengan manunggaling kawula gusti-nya Syeikh Siti Jenar.

Namun saya punya penafsiran pribadi dalam rangka menanggapi pertanyaan di atas. Siapa yang pernah mempelajari filsafat pasti mengenal Plato. Ya, filsuf satu ini pun juga punya konsep yang agak mirip, yaitu konsep emanasi akal Tuhan.

Manusia memancar dari akal Tuhan dan akan kembali pada akal tertinggi saat mati. Singkat saja ya, konsep ini tidak ada bedanya dengan “penyatuan” antara hamba dan pencipta seperti yang digulirkan al-Hallaj atau Syeikh Siti Jenar. Artinya, menurut saya, Tuhan dan Manusia itu sejatinya ada diri manusia sendiri.

Mengapa ada diri manusia?

Kita mungkin pernah mendengar konsep Carl Gustav Jung tentang sesuatu yang bernama arketip. Apa yang disebut arketip manusia itu jauh “umurnya” melebihi fisik manusia. Bruce Lipton menjabarkan dalam konsep New Biology-nya bahwa kita adalah tuan dari biologi kita. Masalahnya kemudian adalah bahwa umumnya kita sama sekali tidak menyadari pemrograman bawah sadar kita. Acapkali kita berpikir bahwa kita mengendalikan hidup kita, tapi yang terjadi adalah tidak demikian. Pikiran bawah sadar kita telah diprogram oleh pengalaman sebelumnya, dan kita tidak mencari tahu bagaimana hal ini mengendalikan kita, atau tahu bagaimana caranya mengubah perilaku kita. Dan ketika program ini berjalan, kita tidak menyadari mereka. Oleh karena itu, ketika kehidupan kita tampaknya tidak bekerja maka kita melihat penyebab masalahnya ada dari luar. Kita tidak menyadari bahwa kita menyabotase diri kita sendiri, atau membatasi diri kita sendiri.

Mungkin dari sudut pandang lain bisa saja arketip manusia itu adalah “nenek moyang” gen yang hidup di bumi jutaan tahun lalu yang ada di dalam kolam gen yang disebut “sup purba” sebagaimana ilustrasi Richard Dawkins.

Artinya begini, di antara “Aku berpikir maka aku ada”-nya Rene de Cartes dan “Kita manusia telah membunuh Tuhan”-nya Nietszche, semestinya cukup bagi kita dengan banyaknya konsep dari Plato, al-Hallaj, Jung, Siti Jenar, Lipton, Dawkins, atau seperti Carolyn Porco yang mengatakan bahwa tubuh kita akan berdisintegrasi menjadi partikel-partikel alam semesta saat kita mati, maka kita dapat mengenali siapa Tuhan.

Ada pepatah Arab–kalau tidak salah–yang berbunyi “Man ‘arifa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu.” barang siapa mengenali dirinya sendiri maka dia mengenali Tuhannya.

Jadi, cara mengenali sendiri bagaimana? Kita bisa membaca dan menerapkan semua konsep emanasi, manunggaling kawula gusti, determinisme gen–kalau perlu, arketip manusia, dan lainnya.

Apalagi yang Anda tunggu? Man ‘arifa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu. Tuhan tidak lagi personal, kawan.

One thought on “Siapa Mengenali Dirinya Maka Mengenali Tuhan

  1. wagerrr says:

    Artikel manapun yang saya baca selalu menarik dan luar biasa. Kadang bingung juga, kenapa blog bermutu samacam ini malah sepi komentar dan kurang peminat?

    * Teplok jjidat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s