Tag

, , , , ,


Acara Masih Dunia Lain yang kini dikemas secara live membuat saya geli melihatnya. Mengapa yang sosok “pawang” yang ditampilkan selalu mengenakan atribut pakaian Arab, bersurban, membawa tasbih, dan membaca bahasa-bahasa Arab yang dikutip dari ayat Qur’an? Atau terkadang adalah sosok paranormal yang mengenakan pakaian adat yang terkadang “bacaan” yang ia gunakan juga mengutip ayat Qur’an.

Mengapa tidak ada pendeta di dalamnya? Padahal dalam tradisi Kristen juga mengenal istilah exorcisme yang juga berurusan dengan pengusiran iblis. Dan sering diperlihatkan apabila Anda mencari video-video exorcisme di Eropa atau belahan dunia lain yang dikutip adalah ayat-ayat bible yang jelas bukan al-Quran yang berbahasa Arab itu. Jika kuasa pengusiran makhlus halus, makhluk astral, jin, setan, iblis semuanya ada di tangan Tuhan maka sebagaimana yang saya tulis pada tulisan sebelumnya, “Agama Tuhan itu apa?”

Toh, bahasa apapun yang digunakan oleh si “Pawang” dan berasal dari kitab suci agama apapun, Tuhan tetap “memberikan” kuasanya kepada mereka untuk mengusir kumpulan nama-nama iblis dan kawan-kawannya.

Lalu si peserta uji nyali masuk dengan mengucapkan assalaamu’alaikum lalu mereka sering membaca ayat al-Quran macam-macam. Saya ingin melihat sesekali pesertanya masuk lokasi uji nyali dengan berkata shalom, kulo nuwun, atau moshi moshi. Ya, tentu dalam tradisi Jepang, Cina, dan daerah-daerah timur yang memiliki sistem agama dalam kebudayaan mereka juga mengenal pengusiran iblis. Apakah di setiap regional, si “Hantu” cuma menguasai bahasa loka setempat? Dan acara MASIH DUNIA LAIN ini tidak dikhususkan untuk kalangan muslim semata kan? Coba saya ingin tahu jika mereka bisa mengemasnya lintas agama, lintas hantu, lintas ayat-ayat suci, mungkin lintas Tuhan.

Apakah Anda pernah menonton acara-acara tayangan religi di mana seorang pendeta bisa menyembuhkan peserta dan penontonnya baik yang datang langsung maupun yang live di televisi? Hal ini tidak jauh beda dengan apa yang kita saksikan seorang tokoh agama Islam yang beraksi menyembuhkan orang hanya dengan beberapa bacaan ayat saja–baik di lokasi acara berlangsung dan juga melalui televisi.

Kemudian si pembawa acara berdalih bahwa bacaan-bacaan itu bukan dimaksudkan untuk mengusir jin, makhluk halus, setan, hantu, kuntilanak, genderuwo, melainkan bacaan itu hanya untuk memberi energi positif dalam rangka melewati serangkaian tahap uji nyali.

See, dari awal acara ini dikemas memang memanfaatkan efek dan kondisi psikologi manusia di mana rasa cemas, takut, termasuk believe system dalam diri kita berasal dari otak reptil dan sistem limbik yang ada dalam kepala kita. Mind segalanya diatur oleh mind, dan mind berbeda dengan think atau thought. Eksploitasi sisi psikologi manusia dalam acara ini menjadi semakin tidak karuan ketika dibumbui orang kerasukan. Oleh karena itu, jika acara pengobatan penyakit ditayangkan oleh stasiun televisi dengan tokoh pawangnya bisa mengenakan atribut dari agama mana saja, mengapa acara “pengobatan” kerasukan di MASIH DUNIA LAIN tidak bisa memasang tokoh dari agama apapun?

Sebagai contoh, ada hantu pastur di kuburan jeruk purut. Mengapa acara tersebut tidak membawa pendeta ke lokasi untuk melakukan aksi exorcisme kepada peserta yang kerasukan hantu pastur ini. Biarkan dia melakukannya dengan membaca doa-doa atau bacaan-bacaan dari ayat sucinya. Apa takut ratingnya turun, atau takut membeberkan kepada masyarakat bahwa Tuhan yang memiliki kekuasaan absolut atas manusia dan makhluk gaib ternyata mengakui semua bahasa agama, semua ayat-ayat kitab suci (bahkan yang berasal dari apa yang sering disebut agama non-samawi)?

Dan jika mereka berani menayangkannya, saya akan kembali menanyakan, lantas Tuhan agamanya apa?

Iklan