Penderitaan Rakyat Banten yang Menyejarah Hingga Kini


sumber: merdeka.com

Komisi Pemberantasan Korupsi ( KPK ) menetapkan Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah sebagai tersangka dua kasus korupsi. Atut diduga menyuap Ketua Mahkamah Konstitusi dalam sengketa Pilkada Lebak. Dia juga diduga korupsi pengadaan alat kesehatan di Provinsi Banten.

KPK pun menegaskan tak akan berhenti di dua kasus ini. Abraham Samad berjanji akan membongkar semua kasus korupsi yang melibatkan dinasti Atut.

Korupsi pula yang memiskinkan Banten. Lihatlah betapa mencengangkan koleksi mobil sport Tubagus Chaeri Wardana , adik Atut. Enteng benar sang Tubagus mentraktir anggota DPRD nonton balap F-1 di Singapura.

Sang Gubernur pun selalu tampil dibalut busana mahal. Kontras dengan sekolah di Banten yang seperti kandang. Atau anak-anak sekolah yang harus naik rakit menyeberangi sungai untuk sekolah. Tengok juga keluarga miskin dengan bocah penderita gizi buruk.

Maka tangis kemiskinan ini mengingatkan pada karya sastra Eduard Douwes Dekker yang menggunakan nama pena Multatuli. Dia menuliskan kisah Saijah dan Adinda, salah satu bab dari buku berjudul Max Havelaar yang membuka mata Eropa tahun 1860 betapa buruk sistem kolonial dan kemiskinan di Banten.

Periode tanam paksa yang digulirkan sejak tahun 1830 mencekik rakyat Banten. Penderitaan rakyat Banten ditambah polah adipati Lebak dan Demang Parangkujang yang sungguh memuakkan. Petani dibebani pajak tinggi. Mereka juga merampas ternak dan hasil bumi milik rakyat seenaknya. Para penguasa yang membuat hukum berdasarkan aturan mereka sendiri.

Para birokrat pribumi, adalah kuku kekuasaan kolonial di Banten. Lewat para penguasa pribumi pemerintah Belanda menjalankan kekuasaan mereka di tanah jajahan.

Eduard Douwes Dekker membuka kisah itu dengan menggambarkan penderitaan petani Banten. Tentang Saijah kecil yang menyayangi kerbau miliknya seperti sahabat sendiri. Sayangnya kebahagiaan itu tak lama.

Berkali-kali kerbau milik Saijah diambil paksa oleh Begundal-begundal suruhan Bupati Lebak dan Demang Parungkujang, yang masih kemenakan bupati. Tak ada rakyat yang berani melawan. Para jawara ini ditakuti seluruh rakyat. Siapa yang berani melawan ketajaman golok mereka.

Pemerasan ini terjadi terus dan terus. Hingga akhirnya Ayah Saijah tak punya apa-apa lagi. Semua harta kekayaannya habis diperas oleh Demang Parangkujang.

Ibu Saijah terpukul atas perlakuan semena-mena ini. Dia sakit lalu meninggal. Sepeninggalan istrinya, ayah Saijah pun stres. Dia lari dari kampung. Tak kuasa membayangkan betapa menakutkan kemarahan sang Demang jika dirinya tak bisa membayar pajak. Ayah Saijah tak pernah kembali.

Dalam kesedihan, Saijah tumbuh menjadi seorang pemuda. Dia menjalin kasih dengan Adinda, sahabatnya sejak kecil.

Saijah lalu pergi ke Batavia, menjadi pengurus kuda dan pelayan pada seorang Belanda. Dia mengumpulkan uang untuk kelak melamar Adinda.

Setelah bertahun-tahun Saijah kembali ke kampungnya. Namun bukan cinta, tetapi kekecewaan yang menunggunya. Saijah mendapati Adinda dan ayahnya sudah tak ada di kampung itu. Ayah dan anak itu lari karena tak bisa membayar pajak dari penguasa.

Kabar beredar, Adinda dan ayahnya bergabung untuk melawan tentara Belanda di Lampung. Saijah mencoba pun menapaki jejak mereka. Diseberanginya lautan, namun pencarian ternyata berbuah pahit.

Dalam sebuah pertempuran dia menemukan Adinda sudah meninggal. Tubuhnya penuh luka dan diperkosa tentara Belanda.

Melihat itu, Saijah mengamuk. Pemuda putus asa ini berlari ke arah sekumpulan tentara Belanda yang menghunus bayonet. Dia menghujamkan tubuhnya pada bayonet serdadu yang tajam.

Adinda dan Saijah tewas. Cinta mereka yang dulu pernah diikrarkan tak pernah bersatu. Keduanya rakyat miskin korban kolonialisme bangsa asing dan keserakahan pejabat dari bangsa mereka sendiri.

Kisah ini menjadi bacaan wajib untuk anak sekolah di Eropa. Mengingatkan manusia agar tak semena-mena pada sesama. Bahwa penindasan hanya akan membuahkan perlawanan.

Sayangnya pejabat Banten masa kini rupanya justru meniru polah Demang Parangkujang.

Max Havelaar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s