Anak Panah Zeno dan Presentisme Foucault


maxresdefault

Bagi yang mempelajari filsafat dan juga matematika mungkin sangat akrab dengan tokoh yang satu ini. Zeno lahir di Elea pada tahun 490 SM. Ia lahir di awal terjadinya perang Persia yang merupakan konflik antara dunia timur dan barat. Pada masa itu Persia berkonflik dengan Yunani. Zeno lahir sebelum Socrates. Para sejarawan memerkirakan bahwa Zeno berumur 40 tahun saat Socrates berusia 20 tahun.

Tahun kelahiran Zeno, menunjuk bahwa dunia remajanya dipenuhi dengan pandangan Pythagoras (580 – 475 SM) dan para pengikutnya (pythagorean). Tampaknya doktrin Pythagorean mau diserang Zeno, meskipun dugaan ini masih terlampau dini untuk disebut karena topik ini masih menjadi ajang perdebatan sampai sekarang.

Era kelahiran Zeno sering disebut era pra-sokratik karena pemikiran Zeno lebih dulu ada dibandingkan konsep pemikiran Socrates. Zeno merupakan filsuf aliran pemikiran eleatik. Ia mengikuti jejak gurunya; Permanides yang sama-sama mempercayai bahwa semua gerak dan perubahan di dunia bersifat semu. Zeno merupakan murid setia dari Permanides.

Pemikiran filsafat sejak Thales hingga Parmenides yang ditekankan adalah monisme, yaitu bahwa kenyataan seluruhnya bersifat satu karena hanya terdiri dari satu unsur saja. Parmenides umpamanya menguraikan hal itu secara berlebih-lebihan. Segala kejamakan dan perubahan yang disaksikan oleh indera manusia ditolak mentah-mentah. Alasan-alasan yang dikemukakan sekalipun mengesankan, tapi kesimpulannya tidak dapat diterima.

Zeno lahir di era Phytagoras yang sangat terkenal. Doktrin Phytagoras pun menjadi pusat pemikiran filsafat yang mengungkapkan seluruh alam raya diatur oleh perbandingan dan bentuk . Dari pemikiran Phytagoras ini muncul dugaan tidak adanya ketakberhinggaan pada alam semesta ini. Pemikiran Zeno mengkritik doktrin-doktrin Phytagoras yang masyhur. Zeno mengambil gerakan yang berkesinambungan dan kemudian membaginya menjadi langkah-langkah yang lebih kecil yang tak terhingga. Pendapatnya ini ingin membuktikan bahwa ada ketakberhinggaan di alam semesta dan mematahkan doktrin Phytagoras. Pada masa itu, ia dikenal sebagai seorang filsuf yang paling menjengkelkan karena berhasil mengacaukan dasar-dasar pemikiran yang telah mapan.

Setidaknya ada 4 paradoks Zeno yang terkenal (sebagian mengatakan 6):

1. Paradoks Dikotomi

Sebuah benda yang bergerak tidak akan pernah mencapai tujuan. Pertama-tama dia harus menempuh perjalanan setengah jarak. Lalu setelah itu dia mesti menempuh seperempat, seperdelapan, seperenambelas, sepertigapuluhdua …  sedemikian hingga jumlah perjalanannya menjadi tak-hingga.

Paradoks ini dinamakan dikotomi karena selalu terjadi pengulangan dua di setiap pembagiannya. Zeno ingin menunjukkan adanya ketidakberhinggaan yang terjadi di alam semesta ini.

2. Paradoks Achilles dan Kura-kura

Achilles dan Kura-kura melakukan lomba lari, meskipun begitu, kura-kura diizinkan start lebih awal. Agar dapat menyamai kura-kura, Achilles menetapkan sasaran ke tempat kura-kura saat ini berdiri. Akan tetapi, tiap kali Achilles bergerak maju, kura-kura juga bergerak maju. Ketika Achilles sampai di tempat kura-kura, kura-kura sudah berjalan sedikit ke depan. Lalu Achilles mengejar posisi kura-kura yang sekarang. Akan tetapi setibanya di sana, kura-kura juga sudah maju sedikit lagi. Lalu Achilles mengejar posisi kura-kura yang sekarang. Akan tetapi setibanya di sana, kura-kura juga sudah maju sedikit lagi. Demikian seterusnya, ad infinitum.

Paradoks Zeno tentang Achilles dan kura-kura ini merupakan paradoks yang terkenal diantara paradoks zeno yang lain. Para filsuf yunani pada masa itu ingin membantah paradoks zeno ini karena mereka menyadari bahwa pendapat Zeno dianggap keliru. Namun mereka tidak dapat menemukan bantahan melalui logika sehingga akhirnya mereka harus menerima paradoks ini meskipun tidak menerimanya.

3. Paradoks Anak Panah

Semisal kita membagi waktu sebagai “deretan masa-kini”. Kemudian kita lepaskan anak panah. Di setiap “masa-kini” anak panah menduduki posisi tertentu di udara. Oleh karena itu, anak panah dapat dikatakan diam sepanjang waktu.”

Paradoks Zeno ini mengungkapkan bahwa anak panah selalu diam. Yang ada hanyalah gerak semu yang merupakan seri perhentian-perhentian.

4. Paradoks Stadion

Terdapat tiga buah barisan benda A, B, dan C di lapangan tengah stadion. Barisan A terletak diam di tengah lapangan. Sementara B dan C masing-masing terletak di ujung kiri dan kanan A. Kemudian B dan C bergerak saling mendekati dengan kecepatan yang sama (hendak bersejajar dengan barisan A). Antara “Sebelum” dan “Sesudah”, titik C paling kiri melewati dua buah B, tetapi cuma satu buah A. Berarti waktu C untuk melewati B = setengah waktu untuk melewati A. Padahal A dan B adalah unit yang identik!

Dalam paradoks ini Zeno ingin mempertanyakan mengapa dengan waktu yang sama dan kecepatan sama ada perbedaan jarak yang ditempuh.

Dari keempat paradoks ini saya hendak membahas soal paradoks anak panah Zeno dengan cara baca presentisme yang dikemukakan oleh Michel Foucault. Zeno melihat waktu sebagai rangkaian “masa-kini” yang berkesinambungan. Oleh karena itu, sebuah anak panah yang meluncur memiliki berbagai versi “masa-kini” di perjalanannya. Ada “masa-kini” sesaat sesudah lepas dari busur; “masa-kini” setelah beberapa detik di angkasa, dan seterusnya.

Problemnya adalah bahwa di tiap “masa-kini” itu anak panah mendiami tempat yang tetap. Persis seperti kalau direkam kamera video. Di setiap frame tampak berbagai kondisi anak panah. Semua tampak diam. Akan tetapi kalau videonya diputar, barulah terkesan bahwa anak panah itu sebenarnya bergerak.

13865581691304057045
sumber: zanosphere.wordpress.com

Jadi di sini ada problem: bahwa anak panah itu “diam” sekaligus “bergerak”. Pertanyaannya sekarang adalah, apakah gerak itu? Singkatnya, Zeno menilai bahwa paradoks anak panah menunjukkan kebenaran filsafatnya. Bahwa gerak itu aslinya semu — suatu benda terkesan bergerak cuma oleh persepsi manusia saja.

Menempatkan Pemikiran Foucault

Michel Foucault lahir di Poitiers, Perancis, pada tahun 1926. Selain mendapatkan gelar kesarjanaan dalam bidang filsafat, Foucault juga mendapatkan gelar dalam bidang psikologi. Ia pernah bekerja sebagai dosen di Uppsala, Swedia (1954), di Warsawa, Polandia (1958), di Hamburg, Jerman (1959), dan di Tunis, Tunisia (1966-1968). Meski demikian, konteks sosial dan politik yang krusial bagi karir Foucault adalah Perancis. Ia adalah bagian dari gerakan sosial yang sedikit banyak terlibat dalam Peristiwa 1968 yang terkenal itu. Secara umum periode ini ditandai dengan semangat anti-kemapanan yang luas, tidak hanya di Perancis dan Eropa umumnya, tetapi juga di belahan dunia lainnya. Pada 1950, Foucault, seperti kaum intelektual semasanya, bergabung dengan Partai Komunis Perancis. Situasi Perang Dingin membuat pamor Partai naik, sehingga dukungan dari publik meningkat. Akan tetapi, pada 1952 ia keluar dari Partai. Foucault tidak setuju dengan doktrin dan kebijakan Partai. Ia terutama tidak sepakat dengan pandangan Partai yang menganggap homoseksualitas sebagai gejala masyarakat borjuis. Akan tetapi, lepas dari kekecewaannya terhadap Partai Komunis Perancis, hubungan Foucault dan Marxisme tidak bisa dikatakan retak sama sekali. Hubugan antara Foucault dan Marx tetap merupakan sesuatu yang kompleks. Dalam banyak kesempatan Foucault menyatakan utang budinya pada pemikiran Marxis dan banyak elemen dan pemikiran Foucault terpengaruh analisis Marxis tentang hubungankekuasaan dan peran ketidaksetaraan ekonomi dalam menentukan struktur sosial.

Dari Arkeologi ke Geneologi

Hampir semua buku karyanya adalah tentang sejarah. Ketika terpilih menjadi guru besar di the College de France, bidang keahlian yang ditempatinya adalah ‘history of  systems of thought’.

Tentu saja karya-karya Foucault bukan karya sejarah yang standar, sehingga banyak kalangan sejarawan tradisional yang menilainya bukan karya sejarah, melainkan karya filsafat pada umumnya. Begitu pula di kalangan filsuf karya-karya Foucault adalah terobosan baru yang revolusioner. Pada Foucault, filsafat dibawa dari pembicaraan yang universal ke analisis yang merujuk pada dimensi dan periode sejarah yang aktual. Ada dua konsep penting dalam karya-karya Foucault, yaitu ‘arkeologi’ dan kemudian ‘geneologi’. Meskipun terlihat yang kedua, genealogi, merupakan perkembangan dari yang pertama. Arkeologi dan geneologi adalah dua konsep yang sulit dipisahkan, sehingga ada yang mengatakan bahwa keduanya adalah rangkaian yang utuh dalam metodologi sejarahnya Foucault. Di antara karya-karya magnum opusnyaadalah The history of Madness, Birth of The Clinic, The Order of Things, History of Sexuality I: the Will to Knowledge, History of Sexuality II: the Use of Pleasure, History of Sexuality III: the Care of the Self, The Archaeology of Knowledge dan Discipline and Punish.

Ia sebetulnya bukan seorang yang berada dalam jajaran filosof sejarah karena Foucault tidak secara khusus menulis tentang perkembangan sejarah, karakteristiknya dan kekuatan dibalik perkembangan historis. Dalam konsepnya tentang “history of the present”, ia sedikit menggagas bahwa sejarah harus ditulis dalam perspektif masa kini dan untuk kepentingan masa kini. Selebihnya, Foucault menulis tema-tema sentral dalam sejarah yang dilihatnya secara kritis. Pemikirannya menggoyahkan semua kemapanan pengetahuan terutama konsep-konsep yang secara konvensional dipegang komunitas ilmiah hingga kini. Adalah menarik untuk melihat hubungan antara pemikiran Foucault dengan sejarah. Pemikirannya tentang banyak hal dalam sejarah begitu penting, sehingga warna pemikiran Foucault bisa diidentifikasi untuk melakukan sebuah rekonstruksi atas pemikiran sejarahnya.

Satu hal yang menonjol dari keseluruhan pemikiran Foucault adalah bahwa orang kesulitan melakukan kategorisasi atas pemikirannya ke dalam bidang-bidang tertentu. Dengan kata lain, sangat sulit mengenali sosok Foucault dalam disiplin ilmu dan pemikiran konvensional. Ia berfikir ke kedalaman dasar-dasar paradigma ilmu pengetahuan yang bersifat filosofis dan setelahnya hampir mustahil menempatkannya dalam block of knowledge yang ada. Hal ini bisa difahami karena Foucault sendiri mendefinisikan filsafat sebagai, “the ciritical work that though brings to bear on itself … in the endeavor to know how and to what extent it might be possible to think differently, instead of legitimating that is already known”.

Foucault tidak suka pemahaman sejarah yang lazim, yang berorientasi pada masa lampau, yang sudah lewat, menyangkut hal-hal yang sudah mati dan kurang bermanfaat. Bila para filosof sejarah selama ini membicarakan sejarah sebagai sebuah kajian khusus seperti membahas watak perkembangan sajarah, teori sejarah, arah dan kecenderungannya, kekuatan-kekuatan di balik peristiwa sejarah dan sebagainya, Foucault sama sekali berbeda. Ia melihat sejarah sebagai tema-tema yang dilihat secara kritis. Foucault tidak menulis “tentang sejarah” (about history) tetapi menulis banyak hal “dalam perkembangan sejarah” (in history). Dengan kata lain, ia tidak membicarakan metodologi sejarah melainkan materi sejarah. Dari pengamatan dan analisisnya yang mendalam tentang berbagai hal dalam sejarah, kemudian melahirkan konsep-konsep kunci untuk memahami pemikiran Foucault. Tema-tema kritis penglihatannya adalah tentang “episteme” (sistem wacana), “power” (kekuasaan), sexuality (seks) dan lain-lain. Mengapa tema-tema ini menjadi menonjol dalam sistem pemikiran Foucault, karena pemahamannya terhadap tema-tema itu sangat orisinil, melabrak konvensi para filosof sebelumnya. Tulisan Foucault sangat luas menyangkut berbagai disiplin sehingga sempat menggoyahkan sendi-sendi pengetahuan manusia (human science).

Presentisme Foucault: Sejarah Masa Kini dan Geneologi

Bagi Foucault, sejarah itu bukanlah masa lalu melainkan bersifat masa kini (history of the present). Ia tidak tertarik dengan sejarah masa lalu yang konvensional, mengumpulkan data sebanyak-banyaknya untuk menggambarkan masa silam selengkap-lengkapnya. Dalam pembahasannya tentang present, Foucault menyebutkan bahwa studi sejarah harus selalu memiliki keterkaitan dengan masa kini. Hal itu jelas karena masa kini penuh dengan persoalan yang bisa dipecahkan dengan memahami sejarahnya pada masa silam. Dengan demikian, sebenarnya menulis sejarah itu untuk masa kini bukan untuk masa silam. Perspektfinya pun harus masa kini karena untuk kebutuhan masa kini.

Sejarah akan mengarahkan masa kini bila ide tentang sebab musababnya (notion of cause) dominan tentang masalah-masalah material, dan jika kontinuitas mendominasi diskontinuitas yaitu pada level pengungkapan praktis. Tetapi adalah fakta bahwa masa kini selalu merupakan proses transformasi, yang berarti bahwa masa lalu harus terus-menerus direevaluasi; menulis sejarah masa lalu adalah melihat sesuatu yang baru, sebagaimana para analis melihat peristiwa baru dalam biografi seseorang dalam rangka pengalaman psikoanalisis. Masa lalu, pada prinsipnya, mengungkapkan makna baru dalam konteks persitiwa-peristiwa baru. Hal ini akan menghindari kemungkinan adanya hubungan kausalitas yang sederhana yang diungkapkan antara masa lalu dan masa kini. Bahaya historisisme muncul ketika disadari bahwa masa lalu tidak bisa dipahami secara murni dalam konteksnya sendiri, karena itu, sejarah selalu adalah sejarah masa kini.

Sebagaimana anak panah Zeno, sejarah ialah rangkaian “masa kini” yang terus berkesinambungan. Dengan demikian, jika kita membaca sejarah melalui konsep yang ditawarkan Foucault maka yang dimaksud presentisme adalah kesadaran bahwa masa kini itu unik, langka, terpenting, dan berkaitan dengan desakan tanggung jawab akan masa depan. Sedangkan masa lampau adalah pembentuknya. Dalam hal ini Foucault ingin menghancurkan suatu ilusi tentang identitas, khususnya identitas subyek historis yang disangka ada, yakni ‘ego’. Berbeda dengan historiografi tradisional, genealogi tidak mencari asal-usul (dalam pengertian kurun waktu seperti yang dilakukan oleh pengikut ‘presentisme’ tradisional) melainkan menemukan awal-awal dari pembentukan diskursus, menganalisis pluralitas sejarah secara faktual, dan melepaskan diri dari ilusi tentang identitas.

Alat untuk mengupas yang digunakannya adalah ‘geneologi’ (genealogy). Dengan menggunakan geneologi dapat diketahui bahwa sejarah ditulis untuk kepentingan-kepentingan “masa kini”, yaitu adanya keterlibatan pola timbal balik atau relasi kuasa dan pengetahuan yang berakar dalam dominasi dan penaklukan. Semua itu terjalin seperti jejaring raksasa yang ruwet dan memengaruhi peristwa-peristiwa kontemporer. Dengan demikian, geneologi adalah ‘sejarah efektif’ (effective history) yang ditulis sebagai keterlibatan kontemporer. Foucault menyebutkan bahwa sejarah selalu merupakan geneologi dan sebuah intervensi, dengan demikian kerangka pengetahuan dan model pemahamannya pun selalu berubah.

Pada titik ini mungkin Foucault bisa dibilang melengkapi paradoks Zeno. Meskipun sejarah adalah “masa kini” yang berkesinambungan, tapi sejarah dalam pandangan Foucault tidak bergerak lurus. Terkadang ada keterputusan dan ada pula perubahan.

Epistemologi dan Pembacaan Sejarah

Kunci pemikiran Foucault tentang sejarah adalah dalam istilah yang ia sebut sebagai “episteme” (sistem wacana). Foucault dengan kritis melihat bagaimana ilmu-ilmu berkembang dalam sejarah secara sistemik (keseluruhan sistem berfikir) dalam suatu periode, kemudian berubah secara menyeluruh dalam tahapan periode yang lain, kadang-kadang secara cepat. Ilmu pengetahuan ternyata berkembang dan menjadi mapan tidaklah bertumpu pada tokoh-tokoh pemikir yang gagasan-gagasannya diikuti banyak orang. Setiap pengetahuan kita berkembang merupakan jalinan yang luas dan rumit antara berbagai kepentingan dan kepekaan mereka mengenai tatanan rasional. Tidak ada suatu ide/gagasan yang dicetuskan oleh seseorang atau sekelompok ilmuwan kemudian menjadi mapan di masyarakat tanpa adanya saling keterkaitan yang menyuluruh dengan aspek-aspek lain dalam sebuah sistem sosial. Sistem keseluruh berfikir manusia itulah yang disebut Foucault sebagai “episteme.”

Epsitemologi mempelajari perubahan-perubahan ini sebagai the grammar of knowledge production dan diungkap melalui kerja sains, filsafat, seni dan literatur. Epistemologi juga adalah cara menghubungkan peristiwa-peristiwa material dengan pikiran atau ide. Terkadang ada sesuatu yang tersembunyi di dalam sejarah, atau “yang tak terpikirkan” oleh kesadaran manusia selama berabad-abad. Maka dalam membaca sejarah, “yang tak-terpikirkan” ini perlu disingkap.

Episteme atau sistem wacana bisa dibilang adalah “yang tak terpikirkan” itu yang sering mengendap dalam lintasan sejarah. Oleh karena itu, episteme menentukan bagaimana cara kita melihat dan mengalami kenyataan. Cara kita mengalami kenyataan menentukan bagaimana kita melihat kenyataan. Kenyataan itu subyektif dan sering tidak disadari. Dengan demikian, kenyataan itu tidak sederhana dan tidak begitu pasti seperti yang kita duga. Ini berarti, episteme tidak disadari oleh orang yang mengalaminya.

Karakter episteme yang lain adalah adanya larangan-larangan, rasa takut, penyangkalan, pengabaian dan penolakan. Dalam lintasan sejarah, sudah banyak sistem wacana yang mengendalikan dan mengontrol pengetahuan manusia melalui apa yang dibilang tabu, kegilaan dan ketidakbenaran/penyimpangan. Identitas episteme itu berada dalam hal-hal yang tidak disadari seperti dalam larangan. Dari sinilah episteme mengungkapan identitasnya yang asli. Karena itulah Foucault tertarik pada fenomena kegilaan (madness), kejahatan dan perilaku seksual yang dianggap aneholeh masyarakat dalam suatu periode sejarah.

Setiap zaman terdapat episteme-nya tersendiri tetapi tidak bisa dilacak karena tidak disadari itu. Tetapi walaupun tidak bisa dilacak (untracable) tetapi bisa disusun kembali dengan cara bertindak “dari luar ke dalam”: dari tabu menjadi ke-lumrahan, dari kegilaan ke-wajaran.

Dalam episteme pula terdapat hubungan antara bahasa dengan realitas. Umumnya, bahasa dipandang sebagai medium yang transparan, bahasa adalah refleksi dari kenyataan. Bagi Foucault tidak begitu. Bahasa selalu ditentukan oleh episteme, yaitu bentuk-bentuk penggunaan bahasa yang dipakai untuk merumuskan kebenaran atau apa yang kita klaim sebagai kebenaran. Sama seperti episteme yang bekerja dengan mengatur dan menyaring pengetahuan kita mengenai kenyataan dan kebenaran, demikian pula dengan bahasa. Bahasa bukanlah medium yang transparan, bukanlah pencerminan dari kenyataan. Bahasa adalah alat yang dipergunakan episteme, guna mengatur dan menyusun kenyataan, sesuai dengan tabiat episteme itu sendiri. Dengan demikian, Foucault melihat jelas bahwa bahasan dan episteme tidak pasif melainkan aktif. Keduanya berusaha untuk mengubah kenyataan bahkan menguasai kenyataan.

Jadi, kembali kepada anak panah Zeno? Apa itu gerak? Gerak adalah relasi kuasa, seperti halnya yang terjadi dalam relasi kuasa-pengetahuan yang berlangsung lama dalam tiap periode sejarah.

“if being is many, it must be both like and unlike, and this is impossible, for neither can the like be unlike, nor the unlike like” (Zeno).

“I have never been a Freudian, I have never been a Marxist, and I have never been a structuralist.” (Michel Foucault).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s