Cermin Kebobrokan Kelas Menengah Indonesia


ditulis oleh: ZAPATA (Member Kaskus)

Istilah “INDON”

Penggunaan ‘Indon’ katanya sungguh menghina. Saya mengerti awalnya muncul kata itu disebabkan perseteruan dengan Malaysia. Tapi ada baiknya perlu disadari bahwa sebuah makna itu sendiri bukan harga mati lantaran satu kata terucap maka terlahir juga ribuan makna.

Mereka yang tersinggung dengan istilah Indon barangkali masih belum bisa membebaskan istilah itu sendiri dari makna yang mengekang: ‘penghinaan’. Pernah dengar bagaimana istilah ‘black’ diklaim kembail oleh kaum hitam sebagai identitas mereka. Dulunya, orang tersinggung disebut ‘black’ dan sekarang mereka menepuk dada dan berucap: “I am proud to be black”.

Rasa perih akibat dipanggil Indon masih belum seberapa dibandingkan dengan mereka-mereka yang dikejar-kejar lantaran beda agama atau komunitas-komunitas yang hancur di pinggiran pertambangan. Jika ini masalah nasionalisme, saya masih bingung kenapa mereka tak tersentak dengan rapuhnya ketahanan pangan di Indonesia. Apa artinya sebuah rumah identitas jika tak lagi mampu memberikan makan penghuni rumah? Apa artinya kegetiran dan kepahitan orang-orang yang marah dipanggil Indon jika melihat banyaknya uang rakyat yang raib tetapi kesenjangan ekonomi melebar jauh? Kemana nasionalisme para Indon ketika buruh migran disiksa di Saudi dan Malaysia? Apakah istilah indon lebih penting ketimbang swasemba beras dan kedelai? Apakah identitas Indonesia itu cuma sebatas ‘Indon’ saja?

Nasionalisme itu bukan sebatas sepak bola dan penghormatan dari Malaysia. Gagasannya jauh melebihi itu semua. Ia mendefinisikan identitas bangsa. Namun identitas macam apakah yang harus digagas ulang. Kebanggaan akan ketahanan pangan, kebersihan dan sustainibilitas lingkungan, kekayaan alam yang dimiliki dan diolah sendiri, rendahnya angka korupsi dan yang paling penting kemanusiaan. Ini semua harusnya menjadi acuan nasionalisme ketimbang istilah sempit Indon. Justru orang-orang yang berkutat pada nasionalisme sempit itu adalah indon!

Untuk membangkitkan rasa nasionalisme tak perlu membuat daftar prestasi. Semenjak pak Harto, bangsa ini memang miskin prestasi. Betul pengendalian jumlah penduduk dan swasemba pangan tercapai pada jaman Suharto. Tapi itu cuma sementara dan dibangun dengan fondasi yang rapuh: utang. Prestasi sebagai kota yang paling ramah lingkungan se-Asia atau masyarakat yang paling banyak membaca koran se-Asia jauh lebih penting ketimbang prestasi di bidang olah raga.

Kelas Menengah dan Sikap Permisif

Saya dituduh cuma modal bacot doang. Tak salah. Congor memang modal saya. Sama halnya dengan orang-orang di thread buruh yang suruh buruh miskin, yang bilang mereka tengil walaupun susah, yang bilang mereka cuma mengandalkan otot ketimbang otak dsb. Apakah itu semua bukan modal congor? Lalu ketika saya sentil gaya hidup kelas menengah Indon, beberapa pada kelojotan. Siapa yang punya hak untuk ngebacot? Kelas menengah Indon yang angkuh itu?

Thread ini dibuat bukan sebagai pikiran dogmatis. Kalau ada yang tak setuju, itu berarti baik. Saya gak berharap semua jadi Harmoko! Namun tampaknya banyak juga yang mengamini apa yang saya utarakan. Apakah ini sebagian orang gak melihat dan sebagian tutup mata? Apakah ego kelas menengah Indon sudah terlalu besar hingga membutakan mata mereka dan tidak tahu kalau banyak koreng ditubuh mereka.

Yang memprihatinkan adalah cara mereka menyanggah argumen yang dipaparkan. Untuk menjustifikasi semua borok itu, mereka gotong royong mendaftar kerusakan negara lain dan kelompok lain. Cara ini membuat mereka semakin permisif terhadap mentalitas anti-kritik dan anti-orang miskin ini. “Man, menurut catatan lembaga Transparency kita mah masih mending dibandingkan Myanmar yang berada diperingkat 172 untuk korupsi. Kita ada diperingkat 118.” Kenapa kita gak ambil kontras (beda dengan perbandingan yang melihat persamaan sementara kontras melihat perbedaan) dengan Tanzania yang berada diperingkat 102. Negara di Afrika tersebut cuma punya GDP 25 miliar pertahun sementara Indon 800 miliar dolar lebih. Apa ada baiknya orang-orang semacam ini diberi nama ‘pencari koreng’?

Kalau kita cari perbedaan dengan negara yang memiliki koreng lebih banyak, mulai kapan kita berpikir tentang koreng-koreng kecil yang berserakan?

Sikap permisif ini juga dapat dilihat dari disiplin lalu lintas. Mereka tahu bahwa masuk jalur busway atau naik motor melawan arah itu salah. Tapi tetap saja dilakukan. Ketika tertangkap, mereka bilang: “Pak, tadi itu banyak yang masuk ko gak ditangkap?”. Peraturan dibuat untuk membuat sebuah proses itu tertib. Seharusnya tak perlu dicambuk (denda mahal) untuk mengerti bahwa nyelonong jalur busway salah. Namun masyarakat kelas menengah tampaknya lebih memilih demikian. Barangkali mereka berpikir bahwa penertiban itu urusan polisi. Namun apakah pernah terpintas ide tentang jalan sebagai ruang publik dimana semua pemakai memiliki tanggung jawab etis untuk menjaga penggunaannya? Coba bayangkan kalau ada yang nyelonong masuk jalur busway terus diteriakin kalau bisa difoto. Barangkali public shaming atau proses membuat malu didepan publik bisa membantu mereka mengerti.

Saya jadi berpikir apakah harus diawasin terus-menerus supaya mereka bisa teratur? Jika memang pengawasan setiap saat, apa bedanya dengan narapidana? Mungkin nama Jeremy Bentham, ilmuwan sosial asal Inggris pernah terdengar. Jeremy Bentham adalah orang yang mendesain penjara atau lembaga rehabilitasi. Di setiap penjara dibangun menara di pojok-pojok dan sulit bagi napi untuk melihat sang penjaga dari bawah. Pembangunan menara ini dimaksudkan agar si napi selalu merasa diawasi. Istilah kerennya panoptical effect. Dalam taraf tertentu, patung polisi bisa memberikan panoptical effect. Bukankah lebih miris lagi kalau kelas menengah Indon yang bekerja pakai otak dan bergelar sarjana harus diawasin seperti maling ayam di penjara?

Kelas Menengah dan Kambing Hitam

Kelas menengah Indo suka mencari kambing hitam. Kenapa karena mereka merasa berkuasa dalam strata sosial dan konstelasi politik. Dengan adanya kuasa itu sendiri mereka dengan mudah melihat kesalahan ada di orang lain tapi tidak di dirinya sendiri. Mentalitas ini terlihat bagaimana para politisi kita menghadapi kritik atau persoalan di masyarakat.

Kambing hitam favorit adalah globalisasi. Semua keruntuhan budaya dianggap dampak dari globalisasi. Padahal mereka sendiri yang menuruti budaya konsumtif kelas menengah Indon dengan membangun banyaknya mall besar. Sialnya, kelas menengah sendiri sudah cukup nyaman nongkrong di tempat ber AC sambil minum cappuccino. Apakah kita semua masih ingat bagaimana tari Serimpi, Tari Bedaya atau Tari Jangget? Kapan terakhir kita melihat tari-tarian itu semua?

Ketimbang melihat bagaimana rendahnya apresiasi kelas menengah Indon terhadap budaya nasional, kelas menengah Indon sibuk bicara krisis moral yang ada dan menyalahkan globalisasi. Ini akibat budaya barat yang merusak. Budaya barat yang mana? Free seks? Tidak ada orang di negara-negara Barat yang jalan-jalan untuk bisa bersetubuh atau cari one night stand. Kita lupa bahwa sekarang kita bercelana dan memakai kemeja adalah karena budaya Barat. Budaya memakai sendok dan garpu adalah adaptasi dari Barat.

Kelas menengah Indon juga lupa bahwa globalisasi membuat jarak menjadi sangat tak berarti. Teknologi komunikasi dan informasi adalah biang keladinya. Mereka juga gak berpikir bahwa pertukaran gagasan lebih mudah dengan adanya globalisasi. Disamping itu, kesempatan ke luar negeri juga lebih mudah dengan semakin kompetitifnya harga tiket pesawat. Jadi globalisasi yang mana yang perlu disalahkan?

Kelas menengah Indon juga lupa bahwa nilai budaya bukanlah seperti balok kayu yang utuh dan tak berubah. Dulu kimpoi paksa dianggap lumrah sekarang sudah banyak yang menolak ide tersebut. Dulu perempuan dan dapur adalah identik. Sekarang banyak laki-laki yang pintar masak. Perubahan nilai dan tata cara seperti ini yang gak pernah dilihat. Namun kembali jika ada masalah maka benteng moral mereka adalah pengkambing hitaman.

Ini semua berkaitan dengan sifat yang sering menyalahkan Malaysia. Kelas menengah enggan berpikir tentang reog ponorogo dan sebagainya sehingga ketika dicolong mereka ngamuk. Begitu juga dengan TKI di Indonesia. Di kampung sendiri mereka gak dapat akses pendidikan mudah lalu minggat jadi pekerja atau pembantu di negeri jiran. Lalu kita ngamuk-ngamuk ketika mereka diperlakukan tidak adil. Pernah ada perjanjian bilateral untuk perlindungan pekerja asing diantara kedua belah pihak?

Mental Penjajah dan Makna Kulit Putih

Dulu kita dijajah Belanda yang kulit putih. Kita semua nurut dan anggap mereka ndoro kita. Ketika imperialisme merajalela di berbagai benua, Eropa masih percaya dengan namanya scientific racism atau rasisme sains. Mereka percaya bahwa orang-orang diluar Eropa memiliki kepintaran seperti anak kecil. Dengan kepercayaan ini mereka menjajah Afrika, Asia, Pasifik dan Amerika Latin. Bukan tidak mungkin dalam benak mereka, orang-orang Afrika dan berkulit hitam dianggap metamorfosis dari kera.

Ketika kita merdeka sebagai bangsa, mentalitas orang terjajah masih melekat. Kita melihat kulit putih sebagai superior persis seperti ketika Belanda melihat kaum jajahannya. Nah sekarang orang berbondong-bondong membeli krim pemutih atau cairan untuk memutihkan kulit. Apakah sebegitu hinanya kulit Indonesia yang hitam atau kuning langsat? Apakah begitu nistanya memiliki mata hitam dan hidung pesek?

Sialnya, mentalitas ini semakin parah. Bukan saja kita rasis terhadap orang kulit hitam tetapi juga dengan saudara sendiri di Papua. Masih ingatkah ucapan Balkan Kaplale yang menganjurkan orang Papua untuk menikah dengan orang Jawa agar memperbaiki keturunan.

Saya pernah melihat iklan lowongan pekerjaan di sebuah restauran mi di Pasar Baru Jakarta. Semua kelihatan biasa saja sampai ketika masa saya melihat syarat terakhir: berpenampilan menarik. Ya ampun keluhku. Sebegitu superfisial kah kita cuma pikir penampilan? Di negara yang terobsesi dengan kulit putih dan tampang cantik atau tampan, apakah orang cantik bakal mau jadi pramusaji? Bukankah lebih menjanjikan untuk jadi artis sinetron. Toh akting urusan belakangan. Apakah kelas menengah Indon perlu datang ke KUA dan menyarankan agar mereka yang mau nikah untuk pikir dua kali jika nantinya anak mereka tak tampan atau cantik?

Ditambah lagi, kelas menengah Indon ini sering melihat artis-artis sebagai acuan modelnya. Maka mereka ikutan suntik putih dsb. Padahal artis-artis itu sendiri modalnya cuma jualan muka. Tukang gado-gado jauh lebih bermartabat ketimbang orang yang jualan muka. Tukan gado-gado sudah belanja pagi buta dan meracik bumbu gado-gado untuk pekerja kantoran di Kuningan. Pekerjaan ini dilayani tiap harinya bahkan gak begitu mengeluh kalau ada pelanggan yang bisa ngutang. Hubungan semacam ini gak ada dalam konteks yang namanya mall!

Memang gak semuanya salah artis-artis itu kalau media sendiri gak mencekoki masyarakat dengan orang-orang yang gemar menjual muka. Dalam dunia yang sarat dengan representasi media, orang biasanya memilih salah satu dari tiga macam strategi: negosiasi, resistansi dan penerimaan. Yang pertama adalah menerima tetapi dengan mengubah ulang makna yang ditanamkan. Strategi kedua adalah penolakan mentah-mentah. Dan strategi ketiga adalah penerimaan realitas yang ditawarkan media. Dalam kasus artis yg gemar menjual muka dan rasisme strategi terbaik adalah penolakan realitas itu sendiri atau negosiasi. Sederhanya, kita melihat bahwa artis-artis itu sendiri tengah melakukan penyangkalan identitas mereka sebagai orang Indonesia. Sementara proses negosiasi bisa diartikan penerimaan mereka sebagai bagian dari masyarkat Indonesia tetapi menolak melihatnya sebagai representasi dari masyarakat.

Sekarang ke mana film Indon yang berkualitas? Dulu ada Garin, Widyawati dan Christin Hakim. Sekarang anak-anak muda mantan model yang diubah menjadi artis.

Ada baiknya membuat gerakan anti sinetron yang cuma umbar tampang cantik berkulit putih. Itu semua rasis dan refleksi dari sifat inferior kita yang terlalu lama dijajah oleh Belanda.

Kelas Menengah dan Amnesia Sejarah

Sikap anti orang miskin yang dimiliki kelas menengah Indon ini menunjukkan bahwa mereka mengidap amnesia sejarah. Di saat mahasiswa menduduki gedung DPR selama tiga hari selama traged 1998, pasokan makanan begitu banyak. Mereka barangkali cuma berpikir ini sumbangan rakyat. Tapi kalau ditanya rakyat yang mana barangkali tak begitu tahu. Memang ada sumbangan dari masyarakat kelas atas atau bahkan manajemen hotel. Tetapi ada juga ibu-ibu di kampung yang mengorganisir dapur umum untuk membuat nasi bungkus. Pernah ada seorang ibu datang ke posko-posko yang ada di gedung DPR. Si ibu yang menggendong anaknya itu menyerahkan satu rantang nasi beserta lauk-pauknya. “Saya orang gak punya tapi mau bantu mahasiswa dengan nasi rantangan ini”, ucapnya sebelum pergi. Terharu saya mendengar kisah itu. Tapi miris juga mendengar anak-anak Trisakti demo minta turunkan harga pelek mobil tiga minggu sebelumnya.

Suami si ibu mungkin kerja sebagai satpam, supir atau bahkan buruh. Itu cerita sekitar 15 tahun yang lalu. Sekarang ini kita gak tahu bagaimana nasib si ibu yang budiman tersebut. Bisa jadi anaknya adalah salah satu buruh yang ikutan demo kemarin. Barangkali sudah pulang kampung. Ada banyak kemungkinan.

Sama halnya dengan kerusuhan Mei 98. Kerusuhan yang bernuansa rasis merupakan ingatan pahit bagi lapisan masyarakat. Mereka yang mati terbakar langsung dicap penjarah. Padahal cerita-cerita yang muncul kemudian memberikan gambaran lain. Ada ibu yang mencari anaknya yang hilang lalu terjebak di dalam pusat perbelanjaan di pinggiran Jakarta. Ada anak yang cuma ingin ambil sepatu untuk sekolah lantaran ia tak mampu membeli yang baru. Memang penjarahan itu salah dan kita tahu bahwa Komnas HAM sendiri menyatakan bahwa kerusuhan itu direkayasa. Namun demikian, jika ditilik lebih dalam lagi, kita bisa lihat bahwa menjadi orang kecil di Indonesia itu susah. Mereka sering dibuat permainan dan kalaupun mereka protes dianggap malas dan tak kreatif.

Sama halnya dengan korban kekerasan seksual serta warga tionghoa yang dijarah. Sekalipun Komnas HAM sudah menetapkan kekerasan Mei sebagai rekayasa demi kepentingan politik, orang masih memiliki prasangka yang buruk terhadap warga Tionghoa. Coba tulis di halaman facebook kata Anti Cina, ada beberapa kelompok atau group yang mengusung kebencian terhadap orang Tionghoa. Ironisnya, kalau mereka menang main Bulutangkis dipuja-puji gak karuan.

Masih ingat kekerasan di Jember pada awal tahun 2000. Petani kopi digusur secara paksa oleh aparat. Satu orang meninggal lainnya luka-luka. Petani itu hidupnya dari tanah. Ketika mereka tercerabut dari akarnya, maka tak ada lagi yang diharapkan kecuali lari ke kota-kota besar dan menjadi buruh kasar. Padahal waktu saya berkunjung ke Jember, mereka bilang bahwa menjadi petani kopi itu cukup dan mampu membiayai sekolah anak-anak mereka. Lantaran tak memiliki penghasilan tetap maka tidak mungkin anak-anak mereka putus sekolah.

Kalau kita mau serius tanya ke buruh-buruh tersebut, pasti kita mendapatkan cerita-cerita menarik kenapa mereka jadi buruh. Barangkali ada juga cerita kenapa mereka minggat dari kampung halaman dan bekerja di pabrik. Bagi orang kampung di luar Jakarta, kelas menengah Indon asal Jakarta kalau ke kampung petantang-petenteng gak karuan. Masih ingat karakter Joni keponakan Pak Raden dalam film Unyil? Joni menjadi stereotip anak kelas menengah Jakarta yang tengal.

Cerita-cerita semacam ini hilang begitu saja dalam benak kelas menengah Indon yang angkuh. Mereka tak berpikir bahwa sejarah kekerasan di Indonesia itu begitu mengerikan. Mereka tidak sadar bahwa kebanyakan yang menjadi korban bukan kelas menengah Indon, tetapi buruh cuci, buruh pabrik yang dihina di berbagai forum sosial media dunia maya.

Kelas Menengah dan Diet

Di thread awal saya mencibir ulah kelas menengah yang lebih suka makan rib eye steak ketimbang tempe. Cibiran ini lalu dibalas oleh seorang poster bahwa usia 25 keatas orang sudah tak lagi makan daging lantaran takut kolestrol dan berbagai macam penyakit lainnya. Sanggahan itu menarik sekali karena menggiring kita ke soal diet kelas menengah indon.

Daging baik itu ayam atau sapi masih memiliki status sosial yang tinggi. Dalam pesta-pesta kelas menengah misalnya, banyak masakan yang menggunakan daging sebagai bahan utama. Memang sejarahnya daging itu selalu berkaitan dengan acara-acara perayaan. Dulu orang makan-makan dengan hasil buruan entah itu kijang, babi hutan dsb. Disamping menggambarkan kekuatan modal juga melambangkan kemachoan. Bagi komunitas-komunitas yang jauh dari akses makanan, berburu bukan hal asing namun bagi orang perkotaan itu merupakan hobi belaka.

Daging sebagai perlambang kemakmuran dan perayaan bisa dilihat bagaimana dalam pesta-pesta kecil kaum urban dan kampung. Kalau ada orang sunatan, suguhan semacam opor ayam, rendang dlll tersedia di meja. Jika memang kelas menengah pada takut kolestrol, asam urat dan diabetes kenapa tidak dibuat menu vegetarian? Apa takut dicibirin tamu kalau pesta gak ada daging?

Di Indonesia sendiri daging tidaklah murah. Harga daging ayam perekor kurang lebih sekitar 32.000 – 35.000 rupiah. Sedangkan harga daging sapi perkilogram bisa mencapai tiga kali lipat dari harga ayam. Dilihat harga mahal ini mungkin daging memiliki status sosial sangat tinggi. Oleh karena itu ocehan semacam ini: “makan pakai daging dong jangan teri terus seperti orang susah!” bisa menggambarkan bagaimana daging dilihat dari kacamata sosial dan budaya. Di restauran umum bukan khusus makanan laut saja, kita bisa lihat macam-macam menu yang ada. Selalu didominasi oleh daging ketimbang sayur. Contohnya solaria. Ada ayam cah jamur, cah sapi, bakso dll. Saya pernah pesan di rumah makan agar semua dagingnya diganti sayur atau jamur. Ternyata mie pesanan saya dikasih bakso. Waduh…

Banyak anak kelas menengah Indon besar karena chicken nugget ketimbang kacang merah atau daun singkong. Padahal kacang merah dan kedelai dianggap sebagai pengganti protein bagi kalangan vegetarian di negara barat seperti Australia misalnya. Memang harga daging di Australia sangat terjangkau dan pada umumnya bukan dianggap sebagai makanan mewah (kecuali daging-daging tertentu). Nah kalau di Indon, membeli daging itu bukan persoalan penambahan protein tetapi lebih pada gak mau seperti orang susah. Jika dari kecil si anak kelas menengah itu sendiri dimanjakan lambungnya dengan chicken nugget maka tak heran ketika ia berumur 25 tahun, ia mulai takut dengan berbagai macam penyakit. Belum lagi camilan yang manis-manis itu. Kenapa gak nyamil wortel atau buah?

Dulu mencari celana laki-laki ukuran 28 dan 27 mudah sekali. Sekarang saya mengalami betapa sulitnya. Paling kecil kebanyakan 29 – 30. Saya menduga apakah ini pertanda bahwa obesitas sudah menjangkit kelas kaum menengah Indon? Ditambah lagi dengan kurangnya berolah raga. Tak perlu misalnya dipaksakan beli sepeda atau lari pagi di Thamrin. Jalan saja sehari 5 kilo itu sudah cukup. Jarak 1 km saja harus ditempuh dengan mobil atau motor.

Ikan bisa menjadi alternatif tetapi kalau laut penuh plastik dan puntung rokok kenapa gak sekalian saja kita masak plastik dan puntung rokok dengan ikan-ikan yang dibeli di pasar? Tempe juga alternatif yang baik. Eh…saya lupa kalau kedelai kita impor.

Kelas Menengah dan Media

Saya menyinggung perilaku kelas menengah Indon dan media, khususnya penggunaan telepon selular. Sekarang saya ingin menelisik lagi hubungan antara kelas menengah dan media.

Tak dipungkiri lagi bahwa hubungan kelas menengah dan media sangatlah menarik. Pada jaman pergerakan di Indonesia misalnya, kelas priyayi yang mendapatkan pendidikan Belanda menggunakan media untuk memupuk semangat anti-kolonialisme. Medan Prijaji dan Tirto Adhi Suryo adalah salah satu kelas menengah yang berperan penting dalam perkembangan media pada masa penjajahan. Pada jaman Suharto, beberapa aktivis mahasiswa dan buruh juga menggunakan media untuk menyebarkan informasi tentang penindasan tentara terhadap buruh, petani dan juga di Timor Lorosae, Papua dan Aceh.

Bagaimana dengan kelas menengah sekarang? Kalau dilihat secara kontras, kelas menengah sekarang jauh lebih beruntung. Mereka tak lagi dikejar-kejar saat kepergok membaca berita tentang kasus Bank Century atau diskusi tentang keterlibatan pejabat dalam kasus korupsi. Keterbukaan serta kemajuan teknologi membuat berita-berita tersebar dalam waktu yang amat cepat entah dengan pengiriman pesan pendek (sms) ataupun berbagai pranala.

Namun melihat perilaku kelas menengah Indon dan akses media, kita bakalan tercengang. Data yang dihimpun oleh Australian Demographic and Social Research Institute (ADRI 2011) bekerja sama dengan Bappenas menyimpulkan bahwa hanya 20% perempuan yang membaca berita setiap harinya sementara laki-laki sekitar 43%. Sementara itu sekitar 78% laki-laki membaca berita seminggu sekali dan perempuan hanya 57%. Masih menurut data yang sama, kebanyakan orang lebih memilih berita gosip, infotainment atau sinetron.

Jika ada orang menggelontorkan pertanyaan (di dunia maya terutama) apakah angka-angka di atas itu memprihatinkan? Paling-paling jawabnya seperti ini: “Masak baca berita terus gan. Pusing kepala. Orang kan perlu hiburan biar gak stress”. Saya setuju tetapi hiburan macam apa? Apakah melihat thread ‘bening’ berisi perempuan model atau artis Indonesia?

Mudahnya akses informasi seharusnya mengiringi peningkatan minat dalam hal-hal yang informatif seperti berita. Namun gambaran kelas menengah Indon sendiri punya cerita lain. Penggunaan telpon selular sangat tinggi untuk kategori social networking seperti facebook (ADRI 2011). Data ini juga diamini oleh lembaga survey Nielsen (Reaching Indonesia’s Middle Class, 2012) yang menyimpulkan bahwa 94% respondent aktif dalam penggunaan social media dan lebih dari 80% memiliki akun facebook.

Padahal konsumsi media elektronik di Indonesia sangat tinggi. Selain telpon genggam, banyak kelas menengah memiliki televisi (Meiningsih dan Tiara Pratiwi, 2012). Maklum di negara ini, kepemilikan media elektronik seperti TV dan telpon genggam bukan hanya untuk alat komunikasi tetapi juga lambang gengsi. Kolaborasi antara Meisy Panambunan dan Adrian Breiter dalam penelitian tentang telpon genggam di salah satu kota di Indonesia yang bertajuk “Assessing the side-effects of ICT development: E-waste production and management A case study about cell phone end-of-life in Manado, Indonesia” menyatakan bahwa seringkali telpon genggam berfungsi sebagai status sosial dan ekonomi. Semakin canggih teknologi yang dimiliki, semakin terlihat ‘keren’.

Dibalik itu semua, mereka barangkali tak begitu sadar bahwa saat ini dunia sedang dilanda oleh sampah elektronik (E-waste). Bagi negara-negara maju, pengolahan sampah elektronik mungkin tak begitu membebani lantaran adanya dana dan teknologi. Sementara di Indonesia, kita tahu bahwa pengolahan limbah rumah tangga saja sudah menjadi kendala besar dan belum ada program terpadu apalagi dengan maraknya sampah elektronik yang ada. Ditambah lagi, negara ini juga rentan menjadi tempat pembuangan sampah elektronik kirim atau diimpor dari negara-negara maju.

Karakter Kelas Menengah Indonesia

Saya perlu kasih catatan. Jika nasionalisme pembaca masih sedangkal istilah Indon bukan mencakup ide kebhinekaan, kesejahteraan dan keadilan sosial, lingkungan hidup dan sustainibilitas, atau bahkan kesadaran hukum, maka sangat dianjurkan untuk tidak membaca artikel ini (Saya cukup jengah dan letih menanggapi mereka yang berkutat pada istilah Indon tetapi tidak mau berpikir dalam kerangka nasionalisme baru: kemanusiaan).

Alasan mengapa forum kaskus dipakai sebagai acuan untuk melihat kelas menengah di Indonesia adalah akses ke internet. Di negara yang GDP-nya cukup rendah, akses internet tergolong mahal. Mereka yang bisa menjelajah internet biasanya pekerja yang memilik akses di kantor atau sedikit uang lebih untuk pulsa.

1. Kelas menengah Indonesia suka membuat fantasi untuk mengusap-usap ego-nya sendiri. Diskusi perbedaan antara karyawan dan buruh bisa jadi contoh menarik. Banyak disini yang percaya bahwa buruh dan karyawan itu beda. Padahal dalam UU Naker, definisi yang ada cuma pekerja. Tapi tetap saja orang menganggap bahwa buruh bekerja dengan otot sementara karyawan bekerja dengan otak. Keduanya adalah sama: labour. Namun ada kategori tersebut dibagi lagi menjadi skilled labour dan unskilled labour.

Ini logika ngawur. Jika perbedaan antara otot dan otak begitu penting berarti menjadi seorang atlit tak ada gunanya. Toh jelas sudah bahwa atlit mengandalkan ketangkasan fisik ketimbang otak. Namun bagaimana dengan atlit catur? Sebagian besar permainan catur adalah berpikir tentang stratagi ketimbang mengusap-usap biji catur supaya mengkilap.

Namun demikian, kelas menengah Indon lebih baik menciptakan fantasi tentang perbedaan antara buruh dan karyawan barangkali agak kelihatan lebih keren.

2. Kelas menengah Indo suka pamer. Nah ini memang fenomena ajaib. Barangkali hanya di Indonesia orang memiliki lebih dari satu handphone. Seringkali saya tanya kepada teman kenapa ia tak mengangkat telpon ketika dihubungi. Jawabnya singkat: “XL gua lagi mati. Lo gak telpon nomer Mentari gue?”. Di luar negeri, orang setingkat manager dengan gaji 120.000 US per tahun memiliki HP satu. Kalaupun ada dua HP, biasanya itu fasilitas perusahaan. Dan penggunaanya cukup ketat.

Kebiasaan lainnya adalah mobil. Di Indonesia mobil memiliki status sosial sangat tinggi. Bahkan status itu lebih penting ketimbang manfaat mobil itu sendiri. Tampaknya sudah menjadi kecenderungan kalau orang punya uang lebih, langsung mengajukan angsuran mobil. Bagi orang tua yang punya uang, sudah menjadi wajar untuk memberikan mobil bagi anak-anaknya. Di luar negeri, jarang sekali orang pakai mobil jika tak perlu. Memang system transportasi jauh lebih baik dibandingkan dengan Indonesia. Namun yang kurang disadari bahwa meningkatnya jumlah kendaraan bermotor yang tak sebanding dengan jumlah peningkatan fasilitas jalan adalah salah satu sumber kemacetan. Kelas menengah yang hebat dan agung ini lalu mengeluh ketika terjebak macet.

3. Salah satu kebanggaan kelas menengah Indon adalah pendidikan. Mereka bayar mahal untuk bisa masuk universitas. Namun sayangnya daya pikir mereka bukan layaknya mahasiswa yang bisa berpikir kritis. Mereka tidak terbiasa untuk berpikir diluar perspektif baku. Ini mungkin juga karena waktu sistem mendikte waktu SD ditambah lagi dengan berbagai macam indoktrinasi diluar pendidikan.

Bahkan mereka yang beruntung untuk bisa sekolah di luar negeri pun gak bisa berpikir kritis. Saya pernah mendengar percakapan seorang mahasiswa s2 lewat telepon yang bertanya kepada temannya bagaimana cara membuat tulisan ilmiah untuk konferensi di New Zealand. Jika tingkat s2 saja belum tahu bagaimana cara membuat tulisan ilmiah, yang jelas-jelas sudah menjadi bagian dari dunia akademika, lantas seperti apa pelatihan akademis di tingkat s1? Kita semua tahu bahwa Vicky Prasetyo sekolah di luar negeri tapi kualitasnya seperti apa. Jarang intelektual muda seperti Ariel Heryanto F. Budi Hardiman, Daniel Dakhidae, dll

Sebagai perbandingan, India bukan negara kaya tetapi orang India yang sekolah di luar negeri memanfaatkan kesempatan emas itu untuk mendulang ilmu. Contohnya ada banyak Gayatri Spivak, Dipesh Cakrabarti dan Chandar Tapalty Mohanty adalah orang-orang yang disegani dalam ilmu sosial. Gagagan mereka sering dipinjam oleh akademis-akademisi dari berbagai negara.

Menurut cerita seorang, dosen sejarah terkenal UGM pernah bertutur bahwa dulu pada jaman pergerakan, orang-orang priyayi dan Tionghoa Indonesia menikmati sistem pendidikan ala Belanda. Tetapi sekalipun sekolah di alam penjajahan, mereka mencoba memerdekakan diri mereka. Sekarang banyak orang sekolah di jaman merdeka, tetapi pikirannya masih terjajah dan mentalnya seperti mental orang terjajah.

4. Kelas menengah Indon gampang panik. Ini sangat terlihat dalam persoalan nasionalisme. Dulu orang tak begitu peduli dengan batik. Lantas ketika Malaysia mengklaim batik sebagai budaya mereka, kelas menengah jingkrak-jingkrak tak karuan. Padahal batik cuma sekelumit persoalan dari hancurnya nasionalisme Indonesia. Sangat kontradiktif jika mereka teriak-teriak tentang pencurian batik tetapi kelas menengah mengimpikan tas-tas impor. Barangkali nanti kalau pengusaha asal Swiss mengambil alih produksi lokal, mereka akan kebakaran jenggot lagi.

Sementara itu persoalan ketahanan pangan tak digubris layaknya batik. Dulu Karawang itu lumbung padi sekarang jadi apaan kita gak tahu. Pulau Buru dulu bisa swasembada beras–berkat kerja para tapol politik yang membuka lahan di Buru. Pak Harto ikut bangga dengan panen raya di Buru walaupun dia memenjarakan orang-orang tersebut. Tempe makanan asli Indonesia menggunakan kedelai impor. Apakah ini lebih miris ketimbang batik? Di luar negeri sudah ada beberapa orang yang membuat tempe sendiri. Tinggal itungan waktu saja, tempe bukan lagi milik kita. Tapi mungkin kelas menengah Indon lebih baik makan Rib Eye Steak 350 gram ketimbang tempe. Soalnya tempe gak kelihatan keren kalo di lihat di Instragram ketimbang rib eye steak!

5. Kelas menengah Indon rasis. Di Indonesia orang berkulit putih itu menjadi modal. Karena warna kulit putih selain melambangkan kecantikan juga kesejahteraan. Orang yang berkulit putih sering dianggap golongan atas lantaran mereka jarang bekerja dibawah terik matahari. Gagasan rasis ini pernah dipakai oleh penjajah di masa perbudakan. Pemerintah kolonial Inggris di Aus, misalnya, merekrut orang-orang berkulit lebih gelap dari pulau-pulau di Pasific seperti Fiji dan Vanuatu. Karena mereka percaya bahwa orang-orang berkulit gelap tersebut lebih cocok untuk bekerja di perkebunan gula. Sama halnya dengan perekrutan budak-budak dari Jamaica dan sebagainya.

Kita bisa tanya ke kebanyakan kelas menengah di Indon, mana yang lebih cantik apakah Britney Spears atau Naomi Campbell? Kebanyakan orang pasti memilih Britney Spears.

Pikiran rasis ini sendiri bisa dilihat dalam maraknya artis-artis campuran yang berserakan di Indonesia. Cukup mudah menjadi artis di Indonesia, asal putih dan blasteran maka anda bisa main film. Di luar negeri banyak orang cantik tetapi kalau tak bisa acting tak mungkin menjadi artis sekalipun mereka harus tidur dengan sutradara. Karena Cinta Laura syndrome ini banyak kelas menengah Indon menjadi bule hunter. Mereka mau ‘memperbaiki keturunan’, memiliki hidung mancung dan kulit putih.

Ini semua menggambarkan bahwa sebagian bangsa Indon minder dengan keadaan tubuhnya sendiri. Mereka tak mau memiliki hidung pesek dan kulit hitam. Di negara lain, pikiran rasis ini pernah tumbuh di abad 18-an dalam bentuk rasisme sains dan sekarang sudah ditinggalkan. Namun di Indonesia justru dikembangkan.

One thought on “Cermin Kebobrokan Kelas Menengah Indonesia

  1. Dian says:

    Terima kasih sekali untuk tulisannya yang memberikan dorongan untuk berpikir lebih mendalam. Setuju untuk pendapat bahwa sepertinya kalangan menengah ini terlepas dari realitas karena mereka sibuk mengejar mimpi2 materialisme yang selalu digembor-gemborkan media. Ada pepatah dari Martin Luther King ” Keadilan tidak akan tercapai jika orang orang yang tidak terimbas belum sama marahnya dengan orang orang yang mengalami ketidak adilan” (terjemahan bebas hahaha)

    Tapi ada beberapa hal yang kalau boleh saya berikan pendapat: menurut saya, prestasi olahraga sama pentingnya dengan prestasi menjadi kota yang ramah lingkungan🙂, dan untuk istilah “Indon” rasanya tidak terlalu pas jika disandingkan dengan bobot dan rasa yg dirasakan orang2 kulit hitam dulu waktu di bilang ‘black’, sepengalaman saya, kata2 ‘black’ tidaklah terlalu banyak digunakan, orang2 kulit putih lebih bilang mereka ‘color people”. Istilah yang bahkan sampai sekarang masih sangat sensitif dan tidak disukai orang2 kulit hitam jika dipakai oleh orang2 ras yang lain adalah ‘Niger’, kadang kadang mereka menggunakan istilah tersebut di kalangan mereka sendiri dalam bentuk makian. Jadi menurut saya, orang Indonesia marah dipanggil Indon adalah hal yang wajar. Dan jika itu yang diperlukan untuk membuat kita jadi cinta bangsa ya bagus.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s