Kenapa Banyak Polisi Bejat?


Bulan lalu saya pernah ditilang polisi di Bogor cuma gara-gara plat motor saya agak cuak di bagian bawah. Padahal cara mereka menilang jelas sekali terlihat hanya memilih kendaraan-kendaraan yang berplat B, dan tempatnya justru gelap-gelapan di jalan baru yang menghubungkan jalan dari Parung sampai Bogor.

Namun apa yang saya alami belum seberapa dibandingkan kisah seorang perempuan yang ditabrak seorang polisi di Aceh bernama Briptu Haikal sampai tulangnya hancur, justru malah si perempuan ini yang dijadikan tersangka. Kasus yang terjadi setahun lalu itu mulai segera masuk ruang sidang. Korban bernama Putri. Kejadiannya 4 November 2012 di Desa Lambung, Ulee Lheue, Kecamatan Meuraxa, Banda Aceh sekitar pukul 16.00 WIB. Saat itu Putri sedang jalan-jalan sore di Aceh. Saat ia hendak balik arah, secara tiba-tiba melaju kencang sebuah mobil dinas polisi yang dikendarai Briptu Haikal. Mobil itu langsung menabrak Putri.

Demikian pula yang lebih ironis adalah kasus 9 polisi yang memerkosa 5 ABG di Gorontalo. Lalu keluakuan kapolsek Patrang yang akhirnya dicopot sama Kapolres Jember karena memperkosa istri seorang narapidana. Lain lagi di Pangkalpinang, seorang remaja 18 tahun disiksa polisi sampai menjadi gila dan masuk RSJ. Biadab! Saya tidak habis pikir sebenarnya apa yang dikerjakan mereka. Saya tidak mengatakan bahwa semua polisi adalah bejat, tapi banyak perilaku polisi atau anggota keluarga polisi yang jauh dari sosok mereka sebagai penegak hukum itu sendiri. Mengapa penegak hukum justru melanggar hukum?

Apa karena mereka membawa istilah “penegak hukum” di pundak mereka, lantas mereka-lah yang menjadi paling mengerti soal hukum dan mungkin mereka telah merasa sebagai (pemilik) hukum itu sendiri.

Ada cerita menarik soal polisi jujur yang tegas menindak pelanggaran di jalan raya. Tak peduli dilakukan oleh anak menteri sekalipun.

Irjen Ursinus Medellu menjabat Direktur Lalu Lintas Markas Besar Angkatan Kepolisian tahun 1965-1972. Saat Jenderal Hoegeng menjabat Kapolri, Ursinus adalah komandan lalu lintasnya. Seperti Hoegeng, Ursinus juga antisuap dan tak pandang bulu menegakkan hukum.

Ceritanya periode 1960an, Ursinus mengendarai mobil jip dinasnya di kawasan Jl Thamrin. Dia melihat seorang anak muda yang mengendarai mobil sedan dengan ugal-ugalan. Disetop petugas, anak muda itu cuek saja.

Maka Ursinus tancap gas mengejar sedan itu. Diberinya isyarat supaya berhenti, tapi si anak muda malah menantang. Ursinus kemudian mengambil tindakan tegas. Dia memepet mobil sedan itu hingga menabrak trotoar dan berhenti.

“Si anak muda itu keluar, dia tantang papa saya. Katanya dia anak menteri. Papa saya bilang, nggak ada urusan. Sekarang kamu ikut ke kantor,” kata Elias Christian Meddelu, putra sulung Ursinus menceritakan kisah itu. Ursinus meneladani Hoegeng. Polisi jangan takut menegakkan hukum, siapa pun orangnya. Tugas utama polisi melindungi dan melayani rakyat. Bukan melindungi dan melayani anak pejabat.

Lalu kita bertanya sekarang, kapan lagi Indonesia mempunyai penegak-penegak hukum yang memang berdedikasi tinggi, tidak gila harta, dan benar-benar melindungi serta mengayomi rakyat sebagaimana motto yang kerap mereka gembar-gemborkan?

One thought on “Kenapa Banyak Polisi Bejat?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s