Inferno: Bersediakah Bunuh Diri Demi Kebaikan Bersama?


Di sini saya tidak akan menulis review tentang buku terbaru karya Dan Brown yang berjudul Inferno. Buku ini tidak lagi membicarakan kontroversi di dalam teologi, dogma, ritual, praksis, dan masyarakat Kristiani yang dikritik olehnya pada buku Da Vinci Code serta Angel and Demon. Buku ini membawa pembacanya ke dimensi baru mengenai persoalan pelik yang sedang dihadapi manusia, yaitu dari sisi vertikal adalah mengenai kepercayaan sebagian besar manusia dan banyak agama mengenai hari kiamat. Sedangkan dari sisi horisontal adalah pertumbuhan penduduk yang semakin membengkak.

Bagaimana kiamat itu terjadi? Tidak ada yang tahu bukan? Tapi kiamat tidak serta merta datang dari langit ketujuh tempat Tuhan bertengger di Arsyinya. Bagaimana jika ada hipotesa bahwa kiamat sesungguhnya disebabkan oleh manusia itu sendiri? Bahwa penipisan ozon, konsentrasi CO2, penggundulan hutan, kenaikan permukaan laut global, kurangnya air bersih, polusi udara, lahan subur yang tergusur beton, semuanya cuma gejala. Penyakit sesungguhnya adalah over populasi manusia.

Awalnya manusia adalah sel sehat yang kemudian mereplikasi tak terkendali menjadi kanker. Ya, kanker bagi bumi. Akan tetapi, tiba-tiba umat manusia dikejutkan dengan ledakan hebat, yakni over populasi. “Kekuatan populasi sangat mengungguli kekuatan bumi untuk menghasilkan penghidupan bagi manusia, sehingga kematian prematur harus mengunjungi manusia, dalam bentuk tertentu atau lainnya. Sifat jahat umat manusia bersifat aktif dan bisa berfungsi sebagai depopulasi. Sifat-sifat jahat itu bisa memicu perang yang menyebabkan pemusnahan besar; dan sering kali bisa menyelesaikan sendiri pekerjaan mengerikan itu. Namun, seandainya kejahatan gagal melancarkan perang pemusnahan, musim penyakit, epidemi, pes, dan wabah maju mebentuk barisan yang luar biasa, menyapu ribuan dan puluhan ribu manusia. Seandainya kesuksesan masih belum bisa diraih sepenuhnya, kelaparan besar yang tak terhindarkan akan membuntuti dari belakang, dan dengan satu pukulan kuat akan menyeimbangkan populasi dengan jumlah makanan yang ada di dunia.” (T. Mathus, an Essay on the Principle of Population)

Diperkirakan menjelang 2050, jumlah penduduk bumi sekitar 10 miliar, dan terus bertambah. Sumber energi fosil akan ludes, lahan-lahan yang menyokong ketahanan pangan berkurang, populasi hewan ternak pun semakin punah. Tanpa peperangan, bencana alam, wabah penyakit yang masif, dan kontrasepsi, manusia akan terus bertambah. Bagaimana menangani over populasi ini? Bagaimana masing-masing negara menyejahterakan penduduknya dengan pertumbuhan kepadatan penduduk yang terus merangkak naik terutama di negara-negara dunia ketiga? Bagaimana cara pemerintah dan pemodal bisa menyiapkan lahan pekerjaan?

Masihkah tiap pemuka agama rebutan pengikutnya? Atau kita biarkan perang agama terjadi kembali selama ratusan tahun untuk menyurutkan jumlah anak-pinak manusia? Haruskah senjata pemusnah masal atau nuklir jatuh ke beberapa tempat sehingga dalam sekali waktu menyapu seluruhnya? Atau kita diamkan virus-virus ganas terus berevolusi dan menyerang manusia? Atau kita buat saja bencana alam buatan yang bisa menenggelamkan jutaan manusia, atau menjungkirbalikkan daratan yang penuh kota-kota?

Sekali lagi kita akan bertanya, masihkah bumi ini tempat layak bagi manusia? Apakah kita hanya akan terus meyakini bahwa tiap kepala manusia sudah dijamin rezekinya oleh Tuhan? Bahwa tiap anak yang lahir sudah disiapkan rezekinya sejak ada di alam azali? Dan setiap jasad yang hidup sudah dicukupi kebutuhan mereka?

Who needs agathusia? Siapakah yang butuh agathusia? Agathusia atau pengorbanan diri untuk kebaikan bersama, dikenal juga dengan membunuh diri demi kebaikan.

Jika Anda bisa menekan sebuah tombol yang akan membunuh secara acak setengah populasi 10 miliar manusia di bumi, akankah Anda melakukannya?

Jika Anda menjawab “tidak” atas nama nurani, maka bagaimana jika Anda diberitahu bahwa jika Anda tidak menekan tombol itu sekarang juga, seluruh umat manusia akan punah dalam 50 sampai 100 tahun ke depan? Maukah Anda menekan tombol itu?

Mungkin Anda masih mempertimbangkan hati Anda, tapi maukah Anda menekannya, bahkan jika itu berarti Anda barangkali akan membunuh teman, keluarga dan mungkin diri Anda sendiri?

Namun maukah Anda membunuh setengah dari 10 miliar manusia demi menyelamatkan spesies manusia dari kepunahan?

Mungkin Anda akan tetap menjawab “tidak”. Ya, pergulatan dalam batin Anda berbicara. Tapi sesungguhnya yang Anda lakukan adalah “Penyangkalan”; suatu mekanisme pertahanan ego primitif manusia yang menafikan semua realitas yang menimbulkan terlalu banyak ketegangan untuk ditangani otak Anda.

Penyangkalan demi penyangkalan. Manusia memang gemar menyangkal, seperti ucapan para motivator dan pemuka agama untuk selalu berpikir positif atau ber-husnudzon pada Tuhan, tapi sembari berkata dalam hati bahwa kondisi itulah yang sesungguhnya akan diberikan kepada anak cucu kita di masa depan. Terus terang, sebagai “penyembah statistik” saya lebih percaya angka pertumbuhan penduduk secara eksponensial itu (10 miliar menjelang 2050). Semoga saya sudah mati kala itu. Jika belum, saya ingin lihat bagaimana pilar-pilar dan sendi-sendi agama roboh serta raut pemuka agama yang dongkol dalam kepasrahan. Ternyata kiamat adalah cara semesta melakukan proses seleksi.

Ketika semua tempat di dunia penuh sesak oleh penghuni sehingga mereka tak bisa bertahan hidup di tempat mereka berada dan juga tidak bisa pindah ke tempat lain … dunia akan membersihkan dirinya sendiri. – N. Machiavelli

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s