Tag

, , , ,


Agamanya Tuhan apa?

Hampir semua orang tahu kisah tentang ular yang menggoda Adam Hawa untuk memakan buah pengetahuan. Dengan memakan buah itu maka manusia mengetahui yang Baik dan yang Jahat. Ular, jika memang secara harfiah begitu, atau hanyalah sebuah metafora bagi sesuatu yang ada dalam kepala kita. Istilah “otak reptil” karena bentuknya memang sekecil otak reptil, terletak di bagian dasar tengkorak manusia. Bagian paling tua dalam struktur otak manusia. Bagian ini mengatur fungsi paling primitif pada manusia seperti bernapas, detak jantung, dan emosi-emosi dasar seperti cinta, benci, percaya, takut dan nafsu. Bereaksi secara instingtif, tidak rasional, dan memastikan manusia untuk tetap survive serta beradaptasi. Kiasan demi kiasan yang terkandung dalam gaya penulisan orang-orang dahulu, yang penuh romantisisme, melodramatis, heroisme, sentimentil, dan apologetik, telah memunculkan sisi estetika dan stilistika bahasa yang seolah datang dari bukan dunia manusia.

Tentu saja jika semua pengaturan mekanisme dan fungsi tubuh kita berpusat di otak, tapi mengapa kita menjabarkannya seolah ada daging bernama “hati” yang melakukan semua itu. Bahkan dari kecil kita telah diajari tentang perbedaan antara jasmani dan ruhani. Lalu apakah yang disebut ruh itu? Pernah saya mempertanyakan jika malaikat menanyai manusia di dalam kubur, siapa yang ditanya; ruh atau jasadnya? Banyak yang mengatakan bahwa yang mengalami siksa kubur adalah ruh manusia. Tapi sebagaimana telah disebutkan bahwa semua gejolak rasa diatur oleh organ yang menempati batok kepala kita maka saya tak yakin apakah saya percaya tentang adanya jiwa, arwah, ruh, dan semacamnya.

Bagaimana jika otak reptil kita benar-benar menelan “buah pengetahuan” dan mengetahui segalanya. Lantas mengapa ketika “jatuh” ke dunia, banyak manusia lahir dan tumbuh berkembang dengan kedegilan, ketidaktahuan dan kebodohan. Bahkan ada petuah bijak mengatakan, “seseorang yang sesumbar mengetahui segalanya maka sesungguhnya ia tidak mengetahui apapun.” Ya, mustahil ada manusia yang memiliki pengetahuan seluas samudra. Apa karena demikian sehingga manusia menciptakan sosok yang mahatahu?

Ada yang tidak tahu bukti keberadaan Tuhan, tapi percaya bahwa Dia ada. Saya pun tak menyangkal kalau Dia mungkin ada. Banyak tulisan yang dianggap kitab suci dan kumpulan ucapan bijaksana mengatakan demikian. Tapi kadang kita takut mendiskusikannya, bahkan jauh melampaui itu, kita berhenti untuk cukup meyakini saja. Keyakinan yang direproduksi oleh otak reptil kita. Dengan demikian saya menyadari bahwa manusia tidak cukup hanya memuja ide-ide, tapi juga kreatif untuk menciptakan praktik ritual-spiritual yang berguna mengokohkan keyakinan itu.

Tuhan itu menciptakan dan menghancurkan. Manusia juga begitu, kreatif menciptakan sesuatu seperti senjata untuk menghancurkan sesamanya.Tak peduli atas nama yang Baik atau yang Jahat, yang Benar atau yang Salah. Pernahkah Anda mencari suara di benak Anda, apa yang dikatakan si ular di sana tentang agama Tuhan? Jika tidak, untuk apa mempertanyakannya.

Iklan