Greenpeace dan Sepakbola yang Penuh dengan (Perusahaan) Energi


sumber: http://sport.detik.com/aboutthegame/read/2013/10/04/104312/2377683/1497/greenpeace-dan-sepakbola-yang-penuh-dengan–perusahaan–energi

thumbnail

Jika ingin menentang mereka yang memanfaatkan sepakbola, gelarlah perlawanan di lapangan saat berlangsung sebuah pertandingan sepakbola.

Prinsip itu tampaknya dipahami benar oleh para aktivis Greenpeace yang membentangkan spanduk raksasa di atap Stadion St. Jakob Park. Selasa (2/10/2013) malam itu sedang berlangsung pertandingan Liga Champions Grup E antara tuan rumah FC Basel dan Schalke 04.

Di tengah pertandingan, tiba-tiba saja dari atap stadion meluncur spanduk raksasa berwarna kuning. Di spanduk raksasa itu, terlihat logo dan nama Gazprom dan tulisan berbunyi: “Don’t foul the Arctic” dan “#FreeTheArctic30”.

Gazprom adalah perusahaan energi dari Rusia yang lini utama bisnisnya terentang dari mulai eksplorasi, produksi, pengangkutan, penyimpanan dan penjualan gas, minyak serta listrik. Gas bumi adalah tambang uang terbesar Gazprom. Mereka mengklaim menguasai 77% produksi gas di Rusia dan 15% produksi gas dunia.

Belakangan, perusahaan ini banyak menanamkan uang di sepakbola. Schalke 04 jadi salah satu klub yang disponsori oleh Gazprom. Di dada jersey klub Jerman itu terpampang jelas nama Gazprom. Selain Schalke 04, Gazprom juga jadi sponsor Red Star Belgrade, Zenit St. Petersburg, dan Chelsea.

Chelsea pernah dipersoalkan oleh banyak kalangan terkait Gazprom ini, terutama setelah perusahaan energi itu juga mensponsori Chelsea. Untuk diketahui, Gazprom pernah membeli 73% saham perusahaan Sibneft, dan saham yang dijual itu terbesar dikuasai oleh Roman Abramovich. Penjualan saham Sibneft itu mencapai angka 130 triliun dan disebut-sebut sebagai transaksi pengambilalihan perusahaan terbesar dalam sejarah Rusia

Sepakterjang Gazprom di dunia sepakbola tak hanya di level klub. Mereka juga bekerja sama dengan federasi sepakbola, tak tanggung-tanggung federasi tersebut adalah federasi dunia (FIFA) dan Eropa (UEFA).

Kurang sebulan lalu, tepatnya 14 September 2013, Gazprom baru saja menandatangani kerja sama dengan FIFA sebagai official partner dari 2015-2018, termasuk untuk Piala Dunia 2018 yang memang diselenggarakan di Rusia. Dan musim ini mereka juga resmi menjadi sponsor Liga Champions, gelaran sepakbola yang memang jadi tambang uang UEFA.

Greenpeace melakukan aksinya sebagai bentuk perlawanan terhadap Gazprom yang hendak melakukan eksplorasi di Kutub Utara. Sebelumnya, 30 aktivis Greenpeace nekat memasuki salah satu instalasi eksplorasi Gazprom di Kutub Utara. Para aktivis itu ditangkap oleh otoritas keamanan Rusia dan dikenai dakwaan perompakan

Apa yang dilakukan Greenpeace di laga Basel vs Schalke 04 ini menarik untuk dicermati karena menandai beberapa hal.

Pertama, penetrasi modal di industri sepakbola dari korporasi-korporasi yang bergerak di bidang energi.

Selain klub-klub yang disponsori Gazprom, sudah banyak klub besar Eropa yang saham mayoritasnya dimiliki oleh korporasi-korporasi yang salah satu tambang uangnya berasal dari sektor energi. Beberapa di antaranya adalah Chelsea, Manchester City, Chelsea, Arsenal, Anzi Makachkala dan terakhir Paris Saint Germain.

Aksi yang dilakukan Greenpece kemarin memang terkait langsung dengan eksplorasi Gazprom di Kutub Utara yang berujung dengan penangkapan para aktivis Greenpeace. Tapi secara luas, aksi tersebut juga tak bisa dipisahkan dari kampanye bahaya perubahan iklim akibat pemanasan global.

Dan isu Kutub Utara memang penting. Wilayah ini bukan hanya menjadi cagar tempat hidupnya banyak spesies, tapi juga jadi penyeimbang dari suhu bumi yang terus meningkat. Sering dikatakan Kutub Utara tak ubahnya “lemari es” agar bumi tetap terjaga suhunya atau “cermin raksasa” yang memantulkan kembali sinar matahari dan panas kembali ke atmosfer.

Selain Kutub Utara, isu pemanasan global ini memang banyak diarahkan pada konsumsi energi penduduk bumi yang tentu saja menjadikan perusahaan-perusahaan energi jadi semakin kaya. Untuk perubahan iklim dan pemanasan global ini, merekalah yang justru menangguk keuntungan.

Kedua, aksi Greenpeace di Stadion St. Jakob Park itu juga menjadi pengingat bagi publik sepakbola agar tidak silau dengan perusahaan-perusahaan energi yang bersolek di panggung industri sepakbola.

Istilah “bersolek” itu penting untuk disimak karena banyak klub-klub yang diakuisisi oleh bos-bos energi itu memang terkenal royal dalam menyulap sebuah klub jadi tim penuh taburan bintang nan mahal. Chelsea, Anzi, City atau PSG mendadak langsung memborong pemain-pemain bintang begitu diambilalih kepemilikannya.

Sejak Roman Abramovich mengambilalih Chelsea, misalnya, pasar pemain sepakbola dunia dianggap semakin tidak masuk akal. Aksi royal Roman ini memicu melonjaknya harga-harga pemain.

Mungkin angka yang mereka keluarkan untuk mengakuisisi klub dan membeli pemain-pemain mahal itu sebenarnya tidak seberapa dibanding total putaran uang yang mereka hasilkan. Sampai sekarang, masih belum begitu jelas prospek keuntungan yang akan mereka dapatkan dari sepakbola.

Roman sampai harus “memutihkan” pinjaman sebesar sekitar 700 juta poundterling yang dia berikan [melalui Fordstam Ltd]. Pinjaman itu lantas dialihstatuskan menjadi penanaman modal sehingga Chelsea praktis bisa bernafas lega karena tak harus mengembalikan pinjaman itu.

Tapi sudah jelas, Roman menikmati kemasyhuran dan ketenaran tiada banding berkat sepakbola. Dia memang sudah terkenal sebelumnya, tapi Chelsea memberi kemasyhuran sampai menembus kampung-kampung di seantero dunia.

Aksi Greenpeace itu seakan memperingatkan para pecinta sepakbola bahwa banyak taipan-taipan energi yang “mencuci uangnya” melalui sepakbola. Selain boleh jadi akan menguntungkan secara finansial, sepakbola menyediakan tiket menuju kemasyhuran dan citra glamor di pentas dunia. Mereka “menumpang” pada sepakbola, membuai jutaan bahkan milyaran penduduk bumi yang menyukai sepakbola, dan melupakan fakta kalau mereka inilah salah satu yang mesti bertanggungjawab terhadap masa depan kelangsungan bumi.

Dan tampaknya pesan itu diterima oleh sejumlah kalangan. Tak tanggung-tanggung, manajer Schalke 04, Horst Heldt, bahkan menyampaikan apresiasinya. Seperti dikutip surat kabar Jerman, Bild, dia berkata: “Adalah penting bahwa ada organisasi yang berkomitmen untuk hal-hal yang menyangkut nasib banyak orang. Saya dapat mengidentifikasi diri dengan hal itu dan ini adalah topik yang penting untuk semua orang.”

Ketiga, aksi Greenpeace itu juga menegaskan bahwa perlawanan terhadap mereka yang memanfaatkan sepakbola sebaiknya memang dilakukan juga di lapangan sepakbola.

Tentu saja apa yang dilakukan Greenpeace ini tidak akan disukai oleh FIFA, UEFA dan semua otoritas sepakbola mana pun. Bukan rahasia umum jika otoritas sepakbola masa kini memang sangat anti dengan pesan-pesan politik yang dipampangkan di lapangan hijau. Netralitas jadi prinsip dasar FIFA untuk mengeliminasi intervensi politik dalam sepakbola.

Seperti yang pernah kami uraikan dalam esai Depolitisasi Sepakbola, netralitas memang dibutuhkan untuk melindungi mereka yang termarjinalkan dari pesan-pesan rasisme atau bigotry.Tapi di sisi satunya, sulit untuk tidak bersikap sinis dan beranggapan bahwa sepakbola yang netral dibutuhkan hanya untuk menarik lebih banyak massa demi kepentingan komersial. Bagaimanapun juga, satu “produk” yang tak menyinggung banyak orang akan lebih mudah untuk dijual.

Netralitas itu tak berbunyi di hadapan ideologi pasar bebas. Atau malah bisa dikatakan: prinsip netralitas itu justru dibangun sebagai karpet merah bagi kemenangan ideologi pasar bebas dalam dunia sepakbola.

Greenpace memberi kita pesan yang jelas: jika para “penghisap” energi di bumi ini bisa leluasa bersolek di panggung sepakbola, kenapa sikap kritis terhadap hal itu tak boleh dilancarkan juga di tengah panggung sepakbola?

Tuan rumah Basel sudah jelas terancam sanksi oleh UEFA. Aksi Greenpeace itu tentu menampar muka UEFA karena mempermalukan Gazprom, salah satu sponsor Liga Champions musim ini.

Ya, UEFA dan Gazprom yang dipermalukan, bukan sepakbola.

===

* Penulis adalah chief editor Pandit Football Indonesia. Akun twitter: @zenrs

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s