Mungkinkah Sengketa Pilkada Jabar dan Bali Juga Tersangkut Suap?


Sebelumnya saya ingin berkata bahwa predikat Doktor s3 tak menjamin seseorang tidak tersangkut suap dan korupsi. Demikian pula dengan Pendeta atau Kiai. Gelar akademik atau gelar agama sama aja. Lalu kriteria bagaimana lagi yang bisa dijadikan tolak ukur bahwa seseorang mampu memimpin negara ini?

Tentunya kita masih ingat dengan ketua Satgas Migas Rudi Rubiandini, presiden PKS Luthfi H. Ishaq, dan sejumlah nama lain yang bisa dipajang sebagai tersangka korupsi. Indonesia sepertinya sudah akut penyakit korupsinya. Selevel menteri sudah terjerat kasus penyuapan, bagaimana dengan presidennya? Rakyat makin skeptis dan apatis terhadap sistem birokrasi dan politik di negara ini. Saya yakin jumlah pemilih dalam pemilu 2014 yang abstain akan bertambah banyak.

Tertangkapnya AM disinyalir berkenaan dengan kasus sengketa pilkada di daerah Gunung Mas, Kalimantan Tengah. Hal ini kemudian mengungkit “bisikan-bisikan” yang beredar ketika peristiwa pilkada Jabar dan Bali. Diketahui publik bahwa pihak Rieke Diah Pitaloka mengajukan gugatan ke MK berkenaan dengan kekalahannya di Pilgub Jabar. Waktu itu pasangan Rieke-Teten memberikan 1.500 saksi dalam sidang sengketa Pilkada Jawa Barat di Mahkamah Konstitusi bahwa banyak kecurangan terjadi. Namun, putusan MK menolak gugatan tersebut dan memenangkan pasangan Aher-Dedi.

Aroma suap menyebar di MK sejak dipimpin oleh AM. Wakil Sekjen PDI Perjuangan menilai bahwa Rieke-Teten (Pilkada Jabar) dikalahkan karena fulus Rp 20 miliar, demikian halnya untuk Bali, konon nilainya mencapai hampir Rp 80 miliar. “Siapa yang harus buktikan rumor tersebut? Negaralah yang harus membuktikan dengan seluruh aparatnya demi tegaknya demokrasi itu sendiri,” kata Wakil Sekjen PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto. Andaikan benar bahwa pilkada di Jabar dan Bali juga tersangkut skandal suap maka pasti ada aktor di belakang si Pemberi suap. KPK harus bisa membuktikannya, mungkin bisa pula mengarah pada dua pasangan petahana Jabar dan Bali, atau partai politik. who knows?

Saya tidak tahu apakah kepemimpinan Jimmly Asshidqie dan Mahfud MD di MK ada celah untuk melakukan penyuapan, korupsi, dll. Kredibilitas MK yang sudah dibangun sedemikian rupa tiba-tiba runtuh dalam semalam. Semua orang kini meragukan kinerja MK. Setelah institusi negara lain seperti DPR, Kejaksaan, MA, KPU, Kementerian, Polisi, TNI, pernah dilanda badai kasus korupsi, rakyat memercayai bahwa MK dan KPK adalah lembaga yang bersih. Sekarang banyak yang bertanya atau malah sekalian menuding, “MK saja sudah kena, mungkin KPK pun juga.” Lantas lembaga apa lagi yang tidak dijamah korupsi, kolusi, nepotisme di negara ini?

Padahal sebagaimana dilansir Republika Online Maret 2012 lalu, AM yang saat itu sebagai Juru Bicara MK mengusulkan hukuman potong jari. “Ini ide saya, dibanding dihukum mati, lebih baik dikombinasi pemiskinan dan memotong salah satu jari tangan koruptor saja cukup,” ujarnya. Nah, bagaimana dengan kasus tertangkap tangan dirinya ini? Apakah dia menelan kembali ucapannya atau berani mempertanggungjawabkannya?

ps. kayaknya dulu ada yang pernah bilang mau digantung di monas, tapi … ah, isapan jempol doang

One thought on “Mungkinkah Sengketa Pilkada Jabar dan Bali Juga Tersangkut Suap?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s