Soekarno Tidak Pernah Dibuang ke Boven Digul. Pembodohan Nasional atau Taktik Politikkah?


sumber: kompasiana (Della Anna)

Tidak menyangka bahwa hasil berburu buku-buku tua di bursa buku ternyata menggiring saya kepada situasi yang sangat membingungkan. Bingung bukan karena saya lahir setelah masa Perang Dunia ke II, tetapi bingung karena apa yang saya pelajari pada bangku sekolah di Indonesia sejak sekolah dasar sampai universitas tentang Sejarah Indonesia, ternyata kini terbalik kepala di bawah dan kaki di atas. Dalam arti keraguan saya akan ke absahan susunan sejarah nasional itu mulai tumbuh.

Saya pernah menulis di Kompasiana ini tentang ”Pembodohan Nasional G30 S PKI 1965” oleh rezim Orde baru, ketika itu tulisan ini meledak dan berjalan hampir ribuan  bahkan puluhan ribu blog atau mungkin ratusan baik itu pribadi, Facebook dan juga portal berita Indonesia. Propaganda rezim Orde Baru tentang kejahatan antek-antek komunis di negeri ini mendapat cap ‘’sejarah kelam/hitam” Indonesia ketika masa peralihan Orde Lama ke Orde Baru. Namun sayang, propaganda ini akhirnya menghembuskan aroma keraguan bagi kita generasi muda Indonesia setelah kritikan bermunculan ke atas meja yang di arahkan kepada rezim Orde Baru. Bahwa apakah benar terbunuhnya ke tujuh  orang para Jenderal itu dilakukan oleh PKI? Apakah hal itu bukan rekayasa politik dengan ikut campurnya Amerika Serikat di belakang layar?Ketika itu Soekarno memang sudah mengadakan kontak dengan Kremlin. Di sinilah kekhawatiran AS untuk Asia. PKI ketika itu dianggap sebagai Ormas yang membahayakan kelangsungan pemerintahan Republik Indonesia.

Banyak setelah itu opini keraguan ini muncul pada media online. Sampai saat ini SejarahIndonesia tentang hitam kelam tragedi G30S PKI 1965 tetap berlaku, hanya saja tidak lagi merupakan keharusan bahwa setiap sekolah harus menonton tayangan film G30S PKI/1965 yang dibuat oleh Arifin C.Noer. Sebuah propaganda yang akhirnya mencoreng Sejarah Nasional sendiri.

Kembali kepada buku tua yang saya buru pada pasar bursa buku-buku tua di Belanda ini.

1
Dengan tidak sengaja saya menemukan sebuah buku yang ditulis oleh I.F.M Salim yang ternyata adik kandung dari  almarhum politikus Indonesia yang sangat terkenal Haji Agoes Salim.

Buku ini di tulis dalam bahasa Belanda oleh I.F.M Salim tahun 1973, dicetak oleh Percetakan Contact- Amsterdam. Tebal buku 436 lembar halaman dengan perincian 424 isi kisah sejarah dan sisanya daftar literatur.

Buku ini mendapat reaksi dari Prof. Schermerhorn sebagai mantan Perdana Menteri Kabinet pertama Belanda yang dibentuk oleh Ratu Wilhelmina setelah PD ke II baru saja selesai, dan mendapat dukungan dari Prins Bernhard Fonds.

Dengan judul yang sangat menarik perhatian “Vijftien jaar Boven-Digoel Concentratiekamp in Nieuw-Guinea.” Dan dengan pelengkap judul yang lain ‘’Bakermat van de Indonesische onafhankelijkheid.’’

Dengan memakai cover buku yang sangat kuat karena terbuat dari kanvas dan dengan memakai warna merah putih selayak warna bendera Indonesia – Dwi Warna. Dengan memakai gambar rumah Gadang Minangkabau berwarna putih. Menurut penulis I.F.M Salim beliau memang sengaja memilih warna dan gambar ini untuk cover buku.

Pada isi buku tercantum foto dokumenter antara lain Ayahnda I.F.M Salim, Haji Agoes Salim, penulis sendiri I.F.M Salim dan Sjahzam adik dari Soetan Sjahrir

Resensi buku;

Buku ini menurut opini saya adalah saksi sejarah Indonesia yang sangat penting, karena isinya adalah historis  dokumen yang ditulis oleh seseorang yang dibuang dan menjalani masa pengasingan sebagai tahanan politik di Tanah Merah dan Tanah Tinggi area Boven Digul, dimana ketika itu masih berada di bawah kekuasaan kolonial.

Penulis dokumenter yang sangat penting ini adalah I.F.M Salim sendiri, yang pada masa pembuangan itu mengalami tekanan yang sangat tidak adil dari kedua belah pihak yang berkuasa, yaitu dari regim Indonesia dan dari regim kolonial. I.F.M Salim setelah masa pengasingan menuju negeri Belanda melalui Australia.

Setelah Indonesia merdeka, maka pada tahun 1973 beliau menulis dokumenter bersejarah ini yang membuka tabir sejarah nasional tentang apa yang sebenarnya yang terjadi pada penjara pengasingan untuk tahanan politik di Tanah Merah, Tanah Tinggi Boven Digul.

Secara detail ditulis bahwa mantan Presiden Soekarno tidak pernah dibuang dan menempati masa pengasingan di Boven Digul. Untuk Soekarno saat itu rezim kolonial lebih memilih ”mild vorm” atau cara ringan lain dengan menempatkan beliau di Flores. Dengan asumsi beliau akan mendukung dan memberi suara untuk kepentingan kolonialisme.

Keringanan pengasingan untuk Soekarno bukan begitu saja beliau mendapatkannya, tetapi dengan ”menangis dan minta permohonan ampun ” lewat surat yang Soekarno tulis sendiri dari penjara. Penegasan situasi ini dibenarkan oleh Wakil Presiden saat itu Moh. Hatta ketika beliau menghadiri reuni Pendidikan Nasional Indonesia di Bandung.

Almarhum Moh. Hatta mengatakan;

” Het was Soekarno, die deze organisatie had ingeprent om niet  met de Nederlanders samen te werken, maar toen hij verbannen zou worden, huilde hij, vroeg om vergiffenis, en schreef een brief uit de gevangenis, waarin hij verklaarde uit de organisatie te treden. Daarom werd hij niet naar Boven Digoel, maar naar Flores verbannen.”

Demikian tulis I.F.M Salim dalam bukunya, dimana sebagai literatur dapat juga dibaca pada Elseviers Weekblad tanggal 2 Maret 1968 (hal.26). Dimana di situ disebutkan bahwa ” Soekarno huilde en vroeg om vergiffenis. Dat gebeurde toen hij door het Ned-Indische gouvernement naar Boven Digoel zou worden verbannen.” Saya terjemahkan secara bebas yang artinya ” Soekarno menangis dan minta maaf/ampun ketika mendengar berita bahwa beliau akan dibuang dan diasingkan ke Boven Digul.”

Situasi ini dibenarkan oleh mantan Wakil Presiden Moh. Hatta. Dan untuk tragedi ini akhirnya Soekarno tidak bisa menjelaskan untuk publik juga tidak membantah kebenaran yang disampaikan oleh Moh. Hatta ketika itu.

Kisah bahwa Soekarno menangis dan memohon ampun agar tidak dibuang ke Boven Digul pun ada pada buku autobiografi Soekarno yang ditulis oleh Cindy Adams.
2

Wah…. ketika membaca prakata buku Vijftien jaar  Boven Digul dari I.F.M Salim ini, saya terhenyak – bisu. Bingung karena kini fakta sejarah tentang heroik pahlawan Indonesia pada masa-masa peralihan menuju kemerdekaan kini menjadi berbayang penuh keraguan.

I.F.M Salim bahkan menulis, memang benar Soekarno pernah ke Boven Digul tetapi itu lewat di atasnya saja. Dalam arti ketika serah terima kedaulatan Papua New-Guinea menjadi bagian RI tahun 1963. Tetapi apakah Soekarno di atas udara melakukan ”penghormatan ” dengan mengangkat tangannya untuk mereka yang berjuang gigih hidup dan mati untuk Indonesia Merdeka selama masa pengasingan Boven Digul! merupakan tanda tanya besar.

Kisah pedih Boven Digul yang menelan korban para pejuang gigih untuk Indonesia Merdeka, memang berusaha dikubur dalam-dalam dan dilupakan seperti angin.

Satu hal yang menonjol adalah Sejarah Indonesia harus mencatat, bahwa TIDAK BENAR mantan Presiden RI pertama – Soekarno pernah dibuang dan diasingkan sebagai tahanan politik di penjara Boven Digul.

Ketika saya membaca bagian ini, maka pola pemahaman Sejarah Indonesia saya kini menjadi ragu akibat pernyataan historis dalam tulisan dokumenter I.F.M Salim dengan buku yang sempat menggegerkan kalangan pemerintahan Belanda saat itu.

Dan saya sendiri sebagai warga negara Indonesia, tentunya merasa tersundul pemahamannya. Sampai dimana lagi saya sebagai warga negara Indonesia siap dibohongi mentah-mentah untuk menyimpan Sejarah Indonesia? Apa yang harus saya teruskan kepada anak-cucu saya? Kebohongankah atau memang perjalanan politik ke arah kesatuan nasional harus memakai lipstik dan bedak pupur tebal-tebal.

Buku ini belum selesai saya baca, karena saya harus membacanya secara perlahan agar dapat masuk dalam alur sejarah ketika itu. Saya lahir setelah Indonesia Merdeka, tetapi sebagai warga negara, saya berhak mengetahui hitam putih merah kebenaran perjalanan sejarah!

Anda sendiri bagaimana?

Semoga menjadi bahan pertimbangan untuk kita semua tentang kisah heroik pahlawan dalam Sejarah Indonesia kita di masa yang lalu.

–©DellaAnna2013–

Sejarah terkadang perih seperti luka yang kena garam.

2 thoughts on “Soekarno Tidak Pernah Dibuang ke Boven Digul. Pembodohan Nasional atau Taktik Politikkah?

  1. Trims Mas sdh berkenan hasdir di blognya. Saya ingin menambahkan, bahwa saya adalah korban propaganda pemerintahan Orla dan Orba. Penyelundupan propaganda ini masuk ke dalam buku sejarah yg harus kami pelajari ketika itu. Buku sejarah Anwar Sanusi, belakangan diketahui AS adalah anggota PKI, beliau di tangkap dan seluruh buku2 sejarah hasil karyanya dimusnahkan.

    Mas, tolong di koreksi, pada artikel asli telah saya lakukan koreksi >> Wakil Presiden Moh. Hatta, saya koreksi menjadi mantan Wakil Presiden Moh. Hatta.
    Hasil koreksi ini baru berjalan setelah masa error pada Kompasiana berlalu. Jadi mohon tolong di koreksi saja. Karena ketika itu Pak Moh. Hatta tidak lagi menjadi Wakil Presiden

    Terimakasih banyak Mas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s