Ustadz Memasang Tarif Adalah Wajar


Banyak orang berteriak lantang menyuarakan ketidaksetujuan sewaktu ada isu para ustadz yang memasang tarif. Namun banyak pula yang tidak menyadari bahwa fenomena ustadz memasang tarif sesungguhnya adalah suatu kewajaran. Semestinya masyarakat bisa menerima hal itu. Mengapa? Misalkan saja Anda masuk kuliah di fakultas yang berbau agama, seperti misalnya fakultas Hukum Islam, Tafsir Hadis, Ekonomi Syariah, dll. Lalu di dalamnya Anda akan menerima transmisi pengetahuan dari seorang professor yang jelas ilmunya lebih mumpuni ketimbang ustadz-ustadz yang nangkring di televisi, lantas salahkah para professor itu menerima bayaran dari Anda? Tidak salah, tapi bedanya jika professor-professor itu berada di lingkungan institusi formal sedangkan ustadz-ustadz yang berdakwah itu berada pada sektor informal.

Mengapa kita tidak suka dan tidak mau mengakui bahwa agama adalah komoditas, sering dipakai sebagai komoditas politik dan juga komoditas keagamaan itu sendiri. Anda bisa lihat sendiri ketika bulan Ramadhan contohnya, banyak sekali komoditas agama diangkut ke layar kaca. Apa yang salah ketika agama menjadi komoditas stasiun televisi untuk meningkatkan rating, dan pada momen demikian memang selera pasar atas komoditas agama sedang meninggi. So what! Itulah mekanisme pasar, beradaptasilah dengan kehidupan di era industrialisasi seperti saat ini. Apapun jadi industri termasuk agama.

Persoalan ustadz memasang tarif ketika berdakwah tidak jauh bedanya dengan musisi, penyanyi, grup band yang konser dan orang-orang membayar tiket untuk mendengarkan mereka. Jika Anda suka maka bayar saja, masuki venue-nya dan dengarkan “nyanyian” mereka. Tak ubahnya pula seperti seorang motivator di televisi atau seminar-seminar, mereka mengoceh dan dibayar. Oleh karena itu, seorang ustadz semestinya diakomodir sebagai profesi, sebut saja profesi mereka ketika berdakwah yaitu menjadi pendakwah.

Jika ada yang mencibir bahwa ustadz yang memasang tarif ketika berdakwah ibarat memperjualbelikan surga dan neraka maka kita bisa mengatakan bahwa di negara yang mana aroma agama masih kental dalam praktik kehidupan keseharian warganya, wajar jika agama atau kredo-kredo agama diperjualbelikan. Jadi, hentikanlah berdebat soal ustadz yang memasang tarif. Justru jika Anda bisa melihat peluang maka bisa dijadikan lahan usaha. Anggap saja Anda seorang motivator yang dikemas dengan dalil-dalil dan ayat agama lalu pasang tarif Anda untuk memasarkan jasa komoditas yang Anda tawarkan. Untuk pemula tak perlu tinggi-tinggi, kecuali sudah masuk televisi beberapa kali. Namun jangan lupa bahwa pendakwah, penyanyi, motivator adalah profesi yang sama. Mereka harus dikenakan pajak oleh pemerintah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s