Bom di Vihara dan Kita


Oleh: Prof. Mochtar Pabottingi:

Lagi sebuah tempat ibadah di bom. Lagi sebuah aktualisasi kebiadaban. Lagi seperti sekelompok pengaku muslim mengklaim atau “ditunjuk” sebagai pelaku. Lagi itu, mengikuti skenario sistemik, dilakukan dalam bulan suci. Lagi terbukti untuk kesekian kalinya betapa kentalnya kepicikan berlaku dan betapa direkatkannya kesucian dengan keiblisan. Bagaimana kita menyikapi kenyataan ini?

Jika pelakunya betul orang-orang yang mengaku muslim, ketahuilah mereka sudah menjadi biangnya Iblis, sama seperti sesama muslim Iblisi di Iraq yang saling membom masjid-masjid kala jemaah lagi ramai bersujud –jamaah yang mayoritasnya tak ikut andil dalam perseteruan antar-Iblis berjubah muslim. Apa salah saudara-saudara kita di Vihara Ekayana sehubungan dengan kebiadaban kalangan Buddha Myanmar terhadap saudara-saudara kita seiman di Rohingya?

Jika pelakunya adalah pihak ketiga, yang dalam konteks seperti ini biasanya dilakukan oleh kalangan sangat terorganisasi dari suatu lembaga untuk mempertahankan atau merebut kembali privilesenya, ketahuilah mereka pun sama atau bahkan lebih-lebih lagi Iblisnya. Untuk kasus Tragedi Ambon 1999 yang sungguh sukses dipentaskan tepat pada pagi hari Idul Fitri, misalnya, George Yunus Adicondro menulis betapa besarnya peran alat-alat negara –TNI maupun Polri– dalam melancarkan dan memperparah konflik di situ demi mempertahankan privilese-privilese mereka seperti dalam Rezim Orde Baru. Pelaku atau inisiator dalam Tragedi Ambon hanyalah satu contoh. Lembaga-lembaga bukan hanya TNI dan Polri, juga tidak mesti hanya dari dalam negeri.

Peluang bagi kedua kemungkinan itu sama besarnya. Sebab keduanya memang masih berkiprah di Tanah Air. Akan tetapi hanya ada satu jawaban untuk kedua jenis kemungkinan itu: Demi keadilan, tegakkan hukuman sebagaimana mestinya! Demi keadilan, junjung prinsip punitas! Sesungguhnya inilah PR terpenting dari bangsa dan terutama negara kita sejak 20 atau bahkan 25 tahun terakhir. Dan inilah yang harus terus kita tuntut tegas dari kalangan pemerintah dengan topangan yang sama tegasnya dari kita sebagai masyarakat. Tiadanya punitas itulah sumbu utama dari krisis multidimensi yang hingga kini masih terus mendera kita sebagai bangsa meskipun mayoritas kita berpura-pura seolah-olah itu sudah tiada.

Prinsip impunitas telah dimulai sejak diangkatnya BJ Habibie, orang kedua Orde Baru, sebagai presiden pertama di Era (Yang Disebut) Reformasi. Sejak itu semakin parahlah nasib “Rechtsstaat” di Tanah Air kita –kerusakan yang memang sudah dilembagakan oleh Orde Baru di bawah Suharto sejak tahun 1965.

Bangsa kita tidaklah begitu pandir untuk menerima pemeo “Uueenak jamanku toh?” sebagai representasi kebenaran. Pemeo demikian kita terima tak lebih dari sebagai bagian dari kekayaan rasa humor pada bangsa kita. Akan tetapi perlu ditegaskan bahwa di negeri kita, terutama sejak Orde Baru, prinsip-prinsip atau semboyan-semboyan bajik memang sengaja dibalikkan menjadi cairan kotor. Sasaran akhirnya tak lain dari menjadikan proyek maha luhur bernama INDONESIA juga tak lebih dari proyek cairan kotor! Begitulah Pancasila pernah atau masih diperlakukan. Begitu pula nasib semboyan “Demi Keadilan dan Kebenaran!”

Tetapi kita tak boleh berputus-asa. Memang sudah menjadi salah satu ajang perjuangan utama dan abadi bagi setiap manusia pejuang adalah pertarungan memaknai suatu prinsip, semboyan, atau kata: pertarungan diskursus! Mari kita kembali menegakkan secara nyata makna Pancasila seperti yang pertama kali dicanangkan oleh Bung Karno! Mari kita kembali menegakkan prinsip “Demi Kebenaran dan Keadilan” seperti yang pertama kali dilantangkan oleh AH Nasution dan/atau para mahasiswa Angkatan 66 (ketika mereka masih murni) empatpuluh tujuh tahun silam! Dan mari kita kembali menjunjung tinggi proyek mahaluhur bernama INDONESIA sebagaimana itu pertama kali dicanangkan oleh para Bapak Bangsa kita pada dasawarsa kedua Abad ke-20 –para Bapak Bangsa yang juga secara sistemik telah dilecehkan dan dihinakan oleh Suharto beserta para “majikan”nya!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s