Cari Agama Bukan di Televisi


Sering kali kita dengar bahwa tayangan televisi yang dihidangkan kepada pemirsa atau pembaca tidak boleh mengandung atau membawa isu SARA. Akan tetapi betapa banyak tayangan-tayangan yang memberitakan soal seseorang yang berganti agama dan sering kali menggunakan bahasa-bahasa yang mendiskriminasi agama lain. Ketika media elektronik atau cetak memberitakan tentang muallaf, seseorang yang baru masuk Islam tapi disertai embel-embel kalimat yang seolah menunjukkan bahwa di agama sebelumnya orang tersebut hanya menemukan kegelapan lalu menemukan cahaya kebenaran sejati di dalam Islam maka bukankah hal tersebut telah menyinggung isu SARA?

Lantas timbul pertanyaan begini; jika televisi sering menayangkan seorang muallaf mengapa, atau bolehkah, televisi menayangkan seorang yang murtad dari Islam? Sementara itu, media di Indonesia gencar menunjukkan progres syariahisasi di ruang publik, tapi di sisi lain beberapa sinetron, film, pemberitaan juga ada yang menjadi korban tudingan kristenisasi.

Namun poin sebetulnya bukan tentang Islam vs Kristen, melainkan media mainstream kita yang berusaha menangkap fenomena keber-agamaan di masyarakat ke dalam layar kaca. Alih-alih demikian malah jadinya mengikuti selera pasar. Padahal, ramai-ramai stasiun televisi–contohnya–menyebutkan bahwa mereka bertujuan mencerdaskan bangsa. Tentu hal ini berbeda dengan di negara lain, seperti ketika di Inggris pertama kali tayangan azan di salah satu kanal televisi, umat muslim di sana gembira bukan main. Sedangkan media massa di sana sudah terbiasa mengkritisi doktrin agama yang dianut mayoritas warganya (pasti bukan Islam). Apabila hal itu terjadi di Indonesia, bisa dikenai pasal penodaan/penistaan agama.

Tayangan agama sepatutnya tak perlu masuk televisi nasional, baik yang swasta atau punya pemerintah. Kalau mau membawa agama ke layar kaca, mengapa setiap komunitas keagamaan tidak mendirikan stasiun televisi sendiri yang disediakan dan diperuntukkan bagi komunitasnya, termasuk yang menunjang keberlangsungan televisi itu adalah dana dari komunitas tersebut alias kanal berbayar. Tapi sebaliknya yang terjadi di Indonesia, bukan cuma tayangan berupa ceramah dan tabligh akbar yang ditayang di televisi nasional. Sinetron pun juga mengambil bagian dari mekanisme pasar dengan membawa tema-tema religi. Bahkan mungkin kita sering mendengar ucapan begini, “daripada menayangkan pornografi/pornoaksi, bukankah lebih baik menyiarkan religi?” Sementara itu, tayangan yang mengkritik dogma dan doktrin agama justru dikesampingkan.

Masyarakat tak perlu mencari agama di televisi, kalau orang-orang mau cari agama lebih baik ke pengajian-pengajian, rumah-rumah ibadah, liturgi-liturgi mereka. Akan tetapi ketika stasiun televisi tunduk kepada selera pasar maka sulit menolak kehendak pihak-pihak yang ingin memasukkan agama ke layar kaca. Lalu menjamurlah pendakwah-pendakwah agama carteran, baik pada momen tertentu, atau pesanan sponsor. Tampaknya sulit, bahkan mustahil, untuk menurunkan tayangan-tayangan berbau agama dari panggung sorot kamera.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s