Mendesakralisasi Kata Ustadz/Ustadzah


Dulu saya pernah menulis begini di kompasiana; mengapa ta’jil maknanya jadi makanan?

istilah ta’jiil, sering diasosiasikan atau dimaknai sebagai makanan hidangan berbuka puasa. Sementara makna etimologis ta’jiil sendiri berasal dari bahasa Arab. Akar katanya adalah ‘Ajjala-Yu’ajjilu, yang artinya menyegerakan, atau ta’ajjala-yata’ajjalu yang artinya ketergesa-gesaan. Maka dari itu ta’jiil sering pula diartikan dalam bahasa inggris dengan acceleration, atau percepatan, ketergesaan, dan makna lain yang serupa. Ada idiom bahasa arab ‘Aajilan aw Aajilan yang artinya cepat atau lambat, ada perbedaan arti hanya karena yang pertama memakai huruf ‘ain dan yang kedua memakai huruf alif.

Sedangkan di masyarakat seringkali kita menemukan, membaca, atau mendengar penggunaan kata ta’jiil yang jika dikaitkan dengan makna etimologisnya maka akan menjadi rancu. Seperti “Menyediakan ta’jiil gratis.” atau “Pasar ta’jiil murah murah meriah.” ketika istilah ta’jiil itu ditempatkan dalam konteks makna sebagai hidangan  berbuka, maka maknanya seketika dipahami sebagai makanan. Namun jika dikembalikan pada makna etimologisnya, bagi orang yang tahu arti literal istilah tersebut, akan kedengaran janggal.

Selain itu, sering kali media massa seperti stasiun televisi menyebarkan penggunaan istilah ta’jiil ini dengan tidak menelaah terlebih dahulu makna etimologisnya. Terutama liputan-liputan kuliner di bulan Ramadhan, disampaikan oleh presenter yang menganggap bahwa istilah ta’jiil telah diserap ke dalam bahasa Indonesia dan dibakukan oleh EYD, bahwa ta’jiil adalah makanan, hidangan, atau santapan untuk berbuka puasa.

Nah, sekarang saya akan membahas ustadz. Di Indonesia ini setiap kali ada bulan Ramadhan pasti banyak sekali pendakwah bertitel ustadz berseliweran di layar kaca. Ada yang karbitan sampai yang ingin menyebarkan ajarannya seperti misalnya ustadz-ustadz wahabi yang sudah mulai merambah masuk layar kaca. Intinya sih, karena mekanisme pasar dan juga selera pasar di Indonesia begitu maka stasiun televisi berbondong-bondong menyediakan acara yang diisi oleh sosok-sosok bergelar ustadz.

Sebenarnya ustadz itu makna harfiahnya adalah professor. Waktu saya di Mesir (2002-2006), apabila orang Arab di jalan kemudian mengajak Anda mengobrol lalu Anda menyebutnya ustadz, bisa jadi reaksinya akan tersinggung atau jika misalnya Anda sudah kenal, mereka paling cuma tersenyum saja. Mengapa demikian? Karena tak sembarang orang bisa dipanggil ustadz, bahkan di kampus-kampus pun hanya dosen yang sudah bergelar professor baru layak dipanggil ustadz. Makanya kalau dalam buku-buku yang dikarang oleh seorang professor, akan ada gelar yang disematkan pada tulisan pengarangnya Al-Ustadz al-Duktur Fulan misalnya. Al-Ustadz al-Duktur juga ada padanan bahasanya dalam bahasa Indonesia, yaitu Professor Doktor. Sementara itu, untuk dosen yang belum bergelar professor hanya dipanggil Duktur saja.

Akan tetapi, di Indonesia ini gelar ustadz dipakai di mana saja. Yang penting asal bisa cuap-cuap soal agama maka dialah ustadz. Lalu kemudian ada pertanyaan dari adik kelas saya di pesantren dahulu yang belum pernah ke Timur Tengah.

“Tapi kan kalau di pesantren-pesantren para guru dipanggilnya ustadz atau ustadzah?”

Nah, di situlah mungkin pergeseran makna (jika tidak mau dibilang salah kaprah) dari penggunaan ustadz di Indonesia. Sedangkan di sekolah-sekolah yang ada di Timur Tengah, para guru dipanggil dengan sebutan Sayyid untuk laki-laki atau Sayyidah untuk perempuan.

Misalkan ada seorang guru bernama Ahmad, maka di sekolah dia dipanggil murid-muridnya dengan sebutan Sayyid Ahmad. Adapun Sayyidah sebutan untuk perempuan sering disingkat jadi Sitti. Sebetulnya istilah Sayyid dan Sayyidah ada padanannya dalam bahasa Inggris, yaitu Mr. dan Miss, demikian pula dalam bahasa Indonesia Pak dan Bu, Tuan dan Nona. Tapi mungkin karena bagi orang Indonesia bahwa yang kearab-araban itu adalah Islam dan menggunakan kata Arab berarti Islami maka di pesantren-pesantren para pengajarnya disebut ustadz/ustadzah.

Sekarang mari kita lihat di televisi kita, bahkan saking mudahnya untuk menjadi ustadz (professor) sampai ada acara audisinya segala mirip ajang kompetisi nyanyi. Tapi itulah selera pasar, dan mekanisme ini nantinya menciptakan tren. Kemudian diulang terus menerus dan menjadi sebuah kebenaran yang diterima di pasar. Ada sebuah cerita begini; beberapa tahun lalu di kompleks perumahan saya kedatangan pengungsi dari Afghan atau Pakistan yang kebetulan bisa bahasa Arab. Ketika dia datang di masjid, orang-orang menyebutnya ustadz-ustadz, karena tidak ada yang bisa bahasa Arab maka saya dipanggil untuk bicara dengannya. Lalu dia tanya kenapa orang-orang di sini memanggil dirinya ustadz, padahal dia bukan ustadz. Saya hanya bisa tersenyum, itulah Indonesia.

Mungkin inilah contoh bagaimana bahasa Indonesia mendesakralisasi bahasa Arab, dalam artian mencerabut makna kulturalnya dan menggantikan dengan makna kultural lainnya yang ada di Indonesia. Tetapi seiring waktu berjalan, tiba-tiba ustadz menjadi baku sebagai gelar yang disematkan untuk pengampu agama atau pengajar agama, berbeda dengan gelar ustadz di Timur Tengah juga dipakai untuk para professor di bidang selain agama. Tiba-tiba pula kata ustadz di Indonesia menjadi sakral dan seolah paling tahu soal agama, tidak boleh dikritik, dan otoritatif. Oleh karena itu, sekarang saya upaya desakralisasi kata ustadz ini bertujuan untuk mengembalikan lagi ke makna dan penggunaannya di daerah asli dari kata tersebut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s