Perawan di Sarang Wahabi


Ditulis oleh: Sutomo Paguci

1

Habislah si perawan. Jika kebetulan di sarang Wahabi yang ekstrim maka mereka tak boleh ikut pemilu, tak boleh nyetir, tak boleh berpergian tanpa muhrim, bahkan tak boleh sekolah. Yang jadi aktivis pemberdayaan perempuan, seperti Malala Yousafzai, akan ditembaki sampai berdarah-darah atau sampai mati.

Di tempat yang ekstrimnya agak mendingan, para perawan dipaksa pakai hijab, dilarang duduk ngangkang, dilarang pakai pakaian ketat, tak boleh nyanyi, tak boleh berjoget, dst. Pokoknya, si perawan serba tak boleh.

Ups! Tapi si perawan boleh jadi istri kedua, ketiga, atau keempat. Kalau sudah begitu si perawan akan menghabiskan sisa hidupnya di dapur, di sumur, dan di kasur. Saat itu tiba ia bukan lagi perawan. Keperawannya sudah direnggut bandot tua dengan janggutnya yang bergetar-getar tiap kali menikmati keperawanan istri muda.

Di sarang Wahabi, perempuan tak lebih sekedar pemuas nafsu. Mereka juga tak lebih sebagai sumber aib, sumber kerusakan moral bagi kaum lelaki, tukang goda, dan sumber malapetaka. Karena itu, para perawan disembunyikan serapat mungkin. Baunya tak boleh tercium dari jarak sekian dan sekian.

Itulah faktanya. Bagaimana menggenaskannya nasib para perawan di sarang Wahabi di bagian mana pun di dunia ini! Fakta itu tak berubah sekalipun mereka sibuk kampanye bahwa Wahabi adalah sekte yang baik, toleran, dan hormat pada perempuan. Namanya juga fakta—tak akan berubah hanya dengan kata-kata.

Untunglah semesta selalu sayang pada para perawan. Bagaimana pun mereka dikekang, ditutup-tutupi, serba tak boleh, namun mereka akan terus mencari celah keluar dari keterkungkungan. Para perawan di sarang Wahabi satu per satu mulai berani bersuara. Suara mereka mulai keluar dari tembok-tembok yang mengurungnya.

Para Wahabi ini berani karena bergerombol. Coba mereka terpecah dan terpisah dari gerombolannya, wah, dijamin mereka akan menyembunyikan diri dan mengkamuflase gerakannya menjadi seolah bukan garis keras. Ada yang menyebut kelompoknya Salafi (padahal Wahabi). Yang coba-coba bikin ulah di negara hukum seperti Jerman, misalnya, mereka akan ditangkapi polisi.

Yang coba-coba main bom akan diburu oleh Tim khusus yang dilatih dengan persenjataan terbaik se-jagad. Para Wahabi garis keras ini tak berkutik, ditangkapi, disidangkan, sebagian dipenjara, dan sebagian dihukum mati di depan regu tembak.

Begitulah nasib para Wahabi dan Khawarij modern, sekte garis keras dalam sebuah agama. Mereka memusuhi para perawan dan mereka akhirnya dimusuhi peradaban. Mereka dimusuhi karena mudah sekali mengkafirkan musuh-musuhnya, sekalipun seagama.

Para Wahabi pun stres. Terkurung. Terkungkung. Karena pola beragama mereka yang kaku dan suka mengkafirkan musuh-musuhnya. Yang berani muncul pun tak berani menunjukkan muka atau memverifikasi dirinya di muka pihak berwenang. Karena itulah mereka butuh pelampiasan pada para perawan, untuk mengendorkan urat-uratnya yang stres.

3 thoughts on “Perawan di Sarang Wahabi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s