Wajib Militer dan Teknologi Pendisiplinan Negara


Bagi Michel Foucault, pertanyaan “Apa itu kuasa?” bersifat sekunder dibandingkan pertanyaan “Bagaimana kuasa itu dilaksanakan?” Jadi, poin Foucault dalam analisisnya tentang kuasa bukan pada substansi atau esensi kuasa, tetapi pada teknik kuasa. Secara sederhana, kuasa bukanlah milik, melainkan strategi kuasa yang tak dapat dilokalisasi tetapi terdapat di mana-mana (ubiquitous), kuasa tak selalu bekerja melalui penindasan dan represi tetapi terutama melalui normalisasi dan regulasi, kuasa tak mesti bersifat destruktif melainkan produktif.

Yang dimaksud kuasa bersifat produktif adalah kuasa memproduksi sesuatu; seperti memproduksi pengetahuan, realitas, lingkup objek, ritus-ritus, dan juga klaim kebenaran. Pada sebuah masyarakat, tatanan ditegakkan melalui teknologi-teknologi kontrol, seperti separasi spasial, manajemen, kurungan, pengawasan/penjagaan, sistem ujian-ujian yang mengklasifikasi dan mengurutkan individu untuk tujuan menormalisasi tingkah laku sosial. Tatanan ditegakkan melalui apparatus berupa strategi, teknik-teknik dan wacana-wacana pendisiplinan (displiner).

Dengan adanya teknologi pendisiplinan ini maka kondisi masyarakat atau rakyat dalam suatu negara sesungguhnya berada dalam jejaring kuasa, sehingga nantinya membuat masing-masing individu sebagai anggota masyarakat berada dalam keadaan sudah tidak lagi merasa dikuasai, padahal ternyata dikuasai dan menjadi bagian dari relasi-kuasa.

Sejak zaman kemerdekaan, teknologi pendisiplinan berupa wacana-wacana memang diselenggarakan negara ini terhadap rakyatnya, seperti bahasa-bahasa dan eufemisme yang digunakan di setiap rezim. Kemudian yang berkaitan dengan hal-hal keagamaan, seperti fatwa-fatwa dan ceramah-ceramah yang bertujuan untuk menekan sisi kritis masyarakat. Foucault membuat metafora bagi teknologi pendisiplinan masyarakat ini yang dia ambil dari teori penjara Panopticon ketika diperkenalkan pertama kali oleh Jeremy Bentham.

Bentham memperoleh ide Panopticon ini dari rencana pembangunan sekolah militer di Perancis, yang dirancang untuk memudahkan pengawasan. Rancangan awal itu sendiri berasal dari kakak Bentham, Samuel, yang menjadikan Panopticon sebagai solusi bagi rumitnya keterlibatan, dalam upaya menangani sejumlah besar orang. Panopticon oleh Bentham dimaksudkan sebagai model penjara yang lebih murah dibandingkan penjara lain pada masanya, karena hanya membutuhkan sedikit staf.

Pada perkembangannya kemudian, Panopticon bukan lagi sekadar desain arsitektur, tapi dalam pandangan Foucault menjadi suatu model pengawasan dan pendisiplinan masyarakat yang diterapkan sampai zaman sekarang. Desain Panopticon ini menjadi metafora bagi masyarakat “disiplin” modern dan kecenderungannya yang menyebar, untuk mengawasi dan menormalisasi.

Manurut Foucault, dampak utama Panopticon adalah memastikan berfungsinya kekuasaan secara otomatis. Seperti yang dikatakan di atas; seolah tak dikuasai, padahal dikuasai. Foucault menyatakan, bukan hanya penjara tetapi seluruh struktur hierarki seperti tentara, pendidikan (sekolah dan universitas), kesehatan (rumah sakit), pabrik, tak terkecuali di tempat ibadah, dalam lintasan sejarah telah mengembangkan bentuk-bentuk struktur yang mirip Panopticon-nya Bentham.

Sekarang mari kita lihat wajib militer tidak hanya bagian dari sesuatu yang beraroma patriotik dan nasionalis. Tidak pula berfungsi cuma sebagai komponen cadangan untuk membela negara. Di sisi lain patut kita perhatikan bagaimana sistem militer terselenggara di negara kita selama puluhan tahun, yaitu tidak jauh dari yang namanya teknologi pendisiplinan. Mengapa demikian? Karena negara membutuhkan individu-individu yang dilatih, diobservasi dan dikontrol. Entah itu sebagai apparatus atau objek penguasaan. Karena itu, dengan pendisiplinan maka akan menciptakan bentuk baru individualitas bagi tubuh-tubuh, yang memungkinkan mereka melaksanakan tugasnya dalam bentuk baru organisasi-organisasi ekonomi, politik, dan militer, yang muncul pada zaman modern.

Namun di sisi lain, militerisasi sipil juga bertujuan meredakan sikap kritik dan meredam berbagai macam “pembangkangan”. Militer dengan sistem komandonya tak ubahnya seperti dunia modern dengan segala produk komersialisasinya, yang akan membentuk individu-individu sebagai manusia berdimensi satu dan akhirnya menjadi masyarakat satu dimensi; seragam, tunduk, bebal, dan antikritik.

Wajib militer tak lain adalah teknologi pendisiplinan negara untuk mengendalikan warganya. Satu pihak, dapat saja kita pandang sebagai sesuatu yang positif (apalagi jika ingin terus terpaku pada paradigma positive thinking), sementara di sisi lain merupakan sesuatu yang disebut Foucault, “Menciptakan tubuh-tubuh yang tenang dan mudah dikelola (docile bodies).”

Silakan Anda pilih sendiri; bukankah Anda masih percaya suara rakyat, suara Tuhan?

One thought on “Wajib Militer dan Teknologi Pendisiplinan Negara

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s